
Beberapa hari yang lalu, tepatnya 16 Oktober 2009, saya mendapat kabar dari kang Jay tentang perkembangan aksara Jawa. Kabar menggembirakan bahwa ternyata proposal Aksara Jawa sebagai unicode sudah disetujui. Jauh hari sebelumnya, Aksara Sunda sudah lebih dahulu diterima sebagai unicode.
Perjalanan Aksara Jawa menjadi unicode sendiri bisa dilihat di roadmaps-nya unicode di sini. Satu hal yang patut mendapat apresiasi dari siapa saja yang peduli dengan kebudayaan bangsa.
Aksara Jawa sebagai font dikembangkan oleh Mas Teguh Budi Sayoga, hadir pada 13 Maret 2004, melalui sebuah situs gratisan bernama hanacaraka.fateback.com. Selain membuat aksara jawa, mas Teguh juga membuat jawa-palsu alias alphabet dengan style penulisan seperti huruf jawa. Kini berbagai model dari font ini (baik font aksara jawa maupun jawa-palsunya) sudah sangat beragam. Mas Teguh sepertinya memang seorang kreatif yang sangat produktif. Untuk mendapatkannya, Anda bisa memesan melalui website barunya yaitu www.pallawa.com.
Bagaimana Kementrian kita?
Kalau kemarin kita gegap gempita tentang curi mencuri budaya, maka huruf/kata/bahasa sebagai satu identitas sebuah kebudayaan, sudah semestinya mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah kita. Kebudayaan bukan semata tari dan baju, justru bahasa-lah yang membentuk sebuah kebudayaan.
Lantas bagaimana posisi kementrian kita atas hal ini? Aksara Sunda maupun Aksara Jawa, seakan menjadi perjuangan dari individu-individu tanpa pamrih, yang pada akhirnya nanti hanya akan menjadi artefact dengan ancaman punah. Akankah hal ini dibiarkan saja?
Menunggu
Saat ini saya hanya bisa menunggu. Menunggu respons dari pemerintah? Bukan, saya tidak terlalu bersemangat dalam hal itu. Saya menunggu kode-kode unicode untuk aksara jawa, sehingga saya bisa menuliskannya di blog ini. Satu saat nanti.
vale, demi budaya
el rony
adalah orang jawa
nb. bagi Anda yang ingin melihat font-chartnya, silakan download di sini.
Category: Bahasa Jawa, Culture, blog | Comment RSS 2.0 | trackback
October 20th, 2009 at 4:36 am
1. kalo mau disebut konsisten,mestinya artikel ini ditulis dg huruf jawa dong ah! :p
2. kementerian, bukan kementrian
4. yah, begitulah pemerintahan indonesia. masyarakat mesti mikir sendiri,kalo sukses baru pengen ikutan beken
5. jgn tanya kenapa no 3 ga ditulis
October 20th, 2009 at 4:39 am
@fahmi:
1. maunya begitu, tapi masih harus nunggu pembuat fontnya dulu.
2. yak, tadi kutulis kementerian terus kuedit ulang. kenapa? gak usah tanya
4. apalagi jelang pemilu
5. saya nanya, nomer 6 mana?
October 20th, 2009 at 7:34 am
lama ndak jalan ke bandung pas ke bandung kaget dengan tulisan aksara sunda di tiap2 plang nama jalannya. eng….kayak tulisan cakar ayam, lucu (ninja) *ups*
October 21st, 2009 at 3:28 am
lha kalo di jogja sudah lama tuh aksara jawa mengiringi aksara latin di tiap plang. kayak ceker ayam? *tendang ipied* hihi
November 2nd, 2009 at 4:42 pm
da ad yg bikin fontnya mas…
November 3rd, 2009 at 2:00 pm
betul sudah ada, sudah lama, dan ada di link yang saya tulis. tapi saya masih belum tahu gimana caranya biar bisa menulis pakai huruf hanacaraka itu di sini.
November 3rd, 2009 at 11:10 pm
Ya gemana mau nulis huruf Jawa kalo aksaranya saja baru masuk tabel Unicode?
Emangnya Unicode produsen font?
November 4th, 2009 at 9:51 am
nah itu maksudnya, singkat jelas padat dari kang jay hihi
November 6th, 2009 at 10:40 am
UUD (Ujung Ujungnya duit)…. dijual dijual font beserta untuk cara tulisnya… silahkan silahkan…. :).