Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Ganti saja rakyatnya!

Print This Post   Email This Post

Ungkapan itu muncul dari percakapan teman saya (Doni Kristian Dachi) dengan sopir taksi yang membawanya pulang ke penginapannya. Ungkapan itu bukan muncul dari mulut teman saya, tetapi dari sang sopir taksi. Ah, mungkin tidak terlalu penting dari siapa kalimat itu muncul.

Kalimat ini keluar setelah melalui sedikit perbincangan mengenai perkembangan negara. Dan kalimat ini membawa saya ke sebuah angan-angan, sebuah pertanyaan besar,”apakah memang problematika dunia demokrasi itu seperti ini?” Apakah negara-negara besar, yang sudah makmur, yang juga menjunjung demokrasi, mengalami kegelisahan ini?

Sebuah kalimat yang menyiratkan betapa sudah peliknya problematika kita. Seakan tidak ada lagi hal yang bisa diperbaiki baik dari segi tatanan sosial hingga struktur kekuasaan. Anehnya, atau mungkin sudah sewajarnya (?), secara spontan naluri saya mengangguk menyetujui kalimat itu. Jadi, apakah saya juga sudah sedemikian putus asa?

Mengganti Rakyat

Adalah sebuah langkah paling radikal yang mungkin bisa dilakukan oleh sekumpulan manusia. Tentunya mengganti di sini tidak bisa dengan mengebom habis seluruh penduduk negeri, lalu mendatangkan penduduk yang “lebih baik” dari negeri antah berantah atau malah dari surga. Mengganti di sini artinya melakukan perubahan radikal terhadap kunci-kunci sendi pergerakan bangsa.

Lantas kenapa saya menggunakan kata putus asa? Ya, karena dengan demikian memang kita tidak punya harapan pada masyarakat, tatanan sosial, struktur kekuasaan, aparat hukum yang ada saat ini. Korupsi adalah salah satu misal yang bisa kita ambil untuk menggambarkan kondisi kita saat ini. Dari mulai tidak tersentuhnya para pelaku korupsi milyaran rupiah, yang menyusahkan seluruh bangsa, oleh hukum, hingga kecentilan kita dan kekemayuan kita untuk memilih jalan pintas setiap kali menghadapi masalah, terutama berkait dengan kekuasaan.

Yang Mana yang Diganti?

Ya, masyarakat mana yang diganti? Rakyat mana yang harus “dihilangkan” dari negeri ini? Apakah semuanya? Secara sinis dan skeptis kita melihat bahwa kalau jawaban pertanyaan ini adalah “masyarakat/rakyat yang korup” maka artinya kita harus mengganti seluruh rakyat di negeri ini. Kembali ke paragraf di atas, tampaknya semua rakyat kita sudah terbiasa dengan korupsi. Dari mulai mengurus KTP hingga permasalahan bagi-bagi proyek pembangunan.

Namun mari kita lihat lebih jernih. Jika dan jika saja struktur kekuasaan dan aparat hukum di dalamnya berjalan sebagaimana mestinya, maka masyarakat tidak akan memiliki pilihan untuk melakukan korupsi, bukan begitu? Jika dan jika saja dari mulai presiden hingga pelaku penegak hukum dan kekuasaan di tingkat RT menolak segala bentuk korupsi, tentunya tidak ada lagi muncul di pikiran tentang pilihan jalan singkat, benar?

Dengan demikian yang harus diganti adalah mereka yang saat ini menduduki posisi penting kekuasaan. Mereka harus dibersihkan. Caranya? Kalau mau instan, jawabannya saya tidak tahu :) Dorongan moral selalu menjadi gaung terbesar ketika sudah mencapai pada titik ini. Sedihnya, lembaga yang paling bertanggungjawab atas moral bangsa, DEPAG, tak lepas dari kasus korupsi. Sungguh menyedihkan.

Proses Mengganti

Maka, yang bisa dilakukan sekarang adalah merapatkan barisan. Mengganti rakyat bukanlah seperti membalik telapak tangan. Ini adalah proses yang panjang. Bersetialah pada kebersihan hati, jauhkanlah pikiran dari korupsi, satu saat nanti, kita yang akan memimpin negeri ini.

Lakukan dari mulai hal terkecil, jangan mau membayar polisi ketika kena tilang, kembalikan uang ketika jajan dan ternyata ada kelebihan kembalian, jangan mengganjal timbangan demi keuntungan sesaat, akui kesalahan dan bertobatlah (misalpun harus masuk bui) jika memang bersalah –jangan lari ke sarjito dengan alasan sakit parah.

Pahit!  Jalan yang saya tawarkan ini bukan jalan yang baru, jalan itu sudah ada dan memang pahit rasanya –karena kita sudah terbiasa meminum racun yang manis. Seruan untuk melalui jalan itupun sudah dari dulu ada, selalu saja suaranya sama, bahkan gema-nya sudah membekas dalam, kini jalan itu yang berteriak memanggil kita untuk dilewati. Jangan tutup telinga. Mantapkan hati, mulai saat ini kita akan menjadi rakyat pengganti.

el rony, mengganti posisi duduk

vale, demi perubahan

Category: Politik, Neolib, Culture, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback

7 Responses to “Ganti saja rakyatnya!”

  1. hedi Says:

    asyik juga, nanti ada pensiun jadi rakyat, malah enak terima uang pensiun dan ga usah direpotin segala macem urusan. namanya juga dah pensiun :D

  2. rony Says:

    nah masalahnya gak ada uang pensiunnya hihi

  3. andif Says:

    negara yang baik jika ada rakyat yang pensiun.
    salam

  4. isdah ahmad Says:

    lah pancen bener koq oom, lek di-reboot iso didandani maneh teko awal :lol: contone yow wis akeh… saslah sijine pas jamane nabi nuh, ikukan banjir == reboot

  5. mybisnis Says:

    kalau bicara ttg korupsi sampai hrs ganti rakyat..mungkin akan menjadi perbincangan yang tdk akan pernah ada habisnya..siapa yang mau jabatannya diganti kalau didepan mata korupsi masih menjanjikan kemudahannya..akh jd sedih membayangkan negara ini 10 thn ke dpn…

  6. rsi6it Says:

    judulnya keren. idenya bagus, tapi klo masih bertumpu pada demokrasi sekuler kapitalis, sy yakin ide anda hanya jadi luapan keputusasaan. jawaban untuk anda yaitu Islam Ideologis. kini sdh memasuki generasi muda, kelas menengah serta mampu memainkan peran dalam melawan isu2 sekuler dan neoliberalisme.

  7. Asrul Says:

    Kalau saya yang setuju Ganti aja semua elit pemimpin rakyat…SEMUANYA ganti dengan orang muda yang berumur 30 tahun ke atas…. Karena bercermin dengan Malaysia..yang dulu belajar sama Kita, tapi pemimpin Malaysia adalah sangat bagus dan tegas… atau bercermin sama Ali Sadikin yang berhasil membangun JAkarta dengan modal terbatas…dan yang terpenting gak mikirin korupsi

Leave a Reply