Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Sekali lagi, mengapa harus memilih?

Print This Post   Email This Post

Tulisan ini sebagai tanggapan dari tulisan saudara Momon di blognya.

Tulisan yang bagus kawan, sesuai dengan judulnya, tulisanmu sungguh manis. Siapa saja yang menyanggah atau “menyerang” tulisan seperti ini, hanya akan menuai badai, atau bahkan pembunuhan karakter atas dirinya. :) Dengan penuh kesadaran, penulis memilih untuk memberikan anti-thesis atas tulisan tersebut. Kesimpulan sepenuhnya di tangan pembaca, tentu saja.

Dalam tulisannya, Momon menyampaikan tentang pentingnya pemilu dan perannya sang voters (pemilih) dalam menentukan nasib sebuah negara. Contoh yang diambil tidak tanggung-tanggung, langsung Amerika — sebuah negara adidaya tempat orang menempatkan ka’bah kemodernan.

Namun penulis merasa ada ketergelinciran dalam tulisan Momon, kalau tidak boleh dibilang sesat pikir. Dalam tulisannya Momon dengan sepenuh hati melakukan pengandaian yang menurut hemat penulis terlalu membabi buta. Pengandaian bahwa iklim demokrasi dan kualitas demokrasi di negeri ini sama dengan di Amerika. Tentu saja point tulisan terakhir Momon adalah kuncinya, yaitu tentang budaya. Perubahan budaya hanya bisa dilakukan kalau masyarakatnya bergerak.

Nah, saya tidak mau ambil pusing dengan kemembabibutaan menyamakan (sebuah harapan optimistis menurut saya, dan tidak ada salahnya juga sebenarnya) demokrasi di negeri ini seperti di negara adidaya itu. Saya bertolak dari budaya yang ingin dibangun oleh tulisan tersebut.

Budaya Memilih

Dalam tulisan tersebut secara tersirat menyebutkan bahwa perubahan tidak akan terjadi jika kita tidak ikut andil dalam pemilihan, tidak ikut mencoblos. Apakah benar demikian?

PEMILU adalah sebuah pesta demokrasi, demikian selalu yang diajarkan semenjak penulis masih belajar di bangku SD. Dengan demikian, PEMILU adalah sebuah ajang di mana para penduduk negeri merayakan demokrasi, mengharubirukan alam kedemokrasian.

Salah satu kunci utama dari demokrasi adalah terpenuhinya hak-hak mendasar dari para penduduk sebuah negeri. Salah satu hak yang kemudian seakan menjadi miring dan layak dicibir adalah hak untuk tidak memilih. Dengan tidak memilih, berarti tidak andil dalam pembangunan negeri.

Inilah yang penulis sesalkan. Tulisan tersebut berimplikasi pada pemikiran seperti itu. Sekarang mari kita lihat, apakah benar bahwa jika tidak ikut memilih berarti tidak ikut andil dalam pembangunan?

Peran dan Posisi Strategis Voters

Peran voters yang justru sangat utama namun tidak pernah diperhatikan serius adalah pengesahan sebuah hasil pemilihan umum. Jumlah peserta pemilu menjadi indikasi sukses tidaknya atau absah tidaknya hasil pemilu.

Agak melompat topiknya, sekarang saya ingin mengajak Anda semua melihat siapa dan apa yang akan kita pilih nanti. Adakah dari para calon anggota legislatif ataupun calon presiden yang sekarang terdaftar yang sekiranya bisa membawa perubahan pada negeri ini?

Jika jawabannya iya, maka memilih bisa menjadi pilihan yang masuk akal. Jika jawabannya tidak, misalnya saja, maka tidak memilih adalah pilihan yang lebih masuk akal lagi. Ketidak hadiran di pemilu, jika jumlahnya sampai mengurangi jumlah quorum sahnya pemilu, maka pemilu bisa disebut gagal. Hasil pemilu tidak sah.

Efeknya jauh memang, kredibilitas bangsa (kedemokrasian bangsa yang diukur dengan statistik kesuksesan pemilu semata) yang paling sering didengungkan untuk dipertaruhkan. Namun kalau memang kita ingin memberi satu pelajaran yang berharga dalam tatacara berdemokrasi dan beriklim politik, maka harga ini pantas untuk dikeluarkan. Sebuah investasi yang sangat penting.

Baik, kembali ke memilih dan tidak memilih. Kita selalu dihadapkan dengan kata “daripada” atau “lebih baik” atau “masih mending” dan sejenisnya ketika sebenarnya tidak ada pilihan. Mengapa harus demikian? Ini gugatan saya. Jika tidak ada pilihan, maka pilihan yang terbaik dari yang terburuk tetap saja buruk, pelajaran ini yang sampai sekarang sama sekali tidak diambil.

Baiklah, panjang lebar yang semakin membuat kantuk saya tambah berat ini saya cukupkan dulu, mari kita bicara dengan alasan.

Memangnya ada alasan untuk tidak memilih?

Kalau saya bilang iya gimana? Misalnya saja, kita hitung deh itu poster kampanye. Poster saja cukup deh. Ukuran terkecil adalah A2 (4 x folio). Saya tidak hafal berapa harganya, tapi mari kita sebut saja dengan angka Rp. 100.000,- per lembar. Kita susur saja jalan raya Daendels, sebagai pengingat juga bahwa kita pernah dijajah oleh para penghisap darah, apakah ada jengkal yang terlepas dari poster? Nah, sekarang silakan hitung sendiri, berapa duit yang terhambur dalam “what so called pesta demokrasi” ini?

Apa kaitannya? Ya jelas ada. Jika untuk “mengenalkan” diri saja sampai harus keluar uang berjuta-juta bahkan bermilyar (oh iya, untuk memasang satu baliho melintang jalan itu hitungannya milyar mas, mbak), bukankah berarti orang itu tidak dikenal? Betapa menyedihkannya bukan? Dan uang itu, kenapa tidak dikumpulkan saja untuk mengatasi lumpur lapindo yang sampai sekarang tidak jelas juntrungnya –misalnya.

Pikiran sederhananya kemudian, usaha sampe “ngenthos” (istilah orang jogja untuk usaha yang luar biasa ngoyo eh apa ya bahasa Indonesianya) ini untuk apa? Berharap atas imbalan gaji selama lima tahun (satu periode)? Berapa sih gaji anggota DPR? DPRD? DPRD II? Belum lagi gaji itu musti dipotong juga untuk masuk partai. Lantas buat apa?

Apakah yang seperti itu layak untuk dipilih? Silakan renungkan lagi.

Lantas bagaimana dengan calon presiden? Silakan baca-baca lagi sejarah negeri ini yang berdarah-darah. Adakah calon presiden yang bersih dari cipratan darah anak negeri ini? Jika iya, mari kita bantu dengan memilihnya. Tapi tentu saja itu tidak cukup, kenyataan bahwa atas nama demokrasi, mereka yang berlumur darah bisa bicara mengatasnamakan rakyat dan hati nurani, wong cilik dan sejenisnya, itu patut untuk di-tampar, bukan begitu? Oh ya, bukan dengan disiram air panas kata mas Momon, tapi membiarkan mereka menjadi bagian dari pesta suci demokrasi? Apa itu bisa dibenarkan? Dengan tidak memilih, paling tidak kita menyampaikan pada negara, pada para cecunguk itu, pada dunia, bahwa proses pemilu ini tidak sah dan ada yang tidak beres pada para calon-calonnya.

Kalau mau melihat contoh, maka mari kita mencontoh kepada kaum tertindas di Amerika Latin. Bukan, saya bukan membicarakan Hugo Chavez, Anda akan teriak dia tentara, itu saya sudah tau. Saya bicara yang lain saja, Luigi misalnya, mantan pastur. Bergerak dari bawah, mengubah negara!

Jadi harus gimana dong?

Cerdaskan diri, bentuk aliansi-aliansi, rapatkan barisan, tentukan pemain yang benar-benar bersih dan cakap! Satukan langkah. Satukan irama. Lawan!

Vale, demi demokrasi

el rony, benar-benar mengantuk

Category: Politik, Pendidikan, Neolib, Culture | Comment RSS 2.0 | trackback

36 Responses to “Sekali lagi, mengapa harus memilih?”

  1. ryosaeba Says:

    sama, ngantuk. dan males baca panjang-panjang, jadi skip baca, komentar aja. eh jangan salahin saya, itu hak demokrasi saya.

  2. Doni Says:

    ntar kalo semua pemain udah bersih dan cakap, siapa yang mo dilawan ron?

    Dan satukan irama? oh no way ron. Keep the playlist with pop, rock, disco, dangdut, gambus, and cha-cha-chi.

  3. arie Says:

    ngantuk pisan mocone

  4. endhoot Says:

    ra mudeng aku… hoaaahhmmm….

  5. ace Says:

    bah… batal pertamax deh…

  6. Toni Says:

    Thanks udah nulis soal ini Ron. Soal pilihan kita kembalikan ke masing-masing orang. Mau eksekusi hak demokrasinya seperti apa. Menurutku yang penting adalah kita tahu konsekuensi memilih dan tidak memilih. Persis seperti apa yang kamu tulis.

    Sampai sekarang di pikiran saya masih berkecamuk pernyataan teman: kalau tidak milih, tidak berhak ngeluh waktu ada yang salah setelah pemilu.

    Sedangkan kalau saya hendak memilih, saya harus memilih calon yang lebih sedikit jeleknya daripada yang lain. Dan itu belum tentu dia berada di atas standar “layak pilih”.

    Lebih bingung lagi, setiap calon masih punya peluang menjadi lebih baik. Ah, apa ini? Apakah sekedar persoalan optimisme dan pesimisme belaka?

    Ayo tulis yang lain lagi Ron!

  7. bLub Says:

    Kalo caleg sih gue udah ga tertarik lah,
    udah basi emang. Kentut banget semuanya.
    Jadi gue sudah tekad bulat sih, ga akan nyontreng pemilu 9 April nanti. Lagian ngapain mengantarkan orang jadi kaya, sementara kebijakannya bikin gue makin miskin

    Tapi kalo presiden, gue masih mau mempertimbangkan untuk ikut. Gue selalu masih punya harapan untuk presiden.
    Tapi ya liat nanti juga, partai mana yg lolos dan maju bertarung mencalonkan presidennya.

  8. kemo Says:

    sedikit tergelitik dengan tulisan mas ron-ron, sebenernya milih anggota DPR, DPRD I , DPRD II apa gunanya to?? wong kenerja mereka setelah menjadi anggota legislatif ndak jelas gitu, ah mbuh lah, nasib negara ini ketoke tidak tergantung dengan mereka mereka itu, mungkin kalo presiden bisa dipertimbangkan lagi siapa calon nya yang bisa maju, nek cuma itu itu saja calonnya ya wes rasah milih meneh

  9. -peng Says:

    memilih itu dikatakan positif,
    golput itu dikatakan negatif.

    mentor vs. dementor.

    tujuan boleh sama sih, ingin negara lebih maju dan baek.

    tapiiiiiiiiiiii….

    mentor dengan semangat positif yang menggebu-gebu dan terkadang terkesan naip RUARRRRRR BIASAAAA itu pastinya lebih populer dong, lebih ngetren, di mana-mana tuh orang harus cerah ceria walaupun lagi ditimpa duren busuk.

    beda dengan dementor, tokoh jahat atau minimal abu-abu.
    mau secinta dan sepeduli apapun terhadap negara, tapi hanya karena mencinta dengan pahit, mencinta dengan tuntutan kemajuan yang lebih, biasanya akan dibilang gak menyokong gerak maju negara, terlalu menyepelekan ini itu lah, terlalu delusional, dll.

    tentang tulisan ini, kalau dipikir lagi sih, sebenarnya ini bukanlah masalah mentor vs. dementor.

    tapi lebih ke masalah:
    mentor vs. pemilu.
    dementor vs. pemilu.

    faktor kunci: PEMILU

    dua-duanya ada hasilnya tidak ya? luber.

  10. geblek Says:

    jadi teringet kawos pesenan saya ron
    mengapa harus memilih :)
    mana mana

  11. sevenco Says:

    gw mungkin akan milih, kalo ada yg gw kenal dan suka calegnya. tapi kalo nggak ada ya…ngapain beli kucing dalam karung?

  12. -tikabanget- Says:

    eneg sayah liat baliho sama bendera partai.

  13. Herman Saksono Says:

    Menunggu calon yang sempurna itu percumah kang, nggak akan pernah ada. Seperti yang saya bilang, mereka bukanlah para raja bijak dari negeri dongeng. Politikus yang baik dilahirkan dari seleksi alami. Seleksi alami, dalam negara demokrasi, tentu saja adalah pemilu.

  14. awan Says:

    eeesaia sih tidak membaca postingannya. kepanjangan. itu hak saia toh?

    saia cuma antre menunggu hibahan mekbuk alu seandainya… seandainya… ehm…

  15. risiyanto Says:

    Kalau pada golput ya salahkan yang ande-ande lumutnya, kenapa para klenting gak mau melamar.
    *catatan: baca blognya sekip-sekip*

  16. jasmetal Says:

    semua caleg mengatasnamakan membela wong cilik, membela buruh dll, tapi adakah dr mereka ini yg bener2 dr kaum bawah misal wong cilik ataupun buruh.
    hemm tentu ada, kami dari serikat buruh, dengan bujuk rayuan apalah, demi bisa mengendarai partai untuk mengantar buruh ke legeslatip akirnya jasmetal kami usung. dengan 9 caleg dan berbeda beda partai kami berniat untuk mewakilkan buruh[bener2 buruh] untuk masuk di pemerintahan. biaya ? dengan berbagai cara dri mulai saweran, usaha dagang dan jual ini itu smoga bisa terlaksana. lalau apa tidak takut berkianat ? kami sudah siapkan perjanjian politik, jika caleg menyimpang dr amanah dg pencet esc kami mampu me recal mereka.
    eh maaf kok panjang lebar gini :)

  17. rony Says:

    @hermansaksono: nah, pola pikir itu yang melanda banyak orang Indonesia. menunggu? emangnya kamu percaya ratu adil mon? boleh sih, tapi saya nggak deh.

    betul harus dibentuk. tapi prosesnya adalah dari seperti yang aku bilang, susun langkah, bikin aliansi, jadi pilihan tidak ditentukan oleh pemilik modal (baca partai). pemilu jelas bisa jadi seleksi alami, lah kalau ndak ada yang milih dalam pemilu, berarti terbukti kan kalau partai ndak ada yang aspiratif? kalau masih pada milih ya berarti ndak ada masalah dalam kepartaian dan nggak berhak protes ketika koruptor menguasai negeri. :)

  18. ryosaeba Says:

    sometimes i think choosing the lesser evil is not even better than not choosing at all.

  19. ndoro kakung Says:

    suka ndak suka, hak politik di negeri ini tersalur lewat pemilu, meskipun hanya menjadi golput. tapi, kalau mau optimistik,di antara caleg yang jelek, paling tidak pilihlah yang kurang brengsek.

  20. Sayid Munawar Says:

    tapi masalahe ron, “orang yang bersih, tanpa cacat dan ideal” seperti yang kita harapkan, tidak akan mau masuk partai manapun, karena dia tahu kalau masuk partai akan terimbas godaan seperti siapapun yang sudah-sudah. orang seperti itu pun biasanya low profile, ndak mungkin terkenal, dan mungkin jadi presiden. jadi pemilu menurutku “terpaksa milih, daripada ndak milih”

  21. Sayid Munawar Says:

    maaf ralat komenku :D, kurang kata2 “TIDAK” di kalimat berikut:

    “ndak mungkin terkenal, dan TIDAK mungkin jadi presiden. jadi pemilu menurutku “terpaksa milih, daripada ndak milih””

  22. rony Says:

    @ndorokakung: kembali ke pilihan masing-masing ndor :)
    @sayid munawar: wah perkataan tidak mungkin jadi presiden dan tidak mungkin terkenal itu aku nggak setuju :D coba pelajari sejarah perubahan di amerika latin. bukan sejarah usang kok, dari mulai 1999 tuh. :D

  23. konco lawas Says:

    rony said

    Ketidak hadiran di pemilu, jika jumlahnya sampai mengurangi jumlah quorum sahnya pemilu, maka pemilu bisa disebut gagal. Hasil pemilu tidak sah.

    comment

    sayangnya, para penguasa sudah bikin UU utk melegalkan kekuasaan mereka..
    kalo kita baca di sini:
    http://inci73. multiply. com/journal/ item/179/ GOLPUT_atau
    maka meski yg milih cuman 10% sekalipun, tetap aja DPR penuh.. so Bangkitlah Negeriku Harapan Itu Masih Ada..
    nb: sesuk yen kopi-darat rasah ngobrol pemilu yaa.. he he..

  24. hedi Says:

    bila jumlah golput nanti mencapai signifikan, bisa jadi pembelajaran untuk calon pengisi parlemen edisi berikut bahwa mereka harus lebih baik dari 2009, semoga itu pesan moralnya.

  25. putra Says:

    Klo aku tuk ni pemilu ga milih, kan aku di daerah yang aku sendiri ga punya ktp t4 aku tinggal sekarang, maklum prantau yang gi cari ilmu.
    Milih ga milih tu hak preogratif masing2 individu.
    Klo bisa milih kan dah hak n kewajiban wni tuk memilih dalam pesta demokrasi.
    Tapi aku saranin jangan pilih para caleg yang ga bayar pajak reklame, alnya sblom jadi angleg ja dah ga byr pajak gmn klo dah jadi, malah njadi.
    Klo pemilihan presiden….
    Pilihlah orang yang benar2 anda anggap benar2 layak tuk dipilih bkn krn tampang n laen2. Aku stuju dgn roni “Lawan…” para penjajah negri sendiri.

  26. Sayid Munawar Says:

    @rony: ha masalahe itu di amerika sono, kita kan sedang membicarakan kampung halaman kita ini. susah jadi orang baik-baik disini.

  27. rony Says:

    @konco lawas: wah sulit! ketemu ketua pks cabang jepang mosok gak ngomongin pemilu hihi.. yang milih 10% DPR tetap penuh? mari kita lihat :D

    @sayid munawar: lha piye je. nek nyonto amerika untuk masalah “suara bisa mengubah” boleh, ini saya contokan yang amerika juga bahwa berjuang dari bawah itu mungkin, malah dibeda-kan hehe. oke, aku kasih contoh deh, samin, itu di Indonesia lho, di Blora :) Susah memang jadi orang baik, di sini, di manapun, tapi bukan berarti kita harus menyerah to? :D kalo misale sayid munawar maju jadi presiden misalnya, wooo tak bantu! situ kan orang baik :D

  28. mas stein Says:

    wah repot mas, kalo ukurannya abis biaya brapa dan nanti cuma dapet gaji brapa, ndak ada caleg, capres, cabup, dan ca yang lain layak pilih.
    semua memang jadi jual beli mas, ada penyumbang dana, ada kebijakan yang ditawarkan untuk dijual kalo kepilih. selama itu juga membawa manfaat buat rakyat, kenapa tidak?
    itu menurut saya lho…

  29. Yang di Luar Negeri Harus Milih Juga lho! Says:

    […] andil dengan memberikan hak suara kita pada PEMILU 2009 ini.  Seperti komen ndorokakung pada blog ini ” tapi, kalau mau optimistik,di antara caleg yang jelek, paling tidak pilihlah yang kurang […]

  30. pudakonline Says:

    setelah membaca berulang kali dari isi postingan sampai komentar, saya setuju dengan sampean.

    alasan bisa panjang, tapi paling tidak kita telah berulang kali dan tidak bosan-bosannya memilih yang brengsek begitu seterusnya, paling tidak sampai negeri ini bosan memeluk demokrasi.

    semoga saya salah.

  31. The Bitch Says:

    kalo golput ga boleh ngomel setelah PESTA DEMOKRAZY selesai, mari jadi Luigi yang bukan temennya Mario, didik tunas2 muda dengan baik dan sabar hingga mereka tau bagaimana adil dan makmur yg sebenar2nya, dan MARI REVOLUSI!!!

    wes pantes dadi provokator durung aku, maz?

  32. kopisusu Says:

    Urun pendapat, gimana kalo bikin partai khusus blogger sajah..

  33. arsyadsalam Says:

    Wah repot memang. Saya sendiri tak tahu apakah akan memilih atau tidak dalam pilpres nanti. Yg jelas kalo pilcaleg april ini saya ndak akan memilih alias golput soalnya prihatin dengan latar belakang para caleg itu yang kualitasnya sangat diragukan. Apa yang akan mereka lakukan kelak jika jadi anggota dewan? Apa yg mereka tahu soal penyusunan anggaran, soal teknis proyek2 dan perundang-undangan?? ckckckck.

  34. mamas86 Says:

    Alasan tidak memilih adalah, karena kalaupun kita milih, kita juga ga tau harus milih yang mana? Kenal juga ga… :D

  35. silvian Says:

    hi, nice post. suka deh. Lam kenal ;)

  36. choir Says:

    satu suara sangat berarti, jadi jangan pernah untuk menjadi golongan putih…….

Leave a Reply