
Selamat siang! Lama tak jumpa, lama pula tak berbagi kata. Banyak hal yang sudah terjadi ya di sekitar kita, dan yang paling mencolok tentu saja berkibarnya segala atribut di jalanan.
Tidak cuma di jalan utama, bahkan di gang-gang sempit, dari mulai brosur, selebaran, poster, sampai bendera memenuhi ruang penglihatan kita. Kalau kenyamanan mata bisa dianggap sebagai sebuah kebutuhan mendasar, bisa gak ya kita menuntut mereka yang sudah merusak kenikmatan itu?
Ah tetapi saya kali ini hanya ingin urun rembug saja, saya anggap saja dengan semena-mena bahwa para caleg kita, para partai yang mengatasnamakan kita, semuanya bodoh dan tidak mengerti ilmu komunikasi. Saya yang awam soal ilmu ini, paling tidak sepertinya masih lebih mau membaca dibanding mereka-mereka. Maka baiklah, saya urai saja di sini hal-hal yang penting dalam berkampanye.
Inti dari Kampanye
Sebelum lebih jauh membahas tentang kampanye, ada baiknya kita sadari lebih dahulu makna dan tujuan kampanye. Satu hal yang pasti, kampanye itu bertugas untuk mengenalkan (karena memang sebelumnya sama sekali tidak dikenal) mengenai siapa mengapa dan bagaimana baik caleg maupun partai.
Secara lebih luas, kampanye berarti sebuah usaha yang masif untuk “mengingatkan” atau setidaknya “mengingatkan kembali” para pembaca/pendengar mengenai siapa mengapa si pemberi kampanye.
Dengan demikian sebuah kampanye memiliki unsur-unsur yang harus dipenuhi:
Hal yang memperburuk sebuah kampanye
Selain hal-hal kunci yang harus diingat dalam berkampanye seperti terurai di atas, maka ada hal juga yang harus diingat. Hal teknis –yang sebenarnya mendasar– yang dengan jelas dan pongah dilanggar secara gegap gempita.
Pertama adalah hindarkan hal yang memicu kemuakan. Silakan cari arsip melalui Google, dan Anda akan menemukan poster-poster aneh yang justru membuat kita muak dan tidak ada ide/hal baru yang tersajikan di sana. Misalnya saja poster seorang caleg yang merasa perlu menampilkan foto anaknya sebagai latar belakang hanya karena anaknya seorang bintang sinetron. Apakah orang akan memilih Anda hanya karena dia senang dengan anak Anda? Atau untuk lebih jauhnya, anak Anda dikenal karena perannya, kalau perannya antagonis apakah hal itu tidak justru membuat Anda semakin tidak jelas? Atau misalnya yang menampilkan diri sebagai seorang super hero, lah! emangnya kita tinggal dimana to pak? kok butuh superhero?
Yang kedua, hindari kemarahan pembaca/orang yang melihat. Saya termasuk orang yang marah dengan pemasangan bendera partai di pinggir jalan sempit. Silakan lihat di postingan saya sebelum ini. Bodoh bukan? Anda tidak mendapat simpati dari saya, justru Anda mendapat kecaman.
Ketiga, ini penting. Anda pikir buang-buang uang dengan membuat poster/baliho/dll itu bermanfaat? Terpikirkah oleh Anda ketika poster Anda dicoret-coret (mustinya Anda perempuan tapi tiba-tiba ada kumis melintang di bawah hidung Anda) akan seperti apa dampaknya? Ataupun ketika poster Anda jatuh ke jalan, terinjak kaki, ban ataupun binatang, betapa hinanya bukan? Oh iya, kampanye itu masalah perspektif dan persepsi, dan Anda sukses mempersepsikan diri sebagai bahan injakan.
Keempat, tak kalah penting. Anda mengumbar nafsu membuang uang dan berharap mendapat pandangan sebagai tokoh penting dengan memasang baliho besar di tengah jalan. Namun kemudian KPU menurunkannya. Efek psikologisnya besar Bung/Jeng! Kredibilitas Anda jelas, jelas tidak jelas! Bahkan ketika yang menurunkan itu Anda sendiri.
Oh yang tentu saja perlu diingat, memposisikan diri sebagai narasumber berbagai kajian poto syur tidak membuat Anda lebih baik, meskipun dana kampanye Anda jadi nol.
Lantas Implementasinya?
Tidak ada kisi-kisi khusus untuk hal ini, maaf jika mengecewakan. Laksanakan saja kunci-kunci itu dan hindari hal-hal yang menghancurkan diri Anda sendiri. Selamat berlomba menjadi anggota legislatif, semoga Anda dijauhkan dari sikap korup. Oh ya, semoga Allah SWT selalu dekat dengan Anda sehingga ketika Anda nanti berkuasa lantas korup, Beliau langsung menjewer Anda, tepat di depan masyarakat.
vale, demi kampanye yang menyejukkan
el rony, kali ini berbaik hati pada para pemakan daging masyarakat.
Category: Politik, Yogyakarta, Culture, Semiotics, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
February 19th, 2009 at 1:26 pm
Setuju, juga caleg2 yang menggunakan email sebagai bahan promosi/kampanye. Sadar gak sih mereka kalau tindakannya itu sama dengan spaming?
February 19th, 2009 at 2:11 pm
ini ada caleh pengen nyewa jasamu ron. mbayar piro?
February 19th, 2009 at 2:15 pm
@bayu: yoi. mereka ndak paham kali yang dimaksud dengan spam.
@ndorokakung: caleg dari partai pesta blogger? atau caleg tempo? tempo-tempo caleg, tempo-tempo maling? hihihi
February 19th, 2009 at 4:08 pm
wah, untung gak menyebut nama seseorang yang dituduh narasumber. iso nggarai dituduh pencemaran nama baek :))
February 21st, 2009 at 6:07 am
It’s all about posse!
February 21st, 2009 at 9:51 pm
Buat Para Pelaku Kampanye
Jangan kampanye yang bersifat menggangu
klo ada yang keberatan
cabut saja gambar partainya
dari : www.segalanya.webs.com
February 22nd, 2009 at 2:29 am
Memorable, Durability, Entertaint…
ah, sok bule lu!
*nyari ojek*
February 22nd, 2009 at 3:12 am
@paKDhe: lha barusan muncul lagi di tv. soal artis bisa dibeli lagi. hihii
@godril: joih!
@miftahur: cabut!
@Ben: wah ini pak benny contoh menesmen ya? saya bisa jadi artis gak pak? *ojek yang nerima benceh pasti sux* hihi