Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Menengok “Halaman Belakang” Negerinya Obama

Print This Post   Email This Post

Judul kali ini terinspirasi dari ulasan Fokus Kompas pada hari Jumat kemarin (07 November 2008). Melalui tulisan ini pula saya ingin menyampaikan apresiasi saya kepada harian tersebut. Di saat semua mata dan telinga terfokus ke berita seputar sepak terjang “kawan sewarna” –dalam arti sama-sama berwarna– Kompas dengan cukup tegas memposisikan dirinya sebagai penunjuk arah.

Fokus Kompas hari Jumat kemarin mengupas tentang geliat neo-sosialisme di belahan selatan Amerika, tepatnya di Paraguay dan Venezuela. Sosok Lugo dan Chavez, ikon perubahan masa kini, dikupas dengan cukup panjang lebar. Mungkin kalau boleh menyampaikan kekecewaan, hanya terletak di tulisan Budiman Sudjatmiko. Bagian tulisannya sungguh seperti –meminjam istilah istri saya– melihat acara televisi “mimpi kali ye” dimana seorang fans ketemu idolanya.

Namun terlepas dari kekecewaan itu, mari kita bincang-bincang lagi mengenai Lugo dan Chavez. Lugo, seorang mantan pastur, pengagum Soekarno, berhasil menduduki jabatan tertinggi di Paraguay. Namun, sampai hari Jumat kemarin, beliau masih tinggal di rumahnya yang berukuran tipe 45, makan ubi rebus dan minum teh bersama tamu dengan satu gelas kayu. Chavez-pun tidak enggan untuk berbagi “gelas” dengan para tamu. Ciri kesederhanaan yang mengingatkan kita pada ucapan sang proklamator, “Marhaen”.

Sayangnya, di saat saya sedang membaca artikel tersebut, keasyikan saya terganggu oleh wakil presiden kita. Wajah, pembawaan dan cara bertutur serta isi perkataannya, sungguh menyadarkan saya betapa jauuuuuuhhh dia dengan kita. “..kalau harga bbm diturunkan lebih dari itu, APBN tidak akan mampu..” dan seterusnya dan sebagainya, itulah yang keluar dari mulut di bawah kumis tipis yang selalu tercukur rapi itu –sepertinya ada tukang cukur khusus untuk itu.

Dua hal amanat pendiri bangsa, pesan mereka yang tertumpah darahnya demi kemerdekaan negeri ini, yang secara nyata ditolak bahkan mungkin hanya menempel di bawah sepatunya yang mahal. Dua hal itu adalah “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat” dan “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.

Dua hal itu yang justru secara tekun dan amanah dilaksanakan oleh Lugo dan Chavez, dua orang yang sama sekali bukan warga negara Indonesia. Berhubung saya tidak ingin membahas hal yang membuat muntah (para pemimpin kita maksudnya), maka mari kita bahas tentang tekun dan amanahnya dua sosok hebat ini saja.

Fernando Lugo, Rakyat di atas segalanya.

Hal itu yang saya tangkap dari pembacaan artikel fokus ini. Dituliskan di sana bahwa tiap jam Lugo menhabiskan waktunya untuk memikirkan rakyatnya. Terbayang di mata saya sibuknya Lugo menandatangani dekrit-dekrit yang bertumpuk di mejanya. Bukan untuk kekayaan dirinya, bukan untuk demi terpilihnya lagi dia di masa mendatang, bukan untuk memudahkan pesta perkawinan anaknya dengan artis, bukan!

Rumah Lugo masih penuh dengan hitam-hitam akibat tirisan hujan, cat rumahnya masih saja kusam, sofa dan televisi tua tidak ada niatan untuk diganti. Asketisme luar biasa, sebuah sikap yang mencerminkan bahwa dirinya tidak memerlukan hal duniawi yang berlebihan. Beliau bahkan menawarkan untuk menyetir sendiri mobilnya ketika mengajak rombongan kompas ke istana negara.

Dia, Fernando Lugo, dalam hemat saya justru nampak melampaui orang yang dia kagumi –Soekarno. Untuk menjadi seperti dirinya, saya mungkin tidak akan mampu. Bayangan-bayangan kebutuhan hidup sangat menghantui dalam keseharian saya. Namun, mempunyai pemimpin yang seperti dia, saya rela melakukan apa saja yang dia perintahkan. Minimal, saya akan datang ke pemilu dan mencoblos, hal yang tidak pernah saya lakukan selama ini. Bagaimanapun, kehadiran kita di pemilu, merupakan legitimasi atas pemilu itu sendiri, padahal keterwakilan yang ada di negeri ini dalam hemat saya sama sekali tidak legitimate. Begitulah.

Ungkapan Lugo yang paling mendasar dan sangat menyentuh adalah “Tuhan harus dimuliakan dalam perut yang kenyang, bukan oleh wajah yang muram karena kelaparan”. Ah, mungkin ini bukan kata-kata persis dari Lugo, namun memang demikianlah yang diperjuangkan olehnya.

Dia tentunya tidak akan rela rakyatnya menderita karena kenaikan harga yang terus saja terjadi. Dia akan melakukan upaya apa saja untuk mencegah hal itu terjadi. Dia mungkin saja melakukan apa yang dilakukan oleh Chavez.

Hugo Chavez, “hands off Venezuela!”

HOV (hands off Venezuela) sebenarnya adalah nama yang diambil oleh sebuah lembaga nirlaba. Lembaga yang dibentuk oleh aktivis, mahasiswa dan pegiat muda eropa dan amerika yang tertarik dengan perubahan di Venezuela. Dan nama itu sangat tepat menggambarkan sepak terjang Hugo Chavez.

Semenjak pertama kali terpilih sebagai pemimpin negeri (Hugo Chavez dipilih oleh mayoritas penduduk Venezuela), hingga kemudian sempat digoyang kudeta oleh para kapitalis (yang kemudian gagal karena rakyat mencintainya), Chavez tidak pernah goyah dengan pendiriannya.

Gebrakan terakhir yang dilaporkan di Fokus Kompas adalah Nasionalisasi Migas. Seperti halnya PERTAMINA di negeri kita, PDVSA di Venezuela selalu dilaporkan merugi. Dan sepertinya kasusnya sama, korupsi dari ujung ke ujung. Nasionalisasi Chavez akhirnya berhasil membawa Venezuela menjadi produsen minyak terbesar dunia saat ini.

Oke, mungkin ada unsur “campur tangan Tuhan” di sana, dimana Sungai Orinoco ternyata menyimpan cadangan minyak yang sangat-sangat besar. Namun terlepas dari itu, melihat lonjakan yang fantastis (dari 77 miliar barrel menjadi 312 miliar barrel), terbayang bahwa selama ini ada upaya tersembunyi dari para birokrat dan kapitalis di sana untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.

Hal yang pantas untuk dijadikan pelajaran adalah Chavez memulai nasionalisasi-nya dengan kajian legal. Soekarno, tokoh proklamasi kita, tokoh yang dikagumi oleh Chavez, juga pernah melakukan nasionalisasi, namun sepertinya kajian legal agak kurang mendapat perhatian. Pada masa sekarang, kajian legal ini menempati posisi yang sangat penting. Sebagai akibat positif dari pendekatan ala Chavez, ExxonMobile dibikin gigit jari ketika membawa kasus ini ke arbirtrase internasional. Ya, kajian legal Chavez berhasil menunjukkan adanya korupsi sehingga arbirtrase internasional memenangkan Chavez.

Lantas kemana hasil nasionalisasi itu? Tentu saja kembali ke rakyat. Venezuela bahkan menawarkan harga minyak murah ke warga negara miskin di AS! Minyak, dewasa ini seakan telah menjadi konsumsi utama. Dia menjadi nafas bagi naik atau turunnya harga.

Dan bagaimana pula bentuk nasionalisasi yang dilakukan Chavez? Perlu disinggung di sini, pola nasionalisasi yang dilakukan Chavez kurang lebih sama dengan yang dilakukan oleh rekan Amerika Latin lainnya, dari Bolivia ialah Evo Morales. Presiden Bolivia yang asli indian ini melakukan negosiasi ulang dengan perusahaan asing, dan menghasilkan sistem bagi hasil 60:40 dimana 60% untuk negara. Demikian juga yang dilakukan oleh Chavez, dan uang itu pada ujungnya menjadi tulang punggung program-program sosial yang dilaksanakan di kedua negara.

Dengan dana itu pula, Chavez mengurangi jumlah pengangguran dan memberi lapangan kerja dengan cara mempersilakan penduduknya membuat proposal untuk pembangunan wilayahnya. Warga Venezuela kemudian membuat proposal dari mulai membangun irigasi hingga stasiun radio. Semuanya dilakukan oleh warga dan diawasi oleh warga. Hal ini tentu berbeda dengan bagi-bagi uang Rp. 300.000,- dengan dalih subsidi BBM untuk tiga bulan. Sudahlah uang itu kecil, pembagiannya pun ngawur sehingga muncul korban jiwa (tahun lalu tercatat ada petugas terbunuh atau bunuh diri).

Begitulah seharusnya seorang pemimpin, begitu pula seharusnya menjadi rakyat. Pilihlah pemimpin yang benar, jika tidak ada yang benar, ya jangan dipilih.

vale, demi kesehatan.

el rony, perih melihat kebanggaan para wakil rakyat dan pemimpin negeri ini atas kekayaannya.

nb: bagaimana kabar porong?
nb: wahai kawan-kawanku yang hilang tak tentu rimbanya, penculik dan penyiksa kalian sekarang tampil berdasi menyuarakan nurani, penderitaan dan fasih mengucap rakyat.
nb: kalian yang pernah diculik, kalian yang kemarin menyandang baju kumal bernama aktifis, apa yang kalian cari dari tangga penuh ular?
nb: oh iya, obama cuma muncul di judul. ya semoga dia bisa hadir dalam tulisan yang lain.

update: untuk yang ingin tahu seperti enda :) silakan lihat http://www.handsoffvenezuela.org/ atau versi bahasa indonesia ada di http://indonesia.handsoffvenezuela.org

Category: Politik, Neolib, Culture | Comment RSS 2.0 | trackback

13 Responses to “Menengok “Halaman Belakang” Negerinya Obama”

  1. dodi Says:

    gue baca! beneran!

    tapi gak tau mo komen apa.

  2. enda Says:

    gue yakin ga ada kebebasan ngeblog di negara2x itu hihihihi

  3. oon Says:

    waaa…gwe juga blum pernah nyoblos pemilu
    emang diindon blom ada profil pemimpin idealis macem jaman dulu sih :(

  4. rony Says:

    @dodi: yang jelas, jadi kecut kalo inget pemimpin kita :)
    @enda: andai saja di dunia ini ada yang sempurna.
    @oon: power tends to corrupt. tapi di indonesia: every single things tends to corrupt :p

  5. vicong Says:

    Pemerintah Indonesia juga giat kok menambah pendapatan negara dengan meningkatkan penerimaan pajak :D

    *tendang rony ke CS sunset policy 2008*

  6. paKDhe Says:

    prasaan dulu buanyak perusahaan belanda yang dinasionalisasi tapi hasilnya yaaaaa hehehhe. niatnya beda

  7. fahdi Says:

    wah, pak de, tulisannya bagus :)

  8. bangsari Says:

    negoro kok ra rampung rampung. selak mati isih ngene wae, bosen aku….

  9. Qky Says:

    kapan revolusinya, pakdhe Lantip?
    btw, konon katanya raja adalah pelayan rakyat, benar?

  10. spiritofchi.com Says:

    nice post. sebuah perjalanan belum selesai kalo belum liat akhirnya…:) www.spiritofchi.com

  11. rony Says:

    @Qky: nanti sore, jam 4. ikut? yoi yoi, makanya saya selalu bawa kemoceng *nyamarjadiraja*

  12. Agung Komikaze Says:

    suwe aku ra moco2 tulisan ngene ki ron…
    amerika latin selalu menarik untuk dikaji… bagaimana dg arab ron?

  13. Pit Says:

    aku pernah ikut pemilu! karena adil, tak coblosin semua aja. hehe.

Leave a Reply