Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Heroisme Bodoh!

Print This Post   Email This Post

Selamat siang semuanya, lama tak ngeblog ya. Sehat saja kan? Maaf lahir bathin buat semuanya. Kali ini saya sedang digelisahkan dengan kebodohan-kebodohan kecil namun fatal dari masyarakat di sekitar kita. Oh ya, mari kita sejenak melipir, minggir, dari segala kampanye politik para partaiers yang makin menggila di berbagai media. Mari kita membahas yang menyangkut hidup kita saja.

Kebodohan seperti apa yang menggelisahkan saya?  Saya mengatakannya kebodohan sok heroik yang diulang-ulang hanya dengan alasan non rasional seperti “toh selama ini baik-baik saja”. Heroisme yang menunggu dirinya sendiri bertemu dengan si naas.

Perilaku Para Pertaminaers Swasta

Ya, merekalah yang saya soroti. Para penjual bensin eceran, para penjaja keliling gas. Pagi hari kemarin, saya memilih mengalah mengerem kendaraan saya agar berjarak cukup jauh dengan sebuah pickup yang mengangkut tabung-tabung LPG 12 kg. Jeritan klakson di belakang saya dengan sengaja saya acuhkan, kebetulan Mata Air (anak saya) justru menikmatinya. Apa pasal saya melakukan hal itu?

Mobil pickup itu menyeberang  Jalan Magelang, tepat ketika kendaraan saya berada di sisi seberangnya, sehingga ketika pickup itu menyeberang, dia jadi ada persis di samping saya. Yang membuat reflek mengerem adalah si supir dan kenek. Pak supir dan kenek (yang duduk di sampingnya) dengan tenang melongok-longok dari jendela sambil menghembuskan rokok! Jadi mereka berdua merokok! Saya langsung ngeri melihatnya. Terbayang jika di antara puluhan tabung gas yang ada di bak belakang itu ada yang bocor, gas bertekanan tinggi yang sedang semakin sesak oleh panasnya udara Jogja, tentu akan menyambut hangat kobaran api kecil dari pak supir dan keneknya.

Itulah alasan saya mengerem kendaraan saya. Sambil mengerem saya teringat dengan para pedagang eceran bensin di pinggir jalan. Tak jarang saya mendapati mereka mengisi bensin ke motor saya, atau motor orang lain, sambil tetap merokok. Saya pernah menegur salah satu dari mereka, namun jawabannya adalah,”wong selama ini juga ndak ada masalah kok!”. Saya tidak sempat mengelus dada atas jawaban itu, hati saya sudah terlanjur misuh duluan.

Heroisme Bodoh!

Itulah yang melintas di pikiran saya, saya lontarkan hal ini kepada istri saya, dan dia juga sepakat. Dengan keangkuhan paling final, para manusia tak kekal ini mencoba dengan sombongnya menantang sang naas.

Mungkin itu pilihan mereka, dan itu adalah hak mereka untuk memilih. Namun jika naas menghampiri, apa ya mereka bisa bertanggung jawab atas apa yang terjadi dengan makhluk di sekitarnya? Jangankan bertanggungjawab atas orang lain, bertanggung jawab atas diri sendiri saja pun dipastikan mereka tak mampu.

Entah harus dengan cara seperti apa untuk menasehati mereka.  Saya teringat lagi dengan kejadian di pesawat ketika saya terbang ke Jambi. Seorang pemuda dengan curi-curi (kalau pramugari lewat, hpnya ditelungkupkan) terlihat seperti sedang sms-an. Sudah ditegur, tetap saja tidak mau menghentikan apa yang dia lakukan, padahal sudah dibilang bahwa jenis pesawat yang dipakai tidak safe untuk melakukan aktivitas itu. Blegug kok ditattoo, hanya itu yang bisa saya ucapkan kemudian.

Menurut Anda, bagaimanakah cara menghentikan praktek heroisme bodoh ini?

vale, demi kesehatan

el rony, menikmati kopimik di siang hari

Category: Yogyakarta, Culture, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback

13 Responses to “Heroisme Bodoh!”

  1. endhoot Says:

    hai, ronsay!
    dah lama aku ndak mampir ke sini
    muach buat Mata Air yaaaa!!!

  2. Bagas Says:

    Itulah Potret sebagian besar bangsamu Ron. :D

  3. Hedi Says:

    banyak orang kita yang senang cari celaka, tapi lebih celaka lagi, dia melakukannya sambil “ngajak2″

  4. Imansyah™ Says:

    Nanti kalo sudah tahu caranya, bagi-bagi tips ya mas!

  5. Qky Says:

    maaf lahir bathin, Pakde Lantip… :)

    Republik kita telah membentuk perilaku semacam itu, Pakde… THO, tetap okeh-okeh saja :_P

    Biasalah… baru ambil tindakan jika diperlukan (karena desakan juga :D)… samalah dengan macam.. penggusuran warga di tanah-tanah Negara, Kolong jembatan TOL, Kebakaran hutan, busung lapar, sekolah negeri roboh, Ahmadiyah, dll…

    Republik ini memang republik tanpa arah dan kendali… weleh-weleh…

  6. The Tracer Says:

    Ya begitulah tingkat disiplin bangsa ini. Kalau diingatkan, jawabnya ndak masalah kok atau orang lain juga begitu.
    Yang waras ngalah…daripada “bengek”…

  7. mpokb Says:

    lho, jangankan mobil yg bawa tabung gas. mobil thok kan juga besi dipasangi mesin yg didalamnya ada proses pembakaran, ron :D makanya saya suka parno kalo ada sopir angkot merokok. kan mesinnya deket banget sama sopir.. :(

  8. Ben Says:

    sisi heroismenya di mana?

  9. Aji Says:

    sebenarnya ini adalah permasalahan sistematis yang melanda bangsa ini dikarenakan rendahnya tingkat pendidikannya.
    Jadi juga jangan menyalahkan mereka jika hal tersebut terjadi. faktanya adalah penegakan hukum sesaca sistemik dan organik telah gagal sampai ke akar-akarnya.
    Pun bukan masalah heroisme, karena pada akhirnya yang dirugikan adalah masyarakat sekitar

  10. biro jasa Says:

    mereka tidak pernah mengambil pelajaran yang kerap terjadi berulangulang di tayangkan di televisi..mbandel..
    menganggap kecelakaan itu cuma ada di TV !

  11. sufehmi Says:

    Kalau mau bodoh, celaka, menantang maut sendirian sih tidak apa.

    Tapi yang sering terjadinya adalah turut menyeret2 orang lain juga.
    Begitu ditegur, supaya dia DAN saya tidak apes, malah menantang.
    Alamak. Goblok kok dipelihara mas…. mendingan juga pelihara kucing :D

    Jadi sekarang ini saya heran jika ada orang yang heran kenapa negara ini pada kacau pemimpinnya. Rakyatnya saja tidak beres begitu, bagaimana akan bisa membereskan para pemimpinnya. He he :)

  12. rani Says:

    kerna banyak peraturan yg dodol juga si… jadi seolah2 semua peraturan ada utk dilanggar

  13. aditya Says:

    judulnya lebih tepat “egoisme bodoh” sy kira

Leave a Reply