Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Mengadili Pikiran

Print This Post   Email This Post

Sebuah kotak tergeletak di atas meja bertaplak hijau. Seorang petugas berseragam membuka kotak itu, dan seiring kepulan uap dingin dikeluarkanlah sang otak. Masih segar, putih, otak itu baru saja lepas dari kebekuan untuk hadir dalam sebuah majelis, persidangan.

Tegap, Jaksa melangkah mendekati meja bermikrofon itu, sambil memegang pisau. Ditusuknya sang otak dengan ujung pisau, kemudian disesapnya ujung pisau itu. Mengernyit dahi sang jaksa, lantang dia berkata,”Pikiran yang membahayakan Yang Mulia! Pahit, dingin dan menyayat!”. Setetes darah tampak keluar dari mulut jaksa, selarit merah juga menempel di ujung pisau, sementara kepulan uap dingin masih bersisa di sana.

Pembela maju, dengan sangat hati-hati dipotongnya seujung otak itu di bagian belakang. Otak kecil, tempat alam bernama bawah sadar, tempat keyakinan diyakini bersemayam. Sepotong irisan itu dimasukkan ke mulut, dikunyah untuk kemudian ditelan. Lalu suara pembelapun terdengar,”Pikiran ini kenyal, nikmat dan sama sekali tidak beracun. Pikiran ini baik Yang Mulia!”.

Jaksa maju tergopoh-gopoh, dengan pisau yang tadi diirisnya sang otak secara melintang. Lalu dia berkata,”Pikiran ini tidak simetris Yang Mulia! Sama sekali tidak berimbang, penuh intrik dan menjijikkan!” sambil mengelap pisau ke jubahnya. Sang pembela tidak menyatakan keberatan, yang dilakukannya justru membelah irisan sang jaksa, membujur. “Pikiran ini indah Yang Mulia! Hanya masalah cara, masalah sudut pandang!” demikian kata sang pembela.

Jaksa menyayat, Pembela mencuil. Jaksa mengerat, Pembela mencacah. Tidak ada lagi uap dingin, taplak hijau semakin basah. Hingga tiba sebuah palu menghantam, dan suara hakim meningkahi “Pikiran ini kotor! Sesat!”.
Taplak hijau kini dipenuhi serpihan. Otak itu tidak lagi seputih tadi, dia menjadi abu-abu, kecil-kecil dan membusuk. Mikrofon menjadi saksi bisu bahwa otak tak sempat bersaksi.

Celakalah Kita!

Fragmen itu terjadi saat ini, di sini. Fragmen ini memang pernah terjadi di negeri ini, 43 tahun yang lalu, ketika sebuah pikiran diadili dan dieksekusi. Pikiran, ideologi, keyakinan, dihancurkan melalui pendekatan kekuasaan dan kekuatan. Efeknya sungguh luar biasa, ribuan jiwa menjadi korban. Mati terhina atau bahkan hidup nista.
Tadinya kupikir fragmen ini sudah tak akan terulang, kupikir rakyat negeri ini sudah mulai dewasa, sudah mulai paham bahwa pikiran tidak bisa dan tidak boleh diadili. Aku berpikir demikian demi melihat kenyataan bahwa Golkar masih ada sampai saat ini. Jutaan jiwa negeri ini yang kehilangan kesempatan hidup layak, korban nyata atas sebuah keyakinan dalam tubuh Golkar, tidak lantas membuat negeri ini membungkam bahkan membubarkan kelompok ini.

Tapi ternyata aku salah. Fragmen itu berulang di sini, saat ini.

Celakalah Kalian!

Dalam artikel KOMPAS kemarin disebutkan bahwa salah satu kesalahan utama dari bangsa ini adalah “mayoritas yang diam”. Tolong sadari itu, ke-diam-an kita sama saja dengan mengamini kesalahan. Ke-diam-an kita sama saja dengan memelihara kemerosotan moral. Marilah bersuara!

vale, demi keadilan
el rony, membaca sms dari tan malaka
“kawan, pikiran itu materi!”

Category: Politik, Neolib, Culture, Semiotics | Comment RSS 2.0 | trackback

10 Responses to “Mengadili Pikiran”

  1. MaNongAn Says:

    test…test….. saya sedang bersuara,
    dicoba… dicoba… test…test…tst……

    yah percuma kalo bersuara gak ada yg dengerin, mending diem dah sambil ngopi ama rokok’an plus makan gorengan.

    .::he509x™::.

  2. Hedi Says:

    orang lebih suka skeptis, bahkan apatis, ketika sekian lama bersuara tak juga ada perubahan, mas

  3. bangsari Says:

    cek cek cek…

    hai… yangh dih belakangh sanah, apakahh dengarh suarah sayah? baiklahh, segerah sajah kitah tampilnyah persembahanh darih sonetah dengan judul istrih yangh solehah.

    teret ret ret ret teret…

  4. Doni Says:

    salah besar ron, bangsa ini ga diam kok, mereka berbicara. bicara soal demokrasi, bicara soal keadilan, bicara soal moral dengan gagap.

  5. mpokb Says:

    golkar atau militer, ron?
    diamnya itu karena bosan, cuek atau karena takut dibedil, ron?

  6. Qky Says:

    seorang fasis bilang, “hey, dasar revolusioner, lu… doyan banget, sih, ama otak-otak…amit-amit…”

  7. oon Says:

    diam adalah emas?
    jadi karena bangsa ini masih banyak yang miskin jadi pada diam mengharapkan emas kali xixixi…

  8. gus Says:

    saya lebih setuju kalau kebangkrutan ranah kebangsaan kita, lebih disebabkan karena ketakutan ‘kita’ (saya menggunakan kata kutip, karena leksikon tersebut kerap dipakai dalam pidato resmi kenegaraan petinggi dan cendekia republik ini,untuk mewakili mereka sendiri)lebih suka mengkritisi org lain, partai lain, ideologi lain. bahkan mengkritisi Tuhan jika perlu. namun tak pernah berani mengritik ‘diri mereka sendiri’.

  9. scut Says:

    bangun dari tidur ron.

  10. oon Says:

    bicara tapi tak bergerak, ap bdanya??????

Leave a Reply