
Bukan, judul di atas bukan salah tulis. Seperti kita tahu, belakangan ini berita di media seperti tak ubahnya kutu loncat. Tampak bagaimana media sudah seperti bola pingpong yang dihantam kian kemari dan terlihat pasrah. Sepertinya kita memang belum memiliki media yang benar-benar independen dan konsisten.
Naiknya harga BBM beberapa waktu lalu, repotnya masyarakat kalangan bawah menyiasati kenaikan harga yang mengikutinya, serta ricuhnya demo kenaikan harga oleh mahasiswa, dengan segera tenggelam oleh isu lain. Terakhir kita dipaksa untuk mengikuti berita tentang sekelompok preman berseragam yang memukul demonstran. Tak tanggung-tanggung, semua media baik televisi maupun media cetak dipenuhi dengan berita ini. Sampai hari ini berita itu masih saja menjadi topik utama.
Tertembaknya demonstran BBM beberapa waktu lalu, tampaknya tidak lagi memiliki tempat di media kita. Demikianlah potret kebebasan pers di negeri ini. Yang terjadi bukanlah kebebasan analitik, tetapi membabi buta, gagap dalam pemberitaan. Sibuk dengan berita-berita bombastis yang dirasa mampu menaikkan oplah.
Belum lagi kalau kita tilik mengenai kasus lumpur Lapindo. Semakin jauh saja isu itu, jauh dari telinga kita, jauh dari mata kita. Berita mengenai kasus ini sempat menjadi headline di harian ternama, KOMPAS, tetapi setelah itu tenggelam lagi, senasib dengan kampung-kampung di sekitar pabrik dogol itu.
Demikian Media, Demikian Pula Pemerintah Kita
SBY merasa perlu mengadakan konferensi pers mengenai sikap pemerintah atas tindak kekerasan itu. Hal yang sama sekali tidak perlu. Sebagai negara hukum, sudah selayaknya kelompok itu ditangkap. Dan dikarenakan bentuknya yang paramiliter, sudah selayaknya pimpinannya ditangkap dan diminta bertanggung jawab.
Blow-up yang dilakukan oleh pemerintah mau tak mau membuat kita berpikir tentang teori konspirasi. Dan kita, media kita, memakannya bulat-bulat. Coba saja kita lihat, segera setelah ribut-ribut soal ini, beberapa aparat kepolisian tanpa seragam mendatangi ketua kelompok ini. Mengapa harus dilakukan hal seperti ini? Hukum memang pandang bulu?
Dan kemudian, mungkin untuk menutup malu atas sindiran banyak orang mengenai blue energy, SBY merasa perlu untuk mengadakan rapat khusus membahas hal ini. Apakah FPI ini lebih mengerikan dibanding GAM atau OPM? Kalau toh demikian, kenapa tidak ada represi militer saja sekalian? Jika memang arahnya ke makar, kenapa harus ketakutan dan hanya menangkap mereka yang tertangkap kamera saja?
Hal-hal ini luput pula dari bidikan para kuli berita kita. Mereka sibuk dengan gegap gempita ribuan personel polisi yang menjemput (ya tuhan) para tersangka di petamburan. Mereka, para kuli berita kita tersayang, sibuk dengan kalimat aneh habib yang berbunyi “foto belum tentu salah, foto belum tentu salah”.. apa nilai jurnalistiknya?
Gagap Gempita, Gagal Berita
Sekali lagi, media kita menunjukkan kapasitas dirinya yang tak lebih dari sekumpulan bebek yang ikut saja ketika digiring kesana kemari. Bebek tidak pernah sibuk memikirkan siapa yang menggiring, bebek juga tidak pernah protes, ketika tongkat penggiring diangkat ke kanan, bebek pasti belok ke kiri. Tak lupa mereka ribut meleter bersama-sama.
Data mengenai kelompok kriminal ini sudah ada sejak lama, tinggal membuka saja, memperlihatkan kaitannya dengan kekuatan-kekuatan tertentu di negeri ini. Dengan begitu rakyat jadi mafhum akan kaitannya ramai-ramai soal pemukulan, ribut-ribut ahmadiyah, pemilu, dan kenaikan BBM. Tapi tidak, media kita sibuk dengan kegagapannya, media kita gagal membuat berita.
Saya, terus terang, kecewa.
vale, demi kesehatan
el rony, berusaha untuk tidak putus asa
Category: Politik, Neolib, Culture, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
June 4th, 2008 at 1:12 pm
sebenarnya, jangan hanya FPI yg diberantas,jika mau konsisten. ’sikat’ juga semua organisasi para militer yg ada (onderbouw parpol2).
itu baru adil
June 4th, 2008 at 3:09 pm
kan ada blog, lantip?
pertama, pemilik media itu siapa dulu.. kedua, yg punya pabrik dogol mau bikin kerajaan media sendiri lho. situ nggak mau gabung ke sana? hehehe glek.
June 5th, 2008 at 10:52 am
ralat mas ronceh, polisinya gak sampe ribuan kok. katanya “cuman” 4 detasemen heheheh sekitar 800 orang
June 5th, 2008 at 11:18 am
Jadi semua di Indonesia buruk? Tinggal blog yang paling bagus? Wow!
Tidak perlu kecewa, apalagi putus asa. Dan itu biasa-biasa saja, bukan usaha spektakuler.
June 6th, 2008 at 3:25 am
hehe.. wes ket bingen lek..
June 6th, 2008 at 12:34 pm
ehh juragane wes nge-post meneh…
piye kabare paklik…
lak waras2 wae tho..?
June 6th, 2008 at 2:20 pm
Siapa sih yang ndak kecewa dengan negeri ini? malah lucu kalo merasa puas dan bangga. maap saja, ndak ada tanda-tanda negeri ini bakalan maju.
halah, kok serius men.
June 6th, 2008 at 3:00 pm
ingat Pakde… mereka diburu waktu, ibarat makan, mereka jadi terbiasa “kelolodan”… dan tak jarang tersedak… dan kita? akhirnya terpaksa menikmati orang kelolodan…
btw, saya sejak lama tak lagi menggubris “orang klolodan” saya hanya melahap informasi yang memberikan nilai tambah buat hidup saya… Nggak KATRO, kan? hihihi usul si MpokB boljug, tuh? hahahha
June 6th, 2008 at 5:16 pm
gegap gempita riuh rendah…rame ing pamrih sepi ing gawe…terima amplop tinggal nunggu disuruh nulis apa…manut :p
June 7th, 2008 at 11:20 am
Setuju, harusnya semua para militer dibubarin. Dan kalo FPI dibubarin, AKKBB juga dibubarin.. berani ? ya ngga lah.. karena media kita pun dikuasai berbagai kepentingan yang mendukung kelompok mereka sendiri.
June 8th, 2008 at 1:33 am
iya… memang media kita latah… apa yang rame, langsung di blow-up besar2an… persetan dengan fakta, yang penting tirasnya laku… hehehe… (tersenyum dan mengangguk setuju baca comment dari arie diatas).
June 10th, 2008 at 12:58 pm
hhmm ….. apa perlu negara ini di REINSTALL yah ??
Tapi permasalahannya, kita gak punya MASTER OS yg tepat utk membangun ulang negara ini. Adanya DISTRO-DISTRO yg sudah disusupi oleh VIRUS-VIRUS kepentingan dari pembuat DISTRO tsb.
ANTIVIRUSnya ?? ……………. malah ikut-ikutan nyebarin VIRUS.
*garuk²*
.::he509x™::.