
Pada masa sekarang ini, apapun bisa dihutangkan. Dari mulai HP (handphone), laptop, sampai mobil. Para penjaja layanan kredit seakan-akan pantang menyerah mendatangi kita dari berbagai penjuru. Oke, mungkin istilah ini terlalu hiperbolik, tapi kenyataannya saja, waktu kita datang ke counter laptop misalnya, di sampingnya pasti ada counter penjaja jasa hutang ini. Belum lagi kalau kita melihat sepak terjang penjaja kartu kredit, begitu gigihnya mereka “menyerang” para nasabah bank.
Tulisan saya ini sebetulnya bukan dalam rangka mempersoalkan teman-teman di bidang tersebut. Sama sekali tidak, bagaimanapun itu adalah satu wilayah pekerjaan, yang membuat teman-teman di sana terbebas dari himpitan hidup. Teruskan perjuangan kalian kawan!
Tulisan saya ini saya buat dalam rangka mengingatkan diri saya dan mungkin untuk teman-teman semua. Sebuah hasil perenungan saya atas perjalanan hidup (yang sebenarnya baru sebentar). Tentang perubahan sikap orang per orang ketika mereka sudah bersinggungan dengan hutang.
Pola Belanja
Satu hal yang paling mencolok, yang saya amati dan alami ketika kita sudah sangat terbiasa dengan hutang adalah dalam pola berbelanja. Bukan masalah konsumerisme, yang nampaknya sudah mendarah daging di diri kita –thanks to tv, tetapi soal pilihan atau prioritas belanja.
Seorang teman saya, sedang kredit mobil, bercerita bahwa dia sekarang tidak lagi se”maniak” dulu dengan buku karena mengingat biaya untuk kredit mobilnya. Dulu, waktu dia masih hidup dengan motor Honda lawasnya, selalu kudapati membawa dua kresek (minimal) buku setiap kali pulang dari toko buku. Biasanya hal itu terjadi di awal bulan. Kini, yang dia tenteng adalah sekantung DVD bajakan. “Lebih murah” katanya.
Cerita yang lain –duh maaf ternyata ini menyinggung konsumerisme akhirnya– teman saya baru saja beli HP. Dia sendiri sebenarnya sedang mengkredit motor dan mobil. Dan HP itu dia beli dengan cara cashbon di kantornya. Alhasil dia sekarang dihimpit oleh tagihan dari berbagai sudut. Dia mengeluh. Saya cuma bisa geleng-geleng kepala.
Dua contoh kecil dan seabreg yang lain yang tidak sempat saya ceritakan, memberi gambaran tentang betapa mudahnya “ideologi” mereka tertukar dikarenakan himpitan hutang. Cara pandang dan pola pikirnya menyempit, hanya memikirkan hal masa sekarang, tidak bersiap-siap untuk keadaan masa mendatang.
Belum lagi cerita tentang teman saya yang lain, yang dikejar-kejar debt collector karena dia nunggak pembayaran kartu kredit. Ngenes kalau melihatnya.
Pola Hidup
Saya ingat ketika saya masih punya hutang. Setiap hari saya selalu khawatir. Sekarang saya memang punya hutang, dan saya juga sedang khawatir, tetapi mungkin tidak seberat dulu. Setiap hari yang dipikirkan hanyalah bagaimana mengangsur hutang tersebut, sementara biaya untuk hidup juga semakin berat. Belum lagi kalau sedang tidak ada pemasukkan.
Seorang teman, seorang yang lugu dan datang dari kampung daerah pegunungan, menyiasati pola berhutang ini dengan berhutang kepada pihak lain untuk menutup hutang di satu pihak. Gali lobang tutup lobang. Saya membayangkan, bagaimana jika semua lobang menganga, dan harus ditutup, sementara tidak ada lagi yang digali?
Mari Memilih
Dari hal kecil itu, saya melihat ada pengaruh yang luar biasa dari hutang. Hidup kita penuh dengan kekhawatiran, setiap langkah yang biasanya sudah melalui pertimbangan kini harus dipertimbangkan lagi dan lagi. Nafas menjadi sangat sangat pendek.
Tak bisa dipungkiri lagi bahwa hutang mempengaruhi perilaku. Sayangnya ada banyak hal di negeri ini yang mau tak mau harus dilalui dengan hutang. Katakan saja kalau kita ingin memiliki motor MIO, yang ada adalah kita harus mengambil pola kridit, karena dealer tidak mau melayani pembelian secara cash. Intinya apa? Hutang menguntungkan pihak pemberi hutang.
Oleh karenanya, mari kita jalani hidup ini dengan apa adanya. Jalani dengan santai dan tanpa tekanan. Hindari pola berhutang. Sebisa mungkin hindarilah. Itu yang saya tanamkan pada diri saya saat ini. Akhirnya memang saya sampai sekarang masih belum mampu membeli rumah, namun setidaknya saya tidak dihantui oleh kekhawatiran ketika ingin membeli buku. Jika memang ada uang lebih, beli buku adalah prioritas utama.
Segera lunasi semua hutang, karena kita tidak tahu kapan akan meninggal. Sungguh sedih jika kita meninggal memberi beban pada ahli waris kita. Saya ingat ketika ayah saya meninggal, saya dan adik saya muter ke semua pihak yang sempat berhubungan dengan ayah saya semasa hidup, untuk memastikan ada tidaknya hutang ayah saya pada mereka. Alhamdulillah ayah saya tidak meninggalkan hutang, dan saya merasa sangat-sangat plong saat itu. Saya sungguh ingin seperti itu juga yang dialami oleh orang-orang yang saya tinggalkan ketika saya meninggal nanti.
Bagaimana dengan Anda?
el rony, mengingat-ingat catatan hutang
nb:
maaf jika tulisan ini kurang tajam, itu adalah salah satu hutang saya pada teman semua.
Category: Neolib, Culture, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
March 13th, 2008 at 1:49 pm
gaya hidup atau pilihan jadinya, kang?
March 13th, 2008 at 2:34 pm
lah kalau terpaksa ngutang bank buat mbayar beli rumah gimana om?
March 13th, 2008 at 2:44 pm
kita sih berpikirnya selalu “cecak nguntal empyak!”
besar pasak daripada tiang jadinya…
kredit adalah penjelmaan rentenir modern
yo ora?
nderek atur,
March 13th, 2008 at 4:41 pm
utang [bukan hutang atau kutang] itu soal pilihan. bagian dari gaya hidup, kecerdasan ekonomi, dan … halah kok jadi serius sih
March 13th, 2008 at 7:49 pm
utang, dalam skala yang waras, adalah pelincir roda perekonomian.
March 13th, 2008 at 9:11 pm
jadi, maumu apa Ron?
hutangmu ke mbok2 kantin di kampus udah dibayar belon?
March 14th, 2008 at 12:26 am
Utang juga membuat kita tambah semangat untuk mencari pinjaman baru he he..
March 14th, 2008 at 11:10 am
aduh…aku blom bayar teh manis di kantin je
March 14th, 2008 at 12:43 pm
Ngga semua hutang itu jelek om ronny. Rumah misalnya memang harus dipikirkan sejak dini. Saya kira balance sajalah dengan kemampuan dan kemauan. Saya sendiri ngga ada hutang alhamdulillah tapi saya juga kasian jika orang mendewakan konsumerim padahal diperoleh dari hutang.
March 14th, 2008 at 10:23 pm
gak punya utang itu gak seru! hihihi…
March 15th, 2008 at 3:53 pm
halah… ga usah ngeluh deh… dibuat2 sendiri kok ngeluh?
Btw… aku lebih suka bayar cash drpd kredit2an.
Kalo ga ada duit? ya ga usah beli2 dulu.
March 15th, 2008 at 4:15 pm
hutang membuat seseorang merasa lebih kaya, paling tidak dia ikhlas mengembalikan pinjaman dalam jumlah yang lebih banyak
March 16th, 2008 at 12:45 pm
Wah kalo Safir Senduk baca post ini pasti dia gak setuju tuh…secara dia kan berprinsip “Kalo mampu berhutang, kenapa tidak?”
Tapi emang kayaknya hutang tuh bakal jadi jenis transaksi utama masa depan deh….kalo jaman dulu kan barter, trus jadi cash transaction, nah dimasa depan itu credit transaction (gw ambil dulu barangnya, bayarnya tagih aja ke rumah)…gitu…..:D
March 17th, 2008 at 2:34 pm
ealah lebah, sekarang pan lagi musimnya refinancing?
sampai sekarang saya masih belum berani punya kartu kridit.. setelah lihat perkembangan saat ini, rasanya jadi makin nggak pingin. utang dalam beberapa hal memang perlu, cicilan rumah, misalnya. itung2 rumah itu jadi tabungan (tapi saya juga belum punya rumah, hehe). yg bahaya itu kredit konsumtif..
March 18th, 2008 at 11:11 am
apa bedanya hutang sama kutang, Pakde?
btw, takut ngutang… makanya sampe sekarang nggak punya credit card… *jadul*
March 19th, 2008 at 8:40 pm
wehhehe
becik urip ing prasojo..
bandhane sitik ning ra duwe utang kok, ron.
bener kandhamu, sak wontene mawon.
anane kui yo dicukupke.. aminnn
March 19th, 2008 at 8:50 pm
matur suwun mas lantip, mak nyus tulisan e
March 20th, 2008 at 9:23 pm
utang kesehatan di mana?
March 23rd, 2008 at 1:21 am
Aku masih mentolerir utang, tapi khusus untuk barang2 yang bisa diputar atau menghasilkan uang. Jadi dengan kata lain, barang itu sendiri yang membiayai cicilan utangnya.
March 27th, 2008 at 12:37 pm
aku terpaksa hutang buat beli buku.
April 1st, 2008 at 4:24 pm
ada yang berprinsip, hutang adalah menabung diambil di depan.
karena kalo gag gitu dia gag bisa punya tabungan, dengan adanya angsuran, mau tidak mau dia harus menabung tiap bulannya.
kalo gitu gimana ron ?
* pengin ngutang gag punya agunan *
April 2nd, 2008 at 7:05 pm
Hutang ya? Kayany masih ada sih.. *inget-inget*
April 11th, 2008 at 3:45 pm
Hutang hanya diperbolehkan untuk sesuatu yang tidak menyusut, bahkan berkembang, di antaranya rumah/tanah,
barang perdagangan (yang laku..kalao barangnya nggak laku-laku ya berabe juga)….emas dlsb
August 8th, 2008 at 8:36 pm
keren banget blog’a n kata-kata yang diutarakan juga enak di denger, makaci buat informasinya y… btw, aq jg punya blog nih, tolong dibuka y, klo mang ada yang kurang n perlu diperbaiki n mw komentar apa aja, ditulis aza, please. ni blogq: cooleleven1.blogspot.com. thx y.
August 16th, 2008 at 9:51 pm
Menurut saya mas, kita boleh - boleh saja berhutang kepada siapapun dan untuk membeli apa saja. ASALKAN “Kita memiliki kemampuan untuk MEMBAYAR atau MELUNASI hutang-hutang kita”. Kegiatan hutang itu,bisa memberikan keringanan kepada si konsumen yang dimana bisa saja untuk hari ini dia tidak punya uang sama sekali. Tetapi, kalau dia berhutang dan tidak bisa membayar cicilannya?Naudzubillah mindzalik……
gak bisa saya bayangkan lagi kesusahan hati si konsumen….
Bagus-bagus mas artikelnya……………
August 21st, 2008 at 4:06 pm
bahagianya kalau kita tidak punya hutang..hidup nyaman dan tenteram, meski gaji pas pasan dan makan apa adanya..
tapi kalo hutangnya nggak keliatan piye jal? hutang yang terlupakan alias lali… katanya janji adalah hutang.. kalo janji dibayar pake dicicil bisa nggak yah… he he he…kan era “KREDITAN”..