
Gegar budaya selalu saja terjadi di manapun pada siapapun, itu aku percaya. Bahwa ada orang yang sedemikian hebatnya mampu beradaptasi dengan demikian cepat, ataupun orang yang sangat cuek sehingga tidak memperhatikan apapun selain kebutuhan perutnya (misalnya), pada satu titik pastilah terbersit peristiwa gegar budaya ini.
Catatan ini tak lebih dari sebuah pengakuan jujur atas ke-ndeso-an saya. Pengalaman berharga untuk menginjakkan kaki pertama kali di bumi rencong, saya pilih untuk menjalaninya meninggalkan istri dan Mata Air (anak saya) di Jogja.
Benar nih di sini pernah tsunami?
Informasi usang yang sudah lama saya dengar, sudah lama pula saya bayangkan –pesta poranya lembaga swadaya masyarakat (NGO) internasional di tanah ini– ternyata tidak pula serta merta memberi kemampuan pada saya untuk menerima kenyataan yang saya hadapi.
Begitu keluar dari bandara, saya dihadapkan oleh berjubelnya kendaraan-kendaraan mewah. Udara Aceh yang panas, desakkan ojeg maupun taxi yang menawarkan jasa, tidak mampu mengalihkan perhatian saya atas pemandangan ini. Luar biasa! Begitu hati saya berbisik.
Kendaraan-kendaraan itu begitu berjubelnya, sehingga saya sempat pula membayangkan bahwa setiap satu penumpang dijemput oleh satu mobil, atau bahkan mungkin dua. Abe, teman saya yang sudah saya kontak sebelumnya dan bersedia menjemput, akhirnya harus pelan-pelan antri hanya untuk memasukkan mobilnya di antara rimbunnya kuda besi.
Haripun berganti, bukankah ini pagi?
Hari sesungguhnyalah sudah berganti, kini benar-benar sudah pagi, jam di telepon saya menunjukkan pukul 07:30 WIB. Saat itu pula saya sudah siap untuk turun dari kamar, berangkat ke tempat kerja. Eh, ternyata ini masih subuh di Aceh!
Seakan roda perekonomian belumlah menggeliat di bumi ini. Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan, setelah sarapan saya bersama teman dari Yogya berangkat ke tempat kerja. Sampai di sana, waktu menunjukkan pukul 10:00 WIB. Kantor tempat kerja baru berisi 3 orang. Lho…lho..lho.. apa-apaan ini? Pikir saya.
Ah, ternyata setelah hari ketiga saya baru paham bahwa memang seperti itulah daur hidup masyarakat Aceh. Jam 10:30 WIB, barulah aktivitas perkantoran hidup. Dan ya, kali ini mau tidak mau sayapun harus ikut menikmati alur ini.
Saatnya makan, saat runtuhnya harapan
Terus terang, saya membayangkan posisi saya kurang lebih sama dengan Didats ketika dia sedang di Yogya. Setelah jalan-jalan dan akhirnya makan, masih ingat saya ekspresi wajah Didats yang kaget ketika mendapati betapa murahnya harga makanan di Yogya.
Sama, persis! Saya juga kaget! Tetapi kaget yang saya alami adalah sebaliknya
Harga atau biaya hidup di sini ternyatalah sangat-sangat tinggi. Biaya sekali makan di sini, kurang lebih sama dengan 3 (tiga) hingga 7 (tujuh) kali harga makanan di Yogya untuk kualitas makanan yang sama.
Pikiran yang terlintas kemudian adalah “makan apa kamu nanti nak?” tertuju lirih kepada anak saya di Yogya.
Lantas, muncul pula Yogya
Waton urip! Waton Slamet! Dan berbagai pikiran bermunculan, tentang apa yang sedang terjadi, tentang bagaimana 2009 nanti kala NGO internasional hengkang dari sini, tentang sekian orang yang akan kehilangan gaji.
Untungnya saya punya banyak teman!
vale, demi budaya
el rony, berencana ke museum
Category: Culture, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
February 28th, 2008 at 1:44 am
selalu ada yang menarik bukan dari sebuah budaya yang berbeda, membuat kita makin mencintai negeri ini.
February 28th, 2008 at 9:18 pm
lha … kulakan ganja ae cek ndang sugih … hehehe
February 28th, 2008 at 11:20 pm
inget Didat … “jangan ada yg bayar, jangan ada yg ngeluarin duit, biar saya yg bayar semua…”
.::he509x™::.
February 29th, 2008 at 8:50 am
*deja vu*
kok jadi inget cerita-cerita dari teman-teman yang datang ke aceh untuk jadi relawan ya? nadanya hampir semua sama dengan bagian awal postingan kamu.
February 29th, 2008 at 9:50 am
skrinsutnya donk Ron!!
March 2nd, 2008 at 4:07 pm
daon mana daon???
March 3rd, 2008 at 11:23 am
kapal’e kok gak dicritani?
March 3rd, 2008 at 2:55 pm
Emang begitulah Ron, kadang fungsionalitas diganti jadi lambang status. Contoh: mobil dobel gardan (sekelas Ford Frontier atau Mitsubishi Strada) memang kebutuhan dasar pada masa emergency. Timku dulu berhasil masuk jauh ke Lamno (bulan Feb 2005) karena mobil macam itu (plus kapal laut). Tapi sekarang, ngeliat mobil macam itu cuman difungsikan untuk menjemput VVIP (baca : donor) rasanya gak rela banget…
Oh, soal makan:
Kalau tahu tempatnya sebenarnya ada banyak yang murah di Aceh. Tentunya tidak semurah di Jogja… (*yang pernah hidup di Banda Aceh dan Jogja*)
March 3rd, 2008 at 3:46 pm
Pokok’e aku belom merasakan oleh2nya. Mana kopiganjanya??
March 3rd, 2008 at 5:15 pm
Wakakaka.. Sayang kamu gak sempat ngerasain masakan si Fanny Ron. Enak? Wihihi.. coba nanti kemari lagi kita masak dirumahku pasti gak mau balek lagi hihihi..!
Eh, sorry panjenengan gak sempat saya anter ke Pantai. Hujan emang gak kewl banget, sayang si Athallah ntar masuk angin. Ini aku beneran sorry. ^_^
March 4th, 2008 at 12:40 pm
dasar wong jawa, saat kuatir pun masih untung.
March 6th, 2008 at 12:05 pm
Wih…ternyata Mas Ron udah pulang dari Aceh nic…kok ngak ngabari gw Ados der Aceh Magazine..yaou wes…salam tuk rekan-rekan di Satunama…
March 6th, 2008 at 1:11 pm
@ados: wah sorry dos, aku nggak sempat kemana-mana. nonton kapal besar di tengah kota saja malem-malem, ndak bisa motret hehe.. semoga lain kali ada kesempatan lagi deh
March 8th, 2008 at 12:06 pm
wah, begitulah kalo kita kadang2 keluar dari “rumah” kita…biar terbuka mata…selalu dunia yang kita huni ini tidak lah sama, serba relatif…bukalah dunia yang lain…oleh2 ron hee?
March 8th, 2008 at 2:24 pm
Wah, jangankan ke daerah yang rentang jaraknya jauh gitu ya. Saya ke Bandung atau Sukabumi aja, udah kaget-kaget. Tapi justru disitu asyiknya kan? Nemu sesuatu yang beda dan bikin kita makin “kaya”.
March 9th, 2008 at 2:53 pm
wah piknik kok gak ada poto-potonya om?
ato jangan² hiks..diblok apa ya sama si admin disini?
March 12th, 2008 at 6:20 pm
bagaimana pun orang yang berilmu akan lebih bertanggung jawab akan ilmu yang dia timbun.
Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
http://www.infogue.com/
March 13th, 2008 at 1:14 pm
mas oon: memang ndak ada foto-fotonya mas, koneksi terbatas
March 26th, 2008 at 2:18 pm
untung pas ke aceh ada yang nalangin :))
* cuma sempat mencicipi mie aceh di depan hotel medan *
March 26th, 2008 at 2:54 pm
@paydjo:
itulah, mengapa saya bilang untung banyak teman.
semua sibuk ngeluarin dompet, saya sih mending pura-pura ketinggalan dompet di hotel wahihihi
April 7th, 2008 at 5:14 pm
hehehe…
pasti kepingin lagi balik ke aceh khan…
apalagi kalau udah kena dodol achehrayeuk and kopi ulee kareng(nggak ngopi kali ya)
April 8th, 2008 at 11:14 am
coba ente berkunjung ke sono kira2 3 tahun yg lalu, gak usah seketika hbs tsunami, setahun saja habis tsunami, pasti masih banyak berbeda dengan sekarang, yg sdh begitu rame..
ane sendiri hampir dua tahun disono, dr 2005, dan benar.. di negeri rencong emang serba mahal, ada sih yang murah,
yang murah cuman satu: nyawa..!!!
April 30th, 2008 at 3:43 pm
Gua pernah keaceh berapa kali ya, ga ke itung dah tapi tetep aja ngga ada perubahan, soalnya knapa ngga ada yang berubah karena ya gitu-gitu aja pemandangannya.. Apalagi kalo pernah melintas dari medan ke Banda aceh, ya gitu-gitu aja… gunung, laut, bukit itu-itu aja yang kita temuin. Tapi yang berubah mungkin cuma satu…. dulu waktu gua kesana bnyak kenalan anak-anak SMA, mungkin skarang sudah pada Meried dan dah pada punya anak semua kali yaaaaa….
May 6th, 2008 at 9:42 pm
sebenar jieh, lon hek that ka kumita lambang rencong, yang simbol daerah geutanyoe, pe ken jeut menan? hooo ka? peu hana le?