Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Catatan Perjalanan - Orang Jawa di Tanah Rencong

Print This Post   Email This Post

Gegar budaya selalu saja terjadi di manapun pada siapapun, itu aku percaya. Bahwa ada orang yang sedemikian hebatnya mampu beradaptasi dengan demikian cepat, ataupun orang yang sangat cuek sehingga tidak memperhatikan apapun selain kebutuhan perutnya (misalnya), pada satu titik pastilah terbersit peristiwa gegar budaya ini.

Catatan ini tak lebih dari sebuah pengakuan jujur atas ke-ndeso-an saya. Pengalaman berharga untuk menginjakkan kaki pertama kali di bumi rencong, saya pilih untuk menjalaninya meninggalkan istri dan Mata Air (anak saya) di Jogja.

Benar nih di sini pernah tsunami?

Informasi usang yang sudah lama saya dengar, sudah lama pula saya bayangkan –pesta poranya lembaga swadaya masyarakat (NGO) internasional di tanah ini– ternyata tidak pula serta merta memberi kemampuan pada saya untuk menerima kenyataan yang saya hadapi.

Begitu keluar dari bandara, saya dihadapkan oleh berjubelnya kendaraan-kendaraan mewah. Udara Aceh yang panas, desakkan ojeg maupun taxi yang menawarkan jasa, tidak mampu mengalihkan perhatian saya atas pemandangan ini. Luar biasa! Begitu hati saya berbisik.

Kendaraan-kendaraan itu begitu berjubelnya, sehingga saya sempat pula membayangkan bahwa setiap satu penumpang dijemput oleh satu mobil, atau bahkan mungkin dua. Abe, teman saya yang sudah saya kontak sebelumnya dan bersedia menjemput, akhirnya harus pelan-pelan antri hanya untuk memasukkan mobilnya di antara rimbunnya kuda besi.

Haripun berganti, bukankah ini pagi?

Hari sesungguhnyalah sudah berganti, kini benar-benar sudah pagi, jam di telepon saya menunjukkan pukul 07:30 WIB. Saat itu pula saya sudah siap untuk turun dari kamar, berangkat ke tempat kerja. Eh, ternyata ini masih subuh di Aceh!

Seakan roda perekonomian belumlah menggeliat di bumi ini. Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan, setelah sarapan saya bersama teman dari Yogya berangkat ke tempat kerja. Sampai di sana, waktu menunjukkan pukul 10:00 WIB. Kantor tempat kerja baru berisi 3 orang. Lho…lho..lho.. apa-apaan ini? Pikir saya.

Ah, ternyata setelah hari ketiga saya baru paham bahwa memang seperti itulah daur hidup masyarakat Aceh. Jam 10:30 WIB, barulah aktivitas perkantoran hidup. Dan ya, kali ini mau tidak mau sayapun harus ikut menikmati alur ini. :)

Saatnya makan, saat runtuhnya harapan

Terus terang, saya membayangkan posisi saya kurang lebih sama dengan Didats ketika dia sedang di Yogya. Setelah jalan-jalan dan akhirnya makan, masih ingat saya ekspresi wajah Didats yang kaget ketika mendapati betapa murahnya harga makanan di Yogya.

Sama, persis! Saya juga kaget! Tetapi kaget yang saya alami adalah sebaliknya :) Harga atau biaya hidup di sini ternyatalah sangat-sangat tinggi. Biaya sekali makan di sini, kurang lebih sama dengan 3 (tiga) hingga 7 (tujuh) kali harga makanan di Yogya untuk kualitas makanan yang sama.

Pikiran yang terlintas kemudian adalah “makan apa kamu nanti nak?” tertuju lirih kepada anak saya di Yogya. :)

Lantas, muncul pula Yogya

Waton urip! Waton Slamet! Dan berbagai pikiran bermunculan, tentang apa yang sedang terjadi, tentang bagaimana 2009 nanti kala NGO internasional hengkang dari sini, tentang sekian orang yang akan kehilangan gaji.

Untungnya saya punya banyak teman! :D

vale, demi budaya

el rony, berencana ke museum

Category: Culture, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback

24 Responses to “Catatan Perjalanan - Orang Jawa di Tanah Rencong”

  1. iman brotoseno Says:

    selalu ada yang menarik bukan dari sebuah budaya yang berbeda, membuat kita makin mencintai negeri ini.

  2. loper Says:

    lha … kulakan ganja ae cek ndang sugih … hehehe

  3. MaNongAn Says:

    inget Didat … “jangan ada yg bayar, jangan ada yg ngeluarin duit, biar saya yg bayar semua…”

    .::he509x™::.

  4. dian ina Says:

    *deja vu*
    kok jadi inget cerita-cerita dari teman-teman yang datang ke aceh untuk jadi relawan ya? nadanya hampir semua sama dengan bagian awal postingan kamu.

  5. M Fahmi Aulia Says:

    skrinsutnya donk Ron!!

  6. endhoot Says:

    daon mana daon???

  7. dudi Says:

    kapal’e kok gak dicritani?

  8. Philip Says:

    Emang begitulah Ron, kadang fungsionalitas diganti jadi lambang status. Contoh: mobil dobel gardan (sekelas Ford Frontier atau Mitsubishi Strada) memang kebutuhan dasar pada masa emergency. Timku dulu berhasil masuk jauh ke Lamno (bulan Feb 2005) karena mobil macam itu (plus kapal laut). Tapi sekarang, ngeliat mobil macam itu cuman difungsikan untuk menjemput VVIP (baca : donor) rasanya gak rela banget…

    Oh, soal makan:
    Kalau tahu tempatnya sebenarnya ada banyak yang murah di Aceh. Tentunya tidak semurah di Jogja… (*yang pernah hidup di Banda Aceh dan Jogja*)

  9. adit Says:

    Pokok’e aku belom merasakan oleh2nya. Mana kopiganjanya??

  10. Abe Says:

    Wakakaka.. Sayang kamu gak sempat ngerasain masakan si Fanny Ron. Enak? Wihihi.. coba nanti kemari lagi kita masak dirumahku pasti gak mau balek lagi hihihi..!

    Eh, sorry panjenengan gak sempat saya anter ke Pantai. Hujan emang gak kewl banget, sayang si Athallah ntar masuk angin. Ini aku beneran sorry. ^_^

  11. bangsari Says:

    dasar wong jawa, saat kuatir pun masih untung. :D

  12. ados Says:

    Wih…ternyata Mas Ron udah pulang dari Aceh nic…kok ngak ngabari gw Ados der Aceh Magazine..yaou wes…salam tuk rekan-rekan di Satunama…

  13. rony Says:

    @ados: wah sorry dos, aku nggak sempat kemana-mana. nonton kapal besar di tengah kota saja malem-malem, ndak bisa motret hehe.. semoga lain kali ada kesempatan lagi deh :)

  14. abdi Says:

    wah, begitulah kalo kita kadang2 keluar dari “rumah” kita…biar terbuka mata…selalu dunia yang kita huni ini tidak lah sama, serba relatif…bukalah dunia yang lain…oleh2 ron hee?

  15. merahitam Says:

    Wah, jangankan ke daerah yang rentang jaraknya jauh gitu ya. Saya ke Bandung atau Sukabumi aja, udah kaget-kaget. Tapi justru disitu asyiknya kan? Nemu sesuatu yang beda dan bikin kita makin “kaya”.

  16. oon Says:

    wah piknik kok gak ada poto-potonya om?
    ato jangan² hiks..diblok apa ya sama si admin disini? :(

  17. kaitokid724 Says:

    bagaimana pun orang yang berilmu akan lebih bertanggung jawab akan ilmu yang dia timbun.
    Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!

    http://www.infogue.com/

  18. rony Says:

    mas oon: memang ndak ada foto-fotonya mas, koneksi terbatas :)

  19. paydjo Says:

    untung pas ke aceh ada yang nalangin :))

    * cuma sempat mencicipi mie aceh di depan hotel medan *

  20. rony Says:

    @paydjo:
    itulah, mengapa saya bilang untung banyak teman.
    semua sibuk ngeluarin dompet, saya sih mending pura-pura ketinggalan dompet di hotel wahihihi

  21. ayahthari Says:

    hehehe…
    pasti kepingin lagi balik ke aceh khan…
    apalagi kalau udah kena dodol achehrayeuk and kopi ulee kareng(nggak ngopi kali ya)

  22. dikzi Says:

    coba ente berkunjung ke sono kira2 3 tahun yg lalu, gak usah seketika hbs tsunami, setahun saja habis tsunami, pasti masih banyak berbeda dengan sekarang, yg sdh begitu rame..

    ane sendiri hampir dua tahun disono, dr 2005, dan benar.. di negeri rencong emang serba mahal, ada sih yang murah,
    yang murah cuman satu: nyawa..!!!

  23. lillo@betokaw Says:

    Gua pernah keaceh berapa kali ya, ga ke itung dah tapi tetep aja ngga ada perubahan, soalnya knapa ngga ada yang berubah karena ya gitu-gitu aja pemandangannya.. Apalagi kalo pernah melintas dari medan ke Banda aceh, ya gitu-gitu aja… gunung, laut, bukit itu-itu aja yang kita temuin. Tapi yang berubah mungkin cuma satu…. dulu waktu gua kesana bnyak kenalan anak-anak SMA, mungkin skarang sudah pada Meried dan dah pada punya anak semua kali yaaaaa….

  24. aneuk Nanggroe Says:

    sebenar jieh, lon hek that ka kumita lambang rencong, yang simbol daerah geutanyoe, pe ken jeut menan? hooo ka? peu hana le?

Leave a Reply