
Sebuah Kisah Tentang Korupsi
Siang itu saya berkesempatan makan bersama seorang teman. Teman saya ini dulunya adalah maniak pemanjat tower, kesehariannya adalah memanjat tower dan pointing antenna. Namun kini dia terlibat dalam proyek-proyek besar Teknologi Informasi untuk Pemda-pemda.
Dalam kesempatan itu, berkali-kali saya lihat dia agak lesu dan seperti melamun sendiri. Setelah saya pancing-pancing ternyata dia sedang bermasalah dengan proyeknya yang terakhir, dimana ada kesalahan perhitungan sehingga dana meleset sangat besar, hingga mencapai ratusan juta.
Namun, setelah itu, dia kemudian menceritakan kepada saya tentang apa yang dia lakukan dalam beberapa bulan ini, yang akhirnya memberi gambaran gamblang kepada saya tentang busuknya negeri ini. Dalam kesempatan itu pula, dia menunjukkan aliran dana di rekening tabungannya. Buset! Dalam tiga bulan terhitung hampir 9 Milyar uang beredar melalui rekening tersebut. Untuk apa saja? Tidak jelas, yang saya tangkap hanyalah uang tersebut kemudian lari ke beberapa person (yang notabene adalah eksekutif, legislatif dan yudikatif negeri ini).
Saya terus terang tidak ingin mendengar detil tentang hal itu, saya sudah muak duluan. Sambal pedas yang tadinya sudah mulai hilang rasanya di mulut, tiba-tiba saja menyebarkan aroma pedasnya bahkan hingga ke permukaan kulit.
Dengan Dana Itu, Mustinya…
Yang terlintas di benak saya kemudian adalah bayangan berita kelaparan yang melanda berbagai daerah di negeri ini. Juga tentang terbengkelainya para korban LAPINDO sementara bosnya yaitu Aburizal Bakrie tetap melenggang dengan dagu panjangnya. Juga terbayang bagaimana tidak meratanya bantuan korban gempa di Bantul. Lantas terlintas juga tentang Aceh, Bengkulu, Yahukimo, dan masih banyak lagi, berseliweran di kepala.
Mari kita hitung saja, dalam tiga bulan (taruhlah satu bulan ada 30 hari) yang berarti 90 hari, terkumpul 9 Milyar. Berarti per hari uang berputar hampir 100 Juta rupiah. Oh mari saya tulis dengan angka semua, Rp. 100.000.000,- per hari. Biaya sekali makan di Jogja, yang paling mewah, adalah Rp. 10.000,- berarti dalam sehari bisa memberi makan 10.000 orang.
Atau marilah kita lihat saja sebagai biaya pendidikan. SPP sebuah Sekolah Dasar, yang bagus dan terbilang mahal di Jogja, adalah Rp. 500.000,-. Hal itu berarti uang satu hari tersebut bisa untuk membiayai dua orang anak hingga lulus SD. Apalagi kalau disekolahkan di SD yang tergolong “biasa” alias SD Negeri di kampung, bisa jadi untuk membiayai lebih dari 10 (sepuluh) anak. Itu baru uang satu hari, nah kalau 90 hari? Silakan hitung sendiri.
Dan kenyataannya, anak-anak terlantar masih banyak. Kurus dan tidak sekolah. Belum lagi kalau mengingat masih ada rekening-rekening lain yang digunakan untuk tempat singgah uang-uang raksasa tersebut. Miris saya.
Segumpal Dagingkah di Dada Mereka?
Tuhan berkata kepada manusia, di dalam diri kita terdapat segumpal daging. Jika buruk daging itu, maka buruklah semuanya, dan jika baik niscaya baik semuanya. Setelah merenung sekian lama, aku semakin sangsi apakah memang ada segumpal daging di diri mereka? Jangan-jangan hati mereka sudah membatu.
Ada yang meminta diantar uang Rp. 400.000.000,- secara cash ke kantornya, demikian lanjutan kisah teman saya tadi. Uang yang bahkan sepersepuluhnya itu saja, saya belum pernah menyimpan secara cash di tas saya, kepala saya jadi pusing membayangkannya. Terbayang sebuah skenario untuk menghindari endusan KPK. Jadi berfikir, apakah kalau kita mencegat orang-orang yang akan menemui tokoh-tokoh penting di negeri ini, kita akan mendapati bergepok-gepok uang di tas mereka? Dengan cerita ini, saya jadi bisa bilang, “sangat mungkin”.
Dan uang itu mustinya menjadi hak dari setiap warga di negeri ini. Warga yang selalu saja harus bersabar menghadapi himpitan hilangnya minyak tanah, naiknya harga pertamax dimana nantinya akan disusul dengan menghilangnya premium, dan seterusnya dan lain sebagainya.
Jelas sudah, hati mereka, orang-orang yang terlibat dalam aliran dana itu, pastilah membatu. Tidak ada perasaan bersalah ketika mereka melihat di perempatan para miskiners membuang malu meminta-minta sedekah. Mungkin receh bisa keluar dari saku mereka, tapi membayangkan mereka membuat satu lapangan pekerjaan bagi para miskiners ini? Ndak mungkin!
Nah, bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, cobalah untuk membuka diri. Adakah hati di dalam diri sampeyan?
vale, demi kejujuran
el rony, masih tidak habis pikir, mengakibatkan tulisan yang tidak runut dan tidak berisi. maaf.
Category: Politik, Neolib, Culture, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
December 6th, 2007 at 11:59 am
revolusi, kawan rony?
December 6th, 2007 at 12:06 pm
ikut prihatin kang..
December 6th, 2007 at 12:10 pm
Salam Repot Nasi!
December 6th, 2007 at 1:09 pm
masalahnya adalah mereka sudah tidak punya agama.
begitu el-ronny
December 6th, 2007 at 1:16 pm
biar tambah prihatin:
http://ekonomiorangwarasdaninvestasi.blogspot.com/2007/06/visi-2030-kemakmuran-atau-ilusi-gdp.html
December 6th, 2007 at 1:26 pm
loh ron, darimana aja selama ini ?
December 6th, 2007 at 1:44 pm
@rendy: lha masalahnya, kali ini saya lihat sendiri secara langsung itu rekening bank, sama kwitansi-kwitansi dan bukti transfer. duh..
December 6th, 2007 at 5:50 pm
negeri ini dalam bahaya dan repotnya kadang kita ga bisa berbuat apa-apa, kecuali tidak ikut budaya korupsi itu sendiri.
December 6th, 2007 at 6:08 pm
hehe… negara ini tdk akan pernah benar, kecuali dihilangkan 1 generasinya
December 6th, 2007 at 10:09 pm
soalnya untuk duduk di kursi empuk itu modalnya besar. jadi minimal harus balik modal, bung lantip.. kenapa modalnya besar? karena banyak yg antre. kenapa banyak yg antre? karena banyak orang pingin cepat kaya tapi nggak mau usaha.. (tapi tetap terlihat sibuk dan terhormat)
December 6th, 2007 at 11:46 pm
Yoih, Hati nurani sudah membatu, Gag duwe perasaan blas wong-wong kuwi.
December 7th, 2007 at 8:32 am
halah ini ada karena indonesia getuh loh ron
December 7th, 2007 at 10:24 am
saya pernah mendapatkan sharing dari teman yang pernah menang tender proyek pemerintah… dan memang begitulah adanya… vendor sering diminta melakukan markup nilai proyek agar bisa dibagi-bagikan ke mereka…
December 7th, 2007 at 6:30 pm
Saya pernah mengerjakan proyek yang serupa dengan pemda (tapi tidak segede itu sih). Karena saya sebagai subkon saja, saya hanya mengajukan dana sesuai dengan yang saya butuhkan. Saya tahu itu di-markup, tapi karena saya tidak mau tahu dan saya tidak mencicipi markupnya, lebih tenang rasanya (saya terima wajar sesuai keringat yg saya keluarkan).
Tapi lama kelamaan saya tahu juga bahwa proyek tsb di markup sampai 5 kali lipat dari yang saya terima (artinya proyek itu dengan 1/5 budget saja sebenarnya vendor sudah untung). Akhirnya tidak tega juga karena saya tahu, saya terlibat juga sebenarnya dan saya memutuskan untuk mundur saja. Kasihan kalau anak istri harus makan duit nggak bener.
December 8th, 2007 at 1:36 am
telat ron
December 8th, 2007 at 5:39 am
@mas yudiwbs: bravo mas! sayangnya, apapun pilihan kita, hal seperti itu jalan terus
@scut: iya, telat banyak huhu
December 10th, 2007 at 5:22 pm
Ning nek kita ndak gitu… kita kere terus je… piye ya… oalah.. urip kok angel tenan ya…
December 13th, 2007 at 9:30 pm
itulah kisah salah satu rekan yg notabene adalah seorang TKW yg sudah berubah menjadi seorang bos.
(sudah kubilang, jangan dekati mawar yg berduri…..)
NB:ppssstt, jangan dikasih tahu pesen alatnya dimana yah.
.::he509x™::.
December 23rd, 2007 at 8:17 pm
Ya negeri ini memang sudah parah ibarat bom, tinggal menunggu waktu saja. Itu baru masalah proyek, dikmpz saya yang notabenenya negeri banyak ko korupsi….!
Mungkin negeri ini sdh terlalu parah…..!
January 9th, 2008 at 11:15 pm
Memang itu kondisi di negeri kita. Tidak ada perubahan. Makanya saya keluar sebagai auditor. Lama-lama muak juga dan saya tidak bisa berbuat apa-apa.
Kuncinya para pengusaha harus berani menolak menjadi media arus uang haram tersebut. Auditor jarang atau tidak bisa membuktikan jika sudah ada persengkongkolan antar pejabat dan pengusaha. Bisanya cuma mendeteksi. Itu dari pengalaman saya.
Silakan mampir di blog saya untuk tahu tentang masalah korupsi di http://www.signnet.blogspot.com
January 22nd, 2008 at 11:26 am
ron, sing tok bahas iki rak dudu aku to?
August 12th, 2008 at 1:45 pm
mas roni ini aku coba ikutan kasih komentar.
iyahh negeri ini banyak diisi orang yang “memprihatinkan”, ada yang memprihatinkan kondisi dan keadaannya, tapi ada yang kondisi keadaannya enak tapi segumpal dagingnya tadi memprihatinkan.
Teman saya yang bekerja di BPK bercerita tentang temen. temennya itu pernah bilang klo dia ga mau disuap. (hehehe itu dalam kondisi normal). Apa yang terjadi ketika ditugasi memeriksa di suatu instansi. Baru kulonuwun, dihapannya dah tersedia uang puluhan juta (dan boleh langsung dibawa pulang), hatinya mulai bimbang… Wow setan2 pasti pada datang menggoda.
Nah untuk itu kembalikan ke kita masing2 dan selalu berdoa kepada Allah untuk selalu mendapatkan perlindungan-Nya. Amin…