
Beberapa hari ini kita dikagetkan dengan berita pemukulan polisi Malaysia terhadap wakil Indonesia untuk menjadi wasit kejuaraan internasional karate. Pemukulan itu terjadi dengan dalih imigran gelap. Hal yang sebenarnya tidak masuk akal.
Dua hal utama yang patut disoroti adalah label imigran gelap dan pemukulan. Setahu saya pengadilan hanya bisa dilakukan oleh lembaga peradilan melalui mekanisme meja hijau. Jadi pemukulan itu sendiri sudah menyalahi HAM. Lantas keberadaan label yang seakan bisa dilekatkan pada siapa saja,”imigran gelap”. Label tersebut seakan sama nilainya dengan label subversif di jaman Soeharto dulu. Dan label itu bisa diberlakukan pada siapa saja, termasuk wasit yang jelas-jelas membawa tanda/atribut serta identitas jelas. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi pada mereka yang tidak memiliki identitas bertaraf internasional, murni datang ke negeri jiran demi sesuap nasi.
Mempertanyakan Ulang Kedaulatan Bangsa
Maka dalam tulisan kali ini penulis merasa perlu untuk menanyakan lagi tentang kedaulatan bangsa ini. Apa artinya disebut sebagai negara merdeka jika pengakuan hanya sebatas bibir? Kenyataannya negara ini tidak memiliki harga diri di mata polisi Malaysia.
SBY sebagai presiden seakan tutup mata dengan kejadian penganiayaan TKW di negeri tersebut. Juga terhadap kasus yang paling tidak masuk akal kali ini. Butuh berhari-hari bagi SBY untuk menyatakan keberatan dan menuntut Pemerintah Malaysia untuk meminta maaf dan bertanggungjawab. Sampai jam ini, saya belum mendapatkan berita tentang hal ini.
Hal ini menunjukkan bahwa negara kita sudah diakui merdeka, tetapi mental kita masih terjajah. SBY sebagai corong utama memilih diam menghadapi negeri tetangga. Kisah-kisah seperti ini tampaknya akan selalu dan selalu terulang tanpa ada penyelesaian.
Ingat tentang kasus interpelasi menyangkut Iran waktu itu? SBY memilih mengutus orang lain untuk menyampaikan pendapatnya terhadap DPR. Ini kurang lebih menunjukkan bahwa SBY tidak punya nyali untuk hal-hal yang tidak populer. Kasus penculikan Raisya memang segera mendapat perhatian khusus, dan itu bagus-bagus saja. Namun kasus penculikan yang lain, yang terjadi di Yogyakarta, tidak serta merta mendapatkan perhatian yang sama, padahal bisa jadi pada kasus di Yogyakarta justru ada indikasi traficking di sana. Yang diculik anak orang miskin, dan pelaku tidak menyampaikan tuntutan apapun. Lain kasusnya dengan Raisya, dimana penculik sempat meminta tebusan, yang artinya indikasi penculikan dalam rangka mencari uang terpenuhi. Dari hal ini, kasus penculikan yang menyangkut keluarga miskin di Yogya, semestinya mendapat perhatian yang lebih. Ini sekedar contoh saja, untuk menggambarkan bagaimana sikap seorang presiden yang sama sekali tidak memiliki kepribadian ( :baca harga diri).
Belum lagi jika kita tilik betapa rendahnya kita di mata Singapura. Perjanjian yang membolehkan pesawat Singapura terbang di atas wilayah Indonesia tanpa meminta ijin terlebih dahulu, adalah perjanjian terbodoh dalam sejarah hubungan antar bangsa. Seorang teman saya berkata bahwa dikhawatirkan Singapura akan bisa memata-matai Indonesia jika hal itu dilakukan, namun bagi saya itu adalah hal yang sudah lewat. Singapura, negara kecil yang tidak berhak (sesuai hukum internasional) untuk memiliki satelit, sekarang memiliki satelit. Terimakasih kepada para pemegang kebijakan Indosat. Dan memata-matai Indonesia bukanlah hal yang sulit dengan adanya satelit tersebut.
Tuntutan untuk SBY
Bapak Presiden yang terhormat, mohon segera lakukan tindakan nyata. Tunjukkan bahwa negara ini punya kedaulatan dan harga diri. Sudah semestinya Anda menuntut pertanggungjawaban terhadap Malaysia terkait kasus ini.
Tuntutlah agar Malaysia tidak semena-mena dengan warga negara Indonesia. Hal ini tentusaja menyangkut juga TKW. Bagi Indonesia, TKW adalah penyumbang devisa yang cukup besar. Partner sampeyan, Jusuf Kalla, tentu suka dengan angka-angka yang dihasilkan dari keberadaan TKW ini. Sudah sewajarnya pemerintah Indonesia melindungi mereka.
Lihatlah bagaimana Australia berusaha menyelamatkan warganya yang ditangkap di Bali terkait kasus Narkoba. Jelas-jelas dia bersalah, tapi Australia tetap berusaha agar warga negara Australia itu dihukum di negaranya. Itu contoh jelek terkait dengan mental bangsa, tetapi contoh bagus terkait dengan keinginan melindungi warganya.
Tidakkah kita bisa melakukannya? Apakah negara kita memang sudah tidak memiliki taring sama sekali? Saya jadi teringat dengan selorohan seorang ahli fisika yang kebetulan sempat menjabat sebagai Presiden India,”Kekuatan menghormati kekuatan”. Dan negara ini lemah. Semakin lemah lagi karena dipimpin oleh pemimpin yang tidak punya harga diri.
vale, demi harga diri
el rony, memikirkan sby sampai sakit gigi (sakit hati sudah lewat)
Category: Neolib, Culture, Semiotics | Comment RSS 2.0 | trackback
August 28th, 2007 at 4:38 pm
Indonesia kaya macan ompong donk? ga ada taring…tapi kok SBY begitu ya? apa ada agenda lain? pertimbangan lain?
August 28th, 2007 at 7:26 pm
ron, pusing mikirin giniaaaaan..
kita kita cuma bisa tereak kesel sekesel-keselnya.
tapi….
duh, capek…
August 28th, 2007 at 7:37 pm
kalau urusan sudah bergantung pada pemerintah gini, capek mas …
August 28th, 2007 at 8:01 pm
ho oh, ada yang aneh dengan SBY, koq kayak ibu2 banget gayanya (jangan2 disetir sama ibu Ani SBY). Mosok yang diurusi hal2 kayak poligami, penculikan dsb.
August 28th, 2007 at 11:16 pm
Ehm…
kalo sudah urusan beginian, sekalipun pemerintah dihujat habis-habisan mereka cuman diam.
August 29th, 2007 at 11:45 am
weh.. bahaya bagi seorang politikus untuk mengambil keputusan politis. lho, jadi apa gunanya yak?
August 30th, 2007 at 9:58 am
nah, ye… pada cakap ay, nih… cakap dibelakang pulak… alah… tak baik, itu… siape bilang ay pemberani… ay, tuh, cuman presiden… janganlah menuduh ay itu hebat dan pembela negeri ini… apalagi pelindung rakyat… ay cuman presiden, bukan raja… janganlah, kerana cuman bikin yu… CAPPEK DEHH…
August 30th, 2007 at 10:24 am
Memprihatinkan. Mengapa pemerintah tidak berani mengambil sikap yang lebih tegas. Tindakan tak mengenakkan dari negeri jiran sudah terjadi berkali-kali.
August 30th, 2007 at 3:09 pm
Waduhh… Saya juga sedih, setiap denger lagi2x ada TKI yang meninggal dunia karena disiksa majikannya disini
hikssss…
Apa yang harus dilakukan yahhh? Kadang TKI-nya juga sih yang memilih jalur ilegal. Buah simalakama kalau udah begini.
August 30th, 2007 at 4:41 pm
“Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar !
Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu !
Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh
Malaysian keparat itu
Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang
sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa
yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.
serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk
melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan
bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki
martabat.
Yoo…ayoo.. .kita…Ganjang. …
Ganjang….Malajsia
Ganjang …Malajsia
Bulatkan tekad
Semangat kita badja
Peluru kita banjak
Njawa kita banjak
Bila perlu satoe-satoe.”
Adakah presiden RI sekarang berpidato segarang itu?
August 31st, 2007 at 4:48 am
Nasionalisme Ganyang Malaysia
Negara serumpun yang tidak ramah itu kembali berulah. Setelah sukses merampok pulau Sipadan dan Ligitan kemudian mencoba menyerobot blok Ambalat kemudian memperlakukan TKI secara kurang manusiawi kemudian membiarkan kayu hasil illegal logging masuk ke …
August 31st, 2007 at 5:04 am
Bung Karno mengajarkan bahwa Malaysia itu layak untuk diganyang. Tapi untuk mengganyangnya perlu sikap yang konsekuen seperti tulisan saya di :
http://dendemang.wordpress.com/2007/08/31/nasionalisme-ganyang-malaysia/
August 31st, 2007 at 2:48 pm
beraninya sih nakut2in rakyatnya
*hahahah*
August 31st, 2007 at 5:38 pm
ya bennoaar!…sby kalah jantan dari presiden betina pinoy ituw! mm..si loncatpagar ayoyo!¿
September 1st, 2007 at 11:22 pm
pada JAIM
September 3rd, 2007 at 3:05 pm
harga diri… duhhh…
salam kenal
September 11th, 2007 at 10:28 am
Emang susah. Di injek injek ma murid sendiri
Indonesia ajah dah gak menghargai diri sendiri jd susah utnuk di hargai ma bangsa lain.
September 26th, 2007 at 5:10 pm
ayo semua ikutan nyanyi …
” ITULAH INDONESIA …. !!!!! “
September 26th, 2007 at 11:13 pm
malay ancen ngelunjak tenan…
tapi indo ancen bodoh
October 19th, 2007 at 2:28 am
malaysia sudah sangat keterlaluan.
merindukan bung karno,,
November 20th, 2007 at 4:00 am
Banyak orang bicara tentang kebebasan
Banyak orang bicara tentang keyakinan
Dan banyak orang bicara tentang keadilan
Banyak orang bicara tentang perubahan
TAPI…
Semua cuma dalam bisikan
Semuanya nggak berbuat apa-apa
Banyak orang melihat manipulasi terang terangan
Banyak orang melihat cara-cara kekerasan
Dan banyak orang melihat kesewenangan kekuasaan
Banyak orang melihat segala kebobrokan
TAPI…
Semuanya hanya tutup mata saja
Semuanya nggak berbuat apa-apa
November 26th, 2007 at 12:05 pm
mulai deh dari sekarang hargai milik bangsa ini..
March 7th, 2008 at 5:05 pm
Sing = dirty manipulator, mengencingi Indonesia.
Memperkosa para TKW tanpa diadili dan memakai laut indonesia untuk pelabuhannya. Tanpa malu brand negaranya probably the most honest and clean country in the world.
Uang rakyat Indonesia dihisap melalu koruptor dan jasa medis yang terlalu mahal, rawat inap = 16 juta per malam, kasur tambahan untuk keluarga = 1 juta, sogok sana sini untuk beli perusahaan negara dengan harga murah, telkom indosat untuk memata-matai rakyat sendiri