Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Tercabiknya Harga Diri Bangsa

Print This Post   Email This Post

Beberapa hari ini kita dikagetkan dengan berita pemukulan polisi Malaysia terhadap wakil Indonesia untuk menjadi wasit kejuaraan internasional karate. Pemukulan itu terjadi dengan dalih imigran gelap. Hal yang sebenarnya tidak masuk akal.

Dua hal utama yang patut disoroti adalah label imigran gelap dan pemukulan. Setahu saya pengadilan hanya bisa dilakukan oleh lembaga peradilan melalui mekanisme meja hijau. Jadi pemukulan itu sendiri sudah menyalahi HAM. Lantas keberadaan label yang seakan bisa dilekatkan pada siapa saja,”imigran gelap”. Label tersebut seakan sama nilainya dengan label subversif di jaman Soeharto dulu. Dan label itu bisa diberlakukan pada siapa saja, termasuk wasit yang jelas-jelas membawa tanda/atribut serta identitas jelas. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi pada mereka yang tidak memiliki identitas bertaraf internasional, murni datang ke negeri jiran demi sesuap nasi.

Mempertanyakan Ulang Kedaulatan Bangsa

Maka dalam tulisan kali ini penulis merasa perlu untuk menanyakan lagi tentang kedaulatan bangsa ini. Apa artinya disebut sebagai negara merdeka jika pengakuan hanya sebatas bibir? Kenyataannya negara ini tidak memiliki harga diri di mata polisi Malaysia.

SBY sebagai presiden seakan tutup mata dengan kejadian penganiayaan TKW di negeri tersebut. Juga terhadap kasus yang paling tidak masuk akal kali ini. Butuh berhari-hari bagi SBY untuk menyatakan keberatan dan menuntut Pemerintah Malaysia untuk meminta maaf dan bertanggungjawab. Sampai jam ini, saya belum mendapatkan berita tentang hal ini.

Hal ini menunjukkan bahwa negara kita sudah diakui merdeka, tetapi mental kita masih terjajah. SBY sebagai corong utama memilih diam menghadapi negeri tetangga. Kisah-kisah seperti ini tampaknya akan selalu dan selalu terulang tanpa ada penyelesaian.

Ingat tentang kasus interpelasi menyangkut Iran waktu itu? SBY memilih mengutus orang lain untuk menyampaikan pendapatnya terhadap DPR. Ini kurang lebih menunjukkan bahwa SBY tidak punya nyali untuk hal-hal yang tidak populer. Kasus penculikan Raisya memang segera mendapat perhatian khusus, dan itu bagus-bagus saja. Namun kasus penculikan yang lain, yang terjadi di Yogyakarta, tidak serta merta mendapatkan perhatian yang sama, padahal bisa jadi pada kasus di Yogyakarta justru ada indikasi traficking di sana. Yang diculik anak orang miskin, dan pelaku tidak menyampaikan tuntutan apapun. Lain kasusnya dengan Raisya, dimana penculik sempat meminta tebusan, yang artinya indikasi penculikan dalam rangka mencari uang terpenuhi. Dari hal ini, kasus penculikan yang menyangkut keluarga miskin di Yogya, semestinya mendapat perhatian yang lebih. Ini sekedar contoh saja, untuk menggambarkan bagaimana sikap seorang presiden yang sama sekali tidak memiliki kepribadian ( :baca harga diri).

Belum lagi jika kita tilik betapa rendahnya kita di mata Singapura. Perjanjian yang membolehkan pesawat Singapura terbang di atas wilayah Indonesia tanpa meminta ijin terlebih dahulu, adalah perjanjian terbodoh dalam sejarah hubungan antar bangsa. Seorang teman saya berkata bahwa dikhawatirkan Singapura akan bisa memata-matai Indonesia jika hal itu dilakukan, namun bagi saya itu adalah hal yang sudah lewat. Singapura, negara kecil yang tidak berhak (sesuai hukum internasional) untuk memiliki satelit, sekarang memiliki satelit. Terimakasih kepada para pemegang kebijakan Indosat. Dan memata-matai Indonesia bukanlah hal yang sulit dengan adanya satelit tersebut.

Tuntutan untuk SBY

Bapak Presiden yang terhormat, mohon segera lakukan tindakan nyata.  Tunjukkan bahwa negara ini punya kedaulatan dan harga diri. Sudah semestinya Anda menuntut pertanggungjawaban terhadap Malaysia terkait kasus ini.

Tuntutlah agar Malaysia tidak semena-mena dengan warga negara Indonesia. Hal ini tentusaja menyangkut juga TKW. Bagi Indonesia, TKW adalah penyumbang devisa yang cukup besar. Partner sampeyan, Jusuf Kalla, tentu suka dengan angka-angka yang dihasilkan dari keberadaan TKW ini.  Sudah sewajarnya pemerintah Indonesia melindungi mereka.

Lihatlah bagaimana Australia berusaha menyelamatkan warganya yang ditangkap di Bali terkait kasus Narkoba. Jelas-jelas dia bersalah, tapi Australia tetap berusaha agar warga negara Australia itu dihukum di negaranya. Itu contoh jelek terkait dengan mental bangsa, tetapi contoh bagus terkait dengan keinginan melindungi warganya.

Tidakkah kita bisa melakukannya? Apakah negara kita memang sudah tidak memiliki taring sama sekali? Saya jadi teringat dengan selorohan seorang ahli fisika yang kebetulan sempat menjabat sebagai Presiden India,”Kekuatan menghormati kekuatan”. Dan negara ini lemah. Semakin lemah lagi karena dipimpin oleh pemimpin yang tidak punya harga diri.

vale, demi harga diri

el rony, memikirkan sby sampai sakit gigi (sakit hati sudah lewat)

Category: Neolib, Culture, Semiotics | Comment RSS 2.0 | trackback

23 Responses to “Tercabiknya Harga Diri Bangsa”

  1. gerry Says:

    Indonesia kaya macan ompong donk? ga ada taring…tapi kok SBY begitu ya? apa ada agenda lain? pertimbangan lain?

  2. didats Says:

    ron, pusing mikirin giniaaaaan..

    kita kita cuma bisa tereak kesel sekesel-keselnya.
    tapi….

    duh, capek…

  3. Mbilung Says:

    kalau urusan sudah bergantung pada pemerintah gini, capek mas …

  4. Popo Says:

    ho oh, ada yang aneh dengan SBY, koq kayak ibu2 banget gayanya (jangan2 disetir sama ibu Ani SBY). Mosok yang diurusi hal2 kayak poligami, penculikan dsb.

  5. peyek Says:

    Ehm…
    kalo sudah urusan beginian, sekalipun pemerintah dihujat habis-habisan mereka cuman diam.

  6. mpokb Says:

    weh.. bahaya bagi seorang politikus untuk mengambil keputusan politis. lho, jadi apa gunanya yak? :P

  7. SBY Says:

    nah, ye… pada cakap ay, nih… cakap dibelakang pulak… alah… tak baik, itu… siape bilang ay pemberani… ay, tuh, cuman presiden… janganlah menuduh ay itu hebat dan pembela negeri ini… apalagi pelindung rakyat… ay cuman presiden, bukan raja… janganlah, kerana cuman bikin yu… CAPPEK DEHH…

  8. indra kh Says:

    Memprihatinkan. Mengapa pemerintah tidak berani mengambil sikap yang lebih tegas. Tindakan tak mengenakkan dari negeri jiran sudah terjadi berkali-kali.

  9. ekSi Says:

    Waduhh… Saya juga sedih, setiap denger lagi2x ada TKI yang meninggal dunia karena disiksa majikannya disini :( hikssss…

    Apa yang harus dilakukan yahhh? Kadang TKI-nya juga sih yang memilih jalur ilegal. Buah simalakama kalau udah begini.

  10. Betha Says:

    “Kalau kita lapar itu biasa
    Kalau kita malu itu juga biasa
    Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar !
    Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu !
    Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh
    Malaysian keparat itu
    Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang
    sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa
    yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.
    serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk
    melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan
    bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki
    martabat.

    Yoo…ayoo.. .kita…Ganjang. …
    Ganjang….Malajsia
    Ganjang …Malajsia
    Bulatkan tekad
    Semangat kita badja
    Peluru kita banjak
    Njawa kita banjak
    Bila perlu satoe-satoe.”

    Adakah presiden RI sekarang berpidato segarang itu?

  11. Budayawan Muda Says:

    Nasionalisme Ganyang Malaysia

    Negara serumpun yang tidak ramah itu kembali berulah. Setelah sukses merampok pulau Sipadan dan Ligitan kemudian mencoba menyerobot blok Ambalat kemudian memperlakukan TKI secara kurang manusiawi kemudian membiarkan kayu hasil illegal logging masuk ke …

  12. Wibisono Sastrodiwiryo Says:

    Bung Karno mengajarkan bahwa Malaysia itu layak untuk diganyang. Tapi untuk mengganyangnya perlu sikap yang konsekuen seperti tulisan saya di :
    http://dendemang.wordpress.com/2007/08/31/nasionalisme-ganyang-malaysia/

  13. vino Says:

    beraninya sih nakut2in rakyatnya
    *hahahah*

  14. oon Says:

    ya bennoaar!…sby kalah jantan dari presiden betina pinoy ituw! mm..si loncatpagar ayoyo!¿

  15. bimoseptyop Says:

    pada JAIM

  16. kopipaste Says:

    harga diri… duhhh…

    salam kenal

  17. Kiyat Says:

    Emang susah. Di injek injek ma murid sendiri :(

    Indonesia ajah dah gak menghargai diri sendiri jd susah utnuk di hargai ma bangsa lain.

  18. paydjo Says:

    ayo semua ikutan nyanyi …

    ” ITULAH INDONESIA …. !!!!! “

  19. thuns Says:

    malay ancen ngelunjak tenan…
    tapi indo ancen bodoh :D

  20. endji Says:

    malaysia sudah sangat keterlaluan.

    merindukan bung karno,,

  21. ThopiQue Says:

    Banyak orang bicara tentang kebebasan
    Banyak orang bicara tentang keyakinan
    Dan banyak orang bicara tentang keadilan
    Banyak orang bicara tentang perubahan

    TAPI…
    Semua cuma dalam bisikan
    Semuanya nggak berbuat apa-apa

    Banyak orang melihat manipulasi terang terangan
    Banyak orang melihat cara-cara kekerasan
    Dan banyak orang melihat kesewenangan kekuasaan
    Banyak orang melihat segala kebobrokan

    TAPI…
    Semuanya hanya tutup mata saja
    Semuanya nggak berbuat apa-apa

  22. gps garmin Says:

    mulai deh dari sekarang hargai milik bangsa ini..

  23. Babi LeeKY Says:

    Sing = dirty manipulator, mengencingi Indonesia.
    Memperkosa para TKW tanpa diadili dan memakai laut indonesia untuk pelabuhannya. Tanpa malu brand negaranya probably the most honest and clean country in the world.
    Uang rakyat Indonesia dihisap melalu koruptor dan jasa medis yang terlalu mahal, rawat inap = 16 juta per malam, kasur tambahan untuk keluarga = 1 juta, sogok sana sini untuk beli perusahaan negara dengan harga murah, telkom indosat untuk memata-matai rakyat sendiri

Leave a Reply