Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Krisis Kepemimpinan?

Print This Post   Email This Post

Tidak juga bisa dikatakan demikian, tetapi kegelisahan akan sosok pemimpin memang selalu menjadi kegelisahan berjama’ah. Dalam sebuah sistem pemerintahan kita, semestinya tidak muncul kegelisahan ini karena toh ada tiga kekuatan utama peletak kestabilan negara; eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Namun berhubung ini kegelisahan banyak orang, termasuk saya, maka saya pikir saya sampaikan saja uneg-uneg ini. Kegelisahan ini berkait dengan kebobrokan kualitas orang-orang yang merasa -sekaligus dipandang- dirinya adalah pemimpin.

Salah malah Bangga

Satu hal ini yang paling banyak kita lihat di negeri ini.  Tengok saja kasus Dana DKP kemarin, dimana salah seorang yang selama ini disebut tokoh reformasi, justru terang-terangan mengatakan bahwa dirinya menerima dana DKP.

Kalau menurut nalar, beliau harusnya ditahan dan diinterogasi. Lantas kenapa hal ini tidak terjadi? Kecurigaan yang muncul kemudian adalah bahwa ada sederet nama yang terlibat sehingga karir politik orang-orang tersebut menjadi terancam.  Jadi yang terjadi kemudian adalah -lagi-lagi- pembodohan rakyat. Kita hanya bisa melongo ketika kasus ini tenggelam begitu saja.

Atau kasus lain, kematian Munir misalnya. Bukankah orang-orang yang terlibat dengan segala pernik penerbangan jumlahnya sangat terbatas? Apalagi kalau mengingat shift kerjanya. Tentunya pada hari itu bisa dilihat siapa saja yang terlibat. Eh, tapi ternyata sampai sekarang tidak juga segera jelas siapa yang melakukan apa. Antara kebodohan dan kedunguan poisi dengan aliran pembodohan rakyat yang sepertinya masih juga kuat di negeri ini. Oh ya, tentu saja kecurigaannya lagi-lagi ada keterlibatan para tokoh pemimpin negeri.

Tengok lagi lempar-lemparan tanggungjawab soal lapindo. Janji 30juta bagi korban gempa yang hingga sekarang tidak juga jelas kenapa jumlahya mengkerut.  Hilangnya aktivis 98, kasus PDI-P 27 Juli, Tanjung Priok, dan masih banyak lagi, halaman ini sampai tidak akan cukup kalau mau dilist semuanya. Ya, dari semua kasus itu deh kita lihat saja, kenapa semuanya membeku? Kecurigaan lagi-lagi adalah keterlibatan tokoh-tokoh penting.

Skala yang paling kecil bahkan, IPDN (Institut Penyiksaan Dalam Negeri) dan segala nama lainnya bagi institut pembodohan dalam negeri ini, tidak juga kelar urusannya. Seberapa pengaruh orang-orang kunci di IPDN sehingga kasusnya tidak juga kelar? Tidak ada yang tahu, yang jelas kebobrokannya melebihi takaran manusia normal.

Dan kini ibukota sedang panas dengan pemilihan pemimpin. Apakah kita bisa berharap dengan tokoh-tokoh yang muncul? Saya sendiri jelas-jelas pesimis. Kenapa?

Mari Ber-logika

Siapa sih para calon gubernur itu? Mereka memiliki posisi apa sebelumnya? Berapa perusahaannya? Apa saja? Tidak ada keterangan paling jelas mengenai dua point paling akhir ini. Tapi kekayaannya, masyaAllah, 23Milyar dan ratusan ribu dollar sementara yang satunya 18Milyar dan sekian ratus ribu dollar.

Nah, jujur saja deh. Apakah nilai tersebut benar-benar wajar? Saya melihat ini tidak wajar. Kekayaan yang bahkan bisa menghidupi puluhan ribu warga kok dimiliki oleh satu orang, jelas itu tidak beres. Tapi baiklah, mari berpikiran positif untuk jumlah dan sumber dana itu. Tugas malaikat lah yang nanti menanyakannya.

Tapi kita lihat sisi lain saja sekarang. Tokoh pemimpin seperti apa yang dicari oleh kita? Kalau menurut saya sih tokoh pemimpin yang baik adalah mereka yang mengerti dan merasakan penderitaan rakyat. Nah, orang dengan kekayaan seperti itu, dengan tingkat kerelaan (keikhlasan) mengungkungi harta sedemikian besar, apakah memiliki perasaan seperti yang kita inginkan? Sulit dipercaya kalau mereka bilang iya. Kalau Anda percaya ya monggo saja, saya sendiri tidak bisa membayangkan mereka berdesakkan di biskota demi menuju kantor.

Dan mereka yang tidak merasakan susahnya himpitan di dalam biskota, banyaknya pencopet, sesaknya nafas, bagaimana mungkin akan merasa bahwa permasalahan ini mendesak untuk diselesaikan? Dan mereka yang tidak merasa bahwa permasalahan besar ini tidak mendesak, bagaimana akan menyelesaikan permasalahan lain yang jauh lebih berat?

Duh, saya kok jadi tidak bisa tidak kepikiran dengan tokoh-tokoh lain di negeri seberang. Taruhlah Presiden Bolivia, lulusan SMA namun dekat dengan penderitaan rakyat. Atau lihatlah Ahmadineejad yang memilih tinggal di perkampungan (tergolong) kumuh dan meninggalkan istana. Jauh deh kalau dibayangkan mereka akan mengikuti sunnah rosul  menjadi orang yang paling terakhir senang dan paling pertama susah. Lho, saya tetap harus menggunakan kata itu, lha wong mereka kampanye menggunakan ayat-ayat agama je.

Nah, jadi, apakah kita sudah memiliki sosok pemimpin yang bener? Jawabannya kok ya jelas banget ya…

vale, demi kepemimpinan

el rony, memasang lowongan “dicari pemimpin yang siap miskin”

nb: jika saja pilar-pilar negara yang lain beres, mungkin kita tak perlu resah dengan hal ini. Sayangnya pilar itu sama bobroknya. Soeharto masih bisa senyum, tommy masih bisa nembak, dan pengacara bloon masih bisa tertawa. Duh!

Category: Politik, Semiotics, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback

11 Responses to “Krisis Kepemimpinan?”

  1. bangsari Says:

    jangankan untuk bikin benar untuk orang lain, benar untuk diri sendiri (individu per individu saja) negara ini ndak bisa jamin. gimana tuh?

  2. ryosaeba Says:

    nb: jika saja pilar-pilar negara yang lain beres, mungkin kita tak perlu resah dengan hal ini. Sayangnya pilar itu sama bobroknya. Soeharto masih bisa senyum, tommy masih bisa nembak, dan pengacara bloon masih bisa tertawa. Duh!

    dan mr kumis masih bisa ngibulin satu negara soal lagu kebangsaan.

  3. Hedi Says:

    Negara ini bukan lagi krisis kepemimpinan, tapi juga udah kehilangan state of nation. Minimal rasa berbangsa nyaris udah hilang.

    Mayoritas orang di Indonesia ini sekarang hanya mikir gimana caranya dapet duit yang banyak. Semua motivasinya itu. Malangnya, gara-gara itu rusak semua tatanan.

  4. rd Limosin Says:

    Endonesa…. Tana Aer kuuuu….

  5. mpokb Says:

    pemimpin kita adalah majikan-majikan kita, bung lantip. yg menduduki pemerintahan kan kebanyakan pengusaha..

  6. jampez Says:

    Loh,,, dia tuh kan ikut2an iklan Rinso… berani kotor itu baik.
    Oh,, namanya juga cari pemimpin,, kalau dapatnya jelek ya ojo nesu toh mas!! Mungkin carene golek sing gak bener, atau panggonane golek sing gak bener dadi isine mung barang elek tur reged…. lah trus piye?

  7. alex Says:

    Sayup-sayup rasanya terdengar suara dari gedung parlemen dan istana negara,

    “BARU ENAM PULUHAN, NDUL! TAHU APA ENTE TENTANG SUSAHNYA JADI PEMIMPIN. ENTE KIRA NDAK PAKE MODAL APA? ENTE KIRA NDAK MAHAL APA KAMI NYUAP AGAMAWAN JUALIN AYAT BUAT KAMI? ENTE KIRA INI NEGERI YANG BOLEH SOK KIRI-KIRI KAYAK BOLIVIA ATAU IRAN ITU? APA MUNGKIN LEBIH BAIK KALO ENTE TIDAK PERNAH ADA SAJA?”
    ……

    Kita dipimpin generasi nostalgia yang selalu menjadikan zamannya sendiri sebagai tolok-ukur. Generasi tua yang begitu memiliki fans *atau mungkin pengikut?* dan dibaptis sebagai BAPAK ITU dan BAPAK INI, akan merasa makhsum…

    good post, Ron… always…

  8. peyek Says:

    menjadi orang yang paling terakhir senang dan paling pertama susah

    jadi pake koteka mas?, itu kata mereka lho mas!

  9. sugeng rohadi Says:

    kepemimpinan itu gak akan krisis kalau kita tidak menganggapnya krisis. bisa jadi kita saja yang berpikir kepemimpinan kita krisis padahal diri kita yang sedang krisis…

  10. Mas Guru Says:

    Kalau boleh urun rembug, kayaknya, sepanjang kemerdekaan repiblik ini, belum pernah kita punya pimpinan yang baek. Yang ada hanya pimpinan-pimpinan yang menomorsatukan kepentingan sendiri atau kelompoknya doang. Kalo negeri ini dipimpin oleh pimpinan yang baek dan bener, tentu rakyat ndak melarat,utang ndak segunung dan bangsa ini bangga pada negerinya.
    Cuma masalahnya, bagaimana ya caranya agar Endonesya ini punya pimpinan yang baek dan bener ?

  11. tahu isi Says:

    emang susahlah…… ngatur wong indonesa,indonesia tlah di jajah belanda 350th ATO(3,5 ABAD)bayangin otak rang indonesia di cuci sam wong belanda; yg suka ngadu domba,trus korupsi itu sudah melilit-lilit dan mendarah daging.jadi
    Dari pamong desa sampai pimpinan atasan ya pasti akhirnya korupsi….ayo ngaku jgn munafiq awas loh..dasar orang nggak takut ama tuhan.

Leave a Reply