
Dua hari yang lalu saya tersentil oleh sebuah komentar di blog saya ini. Pengirimnya tidak menyertakan alamat blog dia, mengaku sebagai mas koko. Isinya adalah sebagai berikut:
koko Says:
July 26th, 2007 at 3:32 pm
Kayaknya lmyan juga da playgrup kayak gitu.Kita jd ga ssah ngurus anak,klo rewel bawa ja kplaygroup itu.
Ada dua hal yang menggelitik di pikiran saya. Pertama, adalah perasaan bahwa informasi mengenai playgroup ini cukup bermanfaat. Namun pikiran saya yang lain, yang justru membuat saya merasa perlu untuk menuliskan opini ini adalah bahwa playgroup dilihat sebagai tempat penitipan anak. Wah, saya jadi tersentil. Terimakasih Mas Koko
Manusia Karir dan Mandat re-Generasi
Sub-judul saya jadinya cukup menyentil juga, sekedar mengimbangi sentilan cerdas tersebut.
Tidak dapat dipungkiri lagi, perkembangan teknologi dan percepatan pergerakan jaman menuntut kita semua untuk bekerja lebih keras. Beratnya kehidupan ditambah dengan bayang-bayang beban pendidikan bagi anak, generasi penerus kita, tentunya mau tak mau mendorong kita untuk bekerja lebih keras lagi.
Kehidupan di negeri ini memang membuat segala sesuatunya bisa dipandang tidak adil, ialah manakala kita lihat betapa jenjang/gap yang sedemikian tinggi di antara tiap kelas. Orang yang bekerja keras membanting tulang dari pagi hingga petang, penghasilannya bisa jadi jauh di bawah mereka yang justru –kelihatannya– tidak bekerja.
Namun terlepas dari kesenjangan ataupun ketidak adilan itu, adalah kenyataan bahwa hidup di negeri ini memanglah semakin susah. Kebutuhan/biaya untuk hidup juga semakin tinggi. Belum lagi biaya untuk pendidikan. Maka tak heran jika sebagian besar penduduk negeri ini menghabiskan waktunya di kantor dan di jalan, sedikit waktu saja tersisa di rumah.
Ini mungkin bukan alasan yang bagus, tapi ini adalah kenyataan. Maka ketika sepasang suami-istri bekerja, anaklah yang menjadi korbannya. Pilihannya kemudian adalah menitipkan sang buah hati selama si ibu dan bapak bekerja. Beruntunglah mereka yang bisa menyediakan waktu untuk si anak, hanya salah satu yang bekerja misalnya, karena pengawasan terhadap anak bisa dilakukan sepenuhnya oleh orang tuanya sendiri. Dengan demikian kasih sayang dari orang tua juga sampai secara penuh kepada si anak.
Tempat menitipkan buah hati ini ada berbagai bentuk. Dari mulai ke keluarga sendiri (paman, bibi, adik, kakak, nenek, kakek) hingga ke lembaga penitipan anak. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Yang jelas, ketika penitipan anak menjadi pilihan, maka harapan akan perhatian dan curahan kasih sayang yang cukup menjadi agak mengkhawatirkan. Bagaimanapun, ikatan kita dengan lembaga penitipan anak hanyalah di wilayah janji dan uang semata.
Dari uraian itu, maka menitipkan si buah hati pada keluarga terlihat sebagai satu pilihan yang paling baik. Hanya saja, keluarga dimaksud juga tak lepas dari kesibukannya sendiri. Kalaulah tidak bekerja, bisa jadi mereka tenggelam dalam aktivitas kesibukan rumah tangga rutin yang kadang-kadang (atau sering?) ditingkahi dengan aktivitas memijit remote TV. Pandangan saya kok jadi berbau pesimistis gini ya? Ya, bagaimanapun itu adalah gambaran keluarga modern saat ini. Dengan demikian, apakah si buah hati juga akan mendapatkan curahan kasih sayang yang diharapkan?
Nah, sebenarnya ada lagi satu pilihan yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan. Kita bisa saja membawa buah hati ke kantor. Memang dengan demikian diperlukan prasyarat lengkap akan suasana kantor. Minimal tidak terlalu bising, bersih dan bebas dari asap/polusi. Hal yang tentunya juga sulit. Namun sesungguhnya, walaupun sang ibu –misalnya sang anak di bawa ke kantor sang ibu– sibuk dengan pekerjaannya, menurut hemat saya ketika sang anak di sampingnya, maka sang anak akan tetap merasakan kehangatan cinta sang ibu. Apakah memang demikian? Mari kita tanya pada sang anak, nanti kalau dia bisa menjawab.
Jadi, ada tiga pilihan sekarang. Anda memilih yang mana? Bagaimanapun anak bukanlah sekedar anak. Dia juga bukan sekedar sebuah mainan lucu tanpa baterai, dia juga bukan sekedar buah kegagalan alat KB. Dia adalah masa depan negeri ini, masa depan manusia, mau tak mau memang demikianlah dia. Ingin jadi apa dia? Pilihan Anda menentukannya.
Usia Playgroup
Tentunya kebersamaan seperti terurai di atas tidak bisa berlangsung seterusnya. Anak sudah harus mulai belajar mengenal lingkungannya. Pada usia di atas 3 (tiga) tahun, diman anak sudah lancar berlari dan bicara, interaksi dengan anak-anak seusianya menjadi penting. Pada usia seperti inilah pilihan memasukkan ke playgroup mungkin bisa dirasa perlu. Tentu saja hal ini tidak bersifat harus, pilihan masing-masing orang tua akan masa depan si anaklah yang menjadi penentu.
Dalam memilih playgroup, kalau menurut pertimbangan saya, harus lepas dari emosi orang tua. Pertimbangan sepenuhnya pada perkembangan si anak. Jadi kalau dalam ungkapan mas Koko di atas adalah bahwa memasukkan si anak ke playgroup karena anak sudah rewel, bukanlah sebuah pilihan tepat. Anak sudah sewajarnya dan seharusnya menjadi rewel. Anak yang pendiam, selalu diam, justru mengkhawatirkan.
Bisa jadi ketika Anda memilih playgroup seperti playgroup yang saya akan pilih untuk anak saya, yang terjadi adalah anak menjadi tambah rewel. Itu yang terjadi pada anak teman-teman saya. Mereka rewel menanyakan ini itu, rewel minta di antar jam sekian dijemput jam sekian dan sebagainya. Jadi, kerewelan tetap ada, karena anak seusia itu memang wajar dan harus rewel.
Ingatlah, walaupun anak sudah mulai lancar berbicara, perasaan mereka masihlah halus. Hal ini saya alami sendiri, bagaimana keponakan-keponakan saya mejauhi saya ketika saya sedang suntuk memikirkan dompet (ya maklum saja, wiraswasta memang sering kesulitan uang hihihi). Namun ketika saya sedang tidak banyak pikiran, mereka asyik bermain bahkan selalu ngglendot ke saya.
Kalau Malah Tambah Rewel, Kenapa harus Playgroup?
Wah, lha ya nggak harus to ya. Playgroup hanyalah pilihan. Jadi jawaban atas judul utama saya malah sudah saya jawab di sini. Anda boleh saja –dan tentunya jauh lebih baik– mendidik anak sendiri. Jika memang Anda bisa meluangkan waktu untuk mereka. Terus terang itu adalah hal yang terbaik. Paling tidak, Anda jadi tahu persis perkembangan sang anak.
Lho, jadi –muncul lagi pertanyaan– playgroup itu pilihan atau terpaksa karena tidak punya waktu? Waduh…
vale, demi pendidikan anak
el rony, berdoa semoga bisa ikhlas
Category: Pendidikan, Yogyakarta | Comment RSS 2.0 | trackback
July 28th, 2007 at 3:20 pm
kalo saya, ebel dan vasant masuk sekolah, supaya orang lain merasakan kengeyelan dua anak itu
July 28th, 2007 at 11:55 pm
berlabel ke-Bapak-an
anak itu kan titipan Yang Maha Kuasa mas, terus mau dititipkan lagi? bener njenengan, kasihan si anak!
July 30th, 2007 at 8:16 am
ya, jgn sampe kita dan anak kita di-dikte sama sistem yg udah ada…harus-nya kan orang tua-nya si anak yg tahu dan bisa mengendalikan jalur pendidikan anak-nya…Playgroup atau bukan Playgroup atau malah cukup di rumah, orang tua-nya yg menentukan, bukan sistem yg ada yg belum tentu bagus dan cucok buat si anak…
July 30th, 2007 at 9:41 pm
orang di indonesiaâ„¢ memang enak, kalau suami istri kerja, ah nggak perlu pikir panjang2, anak tinggal titip di rumah sama kakek/nenek/paman/bibi/tetangga(!) dst. nggak pake mikir, nggak usah bayar, nggak usah khawatir akan kesejahteraan/makan/minum-nya. come on, please don’t kid yourselves, it may be the better option, but rather than a choice, it’s more of a convenience that’s taken way for granted. coba jangan dilupakan fakta ini
back to topic, semua akan tergantung dari lingkungan masing2. selama si anak sejak kecil ada cukup interaksi dengan anak2 lain seusia paling tidak 1-2 jam setiap harinya, menurut gue tidak ada *keharusan* untuk menyekolahkan (sampai usia sekolah, tentunya). seandainya ini tidak memungkinkan dan sejak kecil interaksi anak dengan teman seusia minimum, maka sangat disarankan untuk memasukkan anak ke playgroup atau pre-school. nggak perlu setiap hari, 2-3 hari setiap minggu untuk 3-4 jam sudah lebih dari cukup. ini akan sangat membantu perkembangan sosial si anak juga, membantu dia belajar berinteraksi dengan teman2nya, bermain dengan manusia2 yang ‘berbeda’ dari yang biasa dia temui setiap hari (ortunya, sepupu2, tetangga, dst).
terakhir, jadi ortu itu nggak ada manualnya
yes, there are guidelines, tapi apa yang diterapkan dan seperti apa cara penerapan yang terbaik untuk setiap keluarga akan sangat tergantung dari kombinasi sifat/perilaku ayah-ibu-anak itu sendiri dan lingkungan sekitarnya. dari sini bisa diambil dua keismpulan:
a. do what you think is best for you, your family, and your children. hanya kita (sebagai ortu) yang tau apa alasan kita memutuskan untuk menitipkan anak di kakek-nenek, atau tempat penitipan anak, atau alternatif lain. nggak usah perduli komentar orang lain.
b. sebaliknya, nggak perlu sok2an menjudge orang lain. kita nggak bisa tau persis situasi setiap keluarga seperti apa yang menyebabkan keluarga tsb memilih mendidik anaknya dengan melakukan x atau y atau z. everybody have their reasons.
August 1st, 2007 at 4:51 am
jalanin aja
August 1st, 2007 at 11:53 am
playgroup? kayaknya untuk uraian Mas Rony di atas lebih tepat pakai istilah daycare (tempat penitipan anak). ada yang seharian, atau jam2an.
kelompok bermain atau playgroup sifatnya mirip dengan taman kanak2, dengan kegiatan yang lebih banyak permainan sesuai dengan usia anak, dan waktu ‘belajar’ yang lebih singkat.
August 1st, 2007 at 1:05 pm
sebagai seorang yang selalu ditinggal kerja ortu dari kecil, saya punya pendapat sendiri.
Menurut saya justru kebalikannya, bahwa playgroup lebih cocok buat anak daripada titip ke keluarga. Kadang2 famili punya masalah lain lagi harus dipikirkan (terutama kalau mereka juga keluarga karir) dan sedikit banyak (meskipun keluarga) nanti bisa bikin suasana ga enak dan begini begitu.
Di lain sisi playgroup (terutama yg prfesional) punya program dalam menangani anak-anak. Biasanya sih mereka sudah research dulu atau survey atau bahkan punya psikolog anak sendiri.
Meski begitu orang tua tetap harus ada interaksi regular dengan anak itu sendiri (malam kek, pulang kantor kek). Yaaa…daripada dititipkan dengan pembantu dan belajar norma-norma pembantu, playgroup jadi pilihan terbaik buat orang tua sibuk. Bahwa playgroup itu sebagai penitipan anak, ada benarnya…tapi sisi baiknya justru cukup banyak.
Option membawa anak ke kantor sih ga tau jg. Tapi pernah baca dimana ga tau, bawa anak ke kantor itu byk jeleknya dari pada baiknya. Tergantung kerja juga sih. Kebetulan bokap sering meeting dan nyokap dokter (dan anak2 sepertinya ga mau dekat2 dokter), mungkin makanya saya dulu ga pernah dibawa ke kantor hehe
August 2nd, 2007 at 9:54 am
*skdr sharing* pengalaman ku kerja di sekolahan -kebetulan skrg mengajar untuk kelompok bermain ato playgroup istilahnya- justru kebanyakan motivasi parents kirim anaknya ke playgroup supaya anak itu lebih baik berinteraksi sosial ketimbang melulu sama keluarga intinya (tapi ada juga yg masukin anaknya ke preschool krn lg tren dan prestis semata hahahha)
Memang ada yg nangis dan teriak2 ato bahkan ngompol sampe dua bulan pertama masuk sekolah, tapi alhamdulillah kebanyakan parents ngeliatnya sbg hal positif si anak dalam berinteraksi dg lingkungannya yg baru. Adaptasi istilahnya
dan tingkat adaptasi anak (usia preschool)-dari buku2 yg ada disekolahan yg aku baca ya- berbeda2, ada yg satu minggu udah klop sama lingk.barunya ada yg butuh berbulan2.
dan dari hasil interview sekolah thd parents dan observasi sekolah thd anak mereka, justru memasukan anak ke preschool bukan karena pilihan ato karena keterpaksaan. Tapi lebih kepada melihat kebutuhan si anak agar lebih mantap lagi social-emotional development-nya *bhs campur adukz*
sbnrnya sih ngedidik anak untuk lebih baik juga bukan melulu dg sekolah. Tapi lebih kpd akhlak dan budi pekerti yg diajarkan orang tua. Di rumah pun juga bisa, asalkan lingkungan rumahnya nyaman buat si anak (kan kebanyakan ortu bikin lingkungan rumah nyaman buat si ortu, ketimbang buat si anak hehehehe)
August 2nd, 2007 at 11:34 am
ribet yak! hmm….
August 3rd, 2007 at 11:09 am
hidup dalam paradigma kecepatan : dangkal dan membingungkan. jangan sampai kelak anak menyesal karena telah dilahirkan.
August 9th, 2007 at 3:12 pm
awas yen suk anakmu mbok tetipke neng play group!
Mari ciptakan lingkungan yang nyaman bagi anak-anak seperti lagunya Sincan …sluruh kota adalah tempat bermain yang nyaman….. wah kok fals 
December 13th, 2007 at 12:54 pm
something weird here…
knp semua bilang playgroup itu tempat penitipan, ya?
hhhmmmm, kalau mindsetnya seperti itu, memang jadi ndak bener. apa pun yg kita lakukan, even di luar terlihat sama, mempunyai latar belakang yang berbeda-beda. Saya rasa yg paling penting disoroti terlebih dahulu adalah ‘apa motivasi’ yang melandasi tindakan. Everybody can not judge other people do just because they see the action. apalagi yg berhubungan dengan pihak ke 3 (anak).
kalau kita sudah tau motivasinya, baru kita bisa menilai. n yg paling penting, kebenaran itu adalah hal yg relatif, so subyektif depend on princips.
kadang2 kita lupa, bahwa anak-anak itu belajar jauuuuh, lebih banyak daripada orang dewasa. seluruh indera mereka bekerja dengan sangat baik untuk menyerap apa yg terjadi di sekitarnya. so, it’s your choice, memberikan sesuatu yg baik untuk diserap atau mau yg biasa2 saja bahkan ada yg lebih buruk krn perilaku orang yg dititipi belum tentu sejalan dengan prinsip2 kita dalam mendidik anak.
justru, terkadang orang yg kita titipi tidak punya kapasitas apa-apa dalam mendidik anak. anak hanya diurusi lahiriahnya saja tanpa diurusi mental & jiwanya.
Cb titip anak ke ortu, saking sayangnya ma ccu, biasanya mereka mengabulkan apa saja kemauan anak kita yaaaang notabene kita ingin anak bisa dibatasi kemauannya. bgmn kita mau memperbaiki kalau 2 lingkungan memberlakukan policy yg berbeda? anak2 jg pintar untk belajar bahwa yg ini lbh enak dijalani drpd yg itu shg saya pilih dekat sm anu saja biar semua mau saya dikabulkan. Nah, berabe kan?
jd, sbg org tua, memangtidak ada guidance-nya. tapi kalau mau menyekokolahkan anak di usia dini, pilihlah yg 1 prinsip dgn kita untuk menjaga keseragaman perlakuan.
it’s all your choice! so, itulahtanggung jawab org tua…berat, meeeen…
June 13th, 2008 at 1:39 pm
Saya adl.ibu muda berusia 28th yg bekerja sampai jam 3 sore,Bagi saya anak adalah suatu anugerah yg sangat luar biasa dan menitipkan anak di playgroup adl.suatu hal yg sia- sia saja krn playgroup tmp buat anak yg masih sering ngompol,anak kuper,rewel,bandel dan susah diatur.Daripada buang2 uang di playgroup mending ditabung unk masa SD,SMP,SMU bhkan Universitas yang “THE BEST”.Masa pra sekolah anak,saya manfaatkan betul2 sblm saya serahkan kpd guru.Peranan Orangtua sangat penting dlm pembentukan kepribadian anak.Okay ibu ibu…….
September 18th, 2008 at 10:05 am
Saya adalah seorang guru playgroup di Bandung. Menarik juga pembahasan mengenai masalah playgroup adalah pilihan atau sebuah keterpaksaan karena saya sebagai salah seorang praktisi di tempat tersebut yang sangat concern tentang masalah perkembangan anak. Banyak orangtua yang belum mengerti atau paham betul tentang periode emas anak dan belum paham betul artinya bermain bermakna dengan anak. Selama ini orangtua masih menganggap bahwa anak usia playgroup adalah anak yang masih belum mengerti apa-apa, anak yang masih belum bisa mengurus dirinya sendiri, anak yang rewel, bertingkah, banyak maunya, susah diatur, banyak bergerak, dan sebagainya. Padahal sebenarnya di balik itu semua Tuhan sudah menciptakan potensi yang luar biasa pada diri mereka. Bayangkan anak usia 2 tahun sudah bisa mengerti tentang Tuhan, artinya bercakap-cakap dengan Tuhan, artinya bersyukur. Anak usia 2-3 tahun sudah bisa paham tentang arti kemandirian, tanggung jawab, percaya diri, kerja sama, empati, dan sebagainya yang mungkin -bahkan orangtua pun tidak sepenuhnya mengerti tentang konsep-konsep tersebut.Mengapa anak-anak itu bisa? Karena mereka belajar. Belajar untuk berinteraksi, belajar untuk bertanggung jawab, belajar untuk mensyukuri apa yang mereka lihat, mereka makan, mereka dengar, dan mereka rasakan dari alam. Mungkin masih banyak orangtua yang mendidik anak-anak mereka seperti mereka dididik oleh orangtuanya dulu. Ini ada sisi positif dan negatifnya tentu. Nah playgroup bisa menjadi sarana untuk orangtua mengembangkan anaknya dengan lebih baik. Playgroup bisa menjadi sarana untuk orangtua mengetahui potensi anak yang sebenarnya sehingga orangtua dapat lebih mengarahkan dan membimbing anak mencapai masa depan sesuai dengan minta, bakat, dan potensi yang dimilikinya. Jadi menurut saya, playgroup dapat menjadi sebuah pilihan yang tepat untuk orangtua terutama orangtua muda yang mempunyai harapan agar anaknya menjadi seorang manusia yang berkembang utuh karena mereka adalah titipan Tuhan yang sempurna. Insya Allah playgroup menjadi fasilitator Tuhan untuk mengembangkan anak sesuai dengan fitrahnya. KAmi berharap semoga dengan membaca tulisan ini tidak ada lagi orangtua yang merasa terpaksa menyekolahkan anaknya di playgroup karena playgroup adalah pondasi bagi anak menggapai masa depannya. Kita tidak ingin bangunan yang kita bangun runtuh di tengah jalan bukan?
February 19th, 2009 at 12:38 pm
anak saya 2.5 th.biasanya umur segitu sudah mulai masuk Play group.tapi saya tidak memasukkannya. cukup lama juga mikirnya untuk mutusin mau di masukkin playgroup apa nggak.menurut saya anak yang perlu masuk playgroup adalah anak yang selalu ditinggal di rumah sama pembantu karena ortunya kerja. dan tidak punya teman sebaya di lingkungannya. sehingga dia gak bisa bersosialisasi. tapi Erin beda, walau ortunya semua kerja dan baru plg jam 5 sore, tapi alhamdulilah bapak ibu asuhnya (saya titipin ke tetangga)sangat sayang padanya, temen sebayanya juga banyak, sehingga dia bisa berinteraksi dengan orang lain. dan saya sepulang kerja semaksimal mungkin waktu untuk dia, dengan belajar sambil bermain (nyanyi, nggambar, doa- doa pendek) yang biasanya diajarkan di play group juga.
June 12th, 2009 at 10:27 am
Aku sedang belajar untuk memasukkan anakku ke Taman Balita.. karena memang tidak ada lagi pengasuhnya. Pengasuh yang dulu sering sakit dan aku tidak ingin berdampak hal yang buruk terhadap anakku. Postingan ini mencerahkan aku banget. Makasih ya mas. Segala sesuatu memang ada plus minusnya bukan? Tergantung bagaimana kita menyikapinya.
June 12th, 2009 at 11:18 am
[…] lakukan. Alhamdulillah, aku dapatkan juga informasi yang menarik tentang playgroup.. Makasih mas Ronny, untuk postingannya yang berguna […]
January 15th, 2010 at 9:15 am
Saya bru liat blog ini setelah search di goegle, saya hanya ingin sharing tentang anak saya. Anak saya usia 2,5 th waktu masuk playgroup atas keinginan dia sendiri untuk sekolah, sebenarnya saya termasuk orang tua yang beruntung karena tidak perlu menitipkan anak ke mana-mana, meskipun saya kerja saya memiliki pengasuh anak yang sangat handal dan sayang kepada anak2 saya. anak saya selalu menanti-nanti saat sekolah, dia selalu riang bila esok hari akan sekolah, tapi tiba2 dia jadi nggak nyaman kalau akan bersekolah karena peraturan baru di playgroupnya bahwa pengantar harus menunggu di luar pintu gerbang, setiap kali dia sampai sekolah dia menangis bila dipisahkan begitu jauh dari pengasuhnya, keinginan dia untuk sekedar bisa melihat pengasuhnya meskipun dari jauh asal terlihat, dilarang keras oleh playgroup dengan alasan akan mendidik kemandirian anak, saya sudah protes sama guru tapi mereka minta saya untuk memberikan kepercayaan penuh kepada pihak sekolah, pertanyaan saya sudah diperlukan kah pendidikan kemandirian anak pada playgroup, karena tujuan awal saya memasukkan playgroup adalah untuk bersosialisasi dan bermain tapi kalo kenyataannya sekolahnya membuat dia tak nyaman apakah harus diteruskan? mohon masukan dari teman-teman.