
Pagi ini saya teringat dengan obrolan tentang merk. Merk atau brand produsen yang melekat pada produk-produk keseharian kita. Perbincangan mengenai hal ini, dalam berbagai model, sudah sering terjadi, dan kalau kita pikir-pikir lagi rasanya lucu.
Hal yang paling sering muncul adalah bagaimana merk bisa menggeser hakikat produk itu sendiri. Sehingga tak jarang kita mengatakan odol untuk pasta gigi, atau honda untuk motor dan masih banyak lagi. Sejauh ini kita tidak merasa risi atau terganggu dengan hal itu. Di sisi lain, pihak produsen –atau paling tidak pihak pembuat brand– boleh merasa bangga karena keberhasilannya menanamkan brand itu di kepala konsumen.
Merk sebagai Simbol Gengsi
Jaman saya SMP dulu, adalah kebanggaan bila buku kita adalah Big Boss. Buku tulis yang lain dianggap cemen, maka ketika waktu itu saya menggunakan buku gratisan dari PT LECES, sayapun tak lepas dari ejekan teman-teman. Juga mengenai celana dan baju. Esprit, Lea, Levis, adalah sederet nama yang berkali-kali dijadikan bahan. Atau kalau untuk sepatu pilihannya adalah Eagle (entah ini merk atau model).
Simbol gengsi ini muncul karena merk-merk tersebut menempel pada produk yang harganya cukup tinggi. Harga yang tak terjangkau bagi orang-orang seperti saya, yang hanya bergantung dari penghasilan orang tua (ayah guru, ibu tidak bekerja).
Nampaknya hal ini tidak juga hilang bahkan ketika kita sudah menginjak dewasa. Hal ini saya temui kemudian bertahun-tahun setelah kejadian waktu SMP. Sebuah peristiwa yang membekas dibenak saya, yang terjadi ketika saya berjualan kaos di sebuah acara seminar nasional.
Ambiguitas Pemaknaan Merk
Ambigu ini saya temui ketika saya menggelar kaos-kaos dengan tema perlawanan. Di bagian punggung kaos jelas tertempel merk atau nama lembaga, tempat saya berkecimpung, pembuat produk. Waktu itu kaos-kaos ini hanya dijual pada gerai-gerai tertentu. Apalagi modal yang tidak besar sehingga produk kaos itupun sangat terbatas jumlahnya. Maka setiap ada kegiatan yang melibatkan para aktivis, segera saja saya dan teman-teman menggelar dagangan di sana.
Lontaran yang saya katakan membekas di benak saya keluar dari seorang aktivis senior. Waktu itu dia melihat-lihat produk kaos yang ada, dan nampaknya tertarik dengan beberapa desain. Namun begitu dilihatnya ada logo di bagian punggung, serta-merta dia bilang,”wah ada logonya ini, gratis dong harusnya”.
Saya, yang masih sangat muda waktu itu, tentu saja tersinggung. Apalagi demi melihat kaos hitam yang dipakai sang aktivis bertuliskan tulisan putih besar “LEVIS”. Maka sayapun menimpali dengan,”kaos sampeyan tentu lebih mahal, kok ndak minta gratis sama levis?” dan diapun melenggang dengan muka masam.
Dalam benak saya kemudian bertanya-tanya, bagaimana seorang aktivis bisa sampai pada perkataan seperti itu. Namun, setelah bertahun-tahun kemudian saya lebih mengenal dunia LSM (ya, aktivis senior tadi juga merupakan tokoh LSM), saya akhirnya sadar. Dunia LSM-pun tak lepas dari merk-merk yang bertebaran, merk para funding (donor). Dan merk tersebut lekat pada tiap produk yang dikeluarkan oleh LSM tersebut. Karena dananya dari funding, maka produk yang keluarpun tidak boleh dikenai biaya.
Namun apakah ambigu ini hanya terjadi di dunia LSM saja? Entahlah.
vale, demi merk
el rony, sekedar mencatat
Category: Neolib, Culture, Semiotics | Comment RSS 2.0 | trackback
July 27th, 2007 at 3:46 pm
situ berani, ndak? wani gumyak-obah tanpo funding..

July 27th, 2007 at 9:57 pm
hemm saya sendiri org yg gak ngaroh sama merk kang. palagi baju, ah penteng enak dipake yowes dituku, dr pd beli yg merk mahal2 eh dicuci luntur2
July 27th, 2007 at 11:46 pm
jadi kalo ngomongin korup, pasti endonesah ya mas!
July 28th, 2007 at 12:39 am
ah ron, bagiku sih mau lsm atau apapun sama aja. yang penting nawaitu aja lah. biarkan orang lain yang menilai. kadang rumit membicarakan hal seperti ini, sementara terkadang di depan mata udah banyak menanti yang harus dikerjakan dan (mungkin) bisa bermanfaat bagi banyak orang. Mudah-mudahan..
July 28th, 2007 at 8:41 am
@mbahatemo: mari saya perkenalkan panjenengan dengan JPMS hihi
@geblek: yoih! setujuh!
@peyek: eits.. bukan saya yang ngomong hihi
@dudi: begitulah di, bersetia dengan pilihan, itulah yang keren!
selamat berjuang! 
July 28th, 2007 at 8:58 pm
ah, lsm gombal…!!!
lsm juga terkontaminasi kapitalisme, meski ndak langsung..
btw, langkah real-mu apa sekarang Tip?
cuma nulis di blog doank?
halah…
August 9th, 2007 at 3:28 pm
welah, aku jadi ingat waktu ada semacam ospek waktu masuk SMA. Aku yang berasal dari desa, waktu itu belum tahu merk-merk sepatu… tahu 86 an..tho…
Aku beli sepatu entah merk atau bukan tapi yang pasti ada tulisan nike dan bergambar logo nike. Yang penting waktu itu aku beli karena aku suka dan yang pasti terjangkau dengan uang yang diberi ibuku setelah menang arisan ibu-ibu didesaku. Aku beli sepatu disekaten, dengan harga kalau gak salah ingat 7,5 ribu. weeeee,,, sampai disekolah waktu itu aku langsung dibentak sama seniorku dibilang sombong pake sepatu, dia bilang sok kaya, borjuis kamu… Untung aku gak mudheng opo kui borjuis…. tapi aku brani jawab, karena itu sepatu aku beli di sekaten kok dibilang mahal….
Trus piye iki?