Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Jangan-jangan Dia Teroris…

Print This Post   Email This Post

Akhir-akhir ini pertanyaan bernada khawatir sekaligus tuduhan ini nampaknya semakin melanda masyarakat Yogyakarta, khususnya masyarakat Sleman. Berita besar-besaran menyangkut penangkapan “what so called” teroris di beberapa daerah di Sleman, telah berhasil menciptakan stigma baru di benak penduduk wilayah ini.

Tak kurang, saya-pun mendapati bagiannya. Kebetulan saya mengontrak sebuah rumah di wilayah Donoharjo Sleman. Rumah ini sudah saya kontrak semenjak akhir Januari 2007, dan sampai sekarang belum sempat saya tempati. Sungguh sebuah kebetulan yang ajaib yang menjadikannya begini. Bagaimana tidak, dari mulai saya berangkat ke Kalimantan, disusul saya sakit sehingga musti berhari-hari terkapar. Belum cukup ini saja, selang beberapa hari kemudian saya mendapati bahwa istri saya hamil. Tentunya trimester pertama tidak bisa atau dalam kata lain tidak saya relakan istri saya untuk tinggal di rumah kontrakan yang belum sempat saya urus itu.

Dengan demikian kondisi rumah kontrakan saya barulah berisi dus-dus yang masih berantakan. Lampu-lampu juga belum terpasang sehingga kondisinya selalu gelap. Kecuali lampu depan, karena lampu teras selalu saya hidupkan. Rencana untuk mulai menempati rumah kontrakan setelah trimester pertama lewat, terpaksa tidak bisa saya lakukan. Hal ini karena disusul dengan meninggalnya ayah saya. Kesibukan perjalanan Bantul-Yogyakarta, jelas menyita waktu dan tenaga saya. Dan sialnya, motor saya yang kemudian protes duluan. Dari mulai stang seker (stang piston) sampai laker roda dan shock depan motor, semuanya harus diganti. Walhasil hari-hari saya dipenuhi dengan target mencapai 1500km, alias inreyen. Dengan kondisi ini, mau tak mau rencana untuk menata rumah kontrakan sekali lagi terhambat.

Dan kini, sudah genap 6 bulan! Ya, enam bulan rumah kontrakan saya tetap seperti semula ketika saya pindahan pertama. Ndilalah televisi dan koran serta radio dipenuhi dengan lansiran berita soal penangkapan teroris. Maka tak ayal lagi saya pun mendapati ungkapan tuduhan gunjingan tersebut. Jangan-jangan saya teroris, demikian informasi yang saya dapat dari teman saya. Kebetulan teman saya tinggal di desa tetangga, dan kebetulan lagi teman saya itu dekat dengan Pak RT-nya, juga lagi-lagi kebetulan Pak RT ini adalah saudara dari tetangga-tetangga rumah kontrakan saya. Mendapati informasi ini, terus terang saya tertawa.

Pergeseran Kekhawatiran

Saya tidak mendapatkan istilah yang tepat untuk hal ini. Namun saya membayangkan, jikalau saya datang ke sana bersama teman-teman saya, kemudian saya mabuk, mungkin tuduhan teroris tidak akan melekat. Oh, sebelumnya, saya terus terang tidak risau dengan tuduhan itu, yang saya risaukan adalah mengapa kekhawatiran itu bisa muncul di masyarakat.

Nah, bagaimana menurut Anda? Kalau dahulu, ketika belum ada stigma teroris muncul di masyarakat, maka mereka yang berjudi dan mabuk yang akan mendapati tatapan dan gunjingan bernada tuduhan. Apalagi kalau sampai ada yang kehilangan sesuatu setelah orang seperti itu masuk ke wilayahnya, tentu orang itu akan mendapati tuduhan pertama.

Namun sekarang semuanya sepertinya berubah. Mereka yang seperti itu tidak lagi menempati prioritas pertama kekhawatiran. Keberadaan “teroris” di sebuah wilayah dirasa lebih mengancam. Ada dua hal yang nampaknya membuat rasa terancam itu muncul, pertama adalah nama baik, yang kedua adalah keselamatan masyarakat. Nama baik, karena ketika sebuah desa kedapatan “menyimpan” teroris, akan tercoreng namanya. Hal ini nampak dari penyikapan warga atas para pendatang di kemudian hari. Mereka jadi ekstra hati-hati, dan memunculkan berbagai birokrasi baru yang dulunya tidak perlu.

Pada kasus saya, kenyataan bahwa saya menyempatkan untuk datang dan membayar listrik, tetap saja tidak melepaskan saya dari stigma ataupun keraguan itu. Mungkin hal ini didukung oleh penampilan saya, ya.. saya berjenggot dan berkumis sekarang. Bahwa saya memakai celana jeans, bahwa istri saya tidak memakai cadar –hal yang nampaknya sekarang juga menjadi bagian dari stigma teroris– tidaklah penting lagi. Saya tetap saja tak bisa lepas dari gunjingan itu. :)

Sebuah Jaminan

Hal yang kemudian dibutuhkan oleh warga ternyata bukanlah siapa-mengapa-dimana-nya saya, tetapi sebuah penjamin. Dalam kasus saya, Pak RT temannya teman saya, yang kemudian juga sudah mengenal saya, yang menjamin bahwa saya bukan teroris.

Mungkin juga hal ini belum seluruhnya, tetapi mengingat bahwa saya pernah meninggalkan kartunama dan alamat saya ketika pertama kali pindahan, dimana kemudian mustinya bisa dilihat informasi tentang siapa saya, saya menjadi cukup yakin bahwa jaminan dari Pak RT tadi diposisikan lebih tinggi.

Beruntunglah saya karena mengenal Pak RT tadi, jika tidak? Mungkin saya harus membuat pernyataan atau apa yang menyangkut ketidak-tersangkut-pautnya saya dengan “what so called” teroris. Namun di sisi lain, sisi keisengan saya, saya juga merasa kurang beruntung. Sebab jika saja tidak ada jaminan itu, mustinya saya bisa menceritakan pengalaman yang jauh lebih unik di blog ini. Atau mungkin, ada di antara teman-teman yang memiliki cerita seperti ini? Wah, saya siap membaca pengalaman Anda :D

vale, demi kenyamanan

el rony, sejujurnya bukan teroris, tetapi monster hihihi

Category: Politik, Yogyakarta, Culture, blog, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback

18 Responses to “Jangan-jangan Dia Teroris…”

  1. temukonco Says:

    Wah… malang benar nasib antum… hihihih… Ndak papa Bung… lha wong cuman dituduh dan digunjingkan warga to? Belom dicangking karo pak pulisi? :D

  2. cahyo Says:

    kalau di jakarta sini, malah gak tahu (& ga mau tahu) tetangganya. jadi, semua bisa dianggap teroris dong. hihihi

  3. Luthfi Says:

    Biar tambah sangar : pake gamis :-)
    hhihihiihihihihihihi

  4. mbahatemo Says:

    asemm, jebul tonggo kii..

    *bersiap lapor densus*

  5. paKDhe Says:

    yo ambil hikmahnya aja, sampeyan berarti ngetop di sana :D

  6. dian ina Says:

    DASAR TERORIS KAMUH!
    AYO! PUSH UP!!!

  7. lenje Says:

    wah! emang luarbiasa efek paranoia yang ditimbulkan… jadi inget postingannya wil wheaton ttg hal serupa (walopun bukan dari pengalaman pribadinya, tapi menyorot masalah “ketakutan” ini).

  8. calupict Says:

    Di mana-mana jadi paranoid gini, ya.

  9. Kemo Says:

    sebenernya dirimu cen wes ketok teroris kok, cuman kurang 1 dirimu kok ndak jualan roti keliling to mas.. nek jualan wes to di anggep, opo meneh nganggo kathok congklang

  10. bisot Says:

    teroris???? wkkkkk

    paranoid ini gara2 polisi nih, gak menerangkan teroris itu apa dan bagaimana, udahannya yah kita ngarang2 aja definisi dan pemahaman sekena2nya, wah wah wah…

    merdeka

  11. saylow Says:

    Makanya Ron jadilah terorejing yang mabuk! hahahaha

  12. MAGDALENA HAITI Says:

    jangan takut ron

  13. bLub Says:

    kamu posting ini supaya mengaburkan kenyataan bahwa kamu teroris ya

  14. Agam Says:

    Wah ati2 aja lho..
    emang kalo kita bukan teroris, sebenarnya tidak perlu kawatir. Tapi setelah aku amati berita2 di TV, oknum polisi banyak yang salah tangkap. Termasuk temenku kuliah sendiri pernah ditangkap dikampus. Katanya diintrogasi lama banget. Untung aja gak diapa2in dan akhirnya bebas. Ada beberapa oknum polisi yang memukuli supaya mengaku.
    Di koran ada orang tua yang dipenjara gara2 dituduh polisi membunuh anaknya. Dan ironisnya beberapa tahun kemudian anaknya ternyata masih hidup. Nah lhoo.. Dan banyak pula kejadian serupa.
    Karena itu kalo dapet tuduhan miring, menurutku sih segera di konfirmasi dng pak RT, RW, dll. Supaya tidak berurusan dng polisi. Kalo polisinya gak main pukul sih gak apa2. Yang ditakutkan kan itu. Dipaksa ngaku, padahal gak melakukan.
    Semoga polisi bisa membenahi anggotanya yang mengintrogasi dng cara yang kurang tepat.

  15. banga pi'i Says:

    wah… saya malah sering ngalami mas rony…
    jelek-jelek gini kan saya sering naik pesawat tho? nah gara2 berjenggot biasanya saya sering abis masuk metal detector lalu dipisahkan dari calon penumpang lain lalu digerepe-gerepe oleh petugas… jan!!!!! cukk!!!! hehehehe… bangsa kita memang…

    baca disini: http://mbnw.blogspot.com/2007/07/korelasi-jenggot-dengan-pemberontak.html

  16. masagus Says:

    Ron, makanya jenggotnya di cukur

  17. jampez Says:

    sebelum diperiksa polisi, singkirkan dulu buku-buku, bahan bacaan dan kaosmu yang berbau kiri… HA…HA…HA…

  18. nino Says:

    jeleknya kebiasaan sebagian warga jogja itu mas, suka nggosip..

Leave a Reply