
Sudah beberapa kali saya mendengar tentang Mozart Effect. Keyakinan bahwa kemampuan IQ seorang anak akan lebih cepat berkembang jika diperdengarkan musik-musik klasik. Oleh karenanya, sudah beberapa kali pula saya mendapatkan himbauan agar melakukan hal yang sama.
Terlepas dari itu, saya memilih bercerita. Entah apakah ini sesuai dengan teori tersebut atau tidak, yang jelas anak saya yang masih dalam kandungan sepertinya senang tiap kali saya bercerita. Bahkan akhir-akhir ini, dia seperti “menagih” tiap sudah jamnya dan saya belum juga bercerita.
Lagu-lagu Sebelum Cerita
Sebetulnya, sebelum ini saya juga menyanyikan lagu. Pikiran saya sederhana saja, biarkan anak saya terbiasa dengan suara dan intonasi saya. Kalau toh ada yang bilang suara saya sumbang, itu soal lain. Yang penting bagi saya, anak saya merasakan curahan cinta saya.
Lagu yang saya pilih memang agak beda. Darah Juang. Ya, lagu tersebut yang saya nyanyikan. Sebelumnya, ketika anak saya yang di dalam kandungan itu di USG, dia tampak manthuk-manthuk alias mengangguk-angguk. Sempat terpikir oleh saya, anak saya suka musik Rap atau dangdut. Dan sayapun iseng mencoba menyetelkan lagu rap, anak saya tidak bereaksi. Saya stelkan lagu dangdut, tidak juga bereaksi. Lantas saya memilih untuk menyetelkan lagu darah juang, dia bereaksi. Kemudian lagu tersebut saya matikan, dan gantian saya yang menyanyi, anak saya bereaksi lebih jelas. Paling tidak, itu menurut ukuran istri saya. Umur kandungan 5 bulan, getaran gerakan si bayi belumlah terasa sampai luar.
Lantas saya mulai beralih ke membacakan cerita, apalagi istri saya membeli buku-buku cerita pendek yang menarik. Salah satu yang paling menarik bagi saya adalah buku Cerita Pendek Sapardi Joko Damono.
Cerita-cerita Pendek
Cerita pendek yang pertama kali saya perdengarkan untuk anak saya –dan ibunya tentu saja– adalah “Ditunggu Dogot”. Beruntung saya pernah menonton beberapa teater baik yang diselenggarakan oleh Teater Garasi maupun teater lain seperti Gardanala, dan lain-lain. Pengalaman menonton ini, mengasah kemampuan saya berolah vokal, dalam hal ini ketika mengatur tinggi rendah nada dan jeda dalam pembacaan cerpen.
Mungkin tidaklah sempurna, tapi paling tidak istri saya bisa membedakan karakter dalam pengadeganan Ditunggu Dogot. Cerita ini lucu, apalagi kalau kita pernah tahu tema yang mirip: Menunggu Godot. Cerita tentang dua orang yang harus ditunggu dan harus tepat waktu. Tidak boleh terlalu cepat, tetapi juga tidak boleh terlambat, harus tepat se tepat-tepatnya. Sapardi, dalam hal ini, menunjukkan kebolehannya merangkai kata. Saya menikmati sekali membaca cerpen ini.
Cerita selanjutnya adalah tentang Jalan Lurus. Cerita ini sangat pendek, saya bacakan karena anak saya bergerak-gerak terus, yang kemudian oleh bunda-nya diterjemahkan sebagai minta lagi :). Cerita tentang sebuah jalan yang harus terus lurus karena demikian dia dinamakan oleh orang-orang. Cerita tentang kecapekan si Jalan Lurus karena sudah dianugerahi sekaligus dikutuk untuk selalu lurus.
Anak saya kemudian menjadi tenang kembali. Dan hari berikutnya, jam 19:30 WIB adalah jam dimana saya harus selalu siap membacakan cerita. Cerita pendek dari Sapardi satu per satu saya bacakan. Dan anak saya sepertinya suka. Maka saya semakin mantap dengan pilihan saya, saya memilih bercerita!
Cerita dan Obrolan Vs Televisi
Sekedar penambah tulisan, saya ingin menuliskan pula tentang hal ini. Televisi bagi banyak orang adalah sebuah lullaby baik itu bagi mereka yang kecapekan bekerja maupun bagi mereka yang tidak memiliki waktu luang cukup untuk anaknya. Televisi sebenarnya sebuah media yang mengajarkan kita untuk selalu mendengar.
Konsep televisi yang satu arah, dan revolusionernya televisi sehingga merambah ruang pribadi, mengubah sikap seseorang –disadari maupun tidak– menjadi orang-orang yang pilih-pilih atas apa yang mau dia dengar. Dengan bantuan remote control seseorang bisa bebas menentukan acara apa yang dia pilih dan dia suka, dan acara apa yang bagi dia harus dihindari. Tak jarang kita mendapati dalam sebuah keluarga terjadi perebutan acara. Rebutan antara sinetron dengan sepak bola misalnya, terjadi antara seorang ibu dengan anak lelakinya.
Saya sungguh terusik dengan hal ini. Televisi pada akhirnya menjadikan kita terbiasa memilih apa yang kita dengar, dan menghilangkan kemampuan berkonsentrasi pada perkataan orang lain, sehingga kita akan kesulitan untuk merespon ataupun memberikan tanggapan yang pas atas perkataan orang lain tadi. Paling tidak, hal ini yang terjadi pada saya.
Karena itulah, saya berusaha sedapat mungkin menghindari televisi. Saya memilih bentuk obrolan dua arah. Antara anak dengan ayah dan bunda, antara ayah dengan bunda, antara anak dengan anak dan seterusnya. Obrolan ini toh pada dasarnya bisa berisi apa saja. Tentang apa yang dilewati dalam sehari ini, tentang masakan, tentang apa saja.
Dan bercerita, mengajarkan kita, mengajarkan saya paling tidak, untuk mengatur intonasi dan berkonsentrasi atas apa yang ingin kita sampaikan. Semoga anak saya nantinya juga demikian.
vale, demi cerita
el rony, mencari bahan-bahan cerita yang lain.
Category: Pendidikan, blog, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
July 11th, 2007 at 10:54 am
wah, metode ini yg diterapkan ortuku dulu…
dan outputnya = JUNKER….ohohooho…
July 11th, 2007 at 11:27 am
wah…selamat…sudah lima bulan ya mas. banyak berdoa, banyak prihatin mas rony. hehehehe…sok bijak.
niwe, sering-sering sang nyonya diajak jalan-jalan juga mas. biar sehat.
kami ikut mendoakan semoga bayinya kelak bakal lebih top dari bapak & ibunya..
July 11th, 2007 at 11:36 am
mas ronce ndak coba nyanyi “anak ayam turun sejuta” ? di-decrement satu2 tapi yaaa
:D 
July 11th, 2007 at 11:39 am
kalo nanti anak2 sampeyan malah pada sibuk nonton tipi gimana mas? peradaban kadang susah diduga ya?
July 11th, 2007 at 12:12 pm
kayanya kudu ada id-keluarga nih om..
July 11th, 2007 at 12:26 pm
sEmoga anaknya Ntar lahir Dengan sehat,ibunyA juga sehat
semoga ankanya ntr menjadi anak yang sesuai dengan harapan ortunya
July 11th, 2007 at 1:01 pm
Kegelisahan hati Rony Agung sebagai calon bapak pada anak yang belum lagi lahir kedunia sebagai cabang bayi itu mah…wajar. Menurut ku coba juga bisikan, perdengarkan yang lebih dekat pada agama dan bukan hanya duniawi aja.
salam
Ados Aceh
July 11th, 2007 at 1:22 pm
om rony koq tau kalo anaknya manthuk2
pakai kacamata robocop?
July 11th, 2007 at 1:56 pm
ntar aku sumbang nama ya maz. pliz, pliz, pliz.
btw… dulu mbokku juga seneng cerita. tapi sengarang-ngarangnya sendiri. gak ada pakemnya. xixi.
July 11th, 2007 at 2:29 pm
loh dulu katanya gak usah bilang2?
gimana seh?
selamat deh
July 11th, 2007 at 3:07 pm
wah, tret bapak bapak…
gag ikud ikud aah
July 12th, 2007 at 9:40 am
cerita juga di sini mas yang banyak. pasti aku dengerin.
July 12th, 2007 at 1:35 pm
anak saya saya perdengarkan lagu punk dari NOFX. hasilnya, sekarang suka berantakin macem-macem.
July 14th, 2007 at 4:57 am
hm.. kalo jadi cyberaddict, kira2 efek dari apa ya dulunya?
July 14th, 2007 at 7:24 pm
istriku masih 1,5 bulan lagi.
semoga lancar nanti…
udah pengen bacain cerita juga nih
July 17th, 2007 at 1:43 pm
@mas dodi:
anak saya juga belum lahir mas. bacakan cerita semenjak di dalam kandungan saja
August 22nd, 2007 at 1:11 pm
setuju!! TV emang bener2 idiot box! Gak bikin anak tambah pinter, bikin gak bisa konsentrasi dan jadi agresif.
Btw, anak saya nggak betah dibacain cerita. Gimana caranya ya?
May 28th, 2008 at 10:00 am
Nggak jugalah… Bach Effect, atau Led Zep Effect sama aja… yang penting Beatles effect… *grin*