
Bangsa yang kuat adalah bangsa yang rakyatnya terdidik
- Rony Agung Rahmanto
Yogyakarta, yang telah cukup lama di-sekaligus ter-tasbihkan sebagai kota pendidikan, memperkuat ciri dirinya dengan menghadirkan sebuah sarana bermain sekaligus menambah pengetahuan. Tempat tersebut dinamakan Taman Pintar. Lokasi Taman Pintar ada di bekas Shopping Center (pusat jual-beli buku dengan harga miring), jadi menurut saya dari sebuah taman pintar menuju the taman pintar (pakai the karena lebih modern dan memang bentuknya “lebih taman”).
Saya tidak sedang ingin menceritakan detil mengenai taman tersebut. Tulisan ini saya buat untuk memperlihatkan taman pintar melalui sisi pengunjungnya, anak-anak dari kelas bawah. Maaf jika saya menggunakan terminologi kelas dan kemudian diikuti dengan kata bawah, saya sekedar ingin mempermudah identifikasi kelompok yang saya tunjuk bagi pembaca, dan terminologi kelas bawah sudahlah sangat jamak dan dimahfumi. Jadi, maaf.
Rumah Pengetahuan Amartya
Tersebutlah sebuah pondok rakyat, sebuah rumah yang disetting sebagai rumah tempat bertemunya pengetahuan. Tempat ini menampung kehausan-kehausan pengetahuan anak-anak. Sebuah rumah yang dikontrak oleh seorang aktivis HAM, seorang yang sudah tidak asing lagi bagi banyak khalayak, Eko Prasetyo sang penulis “orang miskin dilarang sekolah”.
Rumah pengetahuan ini dimotori pula oleh para aktivis muda seperti Bob, Guntur, Vera, dan masih banyak lagi. Kegiatan di dalamnya ada berbagai macam, dari sekedar permainan sampai pelajaran bahasa Inggris. Jikalau Anda berkesempatan melongokkan kepala di salah satu jendelanya, ketika anak-anak kampung sedang berkumpul, maka bisa jadi Anda akan mendengar suara wanita berkata,”ayahmu pekerjaannya apa?”, yang kemudian disusul jawaban dari seorang anak,”petani”, lantas disusul pula dengan ucapan si wanita tadi,”farmer“. Dan Anda kemudian tanpa terasa akan terlena dengan sebuah pendekatan pendidikan yang beda, bukan melulu pencekokan, tapi membelai alam kesadaran, mendekatkan dengan kenyataan.
Dan hari itu, satu hari yang cukup terik, rombongan Rumah Pengetahuan Amartya memiliki agenda untuk datang ke apa yang menjadi topik utama tulisan ini. Ya, mereka berkunjung ke Taman Pintar. Jumlah anak-anak itu ada kurang lebih 35 orang. Anak-anak kampung, dibimbing oleh suara megaphone dari aktivis lapangan Bob. Mulai terbayang?
Masuklah mereka ke Taman Pintar tersebut, gratis! Sungguh menyenangkan sepertinya, terbayang oleh saya ekspresi kesenangan di wajah mereka. Dan kemudian terlihat oleh sang koordinator lapangan yang mirip korlap demonstran itu, sebuah venue dinosaurus. Mungkin sang korlap merasa bahwa penting kiranya anak-anak kampung didekatkan dengan apa yang oleh orang bule dipercaya sebagai nenek moyang. Maka dipanggillah semua anak –melalui megaphone tentu saja– dan bergeraklah rombongan warna-warni tanpa seragam itu ke tempat yang ditunjuk. Malang tak boleh ditolak, baru saja anak-anak itu mulai mendekat, terdengar lagi teriakan Bob sang korlap dari megaphone,”Wah, bayar! Tempat ini bukan untuk anak miskin.. pindaaahh…”.
Kejadian di atas berulang lagi dan lagi, seperti halnya terjadi lagi ketika mereka mendekati sebuah venue yang menjanjikan simulasi gempa. Anak-anak itu mungkin kecewa, tapi sepertinya mereka juga tidak putus asa. Kegiatan seharian hanya jalan putar-putar, mencari tempat yang gratis. Dan kemudian sang korlap menemukan sebuah tempat yang gratis, prosotan (apa ini bahasa Indonesianya ya?). Maka tiga puluh lima anak kemudian merubung tempat itu, dan layaknya serombongan penjajah menguasai daerah jajahan, anak lain dan para orang tuanya kemudian memilih tidak mendekati venue itu.
Taman Pintar, sekali lagi, Memintarkankah?
Saya tidak ikut dalam rombongan itu, sungguh layak disesalkan. Saya hanya mendapatkan cerita. Sekali lagi layak disesalkan. Namun dari semua kesesalan saya, ada yang lebih saya sesalkan. Bahkan benar-benar membuat saya kesal.
Pemda, penginisiasi Taman Pintar, apa yang mereka pikirkan sih? Bagi pihak manajemen Taman Pintar, tentu saja merasa perlu memasang tarif bagi beberapa tempat, hal ini tentu saja berkait dengan perawatan dan juga pemeliharaan. Namun, jelas bagi saya ini jadi tidak berbeda dengan taman-taman lain. Ingat, posisi taman ini berada di pusat kota, benar-benar di pusat kota, hanya sekian ratus meter dari Malioboro. Hanya mereka yang memiliki akses tertentulah yang bisa membangun tempat semacam itu di pusat kota yang semakin padat saja ini. Apalagi hingga menggeser kawan baik mahasiswa, Shopping Center.
Dan ya, pengelolanya kalau yang saya dengar bukanlah 100% Pemda, namun tentunya tidak bisa dilupakan posisi Pemda sebagai inisiator. Nah, lantas alokasi perencanaan pendanaan seperti apakah yang direncanakan oleh Pemda ketika anggaran pembangunan taman pintar ini disepakati? Hari itu puluhan anak hanya bisa mengakses prosotan, dan prosotan dan prosotan lagi. Sebagai taman pintar, apakah maksudnya ingin mengajarkan anak-anak itu mengenai gaya gesek, gaya normal, energi potensial dan sebagainya? Kejauhan deh sepertinya. Anak-anak itu telah terlanggar haknya untuk menjadi pintar. Apa yang ironisnya justru menjadi tujuan Pemda dalam mendirikan tempat ini.
Mereka yang Terlanggar Haknya di Taman Pintar
Ingin ilustrasi lebih lengkap seperti apa anak-anak dari Rumah Pengetahuan Amartya yang telah terampas haknya tersebut? Kebetulan di Rumah Pengetahuan Amartya ada pengecekan kesehatan gratis, melibatkan teman-teman Mahasiswa Kedokteran. Dan anak-anak tersebut diperiksa tubuhnya, dibagi menjadi tiga bagian; kepala, tubuh dan kaki.
Hasilnya? Sebagian besar anak tersebut menderita di tiga bagian tubuh tersebut! Rata-rata menderita gondong, tubercolosis (atau sekedar radang paru-paru), dan kudis! Oh satu lagi, ada juga yang selain kudis dia menderita komplikasi, kakinya berdarah. Dan ketika anak yang menderita komplikasi penyakit kaki tadi ditanya, jawabannya: “dicokot asu” (digigit anjing)!
Seperti itulah gambaran anak-anak tersebut. Mereka memang benar-benar tidak memiliki akses atas hal-hal berbayar. Hal berbayar yang mereka rutin lakukan hanyalah membayar pajak. Baik itu pajak listrik, pajak atas makanan yang mereka beli, pajak atas penghasilan dan sebagainya. Kewajiban soalnya.
Dan warga baik taat melunasi kewajiban ini, dengan sangat terpaksa mendapati sebuah keangkuhan dalam bilik dengan lobang-lobang kecil bertuliskan sederet angka didahului huruf R dan p. Jadi apa sih rencana Pemda? Saya tidak mengerti
vale, demi pengetahuan
el rony, mencicip bangku pengetahuan
Category: Politik, Pendidikan, Neolib, Yogyakarta, Culture | Comment RSS 2.0 | trackback
June 20th, 2007 at 10:55 am
***mengambil megaphone dan berteriak pindah ke “Taman Pintar Teknik Fisika!!!”
***ngibrit…
June 20th, 2007 at 12:42 pm
jadi, solusi yg kamu tawarkan apa Ron?
June 20th, 2007 at 1:10 pm
orang miskin dilarang ke taman pintar..!! *gawe kaos meneh wae*
June 20th, 2007 at 6:41 pm
oh, ada ya taman pintar?
klo taman goblog ada gak?
June 20th, 2007 at 9:16 pm
Artinya yang masuk ke taman itu adalah orang bodoh. Karena sebelum pintar, orang harus bodoh dan belajar untuk menjadi pintar
June 20th, 2007 at 9:16 pm
lo? sejak kapan Shopping berubah jadi Taman Pintar itu? lalu Shopping itu pindah kemana?
June 21st, 2007 at 9:16 am
@saylow: *lempar sendal!*
@fahmi: hlo yang nulis solusi ya sapa?
@paijo: sampeyan gelem tuku cak? hihihi
@luthfi: ada dong, di bogor hihihi
@hedi: saya malah mikirnya, itu taman pintar dan bisa mengurus diri sendiri hihi
@mina: ya gak berubah total mbak, shopping masih ada, tapi tergeser, begitu
June 21st, 2007 at 9:16 am
belum sempat ke taman pintar, eh sekarang dah bayar.
ruang publik di jogja untuk anak2 dan haratis cm di bawah jembatan layang lempuyangan
* hiks hiks hiks *
June 21st, 2007 at 10:43 am
nulis ngene kie mbayar ora ron?
June 21st, 2007 at 11:02 am
dari pada bikin taman pintar bagaimana kalau kita bikin “anak pintar” yang banyak supaya mereka kelak bisa bikin “taman” dengan pintar…. aiyaah, garing!!!!!!!!
June 21st, 2007 at 11:14 am
eh neng taman pintar wes mbayar..?? marai kere, peh sing dolan rono uakeh njuk di pajeki
June 21st, 2007 at 12:21 pm
Aku gak *ngeh* dengan tulisan el-rony edisi kali ini. Mungkin juga perlu di berikan solusi dari opini *absurd* terhadap Taman Pintar tersebut.
Salam Hangat
June 21st, 2007 at 7:46 pm
mas tulisan yang bagus segalanya, isi dan maksudnya, pemilihan katanya pokoke enak deh… salam kenal yaaa
June 25th, 2007 at 8:59 am
Lho shoppingnya kemana yaaa?? Saya sudah lama nggak ke Jogja (5 tahun mungkin). Apa sudah musnah? Salam kenal.
July 13th, 2007 at 12:05 pm
yo ora ngono…nek gratis, kere klambine ra genah iso mlebu, wong edan etuk mlebu, ganggu pemandangan to? mulane dikon mbayar… paling ora pemulung ra mlebu, copet ra mlebu…wong mung 500 gelo… mlebu gedung oval yo mung 2000… nonton dangdut wae 10 ewu kok…
July 29th, 2007 at 1:01 pm
kalo kasih comment sih gampang…
solusinya punya ga???
July 29th, 2007 at 1:06 pm
Hedi Says:
June 20th, 2007 at 9:16 pm
Artinya yang masuk ke taman itu adalah orang bodoh. Karena sebelum pintar, orang harus bodoh dan belajar untuk menjadi pintar
kalo gitu, di jogja banyak anak2nya yg masih bodoh2 dong…
December 27th, 2007 at 8:50 pm
sejak kapan dibangunnya yah… kok gw baru ngerti skrg yak!!
March 2nd, 2008 at 1:42 am
sing penting karyaku dilihat banyak orang di dalamnya hi hi hi hihi
April 5th, 2008 at 8:52 am
ya jangan gitu no nggak 100% buruk kok.
aku juga belum tau pasti tujuan sebenernya dari taman pintar tapi, setidaknya itu salah satu usaha pemerintah/pemda untuk mengenalkan ilmu pengetahuan yang belum ketahui anak2/pelajari di sekolah.
kalaupun g sanggup mbayar seharusnya da surat kurang mampu dari pihak sekolah dan desa no he..he..
May 17th, 2008 at 4:21 pm
sekarang udah masuk taman pintar tahap dua,berarti termasuk sukses to…wong kok senengane gratisan hehehe..koyo aku
taman pintar asli bikinan orang indonesia khususnya jogja dg memakai software yg bukan bajakan alias open source….support ya jogja…soal gratis ga gratis kembali ke pemda…
July 7th, 2008 at 11:22 am
Liburan winggi aku neng jogya. trus sempat mapir neng taman pintar. isine lumayan juga. Tapi kebanyakan meniru dari PPIPTEK Jakarta dan Bandung. Tapi baguslah meskipun kurang lengkap orang bisa kesana. Membayar menurutku memang perlulah. saya kira bayarnya juga tidak terlalu mahal….
November 7th, 2008 at 8:51 pm
Hi, slam knal
Gw baru bca tuh britanya di detik, ktanya tman pntarnya dah mo diresmiin
November 9th, 2008 at 3:11 pm
taman pintar tuch dah lama ada lho.dari tgl 27 mei 2006. memang belum lengkap sich..,lha wong belum grand opening tapi masih soft opening.rencananya sich tahun ini peresmiannya tapi belum tahu juga kapan pastinya.untuk ilmu yang diberikan oleh taman pintar saya rasa tiketnya masih terlalu murah ya…
November 15th, 2008 at 3:30 pm
saya malah pengen tau dmn tuh sekolahnya mas eko, kalau boleh tau minta alamatnya dong
salam
November 18th, 2008 at 6:04 pm
plis deh,,tiket taman pintar(tp) tu udah murah bgt kali,,
mereka mau ngadain perawatan pk dana apa kalo bkn dr tiket,,
justru krn tp disubsidi pmrnth makanya tiketnya bs murah bgt ky gt,,,
November 22nd, 2008 at 12:00 pm
menurutku tmn pnt mmg bgs krn membuat anak sk bljr