
Sebuah perbincangan sore di antara kantuk dan capek. Antara saya dengan teman baik saya, mas Iwan alias temukonco yang manggon di theaterofmind.com. Perbincangan ini sebenarnya lagi, diawali oleh rasan-rasan mbikin mainan baru. Iya, mainan, karena kami bermain biar dapat duit. Bekerja berdasar hobi, hehe.
Seperti biasanya, sebagaimana obrolan sore para warga Jogja yang lain, obrolanpun mengalir ke wilayah sekitar, melebar dan akhirnya menyentuh FKY. Festival Kebudayaan Yogyakarta, sebuah ikon kebudayaan yang lahir dari kreativitas pemuda dan sekaligus seniman yang ada di Yogyakarta.
Dulu, di awal mulainya FKY, maka acara ini menjadi ajang bagi seniman-seniman tradisional untuk menampilkan kebolehan dan kreativitasnya. Hal ini kemudian menjadi lekat dengan FKY itu sendiri, bahwa acara ini semacam sebuah ajang khusus pegelaran seni tradisional, sebuah semangat untuk nguri-uri kabudayan.
FKY sudah Kehilangan Arah
Secara sepihak saya simpulkan demikian diskusi kami kemarin sore. Bermula dari keluhan kawan saya ini tentang susunan acara FKY yang nggak jogja banget *halah*. Saya kebetulan sedang disibukkan dengan urusan primordial, sehingga belum sempat nengok FKY, sehingga saya hanya me-review dari susunan acara yang dikirim oleh teman saya ini.
Dari susunan acara tersebut, saya memang melihat porsi untuk “kesenian” modern (baca: barat) jauh lebih dominan. Bahkan jenis pertunjukan asimiliatif hanya saya temukan (sementara ini) dalam acara Wayang Piksel, yang ternyata akan digawangi oleh kawan karib saya Andy Seno Ajie dan Terra Bajraghosa.
Dari susunan ini pula, saya kemudian menyampaikan pendapat saya yang sangat pribadi dan sekali lagi sepihak, FKY kali ini memang sangat beda. Kemudian sampai pula kami pada pertanyaan “mengapa”.
Tawaran pikiran saya adalah ketersesatan ide. Mohon maaf kepada mas Agung Leak dan kawan-kawan
Saya hanya tiba-tiba teringat dengan guyonan lawas para seniman Jogja, salah satunya tentu saja panjenengan mas Leak, bahwa diperlukan Polisi Seni. Tugasnya? Untuk menghakimi/mengeksekusi apakah ini art atau sekedar neko-neko tidak jelas. Tentu saja ini lontaran guyon, saya paham. Tetapi secara semiotik *halah* ungkapan itu kan menunjukkan ada kegelisahan yang terpendam. Gelisah bahwa pengertian dan batas kesenimanan sudah semakin sublim. Nah, oleh karenanya, sekali lagi saya tulis, saya melihat konsep FKY kali ini sebagai ketersesatan ide.
Mari Kita Songsong Globalisasi
Saya sepakat sekali! Globalisasi bukanlah untuk dihadang dan dihalang-halangi, globalisasi adalah sebuah keniscayaan. Teknologi menawarkan percepatan, percepatan memperpendek jarak (demikian kata om Einstein), dan seterusnya. Maka globalisasi lahir bukan untuk dihadang, globalisasi adalah manifesto kebudayaan manusia modern.
Oke, kita sudah sampai sekarang pada kata penghubung antara sub-tema ini dengan tema besar, yaitu modern. Kaitan dengan FKY adalah modernitas itu sendiri. Dalam susunan acara FKY kali ini, buah seni globalisasi hadir dalam rentetan acara modern yang sangat-sangat barat. Apakah ini modern yang sesungguhnya?
Modern, menurut saya, adalah buah tradisionalisme ala globalisasi. Ketika gesekan antar penghuni kampung kecil bernama planet bumi menghasilkan sebuah budi dan daya, maka itulah yang kemudian oleh para makhluk lawas disebut sebagai modern. Mereka yang tergagap, kemudian dikelompokkan –baik mau maupun tidak mau– ke kalangan kolot ataupun kuno. Wajar, selalu begitu dalam riak gelombang perubahan jaman.
Namun, kalau begini, apa pula akar kesenian modern? Hal ini penting, karena kesenian ataupun kesenimanan memang memerlukan alasan untuk diakui sebagai sebuah karya. Kalau tidak ada akarnya, maka bukanlah karya melainkan latah. Nah, apakah parade DJ yang muncul dalam episode FKY kali ini, misalnya, bisa dikatakan modern? Bagi saya, parade DJ itu tak lebih dari sekedar sekumpulan bebek yang mengira dirinya laron lantas terbang mendekati lampu-lampu ibukota. Mengapa? Karena tidak terlihat akarnya. Itu saja.
Wayang piksel, saya belum menonton karena memang belum ditayangkan, tetapi dari tema-nya kurang lebih saya melihat ada upaya perkawinan ide antara nilai-nilai tradisi dengan paradigma modern. Itu saja yang saya bisa katakan bukan bebek mengira diri laron, yang lain saya masih belum bisa melihat alasannya mengapa muncul.
Lantas bagaimana pula dengan kesenian lain? Tari-tari modern yang digawangi oleh seniman dari pojok kota yang kesehariannya memang tersingkir dari hingar-bingarnya kafe dan minuman keras berkelas, mengapa tidak muncul? Pertanyaan ini bertubi-tubi menghantam kami, saya dan teman saya tadi, dan tidak ketemu jawabannya. Bahkan menurut teman saya itu, kalau saja waktu parade pas pembukaan kemarin salah satu perusahaan/toko batik di Jogja tidak ngotot untuk ikut, maka parade itu hanya akan menjadi etalase kebudayaan barat.
Jadi FKY ini mau kemana sih bung? Menyeret warga Jogja menuju keminderan hakiki dan kemudian larut seperti emas yang dicelupkan ke segelas air raksa, dan berubah menjadi bule berkulit hitam berbaju jas? Ataukah FKY ini seperti yang diduga semua orang? Bahwa dia adalah agen “pemasaran” bagi kesenian tradisional agar mendapatkan perhatian dari para turis yang memang banyak di tanah ini? Soalnya, kalau bicara fungsi pemasaran ini, memangnya turis itu ke Jogja hanya untuk mencicipi pizza?
Begitulah…
vale, demi kesenian yang sehat
el rony, menulis dalam kantuk, kalau membingungkan, harap hubungi dokter
Category: Neolib, Yogyakarta, Culture, Semiotics | Comment RSS 2.0 | trackback
June 13th, 2007 at 3:07 pm
Lho kita kan memang berada di persimpangan, mas. Bingung mau pilih arah ke mana hehehe
June 13th, 2007 at 4:25 pm
masih ada ya FKY?
*pengenpulangjogja*
June 13th, 2007 at 4:52 pm
bukannya dulu wayang kulit itu juga merupakan sebuah kesenian modern
(tapi di kala jaman para sunan, itupun konon katanya)
June 14th, 2007 at 2:51 am
salam kenal,
Menurut saya harus ada kesepahaman tentang karakter lokalitas yang akan dikembangkan. Supaya tidak ada pemaksaan-pemaksaan mencampur unsur minyak kedalam air,lalu berharap akan lahir sebuah persenyawaan baru.
Jiwa atau karakter lokal , seharusnya bisa menjadi sebuah tatanan estetika baru walau disampaikan lewat media instrument konvensional sekalipun . Tetapi memang itu sebuah proses yang harus dilakukan dengan cerdas dan jangan-jangan memang diperlukan polisi seni he
Khusus untuk wilayah seni , Jogya adalah benteng terakhir harapan saya yang ada di Jakarta . Jangan sampai mampet , karena Jakarta dan kota budaya lain sudah kalah tergerus.
June 14th, 2007 at 9:39 am
@Hedi:
lho, justru kalo di persimpangan bagus dong, tinggal bikin warung, jualan rokok sama bensin. hihihi
@cahyo:
masih ada mas, baliwaenangjogja
@luthfi:
yup, contoh yang bagus. wayang waktu itu adalah ciri ke-modern-an, tetapi para sunan tidak sepenuhnya memindah wayang, ada proses adaptasi, bahkan sunggingan wayangnya per daerah beda lho. belum lagi munculnya cepot, gareng, petruk, dan seterusnya. sementara turntable? tetap aja turntable *menghindar dari incaran jim*
@jsop:
salam kenal juga mas, terimakasih sudah mampir. wah, soal polisi seni itu guyon saja mas hehe..
June 14th, 2007 at 12:53 pm
globalisasi tidak mungkin dihindari. kalo di indonesia sendiri mungkin yg terjadi jawanisasi. masalahnya, gimana supaya semua kebagian porsinya, hidup bareng, saling memperkaya. bukan malah saling merusak.. kesenian tradisional biasanya punya pakem. apa pun medianya, selama pegang pakem, seharusnya nggak masalah..
June 20th, 2007 at 6:03 am
sepertinya yg jadi quo vadis ketika ada upaya-upaya memakemkan satu bentuk kesenian. kesenian bukan perhitungan matematis kok mas.. tidak melulu 4+4=8.. tapi boleh jadi 4+4=16..
duh, bingung dhewe rek..
June 20th, 2007 at 9:35 am
@mpokb: yup, mari menghirup udara globalisasi
@mbahatemo: weh situ seniman jebule. eh tapi mbah, kesenian jangan dipakemkan, cukup orang lali-jiwo saja yang dipakemkan. wahihihi
August 2nd, 2007 at 10:18 am
Salam kenal ya?????????
saya Rachel, dan sekarang bertugas di Maluku- Ambon.
Pingin tahu banyak tentang Globalisasi dan dampak positif and negativenya, boleh sharing gakkkkk????
Trims & JBU
April 9th, 2010 at 2:56 am
wah, seni ya?
jogja identiknya seni, jadi orang2 yg tinggal atau pindah ke sana, otomatis jadi ‘nyeni’ (ga semuanya lho..)
mereka berpenampilan ’seperti’ seniman (sekali lagi, ga semuanya)
atau mengadaptasi tren dari luar, dan memberi label padanya sebagai ’seni’
saya jadi jenuh dengan definisi seni dari pemikir2 prematur
dan ’seni’ sudah kehilangan artinya bagi saya
- curhat jape methe yg bukan seniman -