
Sebuah Refleksi untuk Hari ke Tujuh.
Jikalau kita mengenal kata demokrasi, maka yang paling pertama di ingat biasanya adalah kata-kata “dari-oleh-untuk rakyat”. Demokrasi ini pada akhirnya berkembang pula menjadi berbagai macam ragam yang membingungkan, sehingga satu kali di negeri ini muncul pula satu istilah Demokrasi Terpimpin. Tentang apa itu binatang demokrasi terpimpin? Kita tidak akan membahasnya. Yang jelas, segala pernik macam demokrasi di negeri ini, selalu saja melibatkan satu bagian kecil bangsa yang bernama Militer.
Nampaknya, militer baik itu Angkatan Darat, Angkatan Laut maupun Angkatan Udara, memiliki pengertian tersendiri mengenai demokrasi ini. Contoh kasus terakhir adalah Insiden Mei 2007 di Pasuruan. Terlepas benar-salah dan segala macamnya, terlepas kambing siapa yang di cat hitam tubuhnya, jelas ada satu hal yang termaknai dari peristiwa tersebut:
Peluru adalah Wujud Demokrasi
Dari Rakyat, Untuk (membunuh) Rakyat, Oleh (anak durhaka dari rahim) Rakyat.
Siapa dan Mengapa Anak Durhaka Itu?
Tak lain dan tak bukan adalah para bangsat berbaju aparat, yang menjadi cecunguk penguasa bejat terlaknat.
Kekuasaan pada kenyataannya selalu saja menang. Tanpa pertumpahan darahpun, dengan jalur hukum yang menghijau sepanjang jalanpun, kekuasaan pastilah menang. Dimana letak supremasi kekuasaan kalo sampai kalah? (sebuah oxymoron terbuka).
Pasuruan, Mari Kita Lihat Lagi
Pasuruan bukanlah yang pertama, dan saya juga sangat pesimis untuk mengatakan bahwa itu yang terakhir. Retorika yang berkembang seputar kasus itu, yang muncul dari pejabat militer baik dari Kopassus maupun Komando tertinggi AL, menyatakan bahwa penduduk meninggal karena pantulan peluru (ricochet).
Pertanyaannya adalah mengapa harus memuntahkan peluru? Alasan yang dimunculkan oleh pihak militer adalah bahwa anggota (ya, mereka menyebutnya demikian) mereka terdesak dan terancam jiwanya. Penduduk, kata mereka, bersenjata batu, kayu dan parang mencederai anggota (saya mulai berfikir untuk menghilangkan kosakata ini dalam keseharian saya) mereka. Jawaban ini bukanlah jawaban yang tepat. Saya tetap melontarkan pertanyaan yang sama, lantas mengapa harus memuntahkan peluru?
Wahai bapak maupun ibu berseragam, baik doreng maupun tidak doreng, yang terhormat, peluru timah itu diciptakan oleh manusia untuk satu tujuan yang sangat jelas. Perlukah saya tegaskan sekali lagi? Peluru tersebut diciptakan untuk tujuan membunuh. Ya bapak/ibu berseragam, dia diciptakan oleh manusia hanya untuk tujuan membunuh. Jiwa yang melayang melalui peluru tersebut bukan hanya jiwa hewan semata (kalau Anda memang tega meng-hanya-kan binatang), tetapi juga untuk kebutuhan membunuh manusia. Jadi apa yang kalian pikirkan dengan menembakkan peluru tersebut?
Apa pula yang bapak ibu pikirkan dengan mengirim sepasukan bersenjata lengkap ke wilayah tersebut? Tidak pernahkah terpikir bahwa yang kalian hadapi itu ibu-ibu kalian? Bapak-bapak kalian? Anak-anak kalian? Saudara-saudara kalian? Begitu teganyakah kalian memakan daging saudara kalian sendiri? Mengumpankan jiwa-jiwa resah mereka ke hadapan moncong senjata?
Jikalau memang tanah tersebut adalah hak kalian, bukankah kalian yang paling depan mengatakan bersumpah menjunjung undang-undang dan hukum? Tempuhlah jalur itu, tidak ada alasan apapun untuk mengikhlaskan jiwa terbuang percuma demi sejengkal tanah. Tidak ada!
Nah, bapak-ibu berseragam sekalian, bertaubatlah!
vale, demi batu, kayu dan logam, dan kehidupan
el rony, menunduk untuk para korban
Category: Politik, Neolib, Culture, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
June 6th, 2007 at 12:51 pm
salam kenal..
bukan maksyud mau mengamini, rupanya negeri kita masih sedang belajar bagemana demokrasi.. entah sampe kapan dan harus makan berapa banyak korban lagi ya?
setengah tiang untuk tragedi alas ploso!
btw, kirain mau ngomongin demokrasi terpimpinnya bung karno je..
June 6th, 2007 at 2:12 pm
Selamat Siang Kang mas Rony Lantip
Begitulah Indonesia yg kita cintai ini
*log out*
June 6th, 2007 at 3:42 pm
selamat datang di bumi bagian endonesah.
June 6th, 2007 at 5:19 pm
Ya, seperti biasa ron. Inilah Bangsa™u
June 6th, 2007 at 6:06 pm
NGAKUNYA DEMOKRASI! TAPI MO BEGINI GA BOLEH, BEGITU GA BOLEH, BERONTAK DIKIT DITEMBAK! KOPLOKS!
June 7th, 2007 at 12:08 am
inilah bangsaku!
* dan aku tak pernah jera untuk membesarkan dan menyuapi keluarga aparat bejat hanya untuk membunuhku! *
June 7th, 2007 at 10:57 am
mending kembali ke barak, aja, deh… apa perlu AMD di-GALAK-an kembali?