
Terhambat ya kang. Administrasi katanya ya.. Hehe.. ya begitulah. Syarat “berpengalaman” mau nggak mau memang saringan paling handal untuk “menyingkirkan” orang-orang dengan pola pikir “aneh” seperti sampeyan. Sing sabar kang!
Seperti telah saya sampaikan kemarin, dalam tulisan Kabar dari Yogya (lagi), bahwa Kang Pur menjagokan diri menjadi rektor UGM. Kenyataannya langkahnya harus terhenti karena syarat administratif.
Salah satu syarat menjadi rektor adalah memiliki pengalaman tiga tahun menjabat jabatan struktural di lingkungan kampus. Menurut salah satu pengurus senat, syarat ini merujuk pada pengalaman individu memimpin dari mulai KaJur (kepala jurusan) hingga jabatan struktural tinggi baik di tingkat dekanat maupun rektorat.
Kang Pur, dalam formulir persyaratan menuliskan pengalaman sebagai Rektor ISBUJA. ISBUJA sendiri adalah Institut Budaya Jawa, yang didirikannya semenjak tahun 2001 yang lalu. Permasalahannya adalah ISBUJA ini tidak terdaftar dalam KOPERTIS. Sehingga dinyatakan bahwa hal ini tidak sah demi hukum, atau semacam itu. Maka gagallah dia menjadi rektor.
Cita-cita Kang Pur
Atau katakanlah retorika beliau. Walaupun itu baru terungkap secara lisan, tetapi karena tercatat di banyak tempat termasuk media, maka apa yang menjadi cita-citanya itu nantinya tentu bisa dituntut pertanggungjawaban. Apa yang disampaikan Kang Pur?
Nah, mari kita lihat satu per satu mimpi ataupun cita-cita Kang Pur tersebut. Mengenai sekolah gratis. Hal ini tentu saja kurang menarik bagi banyak pihak. Bagaimana kampus yang mulai otonom ini akan melangsungkan kehidupannya jika tidak ada pemasukkan dari mahasiswa?
Namun sebenarnya hal itu berkait dengan mimpi/cita-cita/janji Kang Pur yang kedua. Janji untuk tidak menerima gaji rektor. Sementara Rektor UGM yang sekarang, Sofyan Effendi (ingat, dia yang dulu menjebak rekan seperjuangan Yogya, dan mengirim fax ke Habibie sehingga Amien Rais dkk dituduh menyusun rencana makar), justru mengumumkan kenaikkan Gaji Rektor. Sofyan saat ini mengantongi 25 juta rupiah tiap bulan untuk gajinya. Demi kelancaran kebijakan ini, menghindari pergolakan, semua gaji pejabat struktural UGM mendapatkan kenaikan. Maka muluslah kebijakan ini, hanya sedikit gejolak di kalangan aktivis dosen, dan kebetulan salah satu pentolannya justru dipanggil oleh-Nya. Ya, Alm. Prof. Riswandha Himawan termasuk yang paling getol menentang.
Jika skema gaji ini dirombak total secara revolusioner, dimana rektornya memulai dengan tidak menerima gaji, maka biaya operasional kampus bisa ditekan. Dengan demikian alokasi dana tersebut sangat mungkin untuk dialihkan sebagai biaya pendidikan mahasiswa. Ingat, gaji itu diterima per bulan. Silakan hitung saja.
Mengenai janji/mimpi/cita-cita Kang Pur yang terakhir, maka pilihan yang terpikir adalah dengan membuka gerbang lebar-lebar. Seperti kita tahu, Rektor sekarang, si pengadu Sofyan Effendi, justru menutup gerbang, bahkan usul terakhirnya adalah menutup ruas Jalan Kaliurang yang membentang dari Mirota Kampus hingga Polsek Depok dengan alasan jalan umum tersebut melintas di tengah lingkungan kampus.
Saya kemudian berfikir bahwa alasan Sofyan Efendi itu tak lebih dari upaya pengelakan kebijakan ngawurnya yang lain, yaitu pendirian Mall di tengah kampus yang menyalahi aturan. Mall itu berdiri tanpa memperhitungkan aturan sempadan bangunan. Bangunan Mall sangat mepet ke ruas Jalan Kaliurang tadi. Kalau ruas jalan itu ditutup, maka aturan sempadan bangunan tidak akan berlaku, karena jalan itu menjadi jalan “milik” kampus, bukan jalan umum.
Hal yang lain adalah Sofyan Efendi membangun “pintu Gerbang” UGM dengan bentuk tak jelas dengan biaya 2 milyar rupiah. Luar biasa bukan? Hal seperti ini kurang lebih sama dengan memberikan batasan wilayah kampus dengan non kampus. Upaya dengan biaya besar untuk memisahkan kampus dengan warga.
Kang Pur sepertinya menentang bentuk-bentuk seperti ini. Sehingga terbayang nanti, jika saja Kang Pur lolos dan menjadi rektor, bahwa gerbang ini akan dikenang sebagai monumen korup seorang rektor.
Apakah hal-hal itu yang menghambat laju Kang Pur di kancah perebutan kursi Rektor? Tidak ada yang tahu. Salah seorang pengurus senat yang saya temui, tidak juga bisa memastikan hal itu, semuanya hanya mengawang di wilayah dugaan. Oh ya, kebetulan sekali pengurus senat itu juga tidak menyukai kebijakan bagi-bagi duit Rektor saat ini (dimana sang rektor tetap saja dapat bagian terbesar), hanya saja beliau sepertinya tidak dapat berbuat banyak.
Ah entahlah, yang jelas saya hanya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah pesan untuk Kang Pur. Jangan berhenti berusaha kang! Saya selalu mendukung sampeyan, juga para wong ndeso yang lain, tentu berharap sosok seperti sampeyan satu saat muncul di permukaan dan memperbaiki sistem korup di negeri ini.
vale, demi kesehatan
el rony, nglaras tembang megatruh.
Category: Pendidikan, Yogyakarta, Culture, blog | Comment RSS 2.0 | trackback
April 23rd, 2007 at 11:21 am
mas rony tidak nyoba maju sendiri nyalon jadi rektor ugm setelah kang pur, gagal?
*tak dukung mas..;-)*
April 23rd, 2007 at 12:25 pm
saya sebagai mahasiswa UGM, malu!!
karena kebijkana BELIAU kebanyakan hanya pembangunan FISIK semata!! tidak ad peningkatan KUALITAS PENDIDIKAN!!
daripada buat mbangung ini itu, mending duitnya dipake buat nambah-nambahi alat-alat di lab..
ah, iya.. bentar lagi (semoga) saya lulus.. hingga saya ndak perlu malu lagi menjadi mahasiswa UGM..
eh, beneran to kang kalo kang Sofian mau menutup jalan kaliurang??
April 23rd, 2007 at 12:44 pm
om ron, sungguh anda memberikan cerita sedih untuk kesekian kalinya, bagimana tidak, sekarang ini orang-orang seperti kang pur sulit dicari, keterpihakan terhadap yang tidak mampu malah dianggap musuh yang perlu dijegal, bagaimanapun caranya, ngeri dan miris ketika saya baca ini.
Lha, gimana para civitas kampus menanggapinya? apa mereka mlongo melihat kejadian demi kejadian? mudah-mudahan diamnya mahasiswa tidak seperti diamnya praja itu.
April 23rd, 2007 at 2:24 pm
Salute untuk idealisme Kang Pur !
Salute juga buat Ronceh yang udah memperkenalkan beliau ke kalangan netter..
April 23rd, 2007 at 2:25 pm
@cahyo: halah.. jelas gak mungkin. mana saya gak pernah menjabat jabatan struktural apapun pula. hehe.. lagian jadi rektor sama sekali tidak menarik
@zam: begitulah. info mengenai sofyan mo nutup jalan kaliurang, saya dapat sudah agak lama. silakan cek ke pengurus senat deh. saya males bahas itu je. hehe
@peyek: begitulah dunia. sejak kapan sih orang alim jadi kaya? sejak kapan sih di negeri seperti ini orang jujur dipercaya? negara aneh bukan?
April 24th, 2007 at 4:29 am
hmmm… padahal selama ini aku (yg orang luar) ngeliat UGM sebagai kampus yg ngerakyat, gak kayak — maap — sejumlah kampus di “wilayah barat Pulau Jawa” (hehehhe…) yg kayak menara gading. ternyata sudah sekian lama gak gitu ya?
tapi ok juga tuh gaji rektor 25 juta/bulan, kayaknya jauh di atas gaji menteri saya. bahkan kalo tabel yang dibuat temen saya ini bisa dipercaya, penghasilan sebagai rektor UGM melampaui penghasilan Ketua BPK, dan “cuma” beda 5 juta dari Ketua DPR
(eh tapi khusus DPR sepertinya belom ditambah yang lain2 :p).
April 24th, 2007 at 12:14 pm
selamat datang di indonesia?
dimana orang-orang bersih tidak diperlukan lagi di dalam struktur pemerintahan.
dan rakyatnya sekarang cuma bisa menangis melihat para petingginya lebih mementingkan diri sendiri
April 24th, 2007 at 4:28 pm
waduh? nggak nerima gaji? jarang2 ada yang mau begitu. memang sih, 25 juta per bulan buanya banget, tapi tanpa gaji kok rasanya ngimpi yak..
April 24th, 2007 at 8:18 pm
ketoke kok berhubungan dengan proses kuliahmu yang tersendat yo ron? wahihihihih….
April 24th, 2007 at 10:07 pm
wah, gedean gaji rektor ugm drpd ipebeh …
hihihi …
btw om Rony, ugm dah punya berapa mall?
IPB dah punya 2 mall gede + 1 minimarket …
tetep aja sppnya mahal
*sigh*
April 25th, 2007 at 7:52 am
@lenje: tertarik jadi rektor?
@didats: yagitudeh.. jadi gak bisa ngomong kan? hehe
@mpokb: iya mpok. kalo kenal kang pur, orang itu bisa dipercaya. tapi karena dia aneh, wajar kalo banyak yang malah risih dan gak suka
@godril: waduh, kuliahku blas gak tersendat. 4 tahun teori kelar kok. skripsi juga beres. saya memang memilih keluar
@luthfi: baru satu mas mall-nya. kalo saya bisa bikin bom, paling tinggal separo.
April 25th, 2007 at 11:24 am
Kirain ITS tok yang kacau
Ternyata UGM juga.
Perlawanan terus berlanjut!
untung di ITS gak ada Mall, tapi ada GM di dekatnya…
May 21st, 2007 at 5:37 pm
Sofyan Effendi (ingat, dia yang dulu menjebak rekan seperjuangan Yogya, dan mengirim fax ke Habibie sehingga Amien Rais dkk dituduh menyusun rencana makar)
wah loh!!
tenane?
wooo…jebule…
saya besok wisuda, konon yang terakhir dilantik oleh sang sofyan
dan nampak saat latihan tadi, sebagian calon wisudawan memang tidak suka dengan beliau :p
May 28th, 2007 at 10:31 am
tentang tulisan ‘Untuk Kang Pur, Mantan Calon Rektor UGM’
… menarik sekali.
saya kan kebetulan lagi cari data tentang pilrek yang sedang berlangsung di UGM(buat buletin pers MIPA UGM), eeeh pas lagi searching terus nemu blog ini. jadi terinspirasi untuk untuk dimasukin ke bulletin, jadi ceritanya saya mau minta izin ….
boleh ga tulisan anda menjadi rujukan saya dalam cari berita tentang kang pur untuk di masukan dalam buletin kami. kalo boleh makasih banget, terus punya permintaan apa?misal nama mas harus dimasukin atw malah ga boleh, atau terserah lah.
ditunggu jawabannya segera ya. soalnya dah mau terbit….
bisa jawab di blog ini atau email ke arisita_putri@yahoo.com
makasih banyak ya mas (atau pak?).
klo lancar bulletinnya mau terbit awal juni. terima kasih banyak
salam kenal
June 13th, 2007 at 11:35 am
sebagai mantan mahasiswa UGM yang juga melarat (meski sedikit lebih mampu dari Kang Purwadi), saya ikut ngenes dengan perkembangan UGM yang matrenya luar biasa.
apa mungkin ke depannya, UGM menelorkan mahasiswa tak mampu tapi cerdas luar biasa seperti kang pur itu ya?
August 24th, 2010 at 10:50 am
Apalagi yang bisa dibanggakan dari PTN di Indonesia???
ITB dengan Narsisnya…(kasus plagiat..ehmmm…ga usah disebut dech)
UGM dengan budaya matrealistis + budaya bancak’an (meskipun bukan hanya UGM)
UI??IPB??ITS??UNPAD??UNAIR??UNDIP???DLL??
Apa kata dunia????