
“Apakabar?” adalah sebuah kalimat standar bagi siapa saja yang jarang bertemu. Atau sering ketemu tapi hanya sebatas “sliringan” alias ketemu sekilas, begitu ada kesempatan tentunya kita akan menanyakan kabarnya. Itu kalau kita memang peduli, kalau nggak peduli, ngapain ketemu? *lah ngomong apa sih*
Baiklah, saya menulis ini sebenarnya hanya ingin berkabar saja. Tentang suksesi di Yogyakarta. Sedang ada pesta besar di sini, yaitu menghadapi suksesi gubernur dan suksesi rektor UGM.
Kangmas (biar dikira saya berdarah biru gitu) Sultan Hamengkubuwono X, sudah menyatakan bahwa beliau tidak mau lagi menjabat sebagai gubernur. Pernyataan ini tentu saja memicu banyak tanggapan. Antara lain:
Nah, kurang lebih itu pendapat yang beredar. Pendapat terakhir dari KRMT (yang sekarang sudah jadi KRT karena bukan “mas” lagi) adalah pendapat yang saya rasa paling tidak masuk akal.
Bukan karena saya pro-proletar, ataupun karena saya anti-feodal, ataupun yang lain lagi, tetapi saya hanya tidak membayangkan kalau sampai ada kekosongan kekuasaan. Emangnya Yogyakarta mau menjadi propinsi tanpa Gubernur? Gubernur tidak harus Sultan, bahkan tidak harus dari lingkungan Keraton. Hal itu sudah ditegaskan oleh beliau kangmas (asyik, kayaknya makin akrab saja saya) Sultan sendiri. Saya baik sebagai kawula Yogya maupun sebagai bagian dari masyarakat modern bernama propinsi DIY, menyatakan mendukung penuh hal ini.
Sudah saatnya kedewasaan berpolitik di wilayah ini untuk beranjak ke sana. Memberi kesempatan bagi siapa saja, siapa tahu bisa muncul sosok alim dan dekat dengan rakyat sekaliber Ahmad Dineejad. Bukan begitu?
Rektor UGM, Sofyan Menjilat Ludah Sendiri
Ya betul. Hingga empat hari yang lalu, calon yang mengembalikan formulir pengajuan baru satu orang, saya akan bahas tentang sahabat saya itu nanti. Dan baru hari ini rilis resmi dari UGM tentang siapa saja yang maju mencalonkan diri.
Sofyan Effendi, yang menjabat rektor UGM pada saat ini, ternyata juga mengajukan dirinya. Atau diajukan, saya kurang begitu ngerti. Yang jelas, saya pernah membaca di suratkabar (Kompas kalau tidak salah, sayangnya saya lupa tanggalnya) bahwa dia tidak mau lagi dicalonkan menjadi rektor UGM.
Yah, di belantara politik negeri ini, bahkan di politik kampus, tentunya manuver seperti ini sudah dianggap biasa dan sah. Tetapi kalau menilik kabar sebelumnya, maka tradisi “sabda pandhita ratu” sepertinya sudah hilang. Tradisi itu bukan hanya milik raja, sebenarnya itu adalah untuk setiap penguasa. Jika engkau mengatakan A, maka lakukanlah yang sesuai dengan perkataanmu itu. Jika tidak, maka sudah disiapkan peribahasa khusus untukmu: menjilat ludah sendiri.
Calon Rektor yang Sangat Jawa
Nah, mari kita lupakan saja soal Sofyan Efendi itu. Gak penting. Sekarang kita bahas saja tentang calon rektor yang lain. Dia adalah Purwadi, Mhum. Kang Pur, demikian kami memanggilnya.
Saya tidak mau ataupun tidak ingin melihat langkah yang diambil oleh Kang Pur ini sebagai lucu-lucuan. Saya melihat bahwa Kang Pur merasa perlu untuk turun kancah. Dan itu dibuktikannya dengan melakukan aksi “performance” berjalan kaki dari bunderan ke gedung pusat UGM ketika menyerahkan formulir pendaftaran rektor.
Dalam keterangannya untuk media, Kang Pur menyampaikan bahwa beliau ingin mengembalikan UGM menjadi kampus rakyat. Kampus Ndeso (sebagaimana dulu pernah disampaikan oleh Almarhum Pak Koes), yang tidak berjarak dengan masyarakat.
Kang Pur sendiri adalah seorang biasa. Dia wong ndeso yang kebetulan suka dengan dunia sastra jawa. Beliau bahkan menjadi anak angkat dari dalang terkenal. Kecintaan beliau atas sastra asli Indonesia, khususnya Jawa, dibuktikannya dengan menulis lebih dari 200 judul buku.
Dulu, Kang Pur selalu naik sepeda. Sepeda onthel tua dengan tulisan-tulisan slogan khas jawa, namun beberapa waktu lalu aku lihat beliau sudah naik motor. Waktu diledek dengan,”wah kemajuan ini kang” beliau akan menjawab,”wis tuwo le..”. Hehe..
Kang Pur juga tak segan untuk menghibur temannya. Dengan tembang jawa tentu saja. Bahkan tanpa dimintapun, kalau dia sedang ingin menghibur, pasti langsung nembang. Apalagi kalau Anda perempuan, Kang Pur paling tidak suka melihat perempuan disakiti. Maka tak heran kalau dulu Kang Pur sempat meneteskan air mata waktu melihat Megawati disakiti. Terlepas dari hitungan politis, Kang Pur hanya tak suka melihat wanita disakiti. Begitulah dia.
Apakah Kang Pur akan menjadi rektor? Entahlah, tapi sejujurnya saya sangat berharap.
vale, demi kesehatan..
El rony, menunggu kabar
NB: Kang Pur, maaf ya aku gak terlalu yakin kalau panjenengan akan dipilih jadi rektor, apalagi melihat sistemnya (35% suara hak kementrian? yaoloh). Tapi saya mendukung panjenengan kang!
NB: Kang Pur, KTM saya mana? hihihi
Category: Politik, Pendidikan, Yogyakarta, Culture, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
April 14th, 2007 at 12:21 pm
sultan mau nyalon jadi RI 1 kah?
April 14th, 2007 at 12:49 pm
dukung kang pur jadi rektor!!
sewaktu jadi mahasiswa cukup bersahaja dengan tinggal di lingkup kampus..
cinta sastra jawa, dengan tulisan manunggaling kawulo gusti, kalo ndak salah di sepedanya dulu, pake baju batik, nembang jowo sak nggon-nggon…
itulah DR.Purwadi yang justru jadi dosen tetap malah di UNY..
*eh, beliau dah nikah belom to?*
April 14th, 2007 at 5:44 pm
Kang Pur (ikut-ikutan manggilnya) iki yang nulis babad tanah jawa itu bukan mas?
April 14th, 2007 at 8:32 pm
hihihhi … bentar lagi di ipebeh juga ada suksesi calon penunggang F 1 1PB (rektor)
April 15th, 2007 at 12:04 pm
saya yang mengidolakan pemimpin yang merakyat menunggu sepak terjang kang pur lewat blok njenengan.
April 15th, 2007 at 2:54 pm
cita-cita yg mulia,
semoga bisa tercapai.
dan setelah di atas, ojo lali karo janjine…
April 16th, 2007 at 9:48 am
@cahyo: wanda mas.. wandatau saya
situ naksir ya? hihihi
@diditjogja: ah iya, itu tulisannya.. sama herucokro (atau semacam itu,lupa saya). btw, beliau sudah menikah
@tatut: betul
@luthfi: mau nyalon luth?
@peyek: saya usahakan mas. terimakasih
@didats: cc ke kangpur hehe
April 17th, 2007 at 11:07 am
Yang saya bingung dengan DIY adalah, kalau gubernurnya bukan Sultan, maka siapa yang akan didengar oleh rakyat Yogya?
Mendingan sih gak usah ada Gubernur … cukup ada sultan saja untuk DIY
April 18th, 2007 at 8:40 am
KMRT Roy Suryo ndak mengajukan diri jadi calon?
April 18th, 2007 at 11:36 am
melihat iklan kampus2 sekarang, sepertinya komersil banget. jelas terlihat tidak merakyat. apa rakyat sekarang cenderung komersil yak?
btw, mengiri hayah.. lebah memang suka kekiri-kirian. kapan barter moci sama geplak? hayo?
July 22nd, 2007 at 1:06 pm
meskipun aku jauh tp aku slalu rindu dg yogyaku,mmg yogya dah ga seramah dl,sesak,macet wah ga nyaman lg…
pak sultan mau dong nyalon lg jd gubernur biar jogya kembali spt dl….damai, kembalikan yogya yang bisa mensejahterakan rakyate dewe ojo wong luar yogya trus alias yang berduit ….rektor UGM sapa aj yg penting bisa ngawula karo wong cilik…ndak lg UGM yg hanya bisa u blajar orang2 kaya dan bermobil….kapan rakyate dw disejahterakan??????