
Bukan, bukan.. ini bukan tulisan keagamaan. Juga bukan upaya menghakimi sesuatu. Lebih ke pertanyaan murni. Tulisan ini diawali oleh kesedihan saya ketika melihat spanduk dengan tulisan besar dan merah: “Komunisme/Marxisme Haram di Negeri Indonesia”.
Spanduk itu tidak ada penanggungjawab siapa yang menulis, minimal tidak terpampang di spanduknya. Dan sepertinya dipicu oleh munculnya partai baru beberapa hari lalu. Namun, pertanyaan saya bukanlah tentang siapa pemicu ataupun yang dituju oleh spanduk itu, tapi lebih ke isi-nya.
Seberapa Membahayakannya Sebuah Ide?
Mari kita lihat dengan jernih. Bisa saja kita bilang bahwa ide membuat bom itu jelek, tetapi sebenarnya ide tetaplah ide. Ide bukanlah materi yang bisa dipegang dan dikatakan sebagai wujud benda berwarna A berbentuk B.
Saya punya ide untuk turun dari Bis dengan kaki kiri terlebih dahulu. Ide ini muncul karena kebutuhan saya agar tidak terjungkal ketika bus melaju sementara saya sedang separuh turun. Ini salah satu contoh ide, contoh yang sederhana.
Jadi ide adalah ide, buah pekerti manusia untuk menjawab kebutuhan sosial, ataupun menjalani hidupnya. Lantas apa bahayanya? Mari kita lihat lebih jauh, kita bandingkan (dengan agak brutal blas gak ilmiah tentu saja).
Ideologi Marx dan Korupsi
Ide Marx, yang kemudian oleh golongan kapitalis dinamakan Marxisme, paham Marx. Apa yang diajarkan olehnya? Kurang lebih ide ini mengajarkan kita untuk menjadi miskin. Sumpah deh! Kalau dipelajari, ide Marx ini tidak mengajarkan bagaimana kita meng-eksploitasi orang lain, tidak mengajarkan kita untuk membayar pekerja serendah mungkin agar untung sebesar-besarnya. Tidak sama sekali. Ide ini tidak menjanjikan dunia!
Bagaimana dengan korupsi? Wah, enak. Dia menjanjikan kehidupan yang nyaman, kalaupun nanti kena pasal hukuman, bisa berdalih dengan sakit. Cukup mengurangi keuntungan (yang didapat tanpa bekerja) sekian persen untuk biaya pengacara, dan beli surat dokter untuk keterangan sakit, sudah aman. Atau ya dijalani saja hukumannya, dipenjara 10 tahun, toh tetap bisa online, main golf dan lain sebagainya. Masih bisa bikin hamil artis! Hoho.. Korupsi lebih mengerikan ternyata.
Tetapi kenapa tidak ada spanduk “Korupsi Haram di Negeri Indonesia”? Entahlah.. mungkin yang membuat tidak ngerti apa itu Marx..
Lho, Bagaimana Kalo Kita Bandingkan Dengan Porno-dan-Premanisme
Wah, lebih jelas lagi. Marx itu tidak memberi tempat je pada kehidupan duniawi yang serba nikmat. Adanya tuntutan agar selalu revolusioner. Tuntutan agar selalu tidak tenang, tidak mapan. Wah, mapan ini musuh besar Marx.
Pornoisme dan Premanisme? Wah mereka menjanjikan pengumbaran nafsu. Bebas dong nafsu hewan kita untuk memperkosa akhlak anak-anak kecil melalui siaran televisi, baik dengan adegan porno maupun adegan kekerasan. Bebas pula kita memukul metromini padahal yang kita demo ini bukan supir metromini, pokoknya nafsu tersalur, orgasme kekerasan terpenuhi, orgasme seksual termuncratkan.
Mana yang lebih bahaya? Semua tahu, dan mengapa tidak ada poster atau spanduk “Pornoisme dan Premanisme Haram di Negeri Indonesia”? Ya, karena yang mbikin sendiri lebih suka premanisme, mungkin..
Islam dan Marx, hayo bagaimana?
Lho..lho.. Islam itu agama. Kristen itu agama. Budha Buddha (thanks untuk ben
)itu agama. Hindu itu agama. Yahudi itu agama. Konghucu itu agama. Dan masih banyak lagi agama. Lha agama ni nilainya lebih tinggi dari sekedar ide. Ada unsur ilahiah di sana, unsur ketuhanan, sebuah sentuhan ruhani.
Marx sama sekali tidak menyentuh urusan rohani. Sebagaimana kapitalisme tidak menyentuh rohani. Jika orang menganut/menuruti Marx, dijamin dia susah kaya. Jika orang menganut/menuruti Agama, Islam misalnya, dijamin tidak akan kaya, Utsman bin Affan tuh contohnya, saudagar kaya akhirnya hanya kaya di hati, hartanya habis di jalan Tuhan. Kapitalisme? Wah mengajarkan agar kita kaya.
Lantas, atas nama Islam, kenapa tidak ada spanduk “Kapitalisme Haram di Negeri Indonesia”? Ya, saya tidak tahu. Barang tentu si pembuat spanduk tak lebih tangan panjang kapitalisme.
Entahlah..
Vale, demi keadilan
el rony, memandang sinis pelaku kekerasan
Category: Neolib, Politik, Yogyakarta, Culture, Semiotics, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
March 30th, 2007 at 10:48 pm
wah, keren …..
sampe pusing bacanya …
March 31st, 2007 at 1:06 am
Moral cerita: paradoks, ya mas
March 31st, 2007 at 2:57 am
Buddha, bukan Budha.
*tendang Ronceh ke tumpukan KBBI*
March 31st, 2007 at 9:53 am
a man can fail. He can be caught, he can be killed and forgotten, but 400 years later, an idea can still change the world. .. you cannot kiss an idea, cannot touch it, or hold it… ideas do not bleed, they do not feel pain, they do not love…
dari v for vendetta.. :-p
March 31st, 2007 at 8:33 pm
barangkali kemapanan itulah yang sering membuat kita menthok ide, sehingga menerima ajaran kapitalis, korup, dan tentu premanisme, Dengan sepihak, mengkambing-hitamkan yang lain dengan minimnya pemahaman, lewat suguhan poster dna suguhan-suguhan lainnya.
March 31st, 2007 at 11:22 pm
ini pasti tentang FPI yang demo anti Marx sampe ngepruk metromini yaaa… hehe.
Mungkin FPI menolak marx, selain alasan-alasan yang anda sebutkan diatas, juga karena khawatir bila faham marx dibiarkan berkembang akan membuat rakyat susah dibodohi oleh ulama. Maksud saya ulama yang busuk
April 2nd, 2007 at 12:42 pm
entah kenapa gua benci dengan kemiskinan *bukan orang miskin
April 3rd, 2007 at 4:40 am
gak akan abis2 mas kalo bahas negara ini…

bagai lumpur lapindo yg ga bisa disumbat kebocorannya…
April 3rd, 2007 at 1:11 pm
kapitalisme –> ada yang kaya, tapi ada yang miskin
komunisme –> ga ada yg kaya, tapi ga ada yg miskin
begitukah?
cmiiw, no expert
btw salam kenal
April 3rd, 2007 at 6:40 pm
Mas, avatar saya kira kira haram ga?
April 3rd, 2007 at 6:42 pm
Wah avatarnya ga muncul
April 6th, 2007 at 12:28 am
salam kenal..
waduh, postingan sampeyan kok abot-abot banget sih…
*mijet-mijet kepala*
April 6th, 2007 at 6:04 pm
haram di negeri ini adalah haram yang subyektif.
April 11th, 2007 at 12:38 pm
jadi, inget..
kemarin juga baca spanduk tanpa nama..
tanpa penanggung jawab..
ga perlu tau isinya..
tapi the point is..
orang2 ini mau apa ya?
make betterments?
tapi kog caranya dengan menyuarakan ide (ya, itu juga ide kan mas?) tanpa bertanggung jawab..
*sigh*
April 11th, 2007 at 1:05 pm
tukang bikin spanduk jadi laris, bung lantip.
miskin tidak haram, kaya pun tidak haram. tapi bisa jadi haram kalau kekayaan diperoleh dengan memiskinkan pihak lain. sekarang pengusaha pada jadi pejabat. kalo tiba2 muncul fatwa “kapitalisme makruh”, gimana?
February 2nd, 2008 at 2:46 pm
Tak ada yang dapat menyangkal…..
jatuhi hukuman pada koruptor segara proses hukumnya bung….