
Bagi teman-teman yang pernah mendengar kisah ini, silakan rehat. Istirahat sejenak. Bagi yang belum, mari bersama saya, menjelajahi dunia lama.
Kisah ini lahir ketika jaman hewan berbicara. Ketika bahasa belum menjadi dominasi manusia, dan ketika gugatan “akal” belum menjadi “tuhan” penentu gerak roda alam. Kisah ini muncul ketika nafsu hewan bersimaharaja, sebagaimana nafsu manusia jaman ini.
Terbelahlah waktu itu, antara kekuatan hewan udara dan hewan darat. Bagaimana dengan laut? Pada intinya adalah hewan yang menguasai udara dan hewan yang tidak menguasai udara. Jadi, hewan lautpun masuk dalam golongan partai hewan darat.
Kalah Menang
Silih berganti mereka mengalami. Satu saat hewan darat menang. Saat seperti itu, dapat dilihat dari hilir mudik hewan udara yang menjadi pak pos maupun tukang ojek. Di kala lain, hewan udara yang menang, dan kita bisa melihat ratusan hewan darat membangun landasan pacu dan menara.
Begitulah terus menerus kejadian waktu itu. Masing-masing kelompok merasakan jatuh bangun. Tapi tunggu dulu, ternyata ada yang tidak!
Kelelawar!
Ya, kelelawar. Coba perhatikan titik hitam itu. Sekarang dia terbang. Maka dia adalah hewan udara. Dan layak kalau sekarang dia terbang, karena sekarang hewan udara-lah yang menang.
Tapi coba perhatikan kemarin, kelelawar menekuk sayapnya, dan berjalan dengan dua kaki. Ya, itu adalah ketika hewan darat memenangkan pertarungan. Dia, dengan didukung oleh ciri khas tubuhnya, dengan cepat beradaptasi dan memihak pada yang menang. Bahkan bunglon-pun kalah tangkas dibanding dia, bukankah bunglon tidak bisa terbang?
Nah, kawan..
Berapa kelelawar kamu lihat sekarang?
vale, demi kesehatan
el rony, menghitung kelelawar.
NB:
Kisah ini untuk saudaraku terkasih, para kelelawar.
Category: Politik, Culture, Semiotics | Comment RSS 2.0 | trackback
March 28th, 2007 at 10:16 am
wiis.. layout baru nih?!
kelelawar itu tetangga luwak.. kadang2 malah satu pohon. tapi itu kelelawar beneran, bukan kelelawar dua kaki yg suka mengisap darah sesama.
March 28th, 2007 at 10:17 am
kamera baru? masih yg itu2 juga kok
March 28th, 2007 at 11:05 am
Kelelawar emang jalan kaki, Ron?
Perasaan dia nemplek dengan kakinya di atas langitan.
March 28th, 2007 at 10:35 pm
Maaf, OOT:
Koran kamerad Rony ada di sini
March 28th, 2007 at 11:26 pm
banyak kelelawar mas ron, karena itulah mengapa kita nggak pernah maju, karena yg kuat cenderung dibela daripada yg lemah
March 29th, 2007 at 7:03 am
kelimax!!!!
March 30th, 2007 at 1:32 pm
kelelawar sama kampret beda, nggak?
btw, penggemar Koes Plus, yak?
Nyanyi:… Kelelawar sayapnya hitam….
March 30th, 2007 at 1:37 pm
Ada juga lho, kelelawar yang munculnya siang bolong. Hahaha
November 11th, 2008 at 3:44 pm
Kesian si kelelawar…jadi tamsil haha…