Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Menilik Masa Depan Bangsa, dan Saya Tersesat..

Print This Post   Email This Post

Ceritanya kemarin saya makan siang dengan teman baik saya, Ayik bos IDWEBHOST. Kami makan lotek, warung sebelah timur kantor saya. Di sana Ayik bercerita tentang pengalamannya ketika kemarin di Papua.

Cerita ini membawa kami pada sebuah perdebatan yang hangat. Dia menceritakan tentang sebuah kota buffer yang dibangun oleh Freeport di wilayah Papua. Kota itu sangat tertata, katanya. Tidak ada kabel-kabel yang bergelayutan, jalan-jalan rapi, aturan pemakaian kendaraan juga ketat. Menurut Ayik, setiap jalan dilengkapi dengan saluran irigasi dan di sampingnya tertanam saluran fiber optic. Informasi yang memicu perdebatan hangat kami adalah ketika Ayik bercerita hasil ngobrolnya dengan penduduk asli papua. Menurut warga Papua tersebut, mereka tidaklah dijajah oleh Freeport, melainkan oleh Indonesia.

Lontaran ini membuat saya mengemukakan tentang sejarah awal Indonesia (yang lahir atas diskusi ilmuwan Belanda, dari kata Hindunesia), hingga gambaran sederhana sebagai contoh kasus. Yang saya contohkan adalah tentang seseorang yang suka bercocoktanam, dan ketika mencangkul lahannya untuk membuat sumur, ternyata airnya gak bisa diminum dan gak bisa untuk nyiram karena kental dan baunya aneh. Maka ketika ada orang datang dan membeli/membayar per tahun dengan harga tinggi, orang tersebut sangat senang. Orang itu tidak tahu bahwa air itu adalah minyak. Dan keuntungan si pembayar tanah tadi jauh melebihi apa yang diterima oleh orang itu. Hal ini menurutku mirip kondisinya dengan warga Papua yang tidak sadar bahwa beberapa bukitnya sekarang sudah menjadi jurang karena dikeruk dan dikeruk. Dan seterusnya dan sebagainya. Diskusi ini cukup hangat dan menyenangkan.

Terus terang saya teringat dengan masa-masa pertengahan kuliah saya, berdiskusi seperti ini dengan teman-teman sebaya. Namun, romantisme saya ini hanya sekejap saja. Segera setelah kami selesai makan, kami keluar dari warung, dan mendapati sekelompok anak SMP, masih berseragam yang tawuran.

Bagi teman-teman di daerah lain, daerah yang mungkin remajanya sering tawuran, mungkin tidak akan sekaget saya. Saya benar-benar mengalami shock pemikiran. Bukankah baru saja kami berdiskusi tentang negara? Tentang berkebangsaan? Tentang nasib negeri? Tiba-tiba harus berhadapan dengan penerus bangsa yang ribut hanya gara-gara “ora di bolo” alias tidak diajak ikut gank-nya. Serta merta saya ngomong ke Ayik, di depan anak-anak yang barusan dilerai,”ngapain kita diskusi serius yik? ngapain kita serius ngomongin negara? masa depan negeri ini berada di tangan anak-anak culun dengan tabiat berkelahi karena hal cemen?” Ya, saya benar-benar gegarpemikiran.

Apakah Saya Sedemikian Tersesatnya?

Saya masih bertanya-tanya, sampai detik ini, tentang seperti apa kondisi remaja kita, kondisi masa depan negeri ini. Pertanyaan ini benar-benar mengganggu, sehingga ketika barusan ada teman yang lain yang datang membawa persoalan lain, pola pikir saya masih ada di sini.

Teman saya ini, belum bisa saya sebutkan di sini soalnya dia minta begitu, bermaksud membuat ajang kreativitas untuk remaja. Sasarannya adalah SMP dan SMA. Ajang kreativitas ini berkait dengan penguatan local content. Saya sangat tertarik dengan ide ini. Namun ketika kemudian berusaha memetakan kondisi remaja dan kemungkinan animo mereka, kami berdua terdiam. Bertanya-tanya sendiri dan kemudian hanya bisa beradu pandang, untuk memahami bahwa kami sama-sama tersesat.

Seperti apakah kondisi remaja sekarang? Adakah di antara mereka yang masih bertahan dengan kelokalan mereka? Masih bertahan dengan bahasa Jawa misalnya, kromo-ngoko, ataupun minimal tidak ikut arus lue-gue? Kami sangat prihatin ketika sebuah icon Jogja ternyata larut juga. Kami benar-benar tersesat.

Jadi seperti apakah sebenarnya kondisi remaja kita? Bacaan apa yang bisa dijadikan rujukan untuk menelaah hal ini? Sungguh, saya benar-benar tersesat.

Vale.. demi kesehatan

El rony, kebingungan..

NB: tulisan ini sangat subyektif, dan sempit. namun, sejujurnya saya sangat mengharapkan bantuan informasi.

Category: Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback

19 Responses to “Menilik Masa Depan Bangsa, dan Saya Tersesat..”

  1. Lewis Says:

    Ya.. kita prihatin dan kita bingung…
    Tidak bisa kita meyalahkan remaja saja karena pola pendidikannya berasal dari rumah dan lingkungan.
    Kita adalah produk-produk pembodohan..
    Nenek moyang kita dibodohi oleh penjajah..
    Orang tua kita dibodohi oleh penguasa..
    Orang tua gilirannya membodohi anak-anak generasi penerus bangsa.. Tidak bisa mendidik!
    Penguasa tidak bisa mendidik rakyatnya..
    Pendidik dan tokoh agama korup, yang hanya memikirkan diri sendiri..
    Mohon maaf Sdr. Rony, saya tidak bisa membantu, tetapi saya malah ikut nimbrung biar kita bertambah bingung……..

  2. Rakhaa Says:

    Yah… Itulah Indonesia!

    Percayalah Mas, nggak ada bacaan yang bisa dijadikan rujukan…
    Yang jelas, Pemerintah harus berani memberantas korupsi, terutama di tubuh Peradilan baru menyusul disemua lini termasuk TNI..
    Setelah itu jangan biarkan rakyat miskin kelaparan..
    Selanjutnya, timbulkan rasa KEBANGSAAN!
    Barulah kita akan bangga mengatakan : ITULAH INDONESIA…

    Dan tidak akan ada lagi Tawuran..

  3. cahyo Says:

    Sejujurnya mas rony, tiap kali lihat anak smp-sma di jakarta, saya miris sekali lihat mereka. telinga ditindik, merokok, nongkrong pas jam belajar. Kayaknya saya dulu gak seperti mereka itu. Duh..kira-kira anak saya,Vaya 15 tahun ke depan seperti apa ya? Bisakah saya mendidik anak saya seperti bapak-ibu saya mendidik saya dulu? Mudah-mudahan saya bisa mengemban amanah untuk membesarkan anak saya ini.

  4. MaNongAn Says:

    Waktu SMP di JKT saya dan bebearpa teman mendengar percakapn dua orang teman lain (co-ce).

    Ce : Ruz, loe itu cowok apa bukan sih?
    Co : Napa emangnya?
    Ce : Ya itu ….. kalo loe cowok, tapi kok kagak ngetaranin ?
    Co : Maksud Loe?
    Ce : Loe tuh …. Ngerokok kagak, Minum Kagak, Nakal juga Kagak …. Trus kok masih berani ngaku anak cowok? *Menatap tanpa rasa bersalah*
    Co : *garuk²*

    Tuh Cewek kesambet apaan yah?
    Well, saya dan beberapa temen saat itu cuma bisa ngekek-ngekek doang denger percakapan tsb dan gak tau mau ngasih komentar apaan.

    -=he509x™=-

  5. peyek Says:

    mas, rony saya nggak bisa bantu mas rony tentang hal ini karena sayapun termasuk korban penjajahan dan pembodohan oleh bangsa saya sendiri.

    Masa depan bangsa? ngeri, keder juga mendengarkan kata-kata itu, senior nggak pernah ngsih kesempatan junior, perbudakan senior terhadap junior, pokoke ngeri-ngeri mas…

  6. Yudhis Says:

    Saya rasa positif dan negatifnya tidak terlalu banyak berubah dengan apa yang pernah dialami para pendahulunya.

    Hanya media yang digunakan dan packaging yang mereka tampilkan saja yang berbeda. Tapi secara ditarik garis merah, dari dulu sampai sekarang yang namanya remaja hanya butuh aktualiasi diri dan penerimaan oleh komunitasnya.

    Tinggal bagaimana energi yang tidak terkontrol ini bisa diarahkan ke postif atau negatif…

  7. diditjogja Says:

    membuka wacana tidak tersesat mas, kalo gitu saya juga donk?

  8. dendi Says:

    merdeka mas..
    merdeka!

  9. jesie Says:

    Sebagaimana pengalaman saya dari Papua beberapa tempo lalu, untuk daerah Jayapura (yang tidak tersentuh Freeport), potensi wisatanya sangat bagus tapi sayang tidak tertiupkan dengan kencang dimata dunia dan kurangnya promosi atau kepedulian pemerintah, kecuali karena emas dan hasil tambang di Timika, yang notabene hanya itu yang ditaksir oleh Freeport dan mata internasional.

  10. oon Says:

    hiks…bangsa endonesa ato penguasa bangsa endonesa yang kejam ya om? :(

  11. didats Says:

    Hehehe…

    ah, lieur ah…
    padahal menurutku orang-orang Indonesia punya bakat untuk bisa menggapai dunia.
    asalkan dia mau!

    sayang, banyak yg gag mau!

  12. temukonco Says:

    Hehehehe… saya ya masih mumet nganti saiki je Ron… :D

  13. Junkerz side B Says:

    sopo sing ate kau salahno pak?
    masa remaja?
    guru?
    lingkungan?
    pemerintah?

    oya…sebelum nyalahno wong, mbok ngaca se’…:p
    *kabur…*

  14. KRMT Roy Suryo, Amd Says:

    Ya! Saya setuju dengan Mas Didats,
    sebenarnya banyak sekali anak-anak indonesia yang berbakat. meskipun bakat tersebut relatif ya, ada yang ahli dalam per-fotoan, ada yang ahli dalam per-video amatiran, ada yang ahli dalam persekongkolan tingkat tinggi.. bahkan dalam hal metadata sekalipun :)

    tapi, indonesia tetap indonesia. walaupun saat ini rakyatnya bodoh, masa depannya di tangan anak-anak culun, tapi tetap saja, kita yang harus membuat Indonesia menjadi maju!

  15. paKDhe Says:

    @mas manong
    semoga ada yang menjawab “saya cowok, tapi saya lebih milih untuk dirokok :D :D :D”

    @mas ronceh
    bocah smp tukaran itu wajar mas. cuman kok yo anu, ndak bisa membedakan tempat. lha wong clurit harusnya dipake di sawah kok ya dibawa ke sekolah.

  16. Hedi Says:

    Remaja dan anak kecil kan hanya mencontoh apa yang dilakukan orang dewasa. Jadi ingat kartun di Koran Tempo, soal anak kecil yang berkelahi dan begitu ditanya apa cita-citanya, Tentara dan Polisi :(

  17. bLub Says:

    *celingak celinguk*

    mana tuh 12 komen yang bawa2 ayat al qur’an??
    di postingan mana sih?

  18. imran Says:

    harusnya rsa ke-indonesi-an yang harus ditanamkan pada anak muda bangsa kita, yng dimulai dari dunia pendidikan yaitu rasa berbagi bukn mentransfer pengetahuan semata-mata.

  19. wibowo susilo Says:

    ok…

Leave a Reply