Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Snapshot Pendidikan Anak di Yogyakarta

Print This Post   Email This Post

Pendidikan anak, dalam hemat saya, adalah sebuah pijakan awal bagi seseorang untuk mencapai satu “bentuk”. Proses awal pendewasaan, ibarat penempatan pondasi ketika kita sedang membangun rumah.

Oleh karenanya saya sangat peduli dengan pendidikan ini, apalagi jika kita mencoba mengikuti sebuah teori tentang perkembangan sikap seseorang. Menurut teori tersebut, sebuah sikap dipengaruhi oleh tiga hal utama, yaitu: lingkungan, pendidikan dan orang tua. Dari sini terlihat bahwa pendidikan memiliki porsi yang lumayan besar.

Maka kali ini saya akan coba mengulas dua metode pendidikan yang dilangsungkan oleh dua lembaga pendidikan yang berbeda.

Metode I : Disiplin Adalah Segalanya

Metode ini digunakan oleh sebuah lembaga pendidikan swasta yang terkenal di Yogyakarta. Lebih tepatnya, hampir semua lembaga pendidikan di kota ini menganut kepercayaan bahwa seorang anak harus diajarkan disiplin secara ketat sejak dini. Dan lembaga pendidikan yang terkenal sebagai lembaga teladan di kota ini, sebuah sekolah dasar muhammadiyah terkenal ataupun TK yang tak kalah terkenal dengan embel-embel anak sholeh, adalah contoh lembaga yang menerapkannya dengan patuh.

Mari kita tengok bagaimana mereka memulai aktivitas belajar-mengajar. Dalam lembaga ini, terutama SD yang terkenal tersebut, aktivitas dimulai sejak pagi sekali. Guru diharuskan datang sebelum murid datang. Maka tak heran jika guru sudah berjejer di depan sekolah ketika murid-murid datang.

Komitmen seorang guru sangat dituntut di sini, dan ini pula kiranya yang membuat SD tersebut menjadi layak untuk diberi gelar teladan. Ingat pribahasa “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” bukan? Nah, setelah murid datang, maka para murid kemudian berbaris untuk kemudian menyalami para guru.

Dan ketika murid mulai masuk kelas, ada seorang guru yang mengamati, kaki mana yang masuk terlebih dahulu. Ketika sang murid ternyata masuk kelas dengan kaki kiri terlebih dahulu, maka sang guru langsung menghukumnya. Hukumannya tentu saja berbau religi, sang murid harus sholat dhuha sekian kali.

Demikian aktivitas awalan dari SD tersebut. Lantas dalam proses belajar mengajar, para murid diajarkan untuk diam. Murid yang berisik dikenalkan dengan pintu neraka. Hasilnya, suasana belajar yang tenang, adem.

Murid-murid di SD ini memiliki prestasi yang -bagi orang dewasa- membanggakan. Lihat saja, seorang murid yang baru kelas 1, sudah bisa fasih membaca baik bahasa Indonesia maupun bahasa Arab. Tak kurang pelajaran yang berlangsung dari pagi hingga sore hari dilengkapi dengan belajar intensif membaca Al-Quran.

Kepatuhan murid di SD ini juga tidak dipertanyakan lagi. Dalam satu kesempatan, saya bertemu dengan anak dari kakak sepupu saya, anak ini belajar di SD tersebut. Biaya tinggi yang hingga jutaan rupiah, sepertinya -bagi orang dewasa- layak karena kenyataannya memang anak dari kakak sepupu saya tersebut lancar sekali membaca, menghitung dan membaca Al-Quran.

Dan dia sangat-sangat patuh, sehingga ketika istri saya menyodorkan sebuah buku cerita kepadanya, dia menyahut dengan kalimat santun,”ini saya disuruh apa?”

Saya dan istri saya terpaku, kami tidak menyuruh. Tapi lebih terpaku lagi menghadapi kenyataan, anak ini sangat patuh. Mungkin tentara di negeri ini saja kalah dengannya.

Biaya yang tinggi, tidak menyurutkan para orang tua untuk memasukkan anaknya ke sekolah tersebut, karena memang hasilnya luar biasa. Lihat saja contoh di atas, tak heran bukan jika kita harus mendaftar setengah tahun sebelumnya untuk bisa masuk ke SD tersebut?

Metode II: Mandiri dan Komunikasi

Metode kedua ini dilangsungkan oleh sebuah kelompok kecil di bagian utara Yogyakarta. Mereka baru mampu membangun playgroup. Namanya Pelangi. Biaya masuk ke sekolah ini juga agak mahal, yaitu Rp. 300.000,- per bulan.

Eh, tapi tunggu dulu. Di Playgroup ini jumlah anaknya cuma 5 orang. Komitmen dari penyelenggara playgroup ini mengakibatkan murid tidak banyak. Mereka memang sangat ingin satu anak didampingi oleh minimal satu kakak (demikian mereka menyebut diri, bukan guru).

Jadi kalau ada 5 “murid”, berarti ada minimal 5 “kakak”. Dengan 5 “murid” tersebut terkumpul setiap bulannya Rp. 1.500.000,- lantas berapa gaji masing-masing “kakak” setelah dikurangi biaya operasional (beli kapur misalnya)? Ah ternyata para kakak tidak hanya menjadi guru di sini. Mereka juga mencari nafkah di luar, dan ternyata jumlah kakak bukanlah sama persis dengan jumlah murid, mereka lebih banyak, karena harus model shift. Maka tak heran kalo salah satu murid mereka bercerita bahwa ada seseorang di sekolah itu yang juga menjadi sopir Purworejo-Yogyakarta.

Oh ya, mengapa anak itu bisa bercerita begitu? Mari kita tengok dari awal mula prosesi “belajar-mengajar” di tempat ini. Ketika seorang anak datang ke tempat ini, maka satu atau dua orang kakak langsung bertanya kepada orang tua si anak. Mereka menanyakan bagaimana sikap sehari-hari si anak, bagaimana si anak berinteraksi dengan sekitar, dan sebagainya. Selama seminggu awal, mereka memantau aktivitas si anak dan untuk kemudian dikonfirmasikan ke orang tuanya. Misalnya saja ketika si anak uring-uringan dan maunya memukul, mereka bertanya kepada orang tuanya, apakah ada masalah di rumah?

Setelah proses awal tersebut, mereka lalu rapat bersama untuk merumuskan “treatment” atau lebih tepatnya bagaimana caranya menjadi teman bagi si anak. Setelah itu para kakakpun siap untuk “mendekati” si anak dan masuk ke dunianya untuk kemudian menjadi teman. Hasilnya? Seorang anak yang tadinya tidak kenal lingkungan, yang membuat gelisah orang tuanya karena si anak tidak bisa bergaul, satu bulan kemudian sudah ceria dan memanggil temannya satu per satu, bermain bersama. Ah, satu bulan bukan waktu yang cepat, tapi jangan lupa itu juga bukan waktu yang lama :)

Playgroup ini berencana membuat SD. Dengan menggunakan konsep yang sama. Oh ya, mereka memang memiliki konsep agar si anak menjadi mandiri dan mampu berkomunikasi. Saya tidak bisa menceritakan detail bagaimana mereka melakukannya, yang jelas mereka menjadi teman, dan teman itu membagi pengetahuan dan belajar bersama sehingga menghasilkan dua buah dialog di bawah ini:

dialog 1 : peluit

Anak: “Ayah, aku minta uang”
Ayah: “Uang? Buat apa?”
Anak: “Peluitku dipinjam oleh si kembar*), aku mau beli tiga buah, satu untukku, dua untuk si kembar”
Ayah: “Oh, berapa uang yang kamu butuhkan?”
Anak: “Tidak tahu. Pokoknya cukup untuk beli tiga peluit”
Ayah: “Seribu cukup?”
Anak: “Cukup”
*) Si kembar adalah tetangga si anak, mereka dari keluarga yang kekurangan sehingga bajupun kadang tidak lengkap mereka kenakan, karena tidak punya.
Si anak kemudian beli peluit, tetapi ternyata peluit di warung yang dituju habis, akhirnya dia membeli makanan kecil tiga buah dan dimakan bertiga dengan si kembar.

dialog 2: yatim piatu

Ayah, Ibu dan anaknya berkumpul membicarakan rencana mengangkat anak. Mereka (si ayah dan si ibu) memang sudah bersepakat tidak akan “membuat” anak lagi, jadi kalau si anak ingin adik mereka akan mengangkat dari panti asuhan
Ayah: “Anakku, kemarin kamu bilang pingin punya adik kan? Bagaimana kalau kita mengambil anak dari panti asuhan?”
Anak: “Panti asuhan itu apa?”
Ibu: “Panti asuhan itu tempat untuk mengasuh anak-anak yang tida memiliki ayah dan ibu”
Si anak terdiam sejenak, keningnya berkerut, untuk kemudian melontarkan satu hal yang agak aneh
Anak: “Saya tidak suka polisi”
Ayah: “Lho, apa maksudnya?”
Anak: “Kalau kita mengambil anak, nanti ayah ditangkap polisi, aku tidak suka”
Ibu : “Anakku, kita bukan mengambil anak dengan cara jahat. Kalau cara jahat namanya menculik, nah kita hanya mengajak anak dari sana. Kita ajak anak tersebut untuk tidur sini, makan bersama kita, main bersama, tinggal bersama. Jadi polisi tidak akan menyalahkan kita”
Si anak kemudian diam. Diam yang lama, sambil kening berkerut. Air mukanya semakin keruh. Akhirnya sang ibu bertanya
Ibu : “Kamu kenapa nak? Kamu sedih karena ada anak yang tidak punya orang tua?”
Sang anak kemudian berlari ke arah ibunya, memeluknya dan membisikkan kata iya sambil meneteskan airmata

Dua dialog di atas adalah kisah nyata. Saya tidak berani menuliskan nama-nama, karena saya belum minta ijin langsung kepada mereka.

Dialog di atas terjadi, menurut hemat saya, karena si anak sudah mulai mandiri dalam pendiriannya, dan bisa mengkomunikasikan kegelisahan dirinya. Anak tersebut adalah salah satu murid di playgroup pelangi.

Jadi, dua metode inilah yang sekarang berkembang di kota saya. Dan metode kedua, hampir tidak ada yang memilihnya. Saya sendiri memilih metode kedua, karena saya adalah orang dewasa yang suka ngobrol, saya ingin bisa ngobrol dengan anak saya.

Vale, demi kesehatan.

El rony, berharap semoga playgroup itu tetap ada, dan semoga SD-nya juga segera berjalan.

Category: Pendidikan, Yogyakarta, Culture, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback

39 Responses to “Snapshot Pendidikan Anak di Yogyakarta”

  1. Hedi Says:

    Yang pertama itu mungkin saja bagus, patuh kan bagus. Tapi kalo patuh seperti model robot, seperti kasus mas Rony dan istri kepada keponakan, jadi ga seru ya.

  2. cahyo Says:

    metode I : nama sekolahnya budi mulia bukan mas?

    hihi…tak perjelas sekalian wae….

  3. rony Says:

    @Hedi: betul sekali. Patuh itu menyenangkan, karena ketika anak ribut, kita tinggal suruh diam. Kayaknya sih nyaman. :)
    @Cahyo: wah, tidak cuma itu mas *ups* hehe…

  4. mBu Says:

    rasa-rasanya, jika ku sudah punya anak nanti, aku ingin agar ia dapat menjalani hidupnya dengan penuh makna, dan bukan hanya karena aturan, kedisiplinanm ataupun rutinitas belaka..

  5. mpokb Says:

    ck ck.. salat dijadikan hukuman. mau ngajari untuk menyogok Tuhan?

  6. Mbilung Says:

    apa ada sekolah yang ngajari muridnya minta mama baru? :D

  7. feha Says:

    saya sendiri dulu dididik di lembaga pendidikan dengan metode pertama.
    di satu sisi setelah dewasa saya lebih mandiri dan yah org bilang sih sangat disiplin.

    tapi emang kelemahannya yg saya rasakan adalah…..sampai sekarang saya masih bingung sebenernya saya itu cocoknya dimana

  8. winerwin Says:

    wah bagus sekali anak kalau sudah bisa berempati dengan anak yatim piatu

  9. Ari Says:

    definitely pelangi! :). ternyata yg namanya sekolah favorit bisa jadi mengerikan kayak gitu ya. harus lebih teliti & hati2 nih…

  10. paKDhe Says:

    waduh….. kayaknya saya jadi korban metode pertama *cari kambing item* :D :D :D

  11. -f Says:

    kalau boleh memilih, aku lebih sreg dengan metode kedua.

  12. iman brotoseno Says:

    kalau saya jaadi presiden, sekolah gratisssss..setidaknya sampai SMA..

  13. Charly Silaban Says:

    Mas Ronceh… hihihi…
    Kalau metode 2 yang mas pilih, nanti SMA-nya masuk De Britto aja ya.. dijamin tokcer !
    Biaya ndak masalah koq..!

  14. diditjogja Says:

    hmmm…meski belum “berputra”, bahkan belum lulus kuliah!!
    sy pun berangan-angan, agar pelangi dapat menjadi “pelangi” bagi kehidupan anakku nantinya.
    soal anak?
    bung rony berputra berapa? sekolah?
    ah, jadi ingin posting soal anak…ntar tunggu ya, sy putar memori otak saya dulu!!

    salam,eh..vale…
    :)

  15. Junkerz side B Says:

    Hukumannya tentu saja berbau religi, sang murid harus sholat dhuha sekian kali.

    hukuman yg aneh..
    nampaknya bagus juga dijadikan artikel buat side A

  16. Abi_ha_ha Says:

    Masih ada tho sekolah kaya no.1? pancen school sucks ternyata abadi.
    Mau mencetak berapa juta lagi orang bermental disiplin tempe begitu tho? kalo ada paku (pakumendan); “siapgrak!”, kalo ada jelata; “Ndak tau siapa saya ya!!? mau ta’tembak!? mau ta’hilangkan paksa?!”

  17. tiwoel Says:

    mau tau donk….play group pelangi dimana?
    kasih tau ya…..plisss….

  18. rony Says:

    @mas/mbak tiwoel:
    alamat playgroup pelangi di utara merapi view. dusunnya Tegal Mindi. Alamat lengkapnya saya kurang paham. Tetapi dari perumahan merapi view itu ke utara (pas gang di sebrang perumahan itu) sedikit, kiri jalan (barat jalan).

  19. ai Says:

    yach…model persekolahan yang ‘mendisiplinkan’ (merobotkan.red) anak didiknya menjadi diminati karena ketakutan dan ketidakpercayaan orang tua pada buah dagingnya sendiri. nah lhoo… bukankah model kepatuhan yang dipaksa dengan hukuman dan didorong dengan iming2 imbalan adalah produk instan semata. barangkali kita mesti flash back ke kisah2 penjajahan. model2 mendidikan macam itu persis model perlakuan penjajah terhadap bangsa jajahannya (350 tahun masa belanda di indonesia ternyata berbekas sangat kuat).
    sebenarnya model pendidikan macam kasus 1 sudah ‘ingin’ ditinggalkan. sebaiknya bacalah konstruksi2 pendidikan yang terbaru, yang menawarkan begitu banyak pembebasan yang mendidik, dan pendidikan yang membebaskan. atau jangan2 untuk belajar soal kebebasan generasi tua merasa paranoid - bila si muda lebih pintar dan lebih berkesempatan darinya. thanks

  20. Feb Says:

    Numpang Nimbrung, Mas Roni dan salam kenal…
    Saya senang dengan kedua metode tersebut.. saya memilihnya dengan cara seperti ini :
    1. Untuk sekolah, saya lebih cenderung dengan metode pertama.
    2. Untuk pendidikan di rumah, saya berlakukan metode yang kedua.
    Kedua metode tersebut harus seimbang…
    Disiplin perlu..
    Kebebasan berpikir dan berpendapat juga perlu…
    Mudah-mudahan anak akan menjadi insan yang tangguh.. Disiplin seperti robot tapi hatinya peka dengan lingkungan sekitarnya…..

  21. nisa Says:

    ini bukan promosi tho mas?????
    bukanya klo guru tapi sambilan itu akan menurunkan kompetensinya????

  22. rony Says:

    @mbak nisa:
    bukan promosi mbak
    maaf, saya salah paham, mereka bukan nyambi yang seperti itu. kalau mau detilnya, mungkin bisa main ke sana. saya sendiri belum sempat untuk mencari info lebih lanjut. maaf. :)

  23. Tiara Says:

    Mas rony,
    Wah menarik sekali blognya. Kebetulan saya sebentar lagi akan pulang for good ke jogja. Yang saya pikirkan ya itu, pendidikan untuk anak2 saya yang masih kecil ini. Anak saya yang besar sudah hampir 3 th dan sudah masuk day nursery. Perkembangannya pesat sekali, meskipun kurikulum pendidikan di sekolahnya itu kebanyakan cuman play saja. Tapi kok ternyata metode play itu mujarab ya? Saya sendiri sih korban model pendidikan yang pertama itu & bener juga hasilnya saya ini cuman pasif dan manut he he he.
    Nanti saya coba deh berkunjung ke tk Pelangi, siapa tau cocok untuk anak saya.

  24. putri ms Says:

    saya butuh informasi daftar sekolah TK dan playgroup yg berpotensi baik di Jogjakarta
    Mohon bantuannya
    thx

  25. rony Says:

    @mbak Tiara dan mbak putri ataupun siapa saja yang ingin tahu informasi lebih lanjut tentang pendidikan di Yogyakarta,
    silakan lihat tulisan saya yang terbaru di sini. Semoga bisa membantu :)

  26. Rouza Says:

    sasugadana… *hiks* terharu banget bacanya T_T

    Metode I bagus untuk membuat robot pesuruh, cocok untuk jadi tentara (krn tentara harus menuruti apa kata komandannya)

    Metode II bagus untuk membuat manusia yang baik dan mandiri, para manusia yang Indonesia butuhkan!

  27. Cahaya Says:

    Pilih yang menghasilkan output disiplin tapi tetap santai…. Kapan ngundang teman-teman yang respon milis Mas Roni ke Yogya he he..he…Salam kenal untuk semuanya.

  28. rani Says:

    saya ingin tanya. Kebetulan rumah saya ada di daerah giwangan. saya ingin informasi tentang TK/PG yang baik untuk anak.
    Kebetulan di dekat rumah saya ada PG TK IT BIAS. Bagaimana informasi ttg sekolah itu? Saya coba buka website BIAS tp lagi under construction.
    Makasih ya…kalo bisa japri saja
    maaf banyak nanya

  29. didi Says:

    Makasih banget tulisannya. Kebetulan saya sedang cari-cari info perkembangan pendidikan di yogya.
    Saya tertarik sekali dengan metode pendidikan model kedua, karena saya nggak mau anak2 saya jadi robot yang cuma bisa jalan kalo disuruh.
    Saya pengen anak2 saya jadi manusia yang kreatif, yang mampu bersaing, dan yang tangguh menghadapi situasi apapun.

    Ada nggak ya sekolah2 national plus atau international school di Yogya ? (seperti yang banyak di Jkt), mohon infonya. Thanks banget…

  30. koko Says:

    Kayaknya lmyan juga da playgrup kayak gitu.Kita jd ga ssah ngurus anak,klo rewel bawa ja kplaygroup itu.

  31. ahmadi Says:

    assalamualaikum Wr. Wb. saa tertarik dengan bahasan dalam blog anda, saya sedang mencari teori yang berhubungan dengan perkembangan sesial anak,

  32. Melly Says:

    Tertarik model pendidikan Pelangi, bisa diimformasikan alamat, no tlp, contact person Playgroup Pelangi?
    Thanks

  33. ratna Says:

    met kenal,
    blog-nya menarik sekali.
    Sebagai orang tua kayaknya sy ga mau deh klo anak sy penurut kyk robot, Kok jadi kyk bukan anak kecil gitu…ya memang ada bagusnya jg anak itu patuh tp bukan berarti sikapnya menjadi kaku, tidak ceria, tidak seperti alamiahnya seorang anak kecil.
    anak kecil nakal wajar, memang masanya seperti itu, yang penting tidak jahat, dan yang utama kita bisa mengarahkannya.
    Pada dasarnya sy dan suami menganut aliran demokratis, anak boleh berekspresi, namun untuk hal2 tertentu mrkpun diajarkan menurut pd orang tua.
    emang sih susah-susah gampang mendidik anak itu.. :D
    dan memang memilih pendidikan anak diluar keluarga (sekolah) perlu itu…

  34. yolla Says:

    kasih artkel dunk

  35. HAERUDIN Says:

    sistem dan metode dalam pendekatan dengan anak sanagat relevan dan memihak dengan dan atas kebutuhan dan kondisi si anak itu sendiri. saya salut dengan para pejuang untuk membuktikan kecintaan kita terhadap anak. semoga semakin sukses dan bisa menjadi contoh bagi orang lain

  36. Djojo Says:

    Waah, kebetulan informasi ini yang saya cari cari, tapi dimana yah alamat tepatnya PG Pelangi itu? ato ada websitenya?
    Kalo sekolah Mutiara Persada bagaimana infonya ya? Trims.

  37. andy Says:

    bagus banget mas materinya
    saya dukung
    mari kita majukan islam

  38. aniq Says:

    wah kebetulan banget nih, ku mo tanya nih mas da tuntutan masyarakat di daerahku tuk dirikan lembag pendidikan usia dini tapi masyarakat disana menengah ke bawah yang so pasti masalah uang kendalanya, giman jalan keluarnya agar lembaga tersebut mutu pi jg gak bangkrut. makasih ya mas, tak tunggu tenan jawabannya

  39. bapakethufail Says:

    sekolah buat anak….. mudah2an jadi tempat ekspresi dan eksplorasinya, bukan penjara kecil baginya
    maaf bukan promosi…. sekolah alam mungkin jadi pilihan.
    saya pernah membuka sebuah blog sekolah yang bagus… mungkin isinya bisa memberi manfaat…
    http://sekolahalamarridho.wordpress.com
    terima kasih

Leave a Reply