
Memilukan dan memalukan! Dua kata itu sering muncul di media maupun di setiap perbincangan. Ya, ini menyangkut penyelenggaraan haji tahun ini. Bagaimana tidak? Bisa-bisanya penyelenggaraan haji yang sudah bertahun-tahun dijalani, dengan biaya yang makin membengkak, bukannya semakin baik malah semakin hancur. Warga negara Indonesia, jemaah haji dari kampung sekitar kita, terlantar tak mendapatkan makanan secuilpun selama tiga hari!
Menteri Agama kita dengan santai (sumpah saya yakin dia sangat santai) mengeluarkan kata-kata pembodohan yang gitu-gitu saja. Mari kita lihat, kalimatnya dari mulai “kita dikhianati oleh katering saudi”, “ini adalah cobaan”, hingga “alhamdulillah panitia haji sudah siap menyuplai makanan”, semuanya bohong belaka. Bahkan lontaran yang kemudian disampaikan lebih menyakitkan lagi,”kita akan ganti biaya makan 105riyal tiap jamaah”. Apakah ada penyelesaian dalam kalimat itu?Tidak!
Tindakan yang kemudian diambil oleh pemerintah ini juga jauh dari mutu. Pengiriman sekian boks mie instan adalah tindakan paling bodoh sepanjang masa. Bukankah semua sudah tahu, terutama panitia haji dari Indonesia, bahwa di Arafah tidak ada air panas?
Rusaknya Nilai
Lontaran untuk bersabar adalah sebuah upaya pembodohan lagi. Ini benar-benar menunjukkan telah rusaknya nilai malu di kalangan para pejabat. Apakah para pejabat ini masih berfikir bahwa mereka adalah panitia kampung atau mungkin segelintir pramuka yang sedang berkemah?
Bahkan segelintir pramuka yang berkemahpun tahu apa yang musti dilakukan untuk menyelesaikan masalah. Selalu saja lontaran yang dikeluarkan menyakitkan, para pejabat itu. Ungkapan bahwa sulit menembus lautan jemaah haji di Arafah dalam rangka membantu jamaah kita, itu juga ungkapan bodoh dan membodohi. Memangnya tidak ada yang namanya hubungan diplomasi?
Dari hari Jumat Kamis sore, hingga hari Minggu (bahkan ada yang hingga Senin) tidak ada makanan. Berdasar laporan dari Kompas, bahkan kualitas penginapanpun jauh dari standar. Ada jamaah yang harus menginap di lorong hotel! Ampun dah!
Jika saja jamaah haji ini datang secara gratis, mungkin lain persoalannya. Tapi bukankah mereka sudah membayar? Dan bayaran itu sudah ditentukan oleh pemerintah dalam hal ini penyelenggara haji, disesuaikan dengan kebutuhan di sana?
Lebih Murah Katanya
Terlontar pula kalimat bahwa katering yang sekarang, Ana Service & Supply, menjanjikan harga yang lebih murah. Tapi apa lacur? Ternyata katering itu bukanlah katering yang berpengalaman mengurusi jamaah haji. Katering itu pada dasarnya adalah perusahaan penyedia makanan ternak dan pupuk! Ampun..ampuuunn..
Sedemikian cerobohnya para petinggi kita. Kalau saja tidak ada berita tentang ini, saya yakin semua tutup mata dan entah uang itu lari kemana. Uang hasil “menghemat” biaya makan itu maksud saya.
Menteri Agama, lepas pecimu, dan katakan bahwa kamu MALU! Kamu memang memalukan! Sudah selayaknya engkau mundur! Juga jajaran penyelenggara haji yang lain, tanggungjawab kalian dituntut sekarang!
SBY dan JK, sebagai pucuk pimpinan saat ini, tak bisa pula lepas tangan. Tim Evaluasi yang sudah dibentuk tentunya bagus, tetapi penyelesaian haruslah cepat. Hentikan pola pikir gampangan dengan mengganti uang. Minta maaflah kalian secara terbuka.
Saat ini wajar jika seluruh rakyat, terutama kaum muslim, menyampaikan mosi tidak percaya kepada pemerintahan negeri ini. Sedangkan mengurus makan jemaah haji yang “hanya” 289.000 orang saja kewalahan, sedangkan mereka sudah membayar, apalagi mengurusi rakyat?
Sebagai penutup saya mengutip kata-kata Mail, si pembuat komik Kribo,
Vale,…
El rony, emosi
NB: biar saya saja yang emosi, jamaah haji dilarang emosi (kasihan)
Category: Culture, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
January 3rd, 2007 at 11:18 am
sabar,.. sabar,..
*kaburrrrrrrrr
January 3rd, 2007 at 11:47 am
sepertinya masalah rutin tiap tahun ya…kalo gak penginapan yang kurang layak ya pelayanan nya yang amburadul. Dah gitu larang banget biayanya he, lebih murah negara lain kayak malaysia dll..mahal tapi tak sebanding dengan kualitasnya.
January 3rd, 2007 at 12:30 pm
Tepatnya, KAMIS SORE, bung Ronceh…anda bisa baca di sini…seperti biasa…

January 3rd, 2007 at 12:57 pm
haji backpack aja! yah, apa pun di nagri ini dijadikan proyek, lantip, sehingga jamaah dibuat seakan nggak punya pilihan. paspor kudu cokelat, dlsb. kalo nggak, naik haji pasti boleh backpacking dgn buku lonely planet.. hehehe. kan enak tuh, biayanya murah, nggak perlu birokrasi terlalu panjangjangjang..
January 3rd, 2007 at 1:26 pm
depag kakean golek bathi mas !
wis regane larang dibanding malaysia, pelayanannya nol besar. kapan bangsa ini besar dan maju kalo gini terus?
pemerintah (dalam hal ini depag) terlalu memanfaatkan kesabaran dari calon jemaah haji yang memang harus dituntut sabar. telat makan, sabar, tidur di lorong, sabar. sigh…:-(
sabar itu ada batasnya bung !
*halah, malah ikut emosi kaya mas rony*
January 3rd, 2007 at 4:09 pm
@bayu:
hiya, sabar teruuusss… huhuhu
@feR1:
ada lagunya mas, itulah endonesyaaaa…
@fahmi:
terimakasih koreksinya
@mpokb:
setuju! kenapa pula dengan paspor hijau? ya ga?
@cahyo:
hiks..
January 3rd, 2007 at 4:14 pm
trus kita bisa apa?
marah2 doang ya?
mereka mah gag dengeeer.. kan budeg!
January 3rd, 2007 at 4:33 pm
huhuhuhu……
harusnya pepatah lama diganti ya bung rony :
“Orang sabar disayang Depag?!”
January 4th, 2007 at 12:31 am
Selamat Tahun Baru, Bung!
January 4th, 2007 at 1:16 am
untung gak jadi naik haji
January 4th, 2007 at 4:02 am
Nah kalo gituh mo apa coba…kudeta ? seperti yg ada di Thailand..
January 4th, 2007 at 9:35 am
klo gini sih mending naik unta drpd naik haji =))
January 4th, 2007 at 6:45 pm
wah baru tau tuh… parah banget ya..
January 4th, 2007 at 11:02 pm
Wahai Mentri Agama Cs, lebih baik kalian tak beragama saja!!!!!!!!!!!!!! Kalian adalah algojo yg paling kejam!!!!!!!!!!!!!
Yg naik haji itu khan banyakan para manula, kalo tak dikasih makan 3 hr, bisa mati itu orang-orang.
January 5th, 2007 at 1:21 pm
haji itu bagi yang mampu… mampu buat calon haji, dan juga mampu bagi penyelenggaranya…
btw, saatnya REVOLUSI
January 5th, 2007 at 4:04 pm
sabar.. sabar.. mari kita bersama sama membaca doa untuk para pengurus jamaah Haji:
LAKNATULLAH!!!!!!!
January 5th, 2007 at 11:39 pm
Seperti baca koran Rakyat Merdeka.
Mengapa masih lebih banyak orang senang umroh? Apa masih tak kapok juga? Apa kurang mabrur sedekah di negeri sendiri?
Saya tidak terlalu prihatin dengan pemerintah yang dikata-katai “bangsat” (maaf, ungkapan ini pilihan penulis artikel, bukan saya), jumlah mereka hanya sedikit. Saya lebih sedih, lebih prihatin, dengan orang banyak yang ikut-ikutan menjadi bodoh dan tidak berusaha bergerak agar menjadi lebih pintar.
January 6th, 2007 at 3:37 pm
QS: Al-Baqarah 156:
‘ Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata:
Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun (sesungguhnya kami milik Allah dan
kepada Nya lah kami akan kembali).’
Bandingkan dengan pejabat kita, apabila ditimpa musibah,
mereka akan berkata :
http://tinyurl.com/wuch9
Menteri Agama pun bilangnya seperti ini:
http://tinyurl.com/y7pxqp
January 6th, 2007 at 8:44 pm
Om Rony marah2?
*siram Om Ronceh pake air es*
January 9th, 2007 at 2:52 am
Buat para jamaah yang terkena imbas dari insiden ini, istirja saja - dan berdoa pada Alloh SWT agar diberikan pahala dan ganti yang barokah.. dan biar pihak2 atau oknum2 yang berada dibalik peristiwa ini diberi ganjaran yang setimpal..
January 10th, 2007 at 3:39 pm
mungkin udah waktunya pemerintah lepas tangan dari urusan haji. kayanya mereka ga belajar dari pengalaman. dikiranya jamaah bakal sabar dengan dalih itu cobaan. jelas-jelas skandal. atau pemerintah pegang kamus baru yang salah satu entrinya berbunyi mabrur=kelaparan
January 22nd, 2007 at 12:33 am
Apakah pengelolaan naik haji dimonopoli oleh pemerintah? Bila ya, mungkin ada baiknya pengelolaan naik haji diprivatisasi, supaya kompetisi antara pengelola-pengelola naik haji swasta bisa meningkatkan mutu service.
July 30th, 2008 at 11:22 pm
SEMOGA HAL INI TAK TERULANG