
Ibaratnya orang berjalan, maka seperti itu pulalah pola pemikiran tiap manusia. Pengembaraannya membawa ke wilayah angan-angan, mimpi, cita-cita maupun pengalaman pemikiran yang lain. Seperti halnya dengan pengembaraan di wilayah tiga dimensi, maka ternyata pemikiranpun bisa mengalami apa yang disebut sebagai ketersesatan.
Istilah sesat pikir sendiri saya dengar pertama kali dari lontaran almarhum Mansour Fakih waktu ngobrol santai di bawah pohon belimbing. Waktu itu fokus utama yang dibahas adalah ketersesatan pola pikir generasi muda menghadapi isu reformasi. Namun, kali ini mungkin saya tidak akan berpanjang lebar soal cerita yang satu ini, ada hal lain yang membuat saya merasa perlu untuk menulis dengan judul ini.
Jebakan Yang Melenakan
Sudah barang tentu tiap kita pernah berdebat ataupun beradu argumentasi. Baik hal itu dilakukan di sebuah forum khusus maupun di tempat-tempat santai atau bahkan privat seperti ruang keluarga.
Adu argumentasi adalah contoh kasus yang paling tepat untuk menelusur ketersesatan pikiran, karena dalam sebuah adu argumentasi-lah alur pemikiran dari seseorang terlihat. Hal ini terutama ketika kita menelaah sebuah ketersesatan pikiran yang bersifat langsung/spontan.
Dalam menyusun argumentasi, di dalam adu argumentasi tersebut, masing-masing kita biasanya mencari sebuah dasar untuk memperkuat alasan kita. Pijakan paling kuat yang diyakini secara umum adalah dengan mencari sebuah contoh kasus di luar semesta pembicaraan, untuk kemudian dibandingkan dengan obyek pembicaraan.
Dengan pola yang sama saya mencari contoh untuk hal ini. Misalnya saja ketika kita sedang berdiskusi soal rasa sebuah menu. Baik untuk menerangkan maupun untuk “mencela” rasa tersebut (dalam hal ini saya berbicara mengenai wilayah lidah), maka kita akan mencari referensi rasa-rasa yang pernah kita kecap selama perjalanan hidup. Maka tak jarang kita akan menemukan kata,”rasanya seperti sate, hanya tidak ditusuk” atau hal-hal semacam itu.
Hal ini ternyata berlaku juga dalam wilayah diskusi yang berada di luar wilayah inderawi. Sebagai misal adalah ketika kita membicarakan soal harga sebuah produk. Untuk mengatakan sebuah produk murah atau mahal, kita mungkin tidak serta merta membandingkan kualitasnya. Yang kita cari adalah kemiripan yang lain seperti bentuk, warna, fitur, dan lain-lain. Hal ini misalnya kita membicarakan produk elektronik. Oh ya, di sini indera memang masih ikut andil, tetapi bukanlah pokok dari pembicaraan.
Ketersesatan kemudian muncul ketika kita berusaha mencari pembanding, dan berdasar hanya pada kuantitas ataupun kulit dari obyek yang sedang dibicarakan. Saya kebetulan memiliki beberapa contoh yang bisa kita lihat bersama.
Pagi ini misalnya, saya menemukan sebuah surat pembaca di harian Kompas, dimana di situ disebutkan mengenai kegelisahan sang penulis atas banyaknya partai politik. Dalam tulisan tersebut, sang penulis mengambil Amerika sebagai contoh. Amerika yang hanya dua partai dan merupakan negara adidaya, dibandingkan dengan puluhan bahkan ratusan parpol yang menjamur di negeri ini, sehingga kemudian ditutup dengan saran agar partai kembali diperkecil jumlahnya.
Apa yang salah dari pembandingan tersebut? Sekilas tidak ada yang salah. Yang dibandingkan adalah sama-sama jumlah partai dari dua negara. Namun ada yang terlupa. Di situ seakan-akan dikesampingkan kenyataan bahwa ada fakta sejarah mengapa di Amerika kini hanya ada dua partai. Juga seakan menghianati fakta sejarah kita sendiri, dimana kita baru saja terlepas dari kondisi partai yang cuma tiga (bentukan pemerintah) menuju demokrasi sesungguhnya (jumlah partai merupakan pintu aspirasi masyarakat). Dan ketika jumlah partai yang banyak ternyata belum bisa menjawab keinginan masyarakat, itu berada di wilayah yang lain. Tidak ada kaitan langsung maupun jaminan mutu antara jumlah partai dengan tersampaikannya aspirasi masyarakat.
Semestinya saran yang muncul adalah ajakan untuk mencari satu tujuan bersama. Saat ini terus terang kondisi perpolitikan negara kita memang masih sangat remaja, bahkan mungkin masih balita. Dimana masing-masing individu masih berpegang pada kebutuhannya, dan tidak peduli dengan kebutuhan masyarakat maupun negara. Amerika menjadi dua partai bukanlah dibentuk oleh pemerintah, ini adalah fakta lain yang selayaknya tidak boleh dilupakan.
Cukup mengenai berita tadi pagi, masih ada juga hal yang lain. Ketika isu mengenai poligami mencuat, muncul pula argumentasi sesat pikir. Lagi-lagi pembandingan yang salah kaprah. Dibandingkan antara poligami dengan selingkuh.
Semestinya kita bisa berfikir lebih jernih seandainya emosi tidak diikutkan. Bahwa selingkuh dengan poligami tidak memiliki hubungan sebab-akibat maupun pertanyaan-jawaban. Seseorang yang poligami sangat mungkin untuk selingkuh, demikian pula sebaliknya.
Dari dua contoh itu saja, kita bisa melihat dalam skala yang lebih luas. Pada wilayah perdebatan lain, sangat mungkin muncul ketersesatan-ketersesatan pemikiran seperti itu. Jebakan ini muncul ketika kita tidak menata dahulu argumentasi kita, mencoba memunculkan pertanyaan atas argumentasi kita, dan mencoba untuk menjawab setiap pertanyaan yang muncul tersebut. Dengan demikian sebuah argumentasi merupakan hasil dari tesis-antitesis-sintesis.
Batu Sandungan Besar
Pola penyusunan argumentasi yang sesat pikir, membawa kita kepada pola pemahaman atas permasalahan ummat yang kurang tepat. Sebuah argumentasi tanpa didasari oleh proses tesis-antitesis-sintesis, mengakibatkan pembodohan baik pada diri yang berargumen maupun pada para pengikut argumen tersebut.
Seorang tokoh lantang berteriak bahwa si A adalah korban, sementara si B-lah yang selayaknya menjadi tersangka karena dia –misalnya– yang menyebarkan video porno. Ini adalah contoh batu sandungan daya kritis yang kemudian mengarah kepada pembodohan.
Dalam contoh kasus ini, adalah benar bahwa si penyebar video porno bersalah, namun di sisi lain si pelaku juga bersalah. Dalam sebuah negara hukum yang melarang hal-hal berbau cabul, maka pelaku pencabulan tetap harus mengalami proses hukum. Yang terjadi kemudian perang opini, dan ujungnya sama saja, yaitu pembodohan.
Atau contoh lain pembodohan adalah ketika seseorang mengatakan,”sudahlah, saya ini beribadah, poligami itu kan boleh sama agama, daripada selingkuh?”. Ini adalah batu sandungan lagi ketika diucapkan oleh seorang tokoh, apalagi dia memiliki penganut. Poligami benar menurut agama, itu satu hal. Selingkuh itu salah menurut agama, itu juga satu hal. Tapi poligami dikaitkan/dibandingkan dengan selingkuh, seperti sudah saya tulis di sub bagian di atas, adalah hal yang lain lagi. Maka mereka yang memiliki pola pemikiran dan argumen seperti ini, sadar maupun tidak sadar, telah melakukan pembodohan di masyarakat.
Ungkapan-ungkapan seperti di atas-lah yang menyemai ketersesatan pemikiran di kalangan masyarakat umum. Sehingga kita kemudian hanya bisa mengurut dada ketika nanti orang sampai pada kesimpulan,”jaman Soeharto lebih enak daripada jaman sekarang”.
Masyarakat yang sudah mengalami pembodohan, memasuki wilayah ketersesatan yang parah, sehingga mereka tidak bisa lagi berfikir kritis bahwa Soeharto-lah yang melahirkan kekacauan demi kekacauan di negeri ini.
Media, Inkubator Sesat Pikir
Di samping kebijakan pemerintah soal pendidikan, yang mana akan makan tempat yang panjang kalau dibahas, maka media adalah inkubator tempat bersemi-nya sesat pikir.
Saat ini hampir semua media menganut gaya tabloid: what is bleeds, lead apa yang berdarah-darah pasti laku. Kejaran atas laku, tiras, oplah maupun rating ini pula yang membuat produk-produk media maupun pemberitaan menjadi mentah. Alih-alih justru menanam pola sesat pikir di kalangan masyarakat melalui alam bawah sadar.
Dengan menyampaikan omongan tokoh yang mengandung nilai pembodohan tanpa dilakukan counter pemikiran dari tokoh lain yang kompeten, adalah salah satu contoh bagaimana media menjadi tempat berseminya pola sesat pikir ini.
Cekokan sajian tontonan yang tidak melalui telaah mendalam mengenai akibat/dampak yang akan ditimbulkan, adalah hal yang lain lagi yang secara perlahan memupus daya kritis. Contoh paling sederhana akan hal ini, selain masalah penyampaian tadi, adalah tontonan reality show seperti paranoid. Sebenarnya hampir semua reality show mengandung nilai ini, tapi saya mengambil contoh yang ini saja. Tontonan tersebut mengajak kita untuk tertawa atas penderitaan orang lain.
Dengan tidak mengecilkan daya pikir masyarakat, namun penyajian tontonan seperti ini yang terus menerus, maka pola pikir penonton bisa terbentuk. Apalagi di kalangan masyarakat yang tingkat kesadarannya masih rendah seperti anak-anak maupun orang dewasa dengan tingkat kesadaran terbatas. Yang terbentuk kemudian adalah pola pikir “bahagia melihat kesengsaraan orang lain”.
Gerusan-gerusan seperti ini lambat laun bisa mendorong pola pikir sederhana tesis-antitesis-sintesis. Ditambah lagi dengan kualitas tontonan yang lain. Lho, tetapi mengapa saya justru mengarah pada tontonan? Iya, karena kenyataannya dalam setiap kesempatan saya ngobrol dengan masyarakat, misalnya di cakruk siskamling (ah iya, nanti malam saya ronda lagi), pola pikir seperti ini memang terbentuk. Pembicaraan tokoh khayal dibandingkan dengan tokoh nyata, kemudian mengarah ke penyelesaian kasus nyata mengikuti pola kasus khayali (sinetron dan sejenisnya).
Masyarakat yang terbentuk oleh media seperti ini akhirnya menuju ke masyarakat apatis, putus asa dan mencari jalan pintas. Dan jelas, jalan pintas selalu mengesampingkan pola pikir kritis yang menuntut pemikiran ulang atas pemikiran ulang.
Jadi..
Mari kita kembalikan pola pikir nenek moyang kita. Pola pikir untuk selalu berpikir ulang, dalam kultur jawa ajakan ini menjadi “dipenggalih”. Dipikir hingga ke tingkatan terdalam, tidak hanya mengikuti alur emosi.
Dengan demikian, argumentasi kita menjadi lebih cerdas, dan output dari argumen yang cerdas membawa ke solusi yang lebih bijak.
Vale, demi kesehatan..
El rony, berpikir ulang…
NB:
Kesadaran magis adalah bentuk pilihan yang ditentukan oleh kekuatan di luar diri kita. Pilihan karena ganteng, pilihan karena gagah, bukan pilihan karena rancangan ke depan yang matang dari yang kita pilih. Bentuk-bentuk kultus individu, dan membeo semua hal yang dianggap baik oleh idola.
Kesadaran Naif adalah bentuk pilihan dengan pemikiran yang singkat. Argumentasi yang lemah tanpa didasari pemahaman yang dalam melahirkan keputusan yang tak kalah naif. Dengan mudah kesadaran ini bisa memberi stempel kafir pada orang lain tanpa lebih dahulu mencerna hakikat dari permasalahan.
Kesadaran Kritis adalah ketika kita melakukan selalu sistem berpikir ulang. Hal yang sekarang dianggap benar, kita coba kritisi dan dicarikan sumber referensi atasnya, untuk kemudian ditemukan sintesis yang paling tepat. Tidak hanya berhenti di sini, kita selalu mencari kebenaran tersebut, karena kebenaran memang tidaklah mutlak.
Category: Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
December 20th, 2006 at 12:11 pm
Di negeri yang susah ini, di mana orang-orangnya kurang berdaya, yang jauh untuk menuju adidaya, telah memerdekakan diri di saat masyarakatnya masih bodoh. Contoh yang sederhana yang mungkin tidak representatif adalah setelah proklamasi rakyat tak mau membayar tiket kereta api, dengan alasan “sekarang jaman merdeka,” begitu menurut pantauan bapak saya dahulu.
Mungkin itu bukan sesat pikir karena sekolah masih sedikit, pendidikan gak ada, pengajaran pun sedikit.
Sekarang pendidikan sudah tinggi, pengajaran sangat banyak, namun sesat pikir ini masih banyak terjadi, tidak hanya di masyarakat, tapi juga di para pemimpin-pemimpinnya.
Dan setiap manusia memang pasti menolak disebut sesat pikir atau sesat pikiran, walau ia memang benar-benar tersesat di dalam pikirannya sendiri.
Memang berbahaya orang yang tersesat tapi tidak tahu/sadar bahwa ia tersesat.
December 20th, 2006 at 12:24 pm
maz, maz… aku mending mbaca blog-mu timbang mbaca diktat filsafat. xixi…
kangen dirimuw, kangen mbak fit, kangen jogjah…
hix… )=
December 20th, 2006 at 12:29 pm
Luar biasa!! Aku luar biasa gak dhong,,, translet plis
December 20th, 2006 at 4:33 pm
Luar biasa panjang paparannya …
tapi intinya ada di paragraf ini:
Seorang tokoh lantang berteriak bahwa si A adalah korban, sementara si B-lah yang selayaknya menjadi tersangka karena dia –misalnya– yang menyebarkan video porno. Ini adalah contoh batu sandungan daya kritis yang kemudian mengarah kepada pembodohan.
dan ini :
Atau contoh lain pembodohan adalah ketika seseorang mengatakan,”sudahlah, saya ini beribadah, poligami itu kan boleh sama agama, daripada selingkuh?”. Ini adalah batu sandungan lagi ketika diucapkan oleh seorang tokoh, apalagi dia memiliki penganut. Poligami benar menurut agama, itu satu hal. Selingkuh itu salah menurut agama, itu juga satu hal. Tapi poligami dikaitkan/dibandingkan dengan selingkuh, seperti sudah saya tulis di sub bagian di atas, adalah hal yang lain lagi. Maka mereka yang memiliki pola pemikiran dan argumen seperti ini, sadar maupun tidak sadar, telah melakukan pembodohan di masyarakat.
Jadi:
Seperti yang diungkapkan di atas, tulisan inipun termasuk menggiring sebuah opini. Jadi termasuk Jebakan Sesat Pikir juga ..
December 20th, 2006 at 5:29 pm
lha yg punya media itu semuanya jadi pejabat atau dekat dengan pengambil keputusan. kecuali ada media yg benar2 independen, publik akan terus didikte..
December 20th, 2006 at 7:12 pm
Ini jaman aneh, kuantitas lebih diutamakan ketimbang kualitas. Buat banyak orang, jumlah lebih signifikan walaupun pikirannya tersesat.
December 21st, 2006 at 8:26 am
Setelah membaca ini, saya semakin yakin bahwa para ulama yang pakai pembenaran “lebih baik poligami daripada selingkuh” adalah SESAT dan sedang MENYESATKAN! Dasar ulama SESAT!
*Kayak lu gak sesat aja Hel!!!*
December 21st, 2006 at 8:45 am
media memang memiliki power untuk membentuk opini publik. makanya, kalau media sampai dikuasai oleh “pendekar berwatak jahat”, bahayalah republik ini…
*halah, jadi serius gini mas*
December 21st, 2006 at 12:56 pm
Tentang suharto™,setuju ! (ke-teretujuan saya ini semoga tidak termasuk naif!). teramat sangat setuju,jika melihat contoh generasi saya (kelahiran 83-an),bahakn sebagian dari mereka mengatakan suharto tidak sepenuhnya bersalah. Mungkin ada benarnya,tapi jika kita dengarkan alasan-alasan yang mengikuti dibelakangya,hmmm…nampaknya si A dan Si B dapat dalam tulisan diatas dapat juga diartikan Si Suharto dan Para Cendana lainnya!!
Mari,tegakkan lagi kaidah pola pikir kita masing-masing…. ~salam~
December 21st, 2006 at 2:28 pm
Awas! Awas! Jangan baca blog ini! Sesat! Sesat!
December 21st, 2006 at 3:46 pm
*pasang filter anti sesat…tendang Didik…*
December 24th, 2006 at 7:16 pm
malu bertanya SESAT di BLOG ini…
*kidding mode : on*
December 26th, 2006 at 2:24 pm
Mas Ron… kalo NGGAK sadar-sadar, baik sadar magis, naive maupun kritis, apa, namanya?
December 26th, 2006 at 5:20 pm
wah daya otak saya tidak sampai setinggi itu untuk memahami filsafat yang ditulis ini, cuma memang jebakan daya pikir sesat yang selama ini sering terjadi dalam bentuk opini atau persepsi .
January 26th, 2007 at 7:36 am
bagus lho bahasannya. Kita punya kesesatan dalam berpikir?. Kata sesat adalah memiliki pembanding dengan yang tidak sesat (apakah itu?). Melakukan perbandingan atau bench marking jelas selalu ada. Sesat atau menyimpang atau deviasi adalah bagian dari proses berpikirnya. Belum tentu tersesat sih. Saya sih lebih suka bilang relevan atau tidak relevan.