Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Kala Manusia Bicara Rasa

Print This Post   Email This Post

Banyak dari kita yang menempatkannya cukup tinggi. Rasa menjadi satu alasan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Rasa bisa juga menjadi tujuan ataupun capaian dalam kehidupan.

Tak jarang kita menemukan satu kata yang berawalan dengan “perasaan..” ataupun ungkapan ketidaksukaan karena “rasa”-nya tidak enak. Lantas dimana itu rasa berada? Tentu saja ada dua jenis rasa di sini, yaitu yang bersifat fisik dan psikis.

Sebuah nilai rasa dalam dunia fisik bisa bersifat cukup jamak, banyak orang bisa mengatakan sebuah nilai rasa dengan hasil yang seragam, entah itu asin, manis, pedas atau yang lainnya. Bahkan nilai rasa yang satu ini bisa dibilang tidak terbatas oleh samudera.

Namun ketika sudah menginjak pada kata “enak”, maka nilai rasa ini mengerucut, tidak lagi universal. Sebagian warga Yogya mengatakan gudeg itu enak, sementara orang di belahan dunia lain bisa bilang bahwa gudeg itu terlalu manis. Demikian juga dengan hal yang lain, ketika menyangkut rasa fisik berupa pedas atau asin. Nah, hasil ini sudah menyentuh ke wilayah psikis. Dan rasa di dunia psikis mengalami metamorfosa yang sangat banyak. Penilaiannya menjadi sangat subyektif dan membawa apa-yang-diyakini sebagai kata hati.

Bagaimana Orang Jawa Menyikapi?

Sebagai bagian orang Jawa, saya berusaha untuk mendokumentasikan nilai sikap yang dilahirkan oleh budaya nenek moyang saya. Nah, mengenai rasa ini, orang Jawa mengeluarkan satu kalimat yang bermakna luas, yaitu:

“Aja ngombé lêgi, nèk bar mangan têbu, mêngko mundhak mati”

Arti harfiah dari kalimat itu adalah jangan minum yang manis-manis setelah memakan tebu, nanti bisa mati. Dalam hal ini maksudnya adalah mati rasa. Tentu saja kita tidak akan menemukan satu beritapun yang menyatakan bahwa orang meninggal gara-gara minum teh manis setelah makan tebu. Orang yang kadar gula-nya tinggi (diabetes) dan kemudian mati karena melakukan hal ini, akan disebutkan sebagai mati akibat diabetes.

Lantas apa makna dari kalimat tersebut? Untuk memahami sebuah ungkapan dalam bahasa Jawa, lebih sering kita harus berfikir keluar konteks. Walaupun ketika kita bicara dalam konteks yang sama dengan isi ungkapan, maka ungkapan itu tetap bisa dipahami.

Orang Jawa percaya bahwa manusia itu memiliki nilai subyektifitas yang terbatas. Ini adalah sebuah kesimpulan awal. Bagaimana kesimpulan ini bisa diambil? Mari kita lihat, ketika kita minum teh manis, lidah kita akan merasakan manis. Ataupun ketika kita makan mangga arum manis, tentu manis pula rasanya. Tapi kalau kita makan mangga itu atau minum teh tersebut setelah terlebih dulu kita makan tebu, yang terjadi teh ataupun mangga itu tidak lagi semanis tadi, alih-alih justru menjadi hambar.

Sifat subyektifitas terbatas ini membawa kita pada sebuah dorongan agar selalu mawas. Diri yang didorong untuk selalu kehausan tidak akan membawa sebuah kenyamanan. Ketika kita memakan mangga, kemudian minum teh manis, kemudian makan tebu, lantas mengunyah anggur, kemudian meminum madu, dan seterusnya secara berturutan, yang terjadi kita menjadi kabur akan makna nilai manis dari masing-masing item.

Dari sini maka kita bisa memperluas daerah operasi nilai rasa. Tidak lagi berembug soal fisik, tapi mengambah dunia psikis. Mari kita lihat ilustrasi sederhana berikut. Dalam sebuah undian, kita mendapatkan hadiah. Kita tentu merasa senang, bukan begitu? Tapi ketika kemudian ternyata setelah itu teman kita yang serombongan juga memenangkan hadiah, dan ternyata hadiahnya lebih baik, tentu kita ada sedikit merasa kecewa. Rasa senang tadi sudah berubah menjadi sedikiiiiiiit kurang senang. Di sinilah letak batasan nilai rasa.

Jika kita menilik pada hal yang lain, kita mungkin merasa mencintai sebuah benda, katakanlah komputer. Namun ketika muncul produk baru, rasa cinta tersebut luntur. Padahal kalau kita mengikuti kemauan ini terus-menerus, yang terjadi adalah hilangnya perasaan bersyukur.

Dari sekian uraian di atas, dalam tulisan kali ini, saya berusaha mengingatkan kepada saya sendiri dan siapa saja yang membaca tulisan ini bahwa nilai rasa itu memiliki batasan. Dan batasan itu yang menciptakan justru diri kita sendiri. Maka agar nilai rasa kita berlangsung lama dan “langgeng”, yang harus dilakukan adalah membenahi diri, memantapkan niat.

Bagaimana menurut Anda?

Vale, demi rasa..

El rony, membuka catatan dan ancang-ancang bicara yang lain

Category: Culture, how to, Semiotics, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback

6 Responses to “Kala Manusia Bicara Rasa”

  1. mpokb Says:

    maksudnya, apa pun itu, kalo berlebihan pasti nggak baek.. gitu kali yak? :)

  2. bangsari Says:

    rasanya meriang nih… :(

  3. Luthfi Says:

    pake aan ya :-)

  4. wadehel Says:

    Bener bgt:P udah punya pacar cantik, baik, seksi, tapi kalo tiap hari gawul sama para hornywati yang juga cantik dan seksi, rasa bersyukur itu bisa terancam luntur.

  5. winerwin Says:

    segala sesuatu memang relatif ya :D

  6. Kien. Says:

    Semuanya memang relatif, apalagi tentang Rasa..
    tapi rasa timbul karena kita berfikir.
    berfikir timbul karena Tuhan mengalirkan fikiran itu pada kita.. Segalanya Hanya Tuhan Yang Maha Tahu..

Leave a Reply