Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Penampakan Jarak Jauh (TV)

Print This Post   Email This Post

Televisi, sebuah anak kandung teknologi, yang mengenalkan sistem multimedia dalam bentuk yang lebih maju. Televisi mengenalkan kita atas dunia suara dan dunia gerak, warna dan gambar. Kehadirannya tidak pernah lepas dari akibat-akibat sampingan, yang anehnya sepertinya layak untuk diperjuangkan. Efek pertama adalah sumber energi, semakin canggih, semakin besar ukurannya dan semakin tinggi kualitas gambar dan suaranya, menuntut sedotan daya yang besar pula. Efek yang lain adalah kecanduan. Pada efek yang kedua ini, penyebabnya adalah lebih di materi atau isi dari acara televisi tersebut.

Sebelum saya membahas tentang materi TV yang sedang menjadi (sebenarnya sudah sejak dulu, tapi akhir-akhir ini menguat) kontroversi, saya ingin bercerita tentang Pak Mangku (demikian saya mengenal beliau), salah satu tokoh di daerah Bali. Desa Pak Mangku bernama Tenganan, dan kalau kita memasuki desa beliau maka kita akan disuguhkan suasana tradisional yang sangat kental dan magis. Setiap warga berpakaian tradisional lengkap dengan keris menempel, juga perempuannya. Bahkan masih ada keputren di sana, dimana setiap anak perempuan yang sudah menstruasi akan “diasingkan” di tempat itu. Suasana yang luar biasa magis ini, entah sampai kapan akan bertahan. Itu pula yang menjadi kegelisahan Pak Mangku.

Beliau dalam satu kesempatan sempat mengungkapkan tentang ketradisionalan daerahnya. Para anak muda, yang begitu melangkah keluar dari gerbang desa langsung disuguhkan modernitas, secara tak langsung mendorong agar desa itu untuk “maju”. Kemajuan ini dalam kacamata Pak Mangku, yang bergelar doktor (kalau saya tak salah), tak lebih adalah masuknya teknologi. Dalam hal ini yang menjadi keraguan beliau adalah televisi. Kegundahan beliau sederhana saja, televisi menjanjikan perubahan yang drastis, karena menurut beliau dorongan gaya hidup akan masuk ke ruang paling privat bernama ruang keluarga, dan ini sangat sulit untuk dibendung. Maka sambil menatap ke bawah bukit, ke desanya, Pak Mangku mendesah dan berbisik,”sepertinya nilai-nilai ini sebentar lagi hanya akan menjadi cerita”.

Sebenarnya dampak buruk apa yang membuat Pak Mangku, yang berpendidikan tinggi itu, menjadi sangat gelisah? Dalam pencarian saya, nampaknya rumusan yang paling sering muncul adalah kegelisahan atas suguhan pornografi dan kekerasan. Hanya dua hal ini saja yang sering diangkat oleh LSM yang peduli pada pendidikan. Tapi apakah hanya itu saja? Bukankah dulu warga Bali malah perempuannya bertelanjang dada? Nilai porno mana yang ditakutkan? Ataupun kebudayaan mengadu ayam di desa itu, sebuah tradisi yang menyatu dengan ajaran keber-agama-an di wilayah itu, bukankah juga menyajikan satu sistem kekerasan?

Pikiran saya kemudian melayang pada sisi yang lain. Efek televisi yang paling mengerikan akhirnya justru kembali pada pemikiran Pak Mangku tadi, dimana suguhan (baca: dorongan) gaya hidup baru merangsek ke ruang paling privat sehingga sangat sulit dibendung. Gaya hidup tentunya adalah hasil budi dan daya akal manusia untuk menghadapi tantangan lingkungannya, namun jika disuguhkan dan disodorkan dalam bentuk visual di ruang paling privat dalam frekuensi yang terus-menerus, tentunya akan memunculkan gegar budaya yang baru. Perubahan drastis gaya hidup yang bahkan tidak memerlukan alasan mengapa gaya hidup harus diubah.

Dari sini saya melihat televisi memanglah menjanjikan sebuah ancaman yang pasti dan permanen (dan juga latent alias terselubung). Dampak ini bisa dilihat dari berita terakhir yang sedang gencar menjadi pembicaraan. Seorang anak meninggal akibat menirukan adegan smack down, sebuah acara hiburan berbungkus gulat bebas. Dan penelitian wartawan Kompas di daerah Pakem, Yogyakarta menghasilkan data yang tak kurang mengejutkan. Sudah 6 (enam) anak yang pingsan akibat menirukan gaya di acara televisi tersebut. Mereka memegang perut temannya sedemikian rupa sehingga posisi kepala temannya berada di antara selangkangan kakinya dan kaki temannya tadi terangkat ke udara, setelah itu -seperti acara di smackdown- mereka menjatuhkan diri sehingga kepala temannya menyentuh tanah/lantai dan terduduki oleh mereka. Saya membayangkan di antara ke-6 anak tadi, takutnya ada yang sampai gegar otak, sungguh miris.

What to be done?

Sampai di sini, seruan Lenin menjadi terngiang kembali. Bukan dalam rangka untuk mengarah kekiri-kirian, kalimat seruan tersebut sama sekali bebas nilai, hanya sebuah ajakan untuk segera bertindak. Orang-orang yang bergegaslah yang akan selamat, demikian Soe Hok Gie pernah mengamanatkan kepada teman-temannya. Maka mari bertindak.

Matikan TV-mu

Ini langkah pertama yang harus dilakukan. Semakin tingginya minat masyarakat untuk menonton acara televisi, ikut andil dalam acara kuis-kuis yang kadang tidak masuk akal, maupun larut dalam serangkaian sinetron yang membawa kita ke dunia khayal dan menyerah terhadap hidup, membuat produser film maupun pelaksana televisi enggan untuk mengganti kebijakan atas siaran/produknya. Mereka abai akan kenyataan bahwa hal seperti ini masuk dalam kategori kekerasan, apalagi kalau mengingat pengertian kekerasan menurut Johan Galtung.

Imbangi

Tentu sulit menyuruh semua orang mematikan tv. Kalaupun kita melakukannya, bisa jadi tetangga kita tidak. Dan anak-anak akhirnya mendapatkan suguhan yang serupa dari televisi tetangga. Maka sudah saatnya kita memikirkan perimbangan atas cekokan dahsyat ini.

Langkah paling pertama tentu saja menyediakan waktu. Selain mengawasi, yang tak boleh kita lupakan adalah mengajak anak-anak (yang paling rentan terpengaruh dan mudah meniru) untuk ikut serta dalam sebuah kegiatan yang produktif. Sekedar memilih warna cat tembok, ataupun corat-coret di kertas besar ataupun berbagi cerita pengalaman sehari-harinya, dalam bayangan saya cukup memberikan jawaban atas kehausan anak-anak atas “hiburan”. Ingatlah bahwa tak jarang anak-anak larut dalam sebuah tontonan dikarenakan tidak ada “teman” yang mau mendengarkan.

Ubah Acara Mulai Sekarang

Seruan ini saya tujukan kepada pembuat sinetron, penulis sinetron, penentu kebijakan per-televisi-an, pemerintah dan siapa saja yang berkait dengan materi siaran televisi. Korban satu jiwa sudah terlalu banyak untuk sebuah hal yang tak beralasan. Bagaimana sebuah acara lawak dengan badut kekar diselingi teriakan makian yang (untungnya) ter-sensor, bisa menginspirasi anak-anak untuk saling menyakiti dan bergumul dengan dunia kekerasan, adalah alasan paling tepat untuk memikirkannya.

Satu saat, masyarakat akan semakin cerdas. Pembodohan (baca: acara tv) tidak akan berlangsung lama. Kehausan atas ilmu pasti akan mencuat. Saya mengharap agar para penentu materi acara tidak menunggu hal itu terjadi. Jangan hanya mengalir. Terutama buat mas Raam Punjabi, hentikan itu acara yang tak ada pendidikannya sama sekali. Anda memperoleh untung sekarang, tetapi ingat, banyak di antara kami yang mencatat. Dan saat ini saya mencatat bahwa Anda, Mas Raam, adalah salah satu tokoh buruk, tokoh jahat yang membawa anak-anak ke jurang kehancuran. Masa depan suram terbentuk oleh tokoh seperti Anda.

Mari Ciptakan Media Alternatif

Seruan ini menjadi seruan terakhir saya untuk kasus ini. Dan seruan ini, terus terang, belum ada dasarnya. Artinya saya belum bisa memikirkan media apa yang bisa menggantikan televisi. Internet sendiri ataupun teknologi yang lain, selain membawa kemaslahatan juga menghadirkan kemudharatan. Mari kita mulai berfikir untuk menciptakannya. Saat ini, walaupun tidak berani saya usulkan sebagai media alternatif, saya sedang berfikir tentang media “cetak”. Mengasah bakat seni dari setiap diri anak-anak, dalam bayangan saya, akan membawa mereka pada rasa yang lebih peka atas lingkungan.

Demikian uraian saya atas penampakan jarak jauh untuk saat ini. Selebihnya saya hanya bisa berharap.

Vale, demi media

El rony, menulis dan bermain gambar.

NB: ya.. saya jadi ingat jumat kumat :)

Category: Culture, how to, Technology, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback

6 Responses to “Penampakan Jarak Jauh (TV)”

  1. Sridewa Says:

    selain punya koleksi serial SledgeHammer yang cukop Tolol… saya juga punya DiscoveryCenel dan National Geogerapik beberapa biji… b*j*k*n
    …. :)

  2. Hedi Says:

    Sama seperti barang lainnya, semua juga akan berpulang kepada pendirian dan sikap penggunanya.

  3. ExeCute Says:

    Mulailah dari sekarang, saat ini dari diri kita dan keluarga dekat.

  4. merahitam Says:

    Speechless

  5. apung Says:

    itulah dia mas..
    Stasiun TV menjadi sucks
    pemerintah ikut-ikutan lambat

    akhirnya kitalah yang harus berbuat..
    “..kalau bukan kita, siapa lagi??”

  6. Feb Says:

    Untuk pembahasan ini saya sangat setuju dengan pendapat Mas Roni..
    Saya tidak dapat lagi berkata-kata melihat ibu-ibu (bahkan berjilbab) makan langsung pake mulut diacara kocok-kocok (dulu : tayang jam 12.00 WIB, serta acara-acara sejenis yang hanya mementingkan hiburan (ketawa, cekakak, cekikik). Padahal saya selalu mengajarkan anak saya makan harus berdo’a, dengan tangan kanan dan tidak langsung pake mulut seperti ‘binatang’.
    Menganai Mas Raam Punjabi, saya juga sependapat bahwa dia adalah orang yang paling getol untuk merusak moral bangsa kita melalui acara-acaranya yang hanya menjual mimpi, tidak masuk akal dan aneh-aneh…..
    Sinetron religipun saat ini sudah ditampilkan dengan adegan-adegan pelacuran, anak memaki orang tua, adegan suami istri yang mesra padahal sejatinya mereka bukan muhrim, kekerasan secara vulgar.. Tidak ada lagi unsur pendidikannya. Dan yang mirisnya lagi, diberi pula tausiah oleh ustad-ustad terkenal. Tapi dulu.. ketika Sinetron yang masih diberikan Tausiah oleh Ustad Arifin Ilham, masih baik dalam hal penayangannya, tidak seperti sinetron religi saat ini.
    Satu hal lagi… Tidak ada LSM dan organisasi keagamaan yang dengan keras dan terus menerus memperjuangkan penentangannya terhadap keadaan ini..
    Kalau Mas Roni dapat formulasi ataupun strategi untuk mengatasi masalah ini, tentunya saya sangat bersyukur sekali, sehingga kekhawatiran Pak Mangku atas hilangnya nilai-nilai budaya dan juga kekhawatiran kita semua terhadap rusaknya masa depan bangsa, tidak akan terjadi..

Leave a Reply