
Kemarin saya mendapat cerita tentang kata-kata ini. Sebenarnya bagi kami orang Jawa, akan lebih enak di telinga (dan mengena di hati) kalau menggunakan Bahasa Jawa,”ra mbakat sugih”. Gak bakat kaya sendiri bukanlah struktur kalimat yang sesuai (baku) dalam sistem per-bahasa indonesia-an. Mendekati pola pengucapan gaya anak gaul. Tapi kalau saya tulis dengan bahasa baku,”tidak berbakat untuk kaya” maka rasa bahasa menjadi kurang, alias hambar.
Baiklah, saya tidak sedang membicarakan soal rasa bahasa. Saya sedang membicarakan, benar-benar serius, tentang status nggak bakat kaya itu tadi. Dalam dunia Jawa, ada yang dinamakan sebagai bobot-bibit-bebet. Tiga hal ini biasanya digunakan untuk menentukan keputusan menjalin hubungan (relasi) dekat dengan orang lain atau tidak, paling sering adalah ketika hendak memasuki wilayah pernikahan. Bakat adalah salah satu hal yang kurang lebih masuk dalam tiga hal pokok tadi.
Ternyata bakat ini tidak melulu mengenai tarik suara, olah gambar, atau sesuatu yang bersifat dikerjakan-maka-ada-hasil-yang-bisa-dilihat-dan-dipuji-seketika. Tidak itu saja. Ada yang dinamakan sebagai bakat kaya!
Awal Mula Cerita
Istilah nggak bakat kaya ini muncul ketika:
Istri saya tidak kuat AC. Setiap kali memasuki ruangan ber-AC, dia langsung flu berat. Maka ketika di Kudus, tawaran untuk tidur di kamar ber-AC ditolak serta-merta. Dan seiring ke-serta-mertaan itu pula muncul kata bernada seloroh,”woalah, ra mbakat sugih hehe”
Ataupun ketika teman saya, datang ke sebuah hotel bintang lima. Atas undangan kawan yang lain untuk berdiskusi, atau lebih tepatnya ngobrol. Teman yang mengundang memanglah orang kaya, sehingga dia bisa berkantor di hotel megah. Dan sebagaimana orang kaya yang lain, dia tidak peduli dengan betapa kerasnya kerja orang lain. Singkat cerita mereka memesan makanan, waktu itu jam 9 malam. Sampai jam 11 malam, makanan belum juga datang. Teman saya yang kaya menelfon pihak hotel dan marah-marah. Dan ketika akhirnya makanan datang, ternyata teman saya yang diundang, memesan gado-gado. Inilah yang membuat proses masaknya lama. Dan.. plis deh.. di hotel bintang lima pesan gado-gado? Maka teman saya yang kaya bilang,”psstt.. ini anak gak bakat kaya”.
Sudah terbayang posisi atau kondisi seperti apa yang memunculkan kalimat di atas? Atau jangan-jangan Anda juga sering mengucapkan kata itu? Aku sendiri cukup sering mengucapkan itu, tetapi sepertinya dalam nada yang sebaliknya. Kakak saya yang kedua, misalnya, sering dibilang gak bakat kaya karena selalu mabuk kalau naik mobil, saya sendiri memilih untuk bilang,”wah calon duwe mobil dewe, ben ra mabuk” dan syukurlah mereka akhirnya punya mobil sendiri. Eh, yang ini gak ada kaitannya. Lanjut!
Apa sih Bakat Kaya Itu?
Bagi sebagian –besar– orang sepertinya kekayaan tidaklah semata-mata keberuntungan ataupun rejeki. Ada unsur bakat untuk memperolehnya. Itulah mengapa ketika ada orang yang pintar, dipercaya, tetapi tidak kaya, maka orang bisa dengan segera menyimpulkan bahwa dia tidak berbakat.
Kebetulan juga saya memperoleh beberapa contoh nyata, orang-orang yang dengan kemampuan sama tetapi bisa mendapatkan kekayaan sementara orang yang lain tidaklah bisa dibilang kaya. Misalnya saja sama-sama beternak ayam, ada yang jadi kaya raya tapi ada juga yang merugi saja. Dua-duanya –katanya– sama-sama tekun, dua-duanya –katanya– sama-sama gemi (tidak boros), tapi yang terjadi sangatlah berbeda.
Dari sini kiranya muncul tuduhan bahwa kaya memerlukan faktor bakat. Orang percaya bahwa bakat kekayaan membuat orang bisa mengendus sumber kekayaan dan tahu cara untuk memetiknya. Pertanyaannya kemudian, bagaimana proses Anda menjadi kaya? Apakah Anda mengendus juga?
Terlepas dari itu, kenyataannya jumlah orang kaya di negeri ini jauh lebih sedikit dibanding jumlah orang miskin. Maka menjadi menyedihkan karena kalau benar bahwa kekayaan ini masalah bakat, tentunya tidak bisa ditularkan ke orang lain. Makanya kemudian ada yang bilang bahwa bakat melukis itu tidak ada, karena dia percaya bahwa semua orang bisa melukis. Lha kalau bakat-kaya dibilang ada, wah.. alamat yang miskin tetap miskin (atau makin miskin? ah itu kan dangdut).
Baiklah, cukup berpusing-pusing tidak karuan. Hanya karena kepala saya berbakat pusing, bukan berarti Anda harus ikut pusing bukan? Saya sendiri melihat masalah kekayaan (dan kemiskinan tentu saja) adalah masalah struktural. Ada unsur kesempatan yang tidak sampai ke semua lapisan masyarakat. Permasalahan akses inilah yang menimbulkan sistem korup dan sistem baru untuk menutup korupsi itu (yang tentu saja korup juga) dan begitu seterusnya. Saya harus membayar sekian rupiah agar saya bisa memperoleh informasi tentang satu hal. Saya harus membayar lagi untuk tahu kapan dan dimana (isi informasi tadi yang lebih detil). Lebih sering, yang saya dengar, banyak yang tidak tahu musti kemana membayar (masyaAllah) agar dia mendapat informasi.
Nah, apakah bakat di sini maksudnya adalah niat untuk berbuat di luar kendali agama? Wah, kalau seperti itu, aku yakin semua punya! Mari kita pasang wajah bengis, dalam setiap hati kita toh ada yang dinamakan hati baik dan hati jahat. Nafsu dan akal (atas kehendak manusia, akal menjadi makhluk suci, padahal sering juga muncul akal licik). Hmm.. mungkin ini ya yang namanya bakat?
Mau menelaah lebih jauh? Saya sih malas. Sangat pantas untuk dilabeli,”Gak bakat kaya!”.
vale, demi bakat.. halah.. demi kesehatan
El rony, bergabung ke arisan
NB: postingan ini intermezo saja, mau nulis soal Bush, tapi nanti-nanti saja.
Category: Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
November 21st, 2006 at 10:39 am
Kok makin ruwet toh, dab? Efek nggregesi?
Sesungguhnya kita semua itu kere, kita semua itu kaya. Semuanya sama. Kita kan diberi cukup.
Kalo tidak, namanya Tuhan tidak Maha Adil donk?
November 21st, 2006 at 10:45 am
Tuhan Maha Adil, contohnya kaki kiri paman saya pendek, maka kaki kanannya diberi panjang.
November 21st, 2006 at 11:14 am
mbarai mumet wae
November 21st, 2006 at 11:22 am
hipotesis sampeyan sbagliato! kaya itu bukan bakat, tapi gen
btw, nggak percaya? tanya anak-cucu Soeharto! *grin*
November 21st, 2006 at 1:31 pm
yang bisa mengendus-endus sumber kekayaan itu namanya paman gober bebek.
bakat kaya itu ya identik dengan takdir dari atas sana.
tapi bakat kaya itu bisa terwujud kalo ada usaha.
bukan begitu?
November 21st, 2006 at 2:13 pm
Saya punya kenalan bule justru ga tahan dingin dan anaknya malah mabukan kalo numpak mobil, kepiye iki hehe
November 21st, 2006 at 3:00 pm
Pake barang bermerk pun disangka palsu.. ini ga bakat kaya juga kali ya?
November 21st, 2006 at 3:04 pm
#hedi: lah bule kan blom tentu kaya
November 21st, 2006 at 3:18 pm
kalo gw sih bakat kaya..
*pede*
November 21st, 2006 at 3:26 pm
Eh kelupaan Ron, yang pasti kita ini –orang Indonesia– bakat pinter.
Coba ae, benpinter.com itu ada yg bikin. Tapi ga ada yg niat bikin bensugih.com.
Padahal beda pinter sama sugih itu kan jauh ya?
November 21st, 2006 at 4:46 pm
mungkin faktor muka juga mempengaruhi ron
yakin…. 68%
November 22nd, 2006 at 3:34 am
anu ron, sugih gak sugih lak gak penting. sing penting iku cukup
November 22nd, 2006 at 1:54 pm
ehh.. nek masalah sugih, tergantung awak dewe seh.
sakiki aku ngeroso sugeh meskipun ra nduwe mobil utowo pesawat mibur. tapi karena kabeh serba terpenuhi yoo anggep ae suggeh ron.
“liat kebawah, kamu pasti akan merasa kaya”
November 22nd, 2006 at 5:03 pm
saya ini mabukan kalo naik mobil, bahkan kereta api. masuk anginan kalo ditempat ber AC. gatel kalo pake dasi.
duh, kok lengkap men ra mbakat sugihe yo?
November 23rd, 2006 at 9:59 am
katanya bakat bisa berkembang bila didukung latihan yang tekun, maka mulai sekarang saya akan latihan jadi orang kaya, hahahaha
November 23rd, 2006 at 4:20 pm
Betulll… mergo sugih kuwi bakat, sing percoyo lek wong duweh sak kabeh e bakat, kari ngelatih bakat sugih kuwi supoyo iso metu lan menonjol. *boso opo iki jan* Carane latihan gampang kok… sering2 ar bagi2 duit nang konco2-ne. Nah… sing kulino njaluk-an duit, iku artine “mengasah” bakat kere. Ora apik kuwi. Ngono.
November 25th, 2006 at 9:51 pm
Pancen bener, tapi bukan masalah bakat thok, kalau di saya cukup genetik dari bentuk tulang.
Kok tulang? lha wong kalo makan steak jadi eneg disebutnya ‘wah balungmu balungan kere!’
Salam kenal
November 28th, 2006 at 11:31 pm
gak bakat kaya kalo dari AC (buset, nyerah deh di ruangan ber AC), tapi bakat kaya gak ya kalo inget alergi sama semua hal imitasi, musti mas asli booo
eh, ngomong2 gak kuat AC bisa bakat kaya, soalnya biasa di rumah gede suejuk di pegunungan kayak di vila vila gitu *halah*