
Apalagi? Sementara ini cukup kita sebutkan itu saja dahulu. Harga diri dan posisi tawar kita sama sekali tidak ada. Sebagai bangsa, kita tidak mendapatkan penghormatan dan penghargaan yang layak dari bangsa lain.
Sebut saja perlindungan atas Tenaga Kerja kita di luar negeri. Beberapa kali kasus penganiayaan muncul di media, dan kasus ini bukannya menghilang namun justru bertambah. Orang di luar negeri tidak takut menyakiti warga negara Indonesia, karena negara Indonesia sendiri tidak peduli atau tidak berani melindungi warganya. Dalam sebuah novel “Ayat-ayat Cinta” digambarkan tentang perilaku semena-mena yang didapati oleh warga kita di negeri Arab. Sebutan kaum indon, yang bahkan lekat dalam setiap baris iklan alat keamanan di negeri Malaysia, bisa juga dijadikan sebagai gambaran atas rendahnya penghargaan bangsa lain atas kita.
Dan Itu Masih Belum Cukup
Harga diri kita saat ini diinjak lebih dalam lagi. Saya kira semua sudah mendengar kabar akan datangnya Bush sang penghancur dunia ke negeri kita. Layaknya sekumpulan penguasa underbow negara jajahan, maka ketika sang penjajah datang, para penguasa dibikin sibuk olehnya.
Warga kita sendiri, para pengayuh becak, dilarang mengais rejeki bahkan semenjak jauh-jauh hari sebelum Bush datang. Rute angkot juga diubah demi lancarnya sang penjarah menikmati keindahan Bogor.
Dan layaknya seorang penguasa yang datang dari negeri jauh, Bush membawa 6 (!) kontainer yang –katanya– isinya rahasia. Ini sudah keterlaluan! Terus terang hal ini pula yang membawa saya pada kesimpulan akan rendahnya harga diri kita, kesimpulan pahit atas betapa lemahnya kita menghadapi bangsa lain.
Saya masih merasa maklum jikalau Bush datang membawa mobil sendiri dengan seabrek pengawal. Saya juga bisa maklum jika Bush membawa peralatan make up untuk menutupi mukanya yang –kalau tidak di-make-up– lebih menyerupai simpanse. Rasa sayang saya atas binatang simpanse membuat saya mendukung Bush untuk selalu memakai make-up, saya sungguh kasihan kalau harga diri para simpanse tercoreng hanya karena manusia rendah seperti Bush lupa memakai make-up, sehingga orang berkesimpulan bahwa presiden USA adalah simpanse.
Tapi tolong deh kawan, ini 6 (enam) kontainer! dan ditambah dengan embel-embel rahasia? Ya ampun!
Saya masih ingat ketika membantu teman-teman di air putih mengurus kiriman bantuan satu kontainer untuk kemanusiaan di Aceh. Bantuan itu terhambat di bea cukai, alasannya adalah peraturan dan ijin tetek bengek. Pada akhirnya barang yang dikirim tersebut urung diambil. Tidak bisa dikeluarkan dari kapal, belum lagi pajak atas ngendonnya kontainer di pelabuhan yang membuat miris siapa saja pekerja relawan yang mau mengambil barang itu.
Nampaknya bantuan untuk kemanusiaan, sebuah kebutuhan mendesak bagi warga sendiri yang sedang tertimpa musibah, posisinya tidaklah penting bagi para penguasa di negeri ini. Bantuan itu boleh (atau harus?) dibatalkan. Namun 6 (ya ampun saya masih selalu saja ngeri dengan kata enam ini) kontainer boleh, bebas dan terhormat untuk masuk ke negeri ini atas nama “tunduk patuh dan setia kepada Bush”.
Saya tidak peduli apa isi dari kontainer-kontainer itu, terus terang saya tidak mau tahu celana dalam Bush itu bergambar bunga-bunga atau bercorak polkadot ungu, saya tidak mau tahu! Silakan penuhi sepuluh kopor berisi barang rahasia itu, dan saya tidak merasa rugi ketika bangsa ini memperbolehkan. Tapi enam kontainer for god sake!?
Sekali lagi saya sampaikan, saya tidak peduli dengan barang rahasia apa yang dibawa oleh Bush. Tetapi mestinya kalau bangsa ini dihargai, Bush tidak akan berlaku semena-mena seperti itu. Saya jadi ingat ketika Clinton datang ke negeri kita. Dia “hanya” membawa mobil pribadi dari US sono. Eh sebentar, saya bukan mau membandingkan mereka berdua, tapi ini perkara rasional saja. Apa sih yang diinginkan Bush dengan ke-enam kontainer itu? Apa pula penyebab negeri ini jadi sedemikian rendah dan menjilat sehingga hal seperti itu terjadi?
Saya mencoba melihat beberapa poin yang bisa ditarik sebagai semacam kesimpulan atas kejadian ini:
Lha iya, dengan hal ini seakan Bush menunjukkan bahwa dia bisa melakukan apa saja di negeri kita ini. Jika saja 6 kontainer itu berisi bom, berapa kota bisa dihancurkan? Dan Bush bebas menentengnya kemana-mana di negeri ini.
Sebenarnya ini kesimpulan umum, tapi baiklah kita kaitkan saja dengan ini. Semua tahu bahwa saat ini USA sudah tidak punya “saingan”. Dialah pemenang mutlak atas perang dingin, sehingga jika kita menilik pola perebutan kekuasaan jaman baheula, maka USA sebagai pemenang berhak atas kekuasaan mutlak di seluruh dunia. Maka pemerintah kita, sebagai gelintir orang yang “dikaruniai kekuasaan” oleh sang penguasa mutlak, merasa perlu menjilat demi kelangsungan kekuasaan di wilayah kecil bernama Indonesia.
Diharapkan muncul satu reaksi anarkis yang pada ujungnya bisa dikaitkan dengan skema bad guy ala Bush, Al Qaeda. Dengan demikian cengkeraman Bush atas negeri ini bisa semakin kuat, dan nantinya dua atau tiga pulau di negeri ini harus direlakan untuk dijadikan pangkalan militer. Ya, sudah ada, tapi ini maksudnya nanti mo nambah lagi gitu.
Partai ini kalah bukan di pemilihan senator kemarin? Aha, jika skenario di atas terpenuhi, sudah pasti sifat alami bangsa tanpa budaya asli (yap, Amerika tidak memiliki sejarah asli, akibatnya mereka berusaha mengukir sejarah “asli” di tiap ceceran darah di muka bumi ini) akan segera mendukung Republik agar teroris (musuh besar nan mengerikan) yang mengancam keselamatan bangsa US (yoi, bangsa ini nih satu-satunya yang dimusuhi teroris, yang lain sih masih berteman.. yeah..rite) bisa dibumihanguskan. Dan nantinya sejarah USA sebagai polisi dunia bin penyelamat bumi bisa terbentuk.
Dari poin-poin di atas, manakah yang benar? Saya sih cenderung menilai semuanya sangat mungkin untuk disebut benar. Saya akan mencabut kesimpulan ini hanya dan hanya jika Bush datang ke negeri ini sebagaimana Che berkeliling Jawa hanya dengan motor roda dua.
Lantas apa yang harus kita lakukan? Saya tidak tahu. Yang saya tahu hanyalah, mengajak kepada siapa saja, agar menanamkan sifat percaya diri kepada keturunan kita. Merekalah kelak yang akan menanggung kebodohan yang dilakukan penguasa saat ini.
Vale, demi kemerdekaan..
El Rony, merokok kretek filter sambil mengingat ucapan Agus Salim,”Bau inilah yang membuat bangsa sampeyan menjajah negeri kami”
Category: Neolib, Semiotics, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
November 11th, 2006 at 4:03 pm
kamerad Ronceh sendiri mau nawarin apa ke Bush? jangan sekedar beretorika harga diri dan posisi tawar, kalo kamerad sendiri tidak punya sesuatu untuk ditawarkan…
itu artinya harga diri sudah tak punya pula…
November 11th, 2006 at 6:48 pm
Oh iya, inget cerita Agus Salim itu, saat break meeting mereka terganggu asap kretek yang dihisap seorang negarawan yang selalu berkain sarung.
November 12th, 2006 at 12:23 am
6 kontainer, rep kulakan memolo po yo
November 12th, 2006 at 12:38 am
ujung ujungnya duwet duwet duwet, pulus mennnnn
November 12th, 2006 at 5:53 am
sabar om sabar..
November 12th, 2006 at 4:03 pm
orang yg banyak hutang memang kehilangan harga diri. negara ini juga begitu.
Bayangkan, Anda punya hutang kepada seorang dari kota sebelah. Kemudian dia bilang mau datang ke rumah. kalau utang Anda setumpuk, pasti juga akan pasang senyum manis, menghiba2, dan (mungkin) menjilat2…
kasihan negeri ini…
November 12th, 2006 at 4:52 pm
Makanya, gw gak milih Bush waktu pemilu kemaren..
November 13th, 2006 at 8:43 am
di berita tadi pagi di tv7, lihat ujicoba pendaratan helikopter bush, pohon-pohon pada kabur dan teratai dan bunga-bunga pada berhamburan semua.padahal asli, itu semua tanaman langka. kok jadi berlebihan gini sih menyambut tamunya sampae merusak semua pohon !!!
November 13th, 2006 at 11:36 am
mengenaskan
November 13th, 2006 at 11:55 am
memang betapa menyedihkan bangsa ini,..dan saya tiba tiba merindukan sosok pemimpin yang bisa berkata TIDAK,..baca kolom Amin Rais di Kompas hari ini 13 Nov 2006, mengenai Evo Morales, pemimpin Bolivia,..mestinya pemimpin kita bisa seperti itu.
November 13th, 2006 at 1:40 pm
barter sama anaknya yang lagi dilibanon?
*menghilang*
November 13th, 2006 at 6:52 pm
Bush yang sudah kalah dan ditolak dimana-mana masih kita terima juga. sungguh mengenaskan.
Indonesia, negeri dengan cerita menyedihkan tak berkesudahan…
November 13th, 2006 at 9:15 pm
Ron.. ada info ndaptar jadi panitia kedatangan kontainernya ndak? mo ikut nih.. butuh duit nggo mbayar utang…. MARI KITA DUKUNG BUSH!!!! *duit.. duit.. duit.. ihirrr..*
November 13th, 2006 at 9:28 pm
bangbus(h) kan cuman mbawa 6 kontener, itu juga ada recordnya. masih kalah sama penyelundup tho….. masukin barang sekian banyak tapi ndak ada recordnya, dan tentu saja pajeknya
:D
tapi si bangbus(h) ini kok kayaknya takut banget yaaaa…. beda sama anak buahnya, dubes amrik pas hadir di acara malem renungan hari lupus di TIM beberapa waktu lalu ndak petantang petenteng bawa centeng sekompi
November 14th, 2006 at 2:39 am
gak peduli kok sampe bikin posting khusus begini?
November 14th, 2006 at 7:06 pm
percayalah bahwa agenda yg mau di bicarakan bush sangat “berisi” utk kebaikan indonesia ( maunya!!), hehehheh
selagi kita masih tergantung kpd negeri Paman sam ( blm bisa mandiri)jadi kita tunggu saja bush mo tawarkan apa ke kita.
November 14th, 2006 at 9:54 pm
Ah, SBY nggak pernah nge-blog sih…
November 17th, 2006 at 10:37 am
jadi makin jelas, seberapa tinggi harga diri bangsa kita di mata internasional, yak, Oom?
November 17th, 2006 at 10:55 am
Bandingkan dengan kedatangan presiden Iran kemarin. Ahmadinejad gak perlu pengawalan segala, malah bisa dialog sama mahasiswa UI. Bush Way seperti Bus way pengen spesial hehehe.
November 18th, 2006 at 12:40 am
udah speechless deh kalau bicara harga diri bangsa ini…sungguh betapa tidak menarik menjadi bangsa ini..
November 19th, 2006 at 7:46 pm
ke bogor yuk mas, sapa tau bisa photo bareng bush
=)
December 16th, 2007 at 10:50 am
Nampaknya anda tidak lebih baik dari bush. Dari kata-kata maupun tata bahasa anda penuh dengan dendam. rasanya jika anda yang menjadi presiden US tak akan beda toh. Anda orang yang penuh Kebencian.. Munafik