
Waktu menunjukkan pukul 21:30 WIB. Saya sedang menyelesaikan beberapa pekerjaan lemburan, karena sebentar lagi saya harus ronda. Dan tiba-tiba telfon berdering. Sebuah nomer HP yang tidak kukenal terpampang, dan kemudian dialogpun tercipta.
“Hallo?! Bisa bicara dengan Bapak Rony?”, demikian suara dari seberang menyapa. Akupun langsung menjawab,”Saya sendiri, maaf ini siapa ya? Ada yang bisa saya bantu?”. Sebuah gaya formal standar sambil berharap akan dapat rejeki.
Ewin-Guevara: “Woy Ron, ini Ewin ini” - sebuah logat khas Sulawesi.
Saya: “wogh, hai hai hai.. Ewin gimana kabarmu? Sedang dimana ini?”
Ewin-Guevara: “Saya sedang di Jakarta ini” - sambil terkekeh khas
Saya: “Weh, di Jakarta terus sekarang hei?” - logat Indonesia timur bercampur Jawa muncul dari mulutku.
Beberapa bulan tinggal di Maluku, membekaskan logat Indonesia timur di lidahku, sehingga ketika bertemu dengan kawan-kawan dari daerah sana, lidahku otomatis mengikuti pola pelafalan bahasanya.
Ewin-Guevara: “Ini, sedang bareng teman-teman petani” - masih terkekeh
Saya: “Ha? Sejak kapan di Jakarta ada petani? Menanam beton kah?” - ganti saya yang tertawa
Ewin-Guevara: “Ah bukan lah. Biasa, ini teman-teman petani dari Palu ada masalah, penyelesaiannya harus di pusat” - masih juga terkekeh, Ewin memang orangnya ramah
Saya: “hmm.. “
dan perbincangan berlanjut ke berbagai hal lain
Pusat-Daerah
Dari perbincangan itu aku kembali tersadar, di negeri ini sama sekali belum ada perubahan. Semuanya masih serba terpusat. Bahkan petani dari pelosok Sulawesi, harus berbondong-bondong ke Jakarta demi menyelesaikan masalah mereka. Mengapa penyelesaian masalah itu tidak bisa diselesaikan di desa mereka saja? Kalaupun semuanya terpusat, apa salahnya wakil rakyat yang datang mendekat?
Lantas saya teringat hal yang lain lagi, ketika seorang teman dari Papua datang ke Jakarta. Teman saya tampak berjalan sambil memandang (seakan menikmati) gedung-gedung tinggi, mobil-mobil bagus, jalanan aspal, megahnya mall, dan segala hal di ibu kota tersebut. Orang berfikir bahwa dia semacam rusa masuk kota, cingak atau ndeso. Namun ketika ditanya oleh teman lain, dia menjawab,”Oh saya sedang menikmati. Yang bagus-bagus di sini ini kan, duitnya dari Papua”.
Jadi, memang segala hal terpusat. Lalu saya teringat hal lain lagi, ketika muncul diskursus mengenai pusat pemerintahan dan pusat perekonomian. Diskursus ini cukup lama juga, paling ingat ya ketika jaman-jaman peralihan dari Orde Baru ke Orde Lebih Baru. Lontaran bahwa Jakarta cukup jadi pusat bisnis/ekonomi, sedangkan pusat pemerintahan dipindahkan ke tempat lain menguat waktu-waktu itu. Seperti halnya Sidney dengan Canberra, ataupun New York dengan Washington DC, ataupun UGM dengan Kraton Yogyakarta (UGM memang pusat bisnis kok, dan dia di Sleman bukan di kodya
).
Ingatan-ingatan ini sebenarnya tidak membantu apapun. Yang terjadi justru saya semakin terperosok semakin jauh, semakin tidak paham dengan bagaimana negara ini ditata.
Bagaimana menurut Anda? Dikotomi pusat-daerah ini sebaiknya digimanakan ya? Pusing saya
Vale, demi pertanyaan..eh..kesehatan
El Rony, mengambil teka-teki silang
Category: Culture, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
October 13th, 2006 at 12:44 pm
untung saya ada di pusat…tidak seperti kawan Rony yg ada di daerah…
HIDUP PUSAT…!!!
October 13th, 2006 at 2:03 pm
saya sekarang dijakarta, tapi malah lebih pusing melihat perkelahian kepentingan sangat kasat mata.
trus mau digimanakan dikotomi pusat-daerah? mbuh!
October 13th, 2006 at 3:25 pm
otonomi daerah yang setengah hati. mungkin itu jawaban yang paling tepat mas rony
October 13th, 2006 at 7:49 pm
Ooom Roy™ aja tinggal di daerah.
October 13th, 2006 at 9:39 pm
Daerah maunya punya otonomi, tapi begitu ada masalah di daerahnya, justru pusat yang disuruh ngatasi. Ga tahu di mana yang salah, entah pusat atau daerah.
October 16th, 2006 at 2:11 am
setuju sama komentar mas Cahyo. Mungkin lebih baik pusat pemerintahan dipindahkan ke Papua aja kali ya, biar mereka pada sadar
October 17th, 2006 at 1:21 pm
aye juga bingung.. jabotabek sudah mengalami obesitas.. makin macettt.. gitu kok jakarta mau dijadikan megapolitan. trus orangnya jadi megaloman?!
February 11th, 2007 at 4:48 pm
kalian mau tau,cuman satu kata aza yang bisa,mengatur apa itu ( K E B E B A S A N )…
May 23rd, 2008 at 12:51 am
halo kax ipar lagi ngapaian ni?
kax saya yang nama steven tatogo
kuliah di jakarta
May 22nd, 2009 at 9:02 pm
ga penting banget
yang penting EMO AJA
September 7th, 2009 at 10:13 am
ah ulo,tau mu cuman EMO,azza …apa sih emo…ga jelas….