Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Kawan Lama, Kisah Lama

Print This Post   Email This Post

Waktu menunjukkan pukul 21:30 WIB. Saya sedang menyelesaikan beberapa pekerjaan lemburan, karena sebentar lagi saya harus ronda. Dan tiba-tiba telfon berdering. Sebuah nomer HP yang tidak kukenal terpampang, dan kemudian dialogpun tercipta.

“Hallo?! Bisa bicara dengan Bapak Rony?”, demikian suara dari seberang menyapa. Akupun langsung menjawab,”Saya sendiri, maaf ini siapa ya? Ada yang bisa saya bantu?”. Sebuah gaya formal standar sambil berharap akan dapat rejeki. :)

Ewin-Guevara: “Woy Ron, ini Ewin ini” - sebuah logat khas Sulawesi.

Saya: “wogh, hai hai hai.. Ewin gimana kabarmu? Sedang dimana ini?”

Ewin-Guevara: “Saya sedang di Jakarta ini” - sambil terkekeh khas

Saya: “Weh, di Jakarta terus sekarang hei?” - logat Indonesia timur bercampur Jawa muncul dari mulutku. :)

Beberapa bulan tinggal di Maluku, membekaskan logat Indonesia timur di lidahku, sehingga ketika bertemu dengan kawan-kawan dari daerah sana, lidahku otomatis mengikuti pola pelafalan bahasanya.

Ewin-Guevara: “Ini, sedang bareng teman-teman petani” - masih terkekeh

Saya: “Ha? Sejak kapan di Jakarta ada petani? Menanam beton kah?” - ganti saya yang tertawa

Ewin-Guevara: “Ah bukan lah. Biasa, ini teman-teman petani dari Palu ada masalah, penyelesaiannya harus di pusat” - masih juga terkekeh, Ewin memang orangnya ramah

Saya: “hmm.. “

dan perbincangan berlanjut ke berbagai hal lain

Pusat-Daerah

Dari perbincangan itu aku kembali tersadar, di negeri ini sama sekali belum ada perubahan. Semuanya masih serba terpusat. Bahkan petani dari pelosok Sulawesi, harus berbondong-bondong ke Jakarta demi menyelesaikan masalah mereka. Mengapa penyelesaian masalah itu tidak bisa diselesaikan di desa mereka saja? Kalaupun semuanya terpusat, apa salahnya wakil rakyat yang datang mendekat?

Lantas saya teringat hal yang lain lagi, ketika seorang teman dari Papua datang ke Jakarta. Teman saya tampak berjalan sambil memandang (seakan menikmati) gedung-gedung tinggi, mobil-mobil bagus, jalanan aspal, megahnya mall, dan segala hal di ibu kota tersebut. Orang berfikir bahwa dia semacam rusa masuk kota, cingak atau ndeso. Namun ketika ditanya oleh teman lain, dia menjawab,”Oh saya sedang menikmati. Yang bagus-bagus di sini ini kan, duitnya dari Papua”.

Jadi, memang segala hal terpusat. Lalu saya teringat hal lain lagi, ketika muncul diskursus mengenai pusat pemerintahan dan pusat perekonomian. Diskursus ini cukup lama juga, paling ingat ya ketika jaman-jaman peralihan dari Orde Baru ke Orde Lebih Baru. Lontaran bahwa Jakarta cukup jadi pusat bisnis/ekonomi, sedangkan pusat pemerintahan dipindahkan ke tempat lain menguat waktu-waktu itu. Seperti halnya Sidney dengan Canberra, ataupun New York dengan Washington DC, ataupun UGM dengan Kraton Yogyakarta (UGM memang pusat bisnis kok, dan dia di Sleman bukan di kodya :) ).

Ingatan-ingatan ini sebenarnya tidak membantu apapun. Yang terjadi justru saya semakin terperosok semakin jauh, semakin tidak paham dengan bagaimana negara ini ditata.

Bagaimana menurut Anda? Dikotomi pusat-daerah ini sebaiknya digimanakan ya? Pusing saya

Vale, demi pertanyaan..eh..kesehatan

El Rony, mengambil teka-teki silang

Category: Culture, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback

9 Responses to “Kawan Lama, Kisah Lama”

  1. Junkerz side B Says:

    untung saya ada di pusat…tidak seperti kawan Rony yg ada di daerah…

    HIDUP PUSAT…!!!

  2. Bangsari Says:

    saya sekarang dijakarta, tapi malah lebih pusing melihat perkelahian kepentingan sangat kasat mata.

    trus mau digimanakan dikotomi pusat-daerah? mbuh!

  3. cahyo Says:

    otonomi daerah yang setengah hati. mungkin itu jawaban yang paling tepat mas rony ;-)

  4. sridewa Says:

    Ooom Roy™ aja tinggal di daerah.

  5. Hedi Says:

    Daerah maunya punya otonomi, tapi begitu ada masalah di daerahnya, justru pusat yang disuruh ngatasi. Ga tahu di mana yang salah, entah pusat atau daerah.

  6. gagahput3ra Says:

    setuju sama komentar mas Cahyo. Mungkin lebih baik pusat pemerintahan dipindahkan ke Papua aja kali ya, biar mereka pada sadar :D

  7. mpokb Says:

    aye juga bingung.. jabotabek sudah mengalami obesitas.. makin macettt.. gitu kok jakarta mau dijadikan megapolitan. trus orangnya jadi megaloman?! :P

  8. ronny muyapa ( nabire Says:

    kalian mau tau,cuman satu kata aza yang bisa,mengatur apa itu ( K E B E B A S A N )…

  9. steven tatogo Says:

    halo kax ipar lagi ngapaian ni?
    kax saya yang nama steven tatogo
    kuliah di jakarta

Leave a Reply