Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Selamat Pagi Pak Artidjo!

Print This Post   Email This Post

Sudah lama sekali kita tidak saling berjumpa ya pak, bagaimana kabarnya? Saya yang sudah semakin jauh dan terjarak dari bapak, hanya bisa mengamati dari luar dengan disertai do’a agar bapak senantiasa sehat dan teguh pendirian.

Sudah lama juga ya pak, terakhir kita berada dalam satu atap, bekerja bersama merintis sebuah lembaga HAM di Yogyakarta. Waktu itu, saya ingat, bapak masih aktif mengumpulkan berbagai renik berkait kasus Soeharto. Dari bapak pula saya mendapat pelajaran yang berharga. Bapak membeli buku Soeharto, dan mengajari saya bahwa dari buku tersebut Soeharto mengakui dirinya sebagai dalang sekaligus makhluk penghisap darah berkait kasus Petrus (penembak misterius). Kasus yang di desa saya dikenal sebagai Garnisun, nama kelompok militer yang datang ke desa seiring kejadian petrus.

Bagaimana ya pak dengan kasus Soeharto itu? Saya sendiri merasa sedih dan sangat prihatin atas kondisi Pak Artidjo di kantor bapak yang sekarang. Waktu itu saya masih menaruh harapan akan nama-nama besar seperti Bagir Manan dan sebagainya, namun ternyata semuanya sampah saja. Bapak benar-benar sendirian, apalagi setelah Tommy membunuh salah satu jaksa yang layak dipercaya. Oh ya, dan Tommy mendapat grasi. Sungguh miris saya pak.

Mutiara di Tempat Busuk

Demikianlah anggapan saya terhadap bapak. Tidak pernah berkurang sedikitpun. Saya ingat bagaimana bapak yang Hakim Agung, hanya tinggal di sebuah bilik kost. Hakim Agung yang tempat tinggalnya bahkan jauuuuhh lebih sederhana dibandingkan bilik kost seorang programmer pemula di Jakarta.

Bapak yang memutuskan berangkat kerja dengan naik bis, sejak awal sepertinya sudah tidak diberi tempat oleh kantor tempat bapak sekarang berada. Bahkan satpam-pun berani mengusir bapak waktu itu. Satpam gedung tempat bapak bekerja, tidak percaya bahwa seorang hakim agung hanya naik bis dengan segala atribut super sederhana. Oh ya, mumpung ingat, bagaimana pula kabar pak satpam itu pak? Tentu dia lebih kaya dari bapak.

Gedung busuk itu, gambaran yang saya tangkap secara samar, melalui cerita-cerita yang juga sangat penuh dengan model siratan, mencoba untuk mengungkung bapak. Hati-hati pak, jubah besar bapak menyapu lantai, lantai gedung itu kotor dan busuk. Hati-hati pak, nafas bapak menghirup udara gedung itu, udara gedung itu kotor dan busuk. Demikian hati saya selalu berdo’a dan berharap agar bapak bisa tetap tegar di sana.

Lantas kemarin saya mendengar disenting oppinion dari Anda. Hati saya bersorak. Anda tetap murni. Di saat semua orang berpesta di atas daging dan darah Munir, di saat semua orang berbagi champagne merayakan kebebasan Tommy, di saat semua orang memelintir kumis atas keberhasilannya mengelabui rakyat, Anda tetap tegar, tetap kokoh.

Ancaman atas diri bapak tentu semakin banyak. Saya, jauh dari Yogya, membantu do’a sepenuh jiwa atas keselamatan diri bapak, atas keteguhan iman bapak dan berdo’a mengiringi tiap tapak langkah perjuangan bapak.

Pelajaran Lagi, Sungguh Saya Beruntung

Sungguh pak, saya sangat beruntung mengenal bapak. Seluruh rakyat Indonesia, semestinya, beruntung telah memiliki seseorang seperti Bapak. Yang tidak silau oleh harta, tidak gentar oleh ancaman. Dan kali ini bapak memberikan satu pelajaran penting dalam dunia hukum.

Ungkapan bapak tentang “petunjuk” dan “akibat”, memberikan inspirasi bagi kami yang di lapangan. Memang, hal itu mungkin tidak akan memberikan manfaat secara nyata, bagaimanapun juga bisa dipastikan bahwa tiap kasus besar pasti akan berujung “aneh” ketika sudah menyentuh mimbar MA. Selama Bagir Manan dan orang sejenisnya masih di sana, juga selama kekuasaan korup masih membelenggu, tentu sulit untuk berjuang. Tapi inspirasi tersebut, insyaAllah, bisa menjadi pendorong bagi gerakan baru.

Mungkin bagi orang hukum hal tersebut sudah tidak asing lagi, tapi bagi orang yang tidak mendalami dunia hukum, hal itu tentu saja baru.

Sekilas Polycarpus

Polycarpus yang didakwa dua tahun penjara — tadinya tuntutan jaksa 14 tahun — menurut hakim lain sudah layak. Atas nama tidak adanya bukti, dalam hal ini bukti otentik dan saksi yang melihat, mendengar dan sebagainya. Dalih yang sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia. Namun nyata bahwa dalih itu rekayasa. Sungguh kerdil dan hina kepolisian kita yang bahkan sampai sekarang tidak bisa mengungkap bukti dan saksi, padahal luas pesawat tidak seberapa, padahal catatan atas setiap kejadian dari mulai pesawat di isi bahan bakar hingga pulang lagi ke kandang selalu lengkap, padahal — kalo gak salah alias seolah-olah demikian yang terlihat — SBY sudah memerintahkan kepolisian untuk mengusut tuntas. Sungguh kerdil dan hina, kepolisian kita justru berdalih,”kesulitan mengolah TKP”.

Di sini rupanya, di saat seperti ini ternyata, sebuah cara analisa atas kasus yang sudah direkayasa oleh para ahli mengakali hukum bisa dimunculkan. Hanya karena seorang Artidjo selalu sendirian, hanya karena pilihan seperti yang dilakukan oleh bapak tidak menjanjikan kekayaan, maka suara bapak kalah.

Bagaimanapun juga ada sebuah akibat yang nyata, Munir meninggal dengan hasil outopsi diakibatkan oleh racun. Ada petunjuk hal-hal yang di luar prosedur menyangkut soal penjahat bernama Polycarpus. Maka tidak bisa dikatakan bahwa Polycarpus tidak terlibat. Pasti dia ada dalam skema besar konspirasi pembunuhan Munir.

Dan saya juga belajar dari cara analisa bapak, tentang akibat dan petunjuk. Maaf sedikit melenceng. Akibatnya adalah Polycarpus sebentar lagi bebas. Petunjuknya? Pengacara dia adalah Assegaf. Siapa sih Assegaf? Raja kuis? Dulu jaman TVRI memang iya, tapi dia adalah pengacara handal dengan bayaran super mahal. Dia pula yang menjadi pengacara langganan keluarga Cendana. Jadi, seberapa kayakah seorang supir pesawat Garuda? Kebetulan paman-ipar saya pernah menjabat sebagai komisaris Garuda, kurang lebih saya bisa meraba seberapa besar gaji supir pesawat di sana. Supir pesawat tidak akan mampu menyewa pengacara sekelas Assegaf. Kesimpulan saya, konspirasi ini memang melibatkan Polycarpus.

Waduh, saya semakin emosional, tulisan semakin kemana-mana, maaf. Intinya saya senang dan lega bahwa bapak baik-baik saja, bahwa bapak masih tetap tegas.

Vale, demi kesehatan

El rony, ingin merasakan lagi obrolan panjang dengan pak Artidjo.

NB Semoga bapak selalu sehat, berada dalam lindungan-Nya, dan selalu mendapat karunia keteguhan Iman. Amien.

Category: Yogyakarta, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback

7 Responses to “Selamat Pagi Pak Artidjo!”

  1. cahyo Says:

    hmmmm…sejak di jogja dulu, saya juga pengagum pak artidjo mas rony. saya amati, sepak terjang pak artidjo ini konsisten dan terkesan tidak takut berbeda, gitu. termasuk dissenting opinion tentang kasus cak munir itu. bravo buat pak artidjo !

  2. isdah Says:

    dunia itu… panggung sandiwara… :D

  3. windede Says:

    salam buat pak artidjo….

  4. gagahput3ra Says:

    sedih bacanya….

  5. Bangsari Says:

    rasanya hukum tidak pernah benar-benar diterapkan di indonesia. ungkapan “hukum seharusnya mengatasi kemanusiaan” hanya ada di dalam buku. jadi, untuk apa kita bernegara kalo tidak ada hukum?

  6. Ahmad Says:

    Salut untuk Pak Artidjo!

    Semoga selalu sehat untuk memayungi kami yang ditimpa hujan batu penistaan.

  7. maya_fh_unpad Says:

    semua yg ditulis oleh saudara rony adalah sebuah fakta yang sayangnya tidak disadari oleh kebanyakan orang di negeri ini… sosok seorang pak artidjo, hakim agung yang seharusnya menjadi panutan setiap orang yang masih bermoral seringkali hanya dianggap duri dalam daging oleh kaum elit politik yang haus akan kekayaan.
    sungguh teramat disayangkan, dinegara yang telah merdeka selama 61 tahun ini hukum masih menjadi komoditi untuk diperjualbelikan…
    untuk pak artidjo, maju terus pantang mundur semoga Tuhan selalu melindungi setiap langkah yang anda tempuh..

Leave a Reply