
Sebuah dunia yang asyik, sebuah dunia yang selalu saja membuahkan rindu. Seakan ingin kita kembali meringkuk, dalam belaian ibu, dalam lindungan sepenuhnya. Mungkin masa kecil Anda tidaklah seindah ini, masa kecil saya juga tidak hanya satu warna, tapi dunia anak kecil tetap saja dunia anak kecil, selalu menarik.
Dunia ketika kita tidak pusing dengan apa yang akan dikatakan orang atas sikap kita, dunia ketika kita bisa dengan bebas meminta maaf, dunia ketika kita melihat segalanya sebagai aksi-reaksi langsung, tidak ada konspirasi, tidak ada dendam. Itulah dunia anak kecil. Indah bukan?
Lantas kenapa saya menuliskan ini? Di minggu pertama Ramadhan pula? Ah tidak ada hubungannya dengan Ramadhan, atau mungkin ada juga, intinya jangan ada dendam. Hehe, saya menipu, alasan sebenarnya adalah dua buah cerita anak kecil yang menggelitik, yang membawa angan saya ke masa-masa ini. Mereka adalah Amar dan Rahim.
Kisah Amar
Sang ayah barusan pulang dari bekerja, kondisinya sangat lelah sehingga yang dibayangkan hanyalah tempat tidur. Namun sang anak rupanya menunggu, untuk melontarkan tanya, maka terjadilah percakapan berikut
Amar, “Ayah, kapan Superman mati yah?”
“Wah kamu kok tanyanya aneh-aneh? Sudah tidur saja” tukas sang ayah yang kecapekan.
Namun Amar merasa pertanyaan ini sangat urgent, apalagi dia belum menyampaikan alasannya, maka diapun kembali bertanya,”Ayah, kapan Superman mati yah? Amar mau gantiin“
Kisah Rahim
Di sekolahnya, salah seorang guru sedang hamil muda, hamil bulan pertama. Semua murid tahu bahwa sang guru sedang hamil, termasuk Rahim. Tapi bagi Rahim sepertinya aneh, kenapa tidak kelihatan? Maka diapun bertanya
“Mana? Nggak kelihatan! Mana hamilnya?” Rahim bertanya sambil menelengkan kepala ke kiri dan ke kanan memelototi perut sang guru.
Gurunya yang ramah tersenyum dan menjawab,”Belum kelihatan Rahim, inikan baru satu bulan, masih kecil”.
“Oooohh.. itu namanya masih SEL” Rahim menjawab cepat dan terpuaskan dengan kesimpulannya sendiri.
Gimana kawan? Asyik bukan dunia mereka? Menurutku asyik, dan aku ingin menyurukkan kepalaku sejenak di sana.
Vale, demi kesehatan
El rony, berusaha menyelesaikan ramadhan tanpa dendam
NB: Bila Anda merasa postingan kali ini tidak ada isinya, maaf saja, anggap saja ini adalah kolom Sungguh-Sungguh Terjadi.
Category: Yogyakarta, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
September 27th, 2006 at 11:55 am
iki crito tentang romantisme masa lalu, gitu mas rony ?
September 27th, 2006 at 12:02 pm
saya jadi merindukan masa-masa kecil nih. masa yang semuanya sederhana…
September 27th, 2006 at 12:50 pm
jadi pingin manjat pohon kersen lagi euy… sekarang sudah gak mungkin..
September 27th, 2006 at 2:11 pm
hmmm ingat buku toto chan dan kepala sekolah bijak yang sabar mendengar coleteh seorang anak selama 4 jam!
September 27th, 2006 at 9:11 pm
aku pingin main bola sambil mandi hujan lagiiii
September 28th, 2006 at 10:14 am
yang membedakan kita yang bangkotan ini dgn anak-anak adalah beban hidup. Tapi kalo kita merasa tak terbebani dgn hal-hal di sekitar kita, maka kita akan awet “kecil” meski sudah uzur.
September 28th, 2006 at 10:18 am
ini kepengen punya anak kecil yak?
udaaaah… BIKIIIIN……..!!!
October 1st, 2006 at 11:03 am
Jenis-jenis Dunia.
Dunia dalam berita
Dunia Anak
Dunia Satwa
October 2nd, 2006 at 3:17 pm
bener kata didats, cepet bikin
October 3rd, 2006 at 6:21 am
hmm…….
November 27th, 2006 at 11:19 am
it’s so sweet!!!
November 28th, 2006 at 10:37 am
Pada saat anak mengajukan pertanyaan dan jawaban menarik, memang menggembirakan hati. Tapi pada saat anak minta sesuatu yang harus ada pada saat itu juga, sementara keterlambatan jam kerja sudah tak bisa ditolerir lagi…….harus banyak minum air putih supaya kemarahan tak meluap-luap. Setelah itu, terduduk lemas di tempat kerja karena terlambat dan harus menata hati-pikiran. “Gusti…paringana sabar…”
November 28th, 2006 at 11:30 am
wah.. bapaknya hadir :”>
halo mas indro, nyuwun ngapunten, crita anak panjenengan tak sebar-sebar. hihih..
yang jelas, saya merasa perlu banyak belajar, dari para orang tua yang sudah berpengalaman.