
Sudah terlalu lama saya tidak menuliskan komunike. Ah, jadi kepingin nulis lagi. Kebetulan tadi malam saya baru dapat cerita bagus, tepat sebelum saya mimpi.
Di suatu hari yang terik, di sebuah kota lama yang masih menyisakan riak gelombang sungai dan beberapa bayang rindang pepohonan, seorang kakek tua tidur di bawah salah satu naungannya. Di sebelah kirinya tergeletak alat pancing, sementara di samping alat pancing tersebut terdapat dua ekor ikan yang agak besar. Kakek itu tidur dengan tenang dan damai, rindangnya pohon dan angin terik yang sudah disejukkan oleh merdu gesekan daun, menambah suasana damai di sekitarnya.
Selang beberapa saat tampak seorang pengelana, nampaknya dia seorang pedagang atau semacam itu. Demi melihat kakek yang sedang tertidur itu, dia nampak kasihan. Kondisi baju seadanya, dengan alas tanah dan dua ekor ikan tergeletak di atas lembaran daun, adalah potret yang layak mendapat predikat kasihan bagi siapa saja yang pernah mengecap dunia modern.
Setelah termangu sejenak, sang pengelana tersebut akhirnya membangunkan si kakek. Si kakek tidak marah, tampaknya dia sudah puas dengan tidurnya. Lantas terjadilah sebuah perbincangan antara si pengelana dengan si kakek.
“Kek, kenapa kamu malah tidur? Kenapa tidak kamu ke sungai dan memancing lagi?” Tanya si pengelana. Si kakek menjawab,”Buat apa nak? Dua ekor sudah cukup untuk makan hari ini”. “Kalau ikan yang kakek tangkap banyak, kakek bisa menjual sisanya” lanjut si pengelana. Si kakek makin tampak kebingunan, kalimat tanya yang sama muncul lagi,”Untuk apa?”. “Agar kakek bisa membeli jala kek. Dengan jala, tentu ikan yang kakek tangkap bisa lebih banyak lagi bukan?” sang pengelana dengan sabar menjabarkan teorinya.
“Aku makan sehari cukup dengan dua ekor ikan nak, buat apa ikan banyak-banyak?” Si kakek masih tampak tidak mengerti. Sang pengelana kemudian menerangkan,”Kalau ikannya banyak, kakek bisa menjual lagi, nanti kakek bisa membeli motor kek, membeli mobil bahkan”. “Mobil untuk apa nak?” “Biar bisa kemana-mana kek. Sesudah itu kakek bisa membeli perahu” “Buat apa pula perahu?”
Sang pengelana tampak masih sabar, dia meneruskan,”dengan perahu kakek bisa menjala lebih banyak lagi ikan sampai ke tengah laut” “Dua ekor cukup untuk saya makan hari ini nak, mengapa harus sampai ke tengah laut?” Si kakek masih tampak bingung. “Nanti kakek bisa kaya, jadi nanti kakek bisa punya pekerja” sahut si pengelana lagi. “Lantas?” si kakek mendengarkan. “Ya, kalau sudah punya pekerja, kakek bisa santai. Bisa tenang. Kakek tinggal menggaji mereka sementara kakek bisa santai, relax, minum-minuman enak, menikmati indahnya hari di bawah pohon rindang” lanjut sang pengelana bersemangat.
Lantas si kakek dengan lugu menjawab,”Sampeyan pikir saya tadi sedang apa?”
Cacat Bawaan Globalisasi Neolib
Demikianlah kurang lebih. Pandangan atas kemiskinan adalah satu hal. Orang yang mandiri, yang memproduksi sendiri bahan pangannya, justru dianggap miskin. Generasi modern tidak lagi mau berkecimpung dengan lumpur, tentu saja termasuk saya. Sudah terlalu canggung, mungkin itu alasan kita.
Waktu luang yang dihabiskan oleh para buruh rendah demi mempertahankan hidup, sebenarnya adalah barang mewah bagi para orang kaya. Lantas sebenarnya siapa yang miskin? Kalau kita bisa santai di bawah pohon, buat apa kita mengejar nafsu yang tak pernah berujung?
Mari kita tanyakan kepada para sipir penjara, ada berapa banyak penghuni di LP mereka. Setelah itu mari kita tanyakan pada pegawai BPS, apakah para narapidana itu masuk dalam diagram kaya-miskin? Di mana mereka? Pengangguran? Atau hanyalah entitas tak jelas yang layak dipandang hina dan kemudian dicampakkan dari wilayah sosial?
Lebih jauh lagi, mari kita lihat bagi mereka yang dicap sebagai kromo kiwo. Bagaimana pula mereka bisa bertahan hidup hingga sekarang? Sementara bangsa ini sudah terlanjur menganggap mereka sebagai sampah bahkan semenjak mereka masih berbentuk sel telur dan sperma. Mereka ini orang-orang tanpa identitas, orang-orang yang tidak masuk dalam laporan statistik kenegaraan tentang meningkat atau tidaknya taraf hidup.
Jadi sebenarnya apa yang diajarkan oleh globalisasi ala neolib ini? Sebuah langkah mudah berjualan negara dengan memperbaiki portofolio? Sehingga kemudian perlu membungkus sampah dengan kertas kado, memoles perkampungan kumuh dengan baliho, ataupun mengurangi jumlah penduduk miskin dengan cara menghilangkan mereka dari angka-angka? Mungkin itu yang sudah kita pelajari.
Dan kini, saya menjadi sangat merindukan suasana yang dialami oleh kakek tadi. Bagaimanakah caranya?
Vale, demi kesehatan
El rony, sudah lupa
NB
curhat-curhat-kuku: saat ini saya seperti seekor kucing kelaparan yang tiba-tiba ditugasi menjaga dendeng yang masih wangi. Ya, Mas Yudhis memberikan amanah kepada saya untuk saya sampaikan kepada warga Pundong. Berat. Tadinya saya mau mengelak, terus terang saja, saya memilih hanya menyampaikan kontak saja. Namun, ya sudah, kalau memang dengan adanya saya proses reporting dan evaluasi bisa lebih baik, saya akan lakukan. Mohon doa teman-teman agar kucing kelaparan ini tidak memakan dendeng yang bukan haknya.
NB lagi
SD Muh. Kalinampu 2 yang kemarin saya datangi, ternyata pada hari Sabtu 16 September 2006 mendapat bencana. Angin kencang merubuhkan bangunan sementara (yang sebenarnya sudah dirancang anti gempa), sehingga anak-anak menjadi korban. 9 anak luka-luka, 1 anak luka berat dan perlu dijahit. Ya Allah, apa sebenarnya yang hendak Engkau sampaikan?
Category: Neolib, Yogyakarta, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
September 19th, 2006 at 1:11 pm
hmmm…
September 19th, 2006 at 1:19 pm
hmmm… juga :p
September 19th, 2006 at 2:12 pm
kira-kira, masih boleh nitip juga ga mas? hehehehe…
September 19th, 2006 at 3:25 pm
intinya sikap qona’ah?
jadi ingat lirik dari lagu iwan fals “keinginan adalah sumber penderitaan”.
mudah2an anak2 SD Muh. Kalinampu 2 cepet sembuh baik fisik maupun dari segi psikologis.
ron, terus berjuang yah…
September 19th, 2006 at 5:32 pm
ketakutan tidak kaya dan tidak bahagian atau sejenisnya kok mengglobal banget ya?
September 20th, 2006 at 10:29 am
oh ini udah era gombalisasi yah?
*mencari pohon yang sudah jarang ada untuk tidur*
dan,
salam untuk anak2 sd muh. kalinampu 2
biar cepat sembuh dari segala luka dan tetap semangat!
September 20th, 2006 at 10:37 am
filosofi tawakalnya burung, pagi berangkat perut kosong, sore pulang kenyang, gak menimbun cadangan makan. buat makan besok, ya nyarinya besok..
menungso (menus ngongso) buat tujuh turunan sudah dicadangkan…
September 20th, 2006 at 12:34 pm
jadi beli ORI? :p
September 20th, 2006 at 1:45 pm
blom bisa berpikiran seperti kakek itu, secara saya masih imut imut
September 20th, 2006 at 4:58 pm
I named it the fallacy of globalization.
Globalization probably is a mistake. They speed up our lives, give us better technology, but all we do is just stress ourselves out. Practically, we only live to work. We never feel so free, had so much time, and enjoy live itself.
September 21st, 2006 at 7:51 am
pusing …
September 21st, 2006 at 8:42 am
lha mas roni gimana sih. uang memang bukan segalanya, tapi segalanya juga perlu uang
:D
ndik kuto, nguyuh ae kudu mbayar cak, gak iso langsung nyincing sarung ndik ngisore wit
September 21st, 2006 at 11:17 am
#Nofie:
Thanks for your comment. I agree with you. Technology is surely speed up everything, maybe it’s the same condition while we’re entering the industrial revolution. Speed up lives in one side, but create the bigger gaps on the other side.
September 21st, 2006 at 1:36 pm
kalo Sayiddina Ali R.A bilang: Kefakiran mendekati kepada kekafiran.
kalo saya bilang: kekafiran mendekati kepada pertentangan/perlawanan yang amat keras.dan kefakiran serta kekafiran menyukai kebinasaan. *weleeeeh gayanye*
btw, kucing sekarang lebih doyan ayam kentucky, coy! *griin*
September 23rd, 2006 at 12:38 pm
Itu hanyalah perbedaan sudut pandang.
September 26th, 2006 at 2:05 pm
Welcome Cruel World!