
Tak perlu lama-lama bermimpi di negeri ini, tidak baik untuk kesehatan. Maka saya-pun memutuskan untuk segera berkumpul lagi dengan masyarakat. Sebuah panggilan atas jiwa sosial, satu hal yang membuat saya masih boleh dan merasa maklum disebut sebagai manusia.
Seorang teman meminta saya untuk mencari informasi atas SD-SD di seputaran Yogyakarta, terutama yang menjadi korban gempa. Sebuah permintaan yang segera saja saya sambut dengan gembira. Dalam pikiran saya, orang yang paling tepat saya mintai bantuan adalah Mas Agus. Ya, daerah Pundong adalah satu tempat yang saya jadikan pilihan pertama.
Pleret, Imogiri, dan daerah lainnya yang juga menjadi korban gempa, saya jadwalkan belakangan. Dalam pikiran saya sih, mending berjalan dari selatan.
Maka jadilah, saya dan Bagus tadi pagi berboncengan menembus panas dan debu *halah* menuju Desa Seloharjo.
SD BeciranBecari adalah tempat pertama yang kami tuju. Kebetulan kami masih sempat bertemu dengan empat Guru di sana. Ibu-ibu semua, Bapak Kepala Sekolah sudah lebih dahulu pulang. Hari memang sudah siang. Dari ibu-ibu ini, kami mendapat informasi bahwa sekolah tersebut sudah dijangkau oleh bantuan. Untuk buku-buku, bahkan sudah mendapatkan dari penerbit besar. Hanya saja untuk buku PKN dan IPS, sekolah ini belum mendapatkannya.
Perbincangan dengan ibu-ibu guru tersebut, yang tampak masih semangat walau terik sudah memanggang, juga memberikan kami informasi tambahan. Untuk SD BeciranBecari ini, selain mendapat bantuan dari penerbit buku, juga mendapatkan bantuan dari Dinas Pendidikan Yogyakarta serta dari UGM. Dan rata-rata mereka fokus ke kelas 4,5,6, bahkan penerbit yang tadi disebutkan juga memberikan bantuan buku pelajaran untuk kelas tersebut. Justru kelas 1,2 dan 3 yang belum mendapatkan bantuan buku. Saya sendiri tidak bisa menjawab ketika ibu-ibu itu menanyakan mengapa bisa terjadi seperti itu. Dan seiring pertanyaan yang menggantung itu, kami minta diri untuk melanjutkan ke SD yang lain.
Lantas kami sampai ke SD Muhammadiyah Kalinampu 1. SD ini hancur total bangunannya. Dari Muhammadiyah sudah membuatkan bangunan dari bambu, Alhamdulillah, sehingga proses belajar mengajar bisa sedikit lebih nyaman.![]()
Di SD ini kami berjumpa dengan pengurus sekolah dan seorang ibu guru. Proses belajar mengajar masih berlangsung. Dari keduanya lagi-lagi kami mendapatkan informasi bahwa mereka sudah mendapatkan bantuan. Alhamdulillah. Bantuan buku tulis dan buku pelajaran dirasa sudah mencukupi. Yang menjadi kegelisahan mereka adalah buku PKN dan IPS. Saya jadi heran, demikian juga teman saya. Kok lagi-lagi kedua buku itu?
Kebijakan Musiman
Ternyata memang ini kuncinya. Perubahan di dinas pendidikan di negeri ini, membuahkan kebijakan yang berganti pula. Sebuah kebijakan musiman. Kalau dulu PPKN dan IPS dijadikan sebagai mata pelajaran yang terpisah, maka kemarin sebelum gempa kedua mata pelajaran ini digabungkan menjadi PPKS. Dan kini, entah mengapa, kebijakan itu diubah lagi. Mata pelajaran dipecah kembali menjadi PKN dan IPS. Akibatnya para guru, terutama mereka yang berada di daerah gempa, kebingungan untuk menyampaikan kepada para murid bahwa ada kewajiban membeli buku baru untuk mereka, yaitu buku PKN dan IPS. Sampai sekarang mereka belum berani menyampaikan ke siswa maupun orang tua siswa.
Namun paling tidak di SD ini proses belajar mengajar masih berjalan sedikit lebih baik. Yang digelisahkan kemudian adalah kalau memasuki musim hujan. Airt dipastikan naik dan masuk ke ruang kelas. Pikiran saya langsung melayang ke SD Beciran, bukannya mereka masih di bawah tenda?
Dari pengurus sekolah kemudian menyudahi dengan kegelisahan lain, yaitu tentang alat-alat peraga yang kekurangan. Kit pelajaran IPA (tabung-tabun reaksi dan sejenisnya) sudah pecah, juga peta dan globe. Selain itu bantuan bangku (meja) dan kursi baru terpenuhi 20 set. Artinya masih 80% lagi untuk dipenuhi. Kondisi meja dan kursi mereka saat ini memang kurang memadai, kebanyakan sudah reyot karena tertimpa reruntuhan sehingga sementara ditambal sulam dengan paku.
Setelah berpamitan, kamipun melanjutkan perjalanan ke SD Kalipakem II. Di sini proses belajar mengajar sudah usai. Kami semakin yakin, kami memang sudah kesiangan.
Kondisi SD ini juga cukup parah. Menurut informasi dari dua anak yang ada di sana, mereka masih melanjutkan proses belajar mengajar, dan dilakukan di bawah tenda.
Karena tidak mendapati informasi lain, kami memutuskan untuk melanjutkan ke SD Soka. Kami sudah tahu bahwa kami tidak akan menemukan siapapun di sana, maka kami berniat untuk mampir ke rumah kepala sekolah setelah terlebih dulu ke SD itu.
Tepat seperti dugaan kami
keadaan SD ini sudah sangat sepi. Tampak ada aktivitas pekerja bangunan, walaupun rata-rata sedang istirahat. Maka tanpa merasa perlu berlama-lama, hanya memotret, kamipun berangkat menuju rumah bapak kepala sekolah.
Rumah kepala sekolah lumayan jauh dari lokasi SD ini. Di rumah tersebut, lagi-lagi, kami disambut oleh aktivitas pekerja bangunan. Bagaimana lagi, rumah kepala sekolah ini juga hancur total. Tumpukan semen dan material bangunan memenuhi halaman, tentu saja material lama juga masih ada di sana, sehingga motor tidak bisa parkir lebih dekat. Pak Kepala Sekolah menyambut kami dengan hangat, sehangat teh yang tak lama kemudian terhidang.
Bangunan sekolah memanglah tidak hancur total. Tapi karena kondisi yang sudah parah, membuat kepala sekolah memutuskan agar proses belajar mengajar dilakukan di luar ruangan, alias di dalam tenda. Dan, menurut pak kepsek juga, pilihan ini membawa konsekuensi: panas dan bau.
Pak Kepala Sekolah kemudian menceritakan bahwa di SD ini sudah didatangi bantuan juga. Alhamdulillah. Mungkin informasi ini tidak terlalu mengherankan, mengingat ini sudah bulan ke-empat setelah gempa. Para siswa sudah mendapatkan bantuan buku, namun berupa buku tulis. Bahkan buku tersebut sudah langsung dibagikan kepada semua siswa. Nah, untuk buku pelajaran, sampai saat ini belum ada satupun lembaga ataupun penerbitan yang datang ke SD tersebut.
Tentu saja informasi itu langsung kami catat. Siapa tahu nanti berguna, bukan begitu? Apalagi kami merasa tidak enak kalau tidak melakukan aktivitas apapun, padahal kami cukup lahap memakan rasikan yang dihidangkan.
Lantas pak kepala sekolah menyampaikan pula bahwa di SD Soka memang sangat membutuhkan bantuan buku pelajaran. Apalagi ke depan wilayah di sana akan diadakan re-grouping, yang artinya pelajar dari desa sebelah akan ditampung di SD wilayah Seloharjo ini. Selain itu, kebutuhan untuk alat belajar-mengajar lain seperti globe, peta dan lain-lain juga masih belum ada. Juga kebutuhan lain untuk alat olahraga, yang tersedia saat ini hanyalah bola plastik yang bisa untuk sepak bola ataupun voley.
SD Soka ini menjadi SD terakhir yang kami datangi. Kami sudah sangat kelelahan, terutama saya karena saya yang nyetir.
*tendang Agus* Lantas kami mampir ke rumah kakaknya Agus, teman seperjalanan saya ini, sekalian melihat rumahnya. Weleh, rumah Agus ternyata runtuh total. Dan karena Agus ini statusnya yatim-piatu, maka tidak ada yang mengurusi. Kakak kandungnya saat ini sedang bekerja di Jakarta.
Dari kakak sepupu Agus, kami memperoleh informasi bahwa demo berjadwal yang dilakukan oleh FORKOP (Forum Komunikasi Korban Gempa) di Kepatihan, cukup membuahkan hasil. Janji yang dulu disampaikan oleh Jusuf Kalla, sepertinya akan segera mewujud secara bertahap. Memang metode ini sepertinya cukup bagus. Dengan bersatunya seluruh korban gempa, maka masing-masing kelompok menyusun jadwal demo, sehingga bulan kemarin halaman kepatihan hampir tiap hari disatroni pendemo.
Demikian dulu hasil perjalanan saya, kalaupun nanti ada kesempatan lagi, saya akan lanjutkan ke daerah lain. InsyaAllah.
Dengan demikian, mimpi saya sudah membumi. Artinya, saya tidak berani lagi untuk mimpi. Sudahlah, jalani saja. *lho kamu menyerah ron?* Bukan menyerah dong, ini realistis saja.
Vale, demi mimpi.. eh kesehatan
El rony, ikut semangat melihat para bapak dan ibu guru yang tetap semangat.
NB: Yang benar adalah SD Becari, saya salah tulis. hehe
Category: Yogyakarta, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
September 12th, 2006 at 11:07 pm
Huh aku benci sekolah!
September 13th, 2006 at 5:27 am
wah.. tetap semangat ya om..
September 13th, 2006 at 7:41 am
cuman, kok, masih ada aja, tuh, “kewajiban-2″ yg “menghisap”… kenapa, nggak diaktifkan perpustakaan sekolah aja… buku-bukunya boleh sumbangan pemerintah atau orang-2 “berduit”… wong, isinya itu-2 juga, kok… semprulll gimana mo maju ini Republik *hayyahh*
September 13th, 2006 at 8:02 am
ayooooooooooo sekolahhhhhhhhhhhhhh
September 13th, 2006 at 8:43 am
saya heran mengapa sekolah sekarang mengharuskan beli buku pelajaran. jaman saya dulu, saya tak sekalipun membeli buku di SD. di SMP beli yang saya mau saja. begitupun SMA. Kuliah? wong ada perpus bagus kok, ngapain ngga dimanfaatin?
btw, demonya para korban gempa tuh asyik juga. “kita bersatu, tak bisa dikalahkan!”. jadi inget 98 dulu…
September 13th, 2006 at 11:40 am
Wow..sip..benar-benar membumi..salute
September 13th, 2006 at 6:26 pm
untung gurunya ngerti, ngga maksa harus beli buku pelajaran. kalo ngga bisa di demo tuh. belum lagi tiap tahun ajaran baru harus ganti buku, denger2 ada kurikulum baru tuh.
September 13th, 2006 at 7:49 pm
Kalau usul saya, depdiknas cuman ngasih acuan garis besar saja seperti apa kurikulumnya.
Detilnya seperti penggunaan buku, mata pelajaran, metode pengajaran, ya biarkan masing masing daerah yang mengurus.
Mosok sampek buku barang diurusi karo depdiknas cah!
September 13th, 2006 at 10:52 pm
Wah, hebat juragan!
Kalo aku sempet mbok aku diajakin yah.
September 14th, 2006 at 3:21 am
Mas, gimana kabar pembangunan rumah bantuan pembaca jawapos?
September 14th, 2006 at 8:27 am
salut..salut..
apa yang bisa diperbuat untuk sosial.
selama kita masih bisa yaa monggo
maju terus modzz…
September 14th, 2006 at 11:49 am
mudah2an bisa cepet terealisasi ya ron….
salut!
September 14th, 2006 at 4:50 pm
lantip pancen oye. lakukanlah kebaikan sepanjang kau bisa dan sempat.
September 14th, 2006 at 5:22 pm
kerja keras nih. moga2 nggak perlu demo lagi untuk nerima bantuan yak..
September 15th, 2006 at 7:25 pm
semangat bro! semoga saja bantuan segera tersebar..
September 16th, 2006 at 12:30 pm
SELAMAT BERTUGAS! :p
December 26th, 2007 at 11:44 pm
this is my indonesia pak guru ttp semangat ya !