Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Antara Ahmadinejad dan Sartrapi

Print This Post   Email This Post

Membandingkan dua orang itu, sebenarnya bukanlah hal yang tepat. Bagaimanapun keduanya tidak berada di satu wilayah urusan yang sama. Ahmadinejad seorang negarawan sementara Sartrapi adalah komikus.

Lain halnya jika saya harus menjawab perbandingan antara Hugo Chavez dengan SBY. Dengan mudah saya bisa jawab: gak ada seujung kuku! Keduanya sama-sama presiden, negarawan dan keduanya sama-sama berangkat dari pola pendidikan militer. Hugo Chavez berani menentang Amerika, SBY menjilat Amerika. Hugo Chavez menyediakan satu orang dokter untuk tiap sekian keluarga miskin, SBY tidak pusing dengan orang miskin. Hugo Chavez berani di antara penduduknya tanpa pengawalan karena dia memang dicintai rakyatnya, sementara SBY memilih melahirkan kecelakaan di jalan tol demi lancarnya iring-iringan rombongannya. Benar-benar gak ada seujung kuku!

Namun, seorang temanku membuat aku harus menuliskan hal berkait dua orang di judul ini. Temanku ini kebetulan seorang komikus, dan sebagai komikus dia cukup terkenal dengan kecerdasannya dalam menangkap fenomena sosial untuk dituangkan dalam kritik yang cermat dan menggelitik. Maka, saya merasa perlu untuk menuliskan ini.

Dua orang Iran memandang negara

Inilah jembatan yang bisa menghubungkan keduanya, baik Sartrapi maupun Ahmadinejad lahir dan besar di Iran. Keduanya juga hidup dan mengalami proses Revolusi Iran yang membuat dunia mengenal Ayatullah Khomeini. Dan keduanya juga menentang Reza Pahlevi pemimpin Iran yang merupakan boneka Amerika dengan cara mereka masing-masing.

Ahmadinejad pada waktu itu ikut andil dalam proses revolusi dengan memimpin sekelompok pasukan untuk melawan kekuasaan Pahlevi, sementara Ibunda dari Sartrapi terlibat aktif dalam perlawanan atas Pahlevi bersama sekelompok liberal terdidik di sana.

Nah, hal yang membedakan dari keduanya sudah nampak. Ahmadinejad memilih perjuangan dengan nafas Islam, di bawah komando penuh Ayatullah Khomeini, sementara Keluarga Sartrapi tetap lekat dengan pola kehidupan liberal demokratisnya.

Pemegang tampuk kekuasaan pada akhirnya adalah seorang imam yang memilih mengambil air wudhu dan turun ke jalan, dan menerapkan sistem pemerintahan yang kental dengan pola Islam Syi’ah. Sistem pemerintahan ini pula yang berhasil menyaring sekian ribu penduduk Iran dan memunculkan Ahmadinejad untuk kemudian menempatkannya sebagai gubernur.

Di sisi lain, keluarga Sartrapi lega karena sudah lepas dari tiran bernama Reza Pahlevi, namun mereka adalah keluarga liberal. Kebiasaan pulang-pergi ke Perancis, besar dalam pendidikan sekolah Perancis, dan kekaguman kepada kelompok-kelompok musik barat, menghasilkan seorang Sartrapi yang berkerudung ketika keluar rumah, dan bercelana jins serta baju ketat dengan iringan musik hingar-bingar ketika di dalam rumah.

Sebuah desakan budaya dirasakan menghimpit keluarga ini, sehingga tidak seperti Ahmadinejad, yang sedari awal sudah memilih jalan Islam Syi’ah ala Khomeini, mereka merasa perlu untuk mendobrak lagi sistem yang ada. Bagi mereka aturan yang ketat ala Khomeini dirasakan mengekang. Aturan itu membuat mereka tidak bisa bertemu dengan lelaki secara bebas. Aturan itu membuat mereka tidak bisa memakai pakaian ketat. Aturan itu membuat mereka tidak bisa menjadi barat!

Maka ibunda Sartrapi aktif dalam kelompok massa menentang Khomeini. Secara demonstratif bahkan sang ibu membuka kerudungnya di depan umum. Dan Sartrapi melanjutkan perjuangan ibunya dengan bergabung di sebuah forum internasional, berbasis di Perancis, untuk menyuarakan perasaan terkekangnya.

Kemudian lahir pula komik Marjan Sartrapi yang sarat dengan seruan keterkekangannya. Diceritakan pula olehnya bagaimana dia harus menyamar untuk mendapatkan poster kelompok musik Amerika.

Lantas bagaimana dengan Ahmadinejad? Dia menjadi gubernur. Dalam masa jabatannya, dia mendapat gelar sebagai gubernur terbaik di dunia! Kinerjanya yang terkenal, yaitu bekerja dari mulai jam 8 pagi hingga 12 malam, juga selama lima tahun masa kerjanya dia tidak pernah sekalipun meninggalkan tugas. Dan prestasi yang layak dicatat juga, ketika Iran mengalami gempa, dalam masa kurang dari 6 bulan dia sudah bisa membangun 7400 rumah!

Ahmadinejad kemudian menjadi Presiden. Dia tetap hidup di rumah miskinnya. Kurang lebih sama dengan SBY yang tinggal di Cikeas ataupun Suharto yang hidup di Cendana. Tapi Ahmadinejad TIDAK MEMBANGUN ISTANA. Dia tetap miskin, buktinya ketika Iran memasuki musim panas, dia memilih memakai kipas (bahkan bukan kipas angin listrik). Ketika sekian pengusaha memberinya AC, dia hanya bilang,”kenapa saya harus merasakan kenyamanan, kalau rakyat di sekitar saya juga menderita kepanasan?”. Maka, jangan samakan kondisi rumah Ahmadinejad dengan kondisi istana Cikeas!

Pelajaran apa pula yang didapat dari perbandingan ini?

Banyak kawan. Tapi satu hal yang pasti. Mari kita telusur bersama sejarah kekuasaan di Iran. Ketika jaman Reza Pahlevi, semua orang harus tunduk kepadanya. Sedikit saja kekuatan tentangan terlihat, tak segan-segan diberondong dengan senapan. Kondisi yang kurang lebih mirip dengan jaman Suharto.

Nah, ketika kekuasaan model Khomeini ini berjalan, mari kita tengok. Bukankah Sartrapi masih bisa membuat komik? Meskipun dia memilih ke Perancis, tetapi kenyataannya keluarga itu tidak dipenjara alih-alih dibunuh. Ada nuansa kebebasan juga sebenarnya. Bukan maksud saya untuk membela siapapun, namun ini satu fakta. Kupikir kita boleh berpikiran sedikit bebas dalam hal ini.

Seandainya saja Khomeini dan pengikutnya sedikit saja melakukan hal yang mirip dengan Pahlevi, maka saya yakin tidak akan ada lagi Sartrapi. Dan saya juga sangat yakin, tulisan di blog ini akan mengecam habis serta sekuat tenaga saya akan telanjangi kebobrokan tiap sudut kebijakan model seperti itu. Saya bukan siapa-siapa, namun justru karena itu, saya bisa bebas melihat dengan kacamata apa saja.

Hal yang lain perlu kita catat. Sistem pemerintahan ini adalah sistem alternatif. Dengan tetap aktifnya kelompok seperti keluarga Sartrapi, saya sangat menaruh harapan, sistem ini akan menuju ke sesuatu yang “lebih sempurna”. Sebuah sistem yang bisa diterima oleh lebih banyak lagi orang. Sebuah sistem yang bisa dijadikan sumber jawaban ketika menghadapi persoalan struktural yang rumit seperti kondisi kita saat ini.

Paling tidak Chavez merasa perlu untuk datang ke Iran, dan menyatakan Venezuela mencintai Iran, ketika mendapati sebuah sistem alternatif ini. Tentu saja kita juga bisa belajar pada sistem lain seperti di Venezuela tersebut ataupun di Bolivia tempat Evo Moralez berada. Ini indikator mudah saja bagi kita, negara yang masih menginginkan pemimpin diukur dari ketegapan badan.

Jadi kawan, dari sekian uraian ini, saya hanya ingin bilang. Saya sangat kagum dengan Ahmadinejad, tapi di sisi lain saya juga sangat suka dengan Sartrapi. Keduanya saling mengisi. Tanpa Sartrapi, saya terus terang tidak akan pernah tahu bagaimana sistem pemerintahan ala Khomeini ini berjalan. Di sisi lain, tanpa orang seperti Ahmadinejad, saya tidak akan pernah paham bagaimana Sartrapi sekeluarga sampai pada posisinya yang sekarang.

Lantas Bagaimana dengan Indonesia?

Waduh, saya sedang tidak membahas itu kawan. Namun saya ingatkan, jangan sekali-sekali membandingkan pemimpin negeri kita dengan orang-orang hebat ini. Hasilnya kalian hanya akan sakit hati. Sumpedeee, gak ada seujungkuku deh!

Vale, demi kesehatan

El rony, meyakinkan bahwa bener-bener gak ada seujung kuku, dan jangan salah, ini hari ujung kuku saya sedang sangat-sangat pendek.

NB : Jelas! Kualitas pemimpin kita nggak ada. Mereka hanyalah sekumpulan orang-orang rakus yang mengejar dua hal utama: Waktu Luang dan Konsumsi. Sangat khas kapitalis, demikian Andre Gorz bilang.

Category: Neolib, Culture, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback

22 Responses to “Antara Ahmadinejad dan Sartrapi”

  1. Jay Says:

    Kapitalisme ditentang Indonesia, sebab Indonesia menjadi korban kapitalisme negara lain. Bahkan hingga kini.

    Kapitalisme menumbuhkan bisnis privat, dan negara hanyalah pengatur kebijakan dan undang-undang.

    Di negeri yang kuat seperti Amerika kapitalis mungkin bisa memonopoli (karena good products and services) dan pemerintah tetap mengawasi jangan sampai terjadi monopoli dari para kapitalis tersebut.

    Di Indonesia BUMN hingga PT Terbuka diberi hak monopoli oleh pemerintah, melalui Undang-undang sebagai pembenaran pengejawantahan Undang-Undang Dasar pasal 33. Akhirnya kini semua yang dimonopoli hanya melahirkan BAD PRODUCTS with BAD SERVICES, dengan bonus CORRUPTED costs and assets.

  2. rony Says:

    Wah, saya seperti bertemu dengan Herbert Marcuse asal Bandung. :D Kalau bicara Amerika nih om Jay, saya lebih sepakat dengan analisa Andre Gorz:
    1. Amerika adalah sebuah masyarakat kolonial yang didirikan oleh para imigran di wilayah yang belum berkembang. Dengan demikian tidak ada peradaban lokal dan di seluruh USA (keculai New England dan Amerika Selatan banget :) ) tak ada stratifikasi sosial yang bersifat turun-temurun. Ini kunci yang membuat pendekatan mereka sangat minning approach sehingga eksploitasi atas alam tidak membuat mereka merasa perlu bertanggung jawab kepada siapapun (dalam budaya lawas biasanya mewujud dalam nenek moyang). Akibatnya kinerja pekerja menjadi sangat aktif, dan serba-tergesa. Konsumsi yang cepat dan produksi barang-barang yang cepat habis lebih diutamakan daripada nilai-nilai internal dari produk itu sendiri.
    2. Masyarakat AS cenderung puritan. Sehingga dalam setiap prosesnya mereka membangun sejarah mereka sendiri (yang tadinya tak berakar), yang kemudian muncul dalam bentuk pemikiran bersifat asketologis. Hal ini melahirkan sikap “bersatu” untuk melawan musuh dari luar, sehingga dalam kaitan industri mereka sangat tepat mewujud dalam korporasi.
    Nah, dari dua hal itu, proses percepatan Amerikanisasi di seluruh dunia, bukanlah semata-mata proses internal dari masing-masing negara. Eropa maupun Jepang, tidak akan menjadi “ngamerika” kalau tidak ada proses eksternal terhadap diri mereka. Kuncinya adalah Perang Dingin. Perang ini menghasilkan kultur persaingan dengan korporasi/kartel yang lebih dulu terbentuk di Amerika. Sehingga kedua wilayah itu mau tak mau harus ikut “serba-tergesa” dan menghasilkan produk serupa dalam skala sama seperti AS. Juga dorongan untuk menciptakan pasar yang sebanding.
    Fyuh, panjang lebar, intinya saya membicarakan tentang kunci awal munculnya istilah om Jay sebagai “korban kapitalisme negara lain”. Jadi korban itu bukan pilihan kita, kita menjadi korban adalah akibat dari sebuah kultur baru yang terbentuk dari sistem kapitalisme ala Amerika. Kapitalisme sendiri semestinya berubah senantiasa, sebagaimana diyakini oleh Lenin,”tanpa teori revolusioner, tak akan ada tindakan revolusioner”. Maka ketika sekarang hampir sebagian besar meng-amini “kebenaran” kapitalisme, itu dikarenakan sebagian kita gagal melihat kontradiksi-kontradiksi yang dilahirkannya. Ya, tapi ini pendapat saya saja. :D

  3. Priyadi Says:

    hmmm, ahmadinejad.. sebenernya saya ngeri dengan orang ini. keberaniannya boleh diacungi jempol, tapi kurang taktis dalam bertindak dan cenderung nekat.

    hugo chavez? not impressed. terlalu militeristik, terlalu populis. terlalu mengandalkan sumber daya minyak. yah, kurang lebih mirip dengan suharto di sini :). bedanya, minyak venezuela lebih banyak, kebutuhan domestik jauh lebih sedikit, dan minyaknya gak bakal habis sebelum masa jabatan chavez habis.

  4. rony Says:

    sebuah pandangan menarik Pri.
    Namun kalau dibilang Chavez mirip dengan Soeharto, aku kurang sependapat juga. Walaupun aku sendiri masih “waspada” karena kepemimpinan ala militer memang layak dicurigai.
    Tapi jangan lupa, Chavez menyerukan tentang “we are facing an unprecedented energy crisis…. Oil is starting to become exhausted”, jadi dia juga aware akan minyak yang makin habis. Justru dia dengan Castro bersepakat membentuk ALBA (Aliansi Bolivian) untuk menentang FTAA yang notabene mengeruk kekayaan alam secara membabi buta.
    Tapi, ya, saya sendiri sepakat untuk tidak sepenuhnya mencontoh. Thanks. :)

  5. Qky Says:

    sekali lagi… dapat dilihat, niat dan aplikasinya (akhlaq, visi dan perjuangannya) bagi negara dan bangsa…
    padahal, kalo dari pesan Rasulullah SAW: Pemimpin (khusunya Negara) itu sangat berat tanggung jawabnya… dan siapa yang memahami hal itu, setiap orang pasti ogah, nggak bakalan mau jadi Presiden apalagi Raja…..ini yang nggak dimengerti oleh protokoler Republik kita, apalagi Presidennya manut aja (gimana nggak manut, wong… uueeenaak, coy)

  6. ipoul-bangsari Says:

    Kalo Indonesia yang hebat mah rakyatnya, bukan pemimpinnya. coba cari bangsa lain yang lebih kuat dijajah lebih lama dari Indonesia. dari Jaman penjajah Belanda/Portugis, Jepang hingga kini pemimpin kita selalu membela bangsa lain.

    Lucunya rakyat kita kok ya santai-santai aja gitu…

  7. sridewa Says:

    Indonesia masih ada?

  8. didats Says:

    pindah ah… gag mau di indonesia lagi….

    hehehe

  9. Junkerz side B Says:

    RONCEH BERANI MENENTANG SIAPA?
    BERANI NANTANG SAYA NDAK?
    *gulung kemeja, siap2 ngajak duel…*

  10. Hedi Says:

    Dalam kasus Indonesia, pemimpin berlatar militer masih perlu karena secara umum mental masyarakat kita yang sulit untuk tertib.

    Dalam sejarah, hal yang lebih teratur dan baik (lepas dari urusan korupsi dan penjajahan hak asasi), era Soeharto harus diakui paling baik. Tapi belum tahu dengan SBY.

    Sementara yang lainnya (sipil), tak ada yang bagus, kecuali Soekarno dalam hal kedaulatan. Di era Soekarno, situasi kesulitan ekonomi persis jaman sekarang.

    Sori kepanjangan Mas Ron…:D

  11. nananias Says:

    sartrapi! revolusi iran. buku favorit saya ituh!

  12. cahyo Says:

    Pemimpin dari militer yang kuat, jujur dan tidak serakah. Ada ga ya???

  13. dedenf Says:

    agaknya susah mencari militer berwatak sipil.
    ahmadinejad menurut saya tidak bertindak nekat, bertindak yang memang harusnya begitu, kenapa negara yang punya nuklir melarang negara lain punya nuklir juga? alasan keamanan? coba saja lihat kedutaan US di tiap negara, itu terlihat seperti zona militer ketimbang sebuah “negara dalam negara(zona exclusive)”.
    SBY jilat amerika karena takut, dan tak mampu?
    *saya mengkhayal jika ada blog semacam ini pada jaman suharto, apa yang akan terjadi?*

  14. rony Says:

    #deden:
    jika ada blog semacam ini jaman suharto? hehe, ya gak tau ya. tapi bukannya UU Subversif belum dihapus? jadi kondisinya kurang lebih sama lah dengan sekarang. :D

  15. frozi Says:

    andai saja ada lagi seorang alfaruq yang akan memimpin negeri ini nantinya. mungkin kita akan menjadi negara yang kaya raya. semoga saja, tidak sekarang mudah-mudahan nanti :) aamiin!

  16. ruslee Says:

    wah,. salut atas tulisan sampeyan…mantap…
    memang kita butuh pemimpin yang bersahaja tp berani bilang tidak..

    jd inget ama Bung Karno, yg bernai bilang NO ke Amerika waktu itu, tp sayang watisan beliau, terutama anak2nya…..fyuhhh….

  17. iman brotoseno Says:

    memang betapa tidakmenariknya bangsa ini…nice posting , sangat inspiratif, salam kenal

  18. abumoeza Says:

    ahamdinejad keren abis, berani & bersahaja coy kayak pendahulunya khomaeni. Gue yakin skrg jadi musuh utamanya AMRIK & YAHUD. gue kenal sejak die jadi presiden aja, sebelum-sebelumnya kagak. apalagi nyang namenye SARTRAPI baru denger ini dr mas rony nih, salam kenal deh

  19. Ervin Kurniawan Says:

    Revolusi Iran… Revolusi Indonesia ?
    Padahal ada namanya pahlawan revolusi, emang ngapain mereka, ada perubahan apa setelah waktu itu ??
    Revolusi pembangunan fisik malah berhasil banget di Indonesia, mall baru dibangun, pasar tradisional digusur, pedagang kaki lima jadi kaki seribu alias langkah seribu lari tunggang langgang diusir dari tanah negara yang dijual “pemimpin” yang tingkah lakunya kayak Hyena perampok kepada privater yang punya modal entah dari memanfaatkan apa…
    Indonesia-sia-sia-sia,
    Mendingan Indonesia merger aja sama Iran kali ya,
    Mana ada pemimpin yang bisa membawa perubahan menuju keadilan, kesejahteraan, kebebasan, persamaan yang bukan “jarkoni”, mau hidup sederhana, bukan penumpuk kekayaan, perampas harta rakyat supaya kejayaan dapat dicicipi semua rakyat.
    Pemimpin itu kerja utk rakyat, kalo rakyat belum cukup makan masa “beliau2(asu)” makan berlimpah, pesta, acara protokoler menghamburkan uang rakyat.
    buat apa bayar pajak, kalo uang nggak kembali bisa kita pakai.
    Rakyat rela bayar pajak utk dipakai mengelola negara supaya pendidikan murah terjangkau, kesehatan massa terjamin dan gratis, tapi kalau cuma dipakai buat arisan para pejabat (sekarang giliran siapa dapat, besok siapa) nggak relaaaaaaaaaa deh.

  20. meila Says:

    aku punya usul… gimana kalo salah satu dari sodara-sodara bloger sekalian ada yang maju calon jadi presiden?? atau sapa aja yang punya niat baek, dan punya keberanian seperti ahmadinejad. kita kampanye aja lwt blog masing2…ayo dong ada yang berani…!

  21. Ervin Kurniawan Says:

    Jelang pemilu besok, belum ada calon yang ngeh di hati, masihkah aku seperti dulu? Coblos semua calon, he he, masalah cocok semua sih….hoeghhh
    Anda punya masalah? Bilang aja ama Bung Jarkoni !!!
    Solusi banyak, tapi kalo njalanin sendiri ya….
    Can’t wait 4 Imam Mahdi anymore!

  22. Aboud Says:

    Salut ! gue suka banget ama isi blognya…hahaha keep up the good work yah ! speak up & ingat satu perkataan Wiji Thukul

    “Jangan pernah menyerah, lawan!”

    Vale! Untuk kesehatan

Leave a Reply