
Koneksi internet sedang rada mabuk, jadinya saya gak bisa blogwalking secara “bebas”. Contohnya saya tidak bisa berkunjung ke Om Tyo a.k.a Pakdhe Kéré ataupun ke Sridewa Raja Curang. Ya sudah, akhirnya saya putuskan untuk ngomyang saja.
Pikiran saya soal sejarah ini, sebenarnya sudah mengemuka berhari-hari. Semalam menguat, entah apa sebabnya, dan ingin menuliskannya. Kebetulan Bang Pi’i kok ya menulis tentang budaya. Saya jadi semakin pingin menuliskan ini, ngomyang beneran pokoknya.
Sebenarnya judul di atas muncul dari sebuah quote yang diungkapkan oleh Lord Acton dan menjadi terkenal di seantero jagad:
Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.
Lord Acton, Letter to Bishop Mandell Creighton, 1887
Lantas apa hubungannya dengan sejarah? Jawabannya mudah saja, karena kekuasaanlah yang memegang peran utama terbentuknya sejarah. Sejarah selalu berkait dengan silih berganti maupun gesekan kekuasaan.
Kekuasaan adalah Hulubalang Sejarah
Entah mengapa saya suka sekali dengan kalimat ini. Kalimat ini muncul bukan di sebuah buku textbook ataupun diktat perkuliahan, juga bukan di sebuah kitab babon ilmu sosial. Kalimat ini saya dapatkan di sebuah novel karya Ahmad Thohari yang berjudul “Ronggeng Dukuh Paruk”. Saya pernah singgung di tulisan sebelumnya bahwa saya sudah sekian kali membaca novel ini, nah kali ini saya hanya akan mengutip satu kalimat di atas saja.
Kalimat ini tidak hadir dengan sendirinya. Dia adalah buah renungan yang dalam akan makna dari sejarah itu sendiri. Mari kita lihat dalam wilayah sempit saja, Indonesia. Di negeri ini warna sejarah sangat dipengaruhi oleh kekuasaan. Dari mulai sejarah tentang perang hingga sejarah masa orde baru.
Seandainya bangsa ini tidak berhasil menuju ke satu kata “merdeka”, bisa dipastikan Soekarno, Hatta, Sayuti Melik, dan masih banyak lagi orang yang saat ini disebut sebagai pahlawan, akan memperoleh gelar yang berlawanan 180o. Gelar mereka akan menjadi pemberontak atau bahkan teroris.
Demikian seterusnya sejarah ini terbentuk. Kekuasaanlah yang memegang kuas dan menentukan gerak tangan untuk menuliskannya. Maka tak heran kiranya ketika suatu masa ada sebuah kekuasaan berganti, maka yang dulunya dipuja tidak bisa lagi melenggang santai menghirup udara bebas.
Dari kenyataan ini lah saya melihat ungkapan Ahmad Thohari sangat tepat. Bahwa kekuasaanlah yang menjadi hulubalang sejarah.
Silogisme: History tends to corrupt
Ya, silogisme sederhana. Anda tentu sudah tahu sekarang akan maksud saya. Power create history. Power tends to corrupt. Maka history tends to corrupt too. Apakah silogisme saya salah?
Satu contoh nyata ada di depan kita tentang bagaimana korupsi sejarah berlangsung. Peralihan kekuasaan dari Jaman Orde Lama ke Era Orde Baru, menyingkirkan tokoh proklamator yang merupakan peletak dasar mental mandiri bangsa ini ke sudut kumuh. Sekian puluh pemikir seperti Tan Malaka, karena label kiri yang dicorengkan di muka mereka, membuat prestasi mereka yang mendunia tidak mendapat hati dalam pelajaran sejarah kita.
Pikiran-pikiran kritis pemikir negeri yang diadaptasi oleh pegiat internasional –pikiran-pikiran Tan Malaka, Sjahrir dan yang lain, dipelajari intensif oleh para professor di Uni Soviet– sama sekali tidak berkembang. Generasi masa kini di negeri ini, telah menjadi potret keroposnya sendi kemandirian, sebagai akibat permisifnya negeri ini akan hutang, sebuah langkah yang diambil oleh penguasa bejat bernama Soeharto. Dan sejarah negeri ini tidak menyisakan orang-orang kuat seperti masyarakat Samin, dalam kancah perpolitikan, bahkan hingga detik ini.
Lantas hal yang lain lagi. Pelajaran sejarah di negeri ini, memberikan stigma turun-temurun kepada mereka yang dikatakan tersangkut PKI. Pengertian akan komunisme sudah sejak awal kabur di negeri ini. Tidak ada lagi citra positif pada diri seperti Karl Marx, hanya dikarenakan kekuasaan negeri ini selama 30 tahun lebih memberi label “bahaya latent” atas keberadaan mereka.
Golkar, sebuah partai yang melahirkan kesengsaraan sekian lama, dengan kuasanya mencengkeram para pegawai negeri –misalnya– sampai saat ini justru memperoleh penghargaan. Reformasi yang berdarah dan melahirkan sederet nama orang hilang, sama sekali tidak menyentuh mereka. Golkar tetap dipandang baik, kebusukan mereka selalu saja tertutupi.
Dari berderet kenyataan itu, saya semakin yakin bahwa sejarah memanglah punya kecenderungan untuk corrupt. Dengan sendirinya, kekuasaan absolut jaman orde baru, menghasilkan sejarah yang corrupt absolutely.
Maka, tulisan singkat saya ini hanyalah menggugah atau menggelitik kecil atas kesadaran berbangsa teman semua. Mari kita mengkritisi segalanya. Kenapa segalanya? Karena kekuasaan yang menorehkan sejarah atasnya, adalah kekuasaan busuk. Bukankah posisi kita sebagai negara corrupt juga belum bergeser?
Cukup sekian saya ngomyang, semoga ada yang bisa dimanfaatkan.
vale, demi kesehatan.
el rony, mengingatkan setiap orang untuk waspada, kekuasaan mutlak, di lini apapun, cenderung menghasilkan sejarah yang salah.
NB
Tulisan ini juga saya dedikasikan kepada para pemimpin dunia yang dengan hati bersih memimpin rakyatnya. Saya sampaikan taklim kepada Ahmadineejad, Fidel Castro, Hugo Chavez, dan masih banyak lagi.
Ada baiknya juga teman-teman membaca buku karya Eko Prasetyo yang berjudul “inilah Presiden Radikal”. Meskipun gaya beliau provokatif, namun buku ini memuat fakta yang layak untuk dicatat, minimal dalam sejarah hati kita.
Category: Neolib, Yogyakarta, Culture, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
September 6th, 2006 at 4:18 pm
hmmm… *lagi baca-baca buku tukang kompor* :p
September 6th, 2006 at 10:58 pm
sejarah di indonesia itu dari jaman mojopahit sampai era repormasi ini banyak korupnya lho.. entah ditambahi, entah dikurangi, yang jelas biar enak didengar di kuping. Jangankan sejarah, berita saja dikorup, padahal kejadian wingi sore… sak dowo-dowone lurung, isih kalah dowo karo gurung
September 7th, 2006 at 6:42 am
si Raja curang, hahaha.. ngakak aku bacanya..
O iya, ngomyang tuh apaan sih?
September 7th, 2006 at 8:27 am
kalo di Endonesah cenderung menjadi “Everyone who do not produce, corrupts absolutely”.
September 7th, 2006 at 10:39 am
banyak orang besar tenggelam dalam sejarah, tapi buat mereka mungkin itu tidak penting. justru mereka merasa tidak perlu sengaja membuat-buat sejarah.
September 8th, 2006 at 11:40 am
“Saya adalah RAJA, ada yang berani sama saya hah!!!!”
“Hai sejarawan goblok, NULIS!”
*mata melotot sambil menghunus tombak*
September 8th, 2006 at 3:55 pm
tapi semua itu tergantung niatnya… hingga “ruh” sistem suatu negara apapun ismenya, kalo niatnya buat kemakmuran seluruh bangsa… ya tetap nggak ada ruang buat korupsi, contoh: komunis Cina yang mengganyang habis para koruptor.
Yang diperlukan oleh bangsa ini adalah REVOLUSI MENTAL seluruh kekuatan(”kekuasaan”) bangsa. SQ dan EQnya kudu ditingkatkan dan diaplikasikan disemua fungsi…. *hayyah, kayak AA Gym, aje, nih, ogut…udah ah*
September 13th, 2006 at 11:04 pm
Yes, power tends to corrupt. pake UPS biar komputer nggak cepet rusak.
September 14th, 2006 at 12:57 pm
it is truism that history written by the winner
September 18th, 2006 at 1:18 pm
ha eniwei hubungane karo tulisanku ttg budaya opo yo?? hehehe!!
makanya waktu pakde karno meneriakkan “JASMERAH” saya nanya: “sejarah versi mana, bung?”