Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Tetes Telinga untuk Mata? Duh.. Keponakan..

Print This Post   Email This Post

Ini sudah hari ke 11 semenjak keponakan saya, Muhammad Rasyad Mufarid, yang baru berumur 2 minggu, mendapatkan perawatan yang salah dari pihak Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Srandakan.

Ya, perawatan yang salah. Bagaimana tidak? Obat tetes mata yang diberikan kepada anak itu, ternyata ketika di cek (pada hari ke enam) oleh kakak saya, ternyata berupa obat tetes telinga. Label obat tetes mata yang berupa tempelan itu, ternyata telah menutupi sebuah bencana. Semoga kondisi mata keponakan saya– yang ya Allah, baru dua minggu umurnya– baik-baik saja

Setelah tadi malam, hingga pukul 23:00 WIB saya berdebat dan berpeluk dingin mendatangi pihak manajemen rumah sakit, akhirnya pagi ini membuahkan hasil. Saat ini keponakan saya sedang dalam perjalanan dibawa ke Rumah Sakit Mata Dr. Yap.

Keteledoran Itu

Beginilah kronologis kejadiannya:

Pada hari Sabtu, 26 Agustus 2006, pihak rumah sakit mendiagnosis bahwa keponakan saya harus diberikan obat tetes mata. Perawatan ini harus secara intensif dilakukan, dua hari sekali, dua tetes tiap kali.

Pada awalnya kakak saya tidak terlalu curiga ketika si anak menangis tiap ditetesi matanya. Yang dilakukan kakak saya kemudian adalah mengurangi dosisnya, jadi yang tadinya harusnya dua tetes, dia hanya berikan satu tetes. Namun kecurigaan kakak saya bertambah, sehingga akhirnya kakak saya mencoba membuka label bertuliskan Obat Tetes Mata tersebut.

Kakak saya terkejut bukan main. Hari itu Kamis, 31 Agustus 2006, kakak saya mendapati kenyataan bahwa obat tersebut ternyata obat tetes telinga. Saat itu juga peristiwa itu dilaporkan ke pihak Rumah Sakit.

Dari pihak rumah sakit, akhirnya bersedia mengusut permasalahan ini. Namun mereka meminta botol obat tetes telinga itu untuk dijadikan bahan pengusutan. Sampai saat ini, saya sama sekali tidak tahu, sehingga ketika obat itu beralih tangan, saya tidak ikut mempertahankan. Ya, obat itu akhirnya dibawa oleh pihak rumah sakit. :(

Hari Minggu, 2 September 2006, saya memperoleh kabar itu dari rumah, setelah upaya penyegeraan pemeriksaan si anak tidak juga mendapatkan respon dari pihak rumah sakit. Begitu mendengar hal ini, yang ada di kepala saya adalah: Bawa si anak ke ahli mata, segera!

Namun ternyata hari itu juga, rombongan dari pihak RS PKU Muhammadiyah Srandakan, datang ke rumah saya di Tegallayang, Caturharjo, Pandak, Bantul. Dengan pendekatan ala tetangga-saudara-pertemanan dengan ayah saya (kakek si bayi), akhirnya keputusan yang muncul sungguh di luar dugaan. Mereka mengatakan si bayi akan diperiksa besok Rabu, 5 September 2006.

Saya yang memperoleh kabar bahwa dari pihak Rumah Sakit sudah bergerak, akhirnya berlega hati. Bayangan saya sang keponakan sudah dirawat dengan benar. Namun ternyata kejadiannya lain, seperti yang saya tulis di atas. Kami harus menunggu 3 hari lagi!

Mendengar ini, saya berkeputusan untuk mendesak pihak rumah sakit agar menyegerakan pemeriksaan. Yang terlintas saat itu adalah memaksa pihak rumah sakit untuk menandatangani surat pernyataan –yang saya buatkan– di atas meterai.

Langkah saya ini saya sampaikan ke teman-teman Kampung Gajah, selain sebagai media keluhan juga sharing atas keputusan saya. Untunglah saya mengambil langkah ini, karena kemudian Bunda Judith MS mengingatkan saya bahwa langkah ini salah secara hukum. Langkah ini dianggap sebagai intimidasi. Maka posisi saya menjadi terancam.

Akhirnya kemarin sore, Senin 3 September 2006, saya putuskan untuk pulang. Pihak rumah sakit dihubungi lagi, dan kita sampaikan bahwa hal ini tidak bisa ditunda. Sebenarnya kami sebagai pasien berhak untuk memeriksakan tanpa harus menunggu persetujuan pihak rumah sakit. Namun dikarenakan pendekatan tetangga-teman-saudara tadi, mau tidak mau saya harus mengalah dengan orang tua si bayi maupun kakeknya, yang notabene tiap hari di dekatnya.

Kelemahan saya hanyalah, saya bukan tipe mengalah yang seperti itu. Maka mengalah saya adalah memberikan kesempatan mereka berbicara lagi. Dengan terlebih dulu memberikan pertimbangan baik aspek hukum (jalan yang sudah ditempuh) maupun aspek kesehatan (jalan yang –ya Allah– aneh sekali belum ditempuh). Sehingga ketika tidak ada titik temu, jam 23:00 WIB saya bermotor mendatangi rumah manajemen rumah sakit. Oh ya, selama proses pembicaraan tahap kedua tersebut, karena saya memang melihat rombongan rumah sakit sebagai struktural kekuasaan, bukan teman atau tetangga, maka saya dijauhkan oleh orang tua saya. Emosi saya memang kadang memuncak, apalagi ketika si dokter bilang: lha wong cuma nunggu dua hari kok pak! *sigh*. Maka selama proses itu, saya lebih banyak berkonsultasi dengan Bunda Judith, yang alhamdulillah menjadi tempat saya tumpah ruah. Kebetulan istri saya sedang sakit, jadi ya mau bagaimana lagi. *makasih bunda :D*

Lanjutan dari peristiwa tadi malam, saya datang lagi ke pihak manajemen tadi pagi. Dengan ketegasan yang memuncak, anak ini dibawa hari ini oleh kami sendiri atau dengan pihak rumah sakit. Tentu saja dua-duanya tanggungjawabnya saya limpahkan ke pihak rumah sakit, karena mereka memang salah.

Alhamdulillah, pagi ini keponakan saya diangkut pakai ambulans dari Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bantul, selaku super-struktur dari RS PKU Muh. Srandakan. Dibawa ke Rumah Sakit Mata Dr. Yap di Jalan Cik Di Tiro.

Sementara sekian dulu laporan dan curhat saya, saya mau ke Dr. Yap.

Mohon do’anya

Vale, demi kesehatan

el rony, sungguh saya sayang keponakan

Update

Hasil diagnosis dokter Enny dari Rumah Sakit Dr. Yap mengatakan kondisi kornea keponakan saya baik-baik saja. Tidak ada iritasi ataupun kelainan lain. Alhamdulillah.

Category: Neolib, Yogyakarta, Culture, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback

29 Responses to “Tetes Telinga untuk Mata? Duh.. Keponakan..”

  1. ipoul-bangsari Says:

    trus hasilnya bagaimana mas? mata si kecil bagaimana? semoga sehat-sehat saja…

  2. aRdho Says:

    semoga smuany baik2 aja ya… gbu.. :)

  3. cahyo Says:

    Membaca tulisan ini saya cuma bisa mengurut dada :
    KOK BISA TERJADI SIH???

    sudah saatnya, dokter juga dianggap seperti profesi lain. bila salah dan membahayakan orang lain, ya harus siap dituntut di depan pengadilan.

    Sing sabar yo mas Rony… :-(

  4. rony Says:

    terimakasih ardho, ipul, cahyo.. alhamdulillah kondisinya menurut dokter baik-baik saja. kondisi kornea tidak ada gejala kelainan. *lega saya*

  5. sridewa Says:

    Alhamdulillah

  6. Azil Says:

    syukur alhamdulillah kalau kondisinya baik2 saja.

  7. Hedi Says:

    Kenapa makin banyak malpraktik ya? Semoga keponakan sampeyan cepet sembuh.

  8. sridewa Says:

    Mbok rasah liwat jalur hukum. Nek ra trimo, yo parani, nek lanang yo dijotos wae! nek wedok, sing dijotos lanangane wae, goro2 salah ora iso ndidik sing wedok. Nek kowe dilapurke pulisi, yo ngaku salah wae. Paling mung nginep sedilit neng pakunjaran. tenaang, penjara isn’t that bad.

  9. dian ina Says:

    kalo pake acara mukul dan main hakim sendiri, justru rony jadi salah banget dong! yang kayak gini nih yang ngerusak.

    kalo ponakanmu sembuh pun, rony. kamu harus pastikan bahwa semuanya menjadi tanggungan rumah sakit yang salah menangani dan semua selesai sampai tuntas. biar menjadi pelajaran juga.
    jangan sampai ada pasien lain yang jadi korban.

  10. mina Says:

    itu yang salah siapa ya, dokter yang salah meresep (tapi mestinya apotekernya menegur dokter), atau apotek yang salah ngasih obat atau perawat yang gak ngecek obatnya (dan tidak berbuat apa2 dengan keluhan sakit bila ditetesi mata). salah siapa pun, ini menunjukkan ketidaktelitian pihak pemberi pelayanan kesehatan di rumah sakit

  11. gerry Says:

    syukur deh kalo ga kenapa2 matanya. Itukan panca indra yg penting. Negligence kaya gitu kayanya harus mulai dikasi pelajaran deh, biar kapok.

    Syg di Indonesia ga kaya negara lain yg “main tuntut” ke pengadilan hehe

  12. enda Says:

    ya ampun kok bisa salah gitu. wah kasian keponakanmu nak ronceh

  13. sridewa Says:

    > dian ina: kalo pake acara mukul dan main hakim sendiri, justru rony jadi salah banget dong! yang kayak gini nih yang ngerusak.

    Harus diakui bahwa kekerasan pasti akan merusak utopia. Maap, tapi pandangan saya berbeda; lantip mempercayakan perubahan melalui kata-kata, sedangkan saya melalui kekerasan.

    Meskipun saya mengajak untuk main hakim sendiri. Lantip pasti tetap memilih jalur kata-kata. Percayalah pada Lantip.

    Omong-omong: Lets revive Anarchy! >:)

    Anarchy (Greek: αναρχία) is the anarchist society, the stateless society of free people.

  14. endhoot Says:

    cepet sembuh ya, nak…

  15. mpokb Says:

    syukurlah kalo si ponakan baik2 saja.. kok berobat jadi malah macem2 tho..

  16. Sayid Munawar Says:

    @dian ina. Mbak, kenalan dulu sama sridewa, orang nya memang begitu, kalau mbak dah kenalan, pasti mbak akan setuju dengan postingan sridewa. hehe…

    @rony. lha berarti wingi kae kita bergadang sampai pagi tu kowe sedang ada masalah to ron… who ya maap :D

  17. titok Says:

    bos, turut beduka ya atas musibahnya…
    semoga keponakannya lekas sembuh dan kembali normal seperti sedia kala.

    - tetap semngat bos -

  18. Imponk Says:

    untung ketahuan, kalau tidak.. ck..ck..

    malapraktik semacam ini harusnya bisa dituntut di pengadilan. bagaimana kalo sampe rusak penglihatannya? padahal penglihatan itu tidak dijual bebas.

  19. lafea Says:

    … mari mengutuk flu! *lho?*

  20. Junkerz side B Says:

    turut berduka cita..
    semoga cepet sembuh :)

  21. mbah dipo van de vinter Says:

    kesalahan yang jelas ada di level apotik. Cuma di level ini ada 2 kemungkinan :

    1. salah ambil obat, karena nama merek yang sama antara tetes mata dan telinga. Contoh : Erlamycetin, itu ada yg tetes telinga, tapi ada juga yang tetes mata. Maka saat ngambil obat harus hati2. Kasus seperti ini hampir kejadian di klinik simbah. Untung pasiennya jeli, hingga dikembalikan dan diganti. Maka apotekernya simbah pisuhi.

    2. salah ambil obat gara-gara tulisan dokter yang urek2an. Kemungkinan kedua ini keliatannya tidak mungkin untuk kasus ini, karena di label kertasnya ditulisi “obat tetes mata”.

  22. paKDhe Says:

    cuman dua hari kok……

    iyaa… orang sekarat kalo dibiarin 5 menit yo bisa lewat. dokter kok gak nduwe sense of emergency

  23. dudi Says:

    lek aku onok ndek kono wes tak sampluk dokter’e. Lah ora genah dadi dokter sek ngengkel ae :-D

  24. Qky Says:

    wah… kudu di gugat, tuh Boss!

  25. snydez Says:

    <quote%gt;Langkah ini dianggap sebagai intimidasi. Maka posisi saya menjadi terancam.</quote%gt;

    aneh ya, yang salah malah bisa mengancam ‘pencemaran nama baik’ atau sejenisnya..
    padahal …

    ah au ah ..
    :(

  26. Cron Says:

    Wah niku nggih parah sanget to mass !!!!
    Baragajul nyambut gawe do sak penake udel-e dewe. Nyowo wong liyo di nggo dolanan.

    Tapi sukurlah kalo keponakan-e gap apa2

  27. andrias ekoyuono Says:

    syukurlah kalo ponakannya baik2 aja…
    moga jadi pelajaran bagi kita semua deh..

    btw, sido dijotos ra ?

  28. diella Says:

    semoga lekas sembuh yah!

  29. hisbi Says:

    mataku bagian kiri agak kurang bagus gitu.. tapi takut ke dokter mata…
    ya karena takut mal praktek..
    saya sudah bersyukur dgn keadaan yg sekarang.. ^_^

Leave a Reply