
Sebuah obrolan di pos ronda, memang kadang membawa kita kemana-mana. Latar belakang yang berbeda-beda, hebatnya, bisa dijembatani dengan sebuah mantra kuno: bola. Dan ketika mantra kuno itu sudah mengudara, semua opinipun berkembang dengan sendirinya. Kekalahan tim Indonesia (PSSI) atas Myanmar, disinyalir karena memang Indonesia tidak serius dalam menangani tim sepakbola. Semuanya generasi tua, sementara dari Myanmar rata-rata anak muda usia 24 tahun semua. Jadi, selain kalah strategi, Indonesia juga kalah stamina dan kelincahan.
Saya sendiri mengungkapkan analisa semena-mena. Saya bilang, karena saya tidak terlalu mengerti bola, kemungkinan Indonesia nggak bagus sepakbolanya karena negara kita ini nanggung. “Maksudnya gimana mas?” celetuk kang Kimu. Jadi gini lho kang, negara ini dikatakan miskin, nyatanya tidak semiskin Afrika. Dikatakan kaya, walah jelas tidak, kalah jauh sama Korsel misalnya. Nah, nyatanya negara seperti Afrika ataupun Australia itu bisa toh menghasilkan tim sepakbola handal? Lantas saya pun mengembara ke dunia akhir orde baru.
Era Tinggal Landas, Era Super Kandas
Nah, kalau dimulai dari sini, jadinya enak. Anda semua ingat nggak dengan jargon itu? Dikatakan bahwa kita memasuki era tinggal landas. Bayangannya adalah teknologi pesawat super canggih, yang membawa Indonesia ke awang-awang, ke kelas yang melesat menembus awan. Tetapi, apa ya begitu?
Sudah banyak yang membahas kenyataan seputar istilah tinggal landas ini. Bahwa ketika kita tinggal landas, maka penumpang tidak boleh bertingkah. Seluruhnya dipasrahkan pada pilot, pemegang kemudi, penguasa. Pipis harus ditahan hingga nanti kalau sudah aman di atas awan. Penumpang hanya diperbolehkan berdo’a. Namun, ada lagi yang jarang diperhatikan orang. Tinggal landas itu adalah kondis nanggung.
Mengapa nanggung? Karena tinggal landas berarti tidak/belum di awan, tetapi tidak juga menggelinding di daratan seperti bus. Tinggal landas adalah potret paling tepat untuk negara ini: nanggung.
Kebijakan yang dihasilkan oleh generasi yang lahir dalam era nanggung ini, akhirnya juga nanggung pula. Kita tengok saja satu hal yang mencolok dimana-mana. Tentang lapangan kerja. Lho kok bisa nanggung? Lha mari kita lihat bersama.
Pendidikan di negara ini dibikin dengan sangat nanggung. Lho kok jadi pendidikan? Katanya mau membahas tenaga kerja? Lha iya, sabar to. Ini berkait soalnya. Nah, di negeri ini, seorang yang ingin jadi pelukis misalnya harus ngerti rumus kimia. Orang yang mau menjadi peneliti ataupun ahli matematika, harus ngerti sejarah revolusi perancis. Ya bagus saja, kalau pendidikan ini memang mengarah ke philosophi. Karena seorang yang bergelar PhD memanglah mustinya menuju ke pengetahuan yang luas, karena dalam kaitan filsafati semua ilmu pengetahuan itu memiliki akar yang sama. Nah, tetapi apakah demikian?
Pendidikan di negeri ini dihadapkan pada lapangan pekerjaan. Rata-rata harapan anak bangsa yang mencari pendidikan, dalam angan-angannya adalah agar mendapat pekerjaan dengan gaji besar. Kenapa bisa demikian? Karena dalam skema besar ketenagakerjaan di Indonesia, syarat pertama adalah gelar. Makin banyak gelar, makin besar gajinya. Tapi ya itu, angka kelahiran ataupun kemunculan sarjana di negeri ini, tidak berbanding lurus dengan lapangan pekerjaan yang ada. Maka muncullah stimulan nanggung di dunia pekerjaan: pengalaman.
Seorang lulusan muda, fresh graduate, dari perguruan tinggi terkemuka dengan nilai IP di atas rata-rata, tidak bisa langsung menjabat sebuah kedudukan tinggi. Karena selalu saja ada istilah pengalaman sekian tahun. Kalau kita tengok ke dunia IT, ketika ada tender di pemerintahan, maka ada istilah pengalaman lima tahun ataupun pengalaman menangani proyek dengan besaran yang sama selama sekian kali. Nah, mari kita tengok dari scope kecil ini saja.
Seorang ahli programming, yang mengerti PHP, nglothok Java, paham super dalam C, dan lain-lain yang luar biasa, superman lah pokoknya, tidak bisa ikut dalam tender dengan harga ratusan juta. Karena harus ada syarat pengalaman tadi. Maka dia mau tak mau menjadi sub ordinat, outsource. Sementara, outsource ini nilainya tentu saja tidak lagi utuh, harus dibagi dengan institusi payung yang dipakai namanya. Maka portofolio dia tidak akan pernah mencukupi untuk memenuhi syarat itu. Nanggung bukan? Kalau Bill Gates lahir di negeri ini, saya yakin tidak akan ada Windows. Ataupun kalau OS itu lahir, percepatannya tidak akan seperti yang saat ini terlihat.
Oke, itu gambaran dunia IT. Lantas adalagi yang nanggung? Nah, mari kita kembali ke isu yang lebih membumi, yang lebih merakyat. Mengenai sawah. Nah ini lompatan yang agak jauh, dari dunia IT ke lumpur. Ya tapi nggak apa-apa. Sawah di negeri ini sudah disadari sebagai tulang punggung bagi kebutuhan pangan. Ketergantungan akan padi semakin merajalela semenjak ide transmigrasi berkembang. Namun, penanganan atas sawah tidak sepenuhnya menjaga. Kesejahteraan petani tidak dipedulikan, harga pupuk yang meninggi tidak dianggap terlalu memusingkan. Dan ketika akhirnya petani menyerah, dan menjual kepada investor yang akan membuat Mall di area persawahan, pemerintah muncul di tengah. Bukan mediator atas kepentingan petani, tapi untuk memperlancar industri franchise itu mengurangi wilayah pertanian di negeri ini.
Lalu soal budaya. Ah, jangan terlalu luas. Budaya di sini hanya menyinggung soal trend saja. Negeri nanggung ini menghasilkan orang yang ironis. Mas Andry sudah mengurai panjang lebar tentang keberadaan laptop yang sia-sia, karena hanya menjadi sarana modis, sarana mejeng, sarana bergaya, dan semakin menjauhkan si empunya dari fokus utama pekerjaannya. Silakan cek betapa nanggungnya kondisi ini di blog beliau.
Hmm.. apa lagi ya? Aha, tentang pakar teknologi. *supersigh*. Di negeri ini ada seorang yang diberi titel pakar teknologi, kemudian beralih menjadi pakar multimedia, kemudian beralih lagi menjadi pakar pornomatika. Orangnya sama. Tapi ilmunya nanggung. Dan orang dengan ilmu nanggung ini pula yang diterima seluruh masyarakat. Dia yang nggak ngerti apa itu blog, bisa dengan sah menyuarakan tentang “sesatnya blog”. Tidak ada perlawanan karena para pegiat blog merasa sudah kehabisan pikir dengan ceplosan-ceplosan gak mutunya, sementara di sisi lain para wartawan dengan sangat-sangat super nanggung malas untuk mencari tahu siapa pakar sebenarnya.
Lha jadi bagaimana? Negara ini super nanggung bukan? Kalau ditilik usianya yang 61 tahun, maka kita memang seperti hidup di dunianya pak Janggut, tokoh di majalah Bobo. Usia beratus tahun, terlihat tua, tetapi dalam dunia pak Janggut sebenarnya masih remaja. Masih kolokan. Masih nanggung, karena mau pake celana panjang terlihat wagu, mau pake celana pendek juga wagu. Nanggung deh pokoknya.
vale, demi kesehatan
el rony, nanggung nulisnya. ![]()
Category: Neolib, Yogyakarta, blog, Technology, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
August 31st, 2006 at 12:36 pm
lho jadi ini mbahas negara nanggung apa negara wagu ? *mbingungi karepe dhewe*
August 31st, 2006 at 1:46 pm
jadi ini negara wagu yang nanggung dan mbingungi. hihii
August 31st, 2006 at 2:07 pm
bukannnya ideologi kita, pancasila juga nanggung mas Roni…
ekstrem kiri tidak, ekstrem kanan juga tidak..
nanggung memang…
August 31st, 2006 at 2:18 pm
postingan yang serba nanggung, ndak fokus. sangat akurat anda mencerminkan kondisi negara yang nanggung..
hehe.. becanda..
Tapi *nanggung* dengan *cukup* itu jauh.
Wejangan “Berhentilah makan sebelum kamu kenyang” itu jelas bukan nanggung, tapi cukup.
August 31st, 2006 at 3:51 pm
Hai Roy
August 31st, 2006 at 3:58 pm
kalau bill gates lahir di sini? weleh.. mungkin dia tidak drop out dan masih jadi karyawan swasta seperti saya..
–bahasa indonesia-nya wagu itu kikuk atau kaku, kan? *buka kamus*
September 1st, 2006 at 9:30 am
curhat tentang Roy? jadi subordinatnya Roy? hihihi…
btw, udah HAMIL?
September 1st, 2006 at 9:44 am
Kalo menurut saya, ya, Oom…. yak…. gitu, deh… udah yak, Oom… sorry banget, lagi nanggung, nih…
September 1st, 2006 at 9:44 am
Ajarin tata krama ke semuanya, trus buku dibikin murah dan perpus 24 jam dulu aja. Yang laen nyusul
September 1st, 2006 at 3:17 pm
sebenarnya saya mau nulis komentar, tapi lagi nanggung
September 1st, 2006 at 3:33 pm
yah begitulah. memang nanggung, gojak-gajek, jegrang, merkengkong. tapi saya yakin endonesah bisa diperbaiki.
September 1st, 2006 at 7:41 pm
aahh.. nanggung nih.. udah mau keluar…
*halah*
September 2nd, 2006 at 1:08 am
wah nanggung, jadi enaknya gimana ya mas?
September 2nd, 2006 at 9:08 am
om tyo: amien, semoga memang bisa diperbaiki.
Hedi: lho.. nanggung itu ya gak enak, piye toh? hihihi
September 3rd, 2006 at 8:11 am
Ah .. postingannya nanggung .. kurang pedes :p
September 4th, 2006 at 12:13 am
Dunia ini nanggung sandiwara, ceritanya mudah berubah…
September 4th, 2006 at 9:19 am
nanggung derita…. :((
September 4th, 2006 at 11:09 am
negara serba bingung, rakyatnya juga ikut-ikutan bingung
September 4th, 2006 at 11:36 am
wah saya jadi merasa tersindir…soalnya saya kan selalu nanggung…ngeblog nanggung…..ngenet nanggung….ngejokes nanggung…..ngebom nanggung…:) eh gak de….kalo ngebom nanggung ntar sembelit lagi (kok jadi ngaco sich???)
September 7th, 2006 at 9:25 am
sudah wektunya sertifikasi profesi di”galak”ken di indonesia. biar laen kali yang jadi syarat bukan pengalaman, tapi sertifikasi. lek pengalaman lak iso ae ngapusi
June 21st, 2007 at 10:36 am
negara nanggung, orang2 nya ikut nanggung