Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Gimana Kabar Yogya, Ron?

Print This Post   Email This Post

Biasanya aku tergagap untuk menjawab pertanyaan seperti itu. Bagi siapa saja yang menjalani hidup dengan segala rutinitas, sudah barang tentu dia juga kesulitan untuk identifikasi tentang hal-hal baru di sekitarnya. Apalagi jika proses perubahan di sekitarnya itu, secara alam bawah sadar, diikuti. Artinya hal baru bukanlah hal baru baginya, karena dia melihat dari mulai lahir, merangkak, berdiri dan seterusnya. Apa yang aneh dan layak dilaporkan? :)

Tetapi siang ini, setelah saya menyempatkan keluar dari kesibukan-gak-penting-karena-sebenarnya-hanyalah-sok-sibuk-yang-gak-mutu saya, maka saya mendapati ada hal baru. Dan hari ini saya siap untuk menjawab kalau ada yang bertanya. Ini dia jawaban saya.

UGM Punya Mall

Oh ya, isu ini sudah lama banget. Bangunan itu sudah lama menunjukkan rangka-rangkanya secara mencolok. Lengkap dengan bandulan batu beton yang melayang-layang di atas badan jalan. Sudah lama sekali, sehingga ketika sekarang mulai muncul bentuk luarnya –secara lebih jelas– tentu bukan barang aneh lagi.

Tetapi hal yang baru adalah UGM melanjutkan proyek membuat Mall ini. Posisinya tidak berubah sih, tetap di depan kantor cabang Mandiri UGM, atau di sebelah cabang BNI UGM.  Hanya saja, sekali lagi, bentuknya semakin jelas. Nah, di bagian depan, yang menghadap Jalan Kaliurang, terpampang poster iklan mall tersebut, persis seperti poster-poster iklan mall lain ketika proses pembuatan sudah semakin mendekati bentuk jadi.

Dalam lintasan sesaat itu, ada yang membersit kilat di kepala saya. Ah, Sofyan Effendi memanglah haus uang. Entah bagaimana nanti di hari akhir, apakah ya kekayaan itu akan digembol ke liang lahat? Ataupun diwariskan hingga seratus ribu keturunan? Yang jelas, mall itu tetap diteruskan. Maka, saat ini paket “wisata” Yogyakarta dengan sendirinya bertambah satu: GAMA PLAZA.

Selamat datang kapitalisme. Selamat, telah mewarnai kampus ndeso menjadi kampus haus-uang! Kemana para rekan yang dengan-penuh-semangat selalu menentang ide-ide komodifikasi seperti ini? Sekali lagi kata ampuh yang muncul: ENTAH. Memang komodifikasi sudah menjadi trend di kalangan manapun, tak kurang dunia pendidikan kita. Jadi apa mau dikata?

Komodifikasi Menghadapi Somasi

Nah, ini juga baru. Baru Senin kemarin kok, 28 Agustus 2006. LBH Yogyakarta menyampaikan somasi ke Sekolah-sekolah Negeri  di Yogyakarta. Somasi dilayangkan dengan alasan karena sekolah-sekolah tersebut menarik uang sumbangan kepada anak-anak korban gempa.

Seperti kita tahu, sumbangan di sekolah-sekolah sekarang ada berbagai macam. Saat ini di meja saya bahkan ada satu brosur berisi tentang Kelas Khusus. Sebuah kelas yang –katanya– dirancang khusus bagi generasi masa depan yang melek IT. Lengkap dengan embel-embel keharusan: mempunyai laptop, siap dengan sejumlah uang untuk biaya perjalanan jika sewaktu-waktu si anak dikirim ke luar negeri, dan masih banyak lagi.

Tentu saja, sumbangan yang seperti itu, hanya dan hanya untuk anak yang mampu saja. Lha bagi anak tukang becak, cukup bercerita saja bahwa di sekolahnya ada kelas khusus yang hebat, yang mahal, yang anak-anaknya bahkan tidak akan sempat bermain karena harus selalu siap dengan proyek-proyek IT yang diberikan oleh sekolahan. Mereka tidak akan sempat berfikir untuk ikut, karena sumbangan lain sudah ada di depan mereka. Sumbangan yang “tidak rasis” artinya semua sama rata.

Dan sumbangan itu pula yang memicu somasi ini muncul. Kenyataannya sumbangan di luar BOS (biaya operasional sekolah) itu memberatkan pihak orang tua. Apalagi dengan kondisi setelah gempa yang mengakibatkan sekian orang harus kehilangan pekerjaan, seperti tukang becak yang kakinya patah tertimpa rumah, dan lain-lain.

Pihak Depdiknas menanggapi tuntutan tersebut dengan menggelar dialog. Namun dari pihak LBH tidak ada yang datang, alasan yang mengemuka karena tema dialog tersebut tidak jelas. Dari pihak sekolah yang datang, di acara dialog itu menegaskan bahwa uang dari para korban gempa sudah dikembalikan. Hanya saja musti diberi embel-embel “.. jadi semestinya LSM tidak usah lah melalui somasi segala, cukup kekeluargaan”.

Ini aneh bukan? Kalau memang tidak salah, justru tidak perlu menyampaikan hal itu menurut saya. Somasi ini adalah salah satu bentuk pendidikan masyarakat, bahwa masyarakat bisa menuntut haknya melalui jalur hukum. Lantas kenapa harus dicegah? Saya tidak mengerti sama sekali.

Jadi kawan, inilah hal yang baru di Jogja. Sebuah komodifikasi super cuek di tengah kampus yang memanggul jargon “kampus rakyat” di satu sisi, dan di sisi lain komodifikasi menghadapi gelitik kecil dari masyarakat. Siapa yang akan menang? Ah, sepertinya jawaban sudah terbayang, namun biar saja itu jadi kabar selanjutnya untuk kotaku tercinta ini.

vale, demi kesehatan

el rony, semakin pusing, mau dikemanakan generasi nanti?

Category: Neolib, Yogyakarta, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback

8 Responses to “Gimana Kabar Yogya, Ron?”

  1. cahyo Says:

    baru seminggu yang lalu pulang ke jogja…
    memang jogja sudah banyak berubah ke komersialisasi…

  2. cahyo Says:

    baru seminggu yang lalu pulang ke Yogya…
    memang jogja sudah banyak berubah menurut saya juga sih mas Rony… :-D

  3. ipoul-bangsari Says:

    diakhir masa kuliah saya yang hampir abadi, saya merasakan benar bahwa UGM sangat membenci kaum miskin. lha bagaimana tidak, saat saya masuk SPP masih 250 ribu, tapi kok pas keluar sudah sejuta lebih. entah dunianya yang sudah gila atau UGM-nya yang gila.

    BTW, mall UGM itu jadi apa sekarang?

  4. benisuryadi Says:

    mm…mirip-mirip sama ITB ya..
    kebetulan ato memang seperti itulah dunia sekarang?

    benx =)

  5. bahtiar Says:

    owalah .. jogja :(

  6. mpokb Says:

    di bekas gedung alumni ipb sekarang juga sudah ada hipermarket giant.. :(
    hm.. ngajarin anak untuk berhemat kayaknya jadi basi yak? :P

  7. abe Says:

    Sisi baiknya Om Rony,
    Kalau nanti mau berbelanja atau mau cuci mata kan lebih enak! Setuju gag sih?
    -
    vale, demi gaya!
    -
    el rony, gag usah bingung, ambil positifnyah! ;)

  8. Hedi Says:

    ga jogja, ga di mana² (Indonesia), mall terus yang dibangun…di kota Malang yang cuma sekecil itu aja dibangun mall, aneh bin ajaib memang.

Leave a Reply