
Selorohan itu muncul di tengah diskusi asyik penentuan arah organisasi. Selorohan khas Rinto dan saya.
Organisasi apa itu? Dan mengapa muncul selorohan aneh seperti itu? Sebentar, nanti pasti sampai ke sana, saya hanya ingin menerangkan dulu, bahwa ini bukan selorohan ketika membahas sebuah penerbitan.
Nama organisasi tersebut adalah Jangkep. Sering kami plesetkan menjadi Jaringan Orang-orang Cakep. Betapa narsisnya bukan?
Jangkep sendiri sebenarnya bermakna Jaringan Advokasi Anggaran dan Kebijakan Publik.
Pada awalnya jaringan ini bersifat cair. Anggotanya terdiri dari pegiat-pegiat LSM yang sudah suntuk dengan LSM. Nah loh!
Ya, kami, para pendiri, sudah muak dengan LSM yang tak lebih bak kerbau dicocok hidungnya ketika berhadapan dengan Funding alias lembaga donor.
Kami, para anak muda penuh ambisi dan pemikiran super-ideal, akhirnya berkumpul ala Jogja. Ngeteh, ngopi, ngrokok, ngobrol ngalor-ngidul. Sehingga akhirnya mengerucut ke isu membikin sebuah lembaga non lembaga. Maksudnya? Ya, maksudnya “semacam lembaga” tetapi tidak usah pusing dengan AD/ART dan segala macam. Yang menjadi fokus utama adalah berproses bersama, membantu masyarakat. Dananya? Ya dari kocek kami masing-masing. Uang yang kami peroleh dari lembaga kami masing-masing, menurut hemat kami memang perlu dicuci bersih.
Dan Kami-pun Berjalan
Kami hadir dalam aksi-aksi tuntutan rakyat. Waduh.. bahasanya.. maksudnya kami ada di tengah-tengah masyarakat ketika masyarakat menuntut kejelasan tentang kebijakan dan anggaran. Dan berhubung kami tidak memiliki dana banyak, maka pilihan utama kami adalah kebijakan. Maka serbuan analisis wacana-pun muncul di koran-koran.
Prestasi –halah– kami adalah berhasil membawa tim ombudsman pusat ke Yogyakarta untuk menangani kasus kebijakan publik. Waktu itu ombudsman baru saja berdiri, jadi belum ada ombudsman daerah.
Ternyata capaian ini di-endhus oleh para fundingers. Maka kamipun mendapatkan berbagai lamaran funding. Tak kurang Tifa (yang dibikin oleh George Soros) meminang kami untuk menjalankan program-program mereka. Kami menolak!
Hingga akhirnya ada funding yang kami anggap bersih, Oxfam! Ya, oxfam ada sisa anggaran (doh!) waktu itu, sehingga bisa kami lakukan untuk pendampingan ke masyarakat. Tapi lhadalah, dana itu hanya cukup untuk tiga bulan. Dan tuntutan standar waktu itu adalah terbentuknya aliansi masyarakat. Hopo tumon?! Dalam tiga bulan, kita baru kenalan. Ya, tiga bulan itu kurang lebih sama saja dengan masa KKN. Apa yang diharap?
Nah, inilah yang kemudian memicu diskusi berupa kegelisahan akan arah ke depan lembaga ini. Dan di sini pula selorohan itu muncul. Debat berhari-hari itu membahas, apakah Jangkep akan mengambil posisi analisis wacana, ataukah turun ke basis? Kebetulan dua-duanya adalah bacaan kami sehari-hari, yaitu Majalah Basis dan Jurnal Wacana
Keputusan di Ambil, Saya Juga!
Singkat cerita, teman-teman sepakat untuk turun ke basis. Dan untuk melakukan itu, mau tak mau teman-teman harus berbaikan lagi dengan funding. Saya sendiri, mewakili JPMS (Jalinan Persahabatan Masyarakat Sipil, bukan lsm, bukan organisasi) memilih mundur.
Bagi hemat saya, pilihan untuk itu berarti kembali ke alur semula. Semuanya menjadi melembaga, sehingga semangat untuk mengembalikan semuanya ke proses-pun terpaksa ditelan lagi. Ya, lembaga ini akhirnya benar-benar menjadi lembaga.
Tidak ada yang salah tentu saja. Kenyataannya, hingga saat ini lembaga itu masih eksis. Dampingannya juga semakin luas. Kinerja teman-teman semakin diterima masyarakat (insya Allah). Yang jelas funding-pun semakin akrab dengan lembaga ini.
Sementara saya? Ya tetap berproses, tetap berlatih (seperti yang saya tulis kemarin). Terjun ke sektor-riil adalah pilihan saya setelah menimbang segala pengalaman. Saya memang hendak melepaskan diri dari kungkungan funding. Kalaupun ada hubungan dengan proyek mereka, tak lebih sebagai tukang. Semacam, mereka butuh baju, saya menjahit. Itu saja! Tidak ada proposal lagi, tidak ada janji ataupun angan muluk-muluk.
Dan mengenai JPMS, ya ini adalah organisasi yang aneh. Terdiri dari banyak orang, dan masing-masing mengejawantah dalam prosesnya sendiri-sendiri. Pilihan saya di sektor riil, tidak dianggap mengganggu oleh teman saya yang pegiat LSM. Juga pilihan anggota lain yang terjun dan masuk ke Perusahaan Super-kapitalis, tidak juga dianggap mengoyak “nafas” organisasi. Pemahaman terinternalisasi, dan kepada proses kita pesankan,”let it be”.
Jadi, saya tidak memilih majalah atau jurnal. Saya membaca keduanya!
Selamat buat kawan-kawan Jangkep, semoga perjuangan kalian akan terus dan terus bermanfaat bagi semuanya. Untuk kawan-kawan JPMS, kapan kita ngobrol lagi?
vale, demi kesehatan
el rony, menumbuk ramuan anarkhis.
NB:
Lha, jadi gak mau melembaga? Iya kali ya!
NB:
Buat kawan-kawan Kampung Gajah, saya punya oleh-oleh buat kalian. Sila klik di sini. Semoga lain waktu saya bisa perbaiki oleh-oleh itu. Selamat berorganisasi! ![]()
Category: Culture, blog, Technology, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
August 26th, 2006 at 8:41 am
wah…hebat nih mas roni. aku pikir orang yang mencintai kode-kode pemrograman di depan komputer, maaf, biasanya tidak sudak dengan LSM-LSM semacam ini. ternyata concern juga terhadap kegiatan semacam ini. salute….
January 25th, 2011 at 2:15 pm
aiiiihhh… baru mbaca setelah dipublish lima tahun huhuhu… *getok 2x pala ditembok*
duh kangen JPMS