
Namanya Latiyono. Dari namanya sudah terlihat seberapa kental kadar ke-jawa-annya. Hurup “o” yang bertebaran memang selalu identik dengan wilayah satu ini. Arti dari nama tersebut adalah “berlatihlah”. Dan ingatan saya akan dia, mengajakku merenung akan hidup.
Aku mengenalnya ketika masih duduk di bangku SMP. Kami satu kelas. Dari dia pula aku mendapatkan beberapa ilmu –yang sayangnya sekarang sudah agak lupa detilnya– dari mulai bagaimana membuat es puter (es cream ala desa, atau yang sering kami sebut es dong-dong) hingga cara untuk njathil (tarian dalam jathilan).
Berteman dengan Terik
Siang hari sepulang dari sekolah, yang dilakukan temanku ini adalah mengambil satu termos es puter. Tempat mengambilnya tidak jauh dari rumahnya. Termos tersebut adalah jatah dia, dia pula yang membuatnya di pagi hari sebelum berangkat sekolah. Termos sederhana dari bahan seng, tabung kecil nan panjang. Di sekeliling tabung ini ditaburi butiran es ditambah sedikit garam. Waktu itu saya bertanya mengapa diberi garam, dan jawaban yang saya terima adalah biar gurih, katanya. Namun ternyata garam membantu membuat es mencapai titik terdinginnya.
Sekali, atau dua kali(?), saya ikut dia berkeliling. Menjajakan es puter dengan gerobak dorong. Bende (gong kecil) di dekat pegangan tangan, selalu dia pukul sehingga memunculkan bunyi “dong..dong..”. Tidak sulit baginya untuk mendorong, sekaligus tangan kanannya menjepit pemukul gong, sambil memukulkannya ke bende tersebut. Aku mencoba beberapa kali, tetapi ternyata susah. Kalau gong terpukul ritmis, itu berarti aku telah membelokkan gerobak kemana-mana. Atau kalau jalannya gerobak lurus dan mulus, hal itu berarti gong tidak berbunyi.
Tanpa payung, tentu saja. Terik matahari adalah sahabat terbaik bagi penjual es. Dengan terik, orang-orang segera merindukan kesejukkan, hal yang ditawarkan oleh gerobak teman saya ini. Maka tak heran jika kulit teman saya, dan saya tentu saja, menghitam melegam. Juga rambut teman saya, dan saya juga lho ya, memerah saga –eh tidak sampai semerah saga– bahkan tanpa kami harus membayar lebih ke salon.
Rute yang kami tempuh, hmm… coba saya ingat, kurang lebih 17 Km, meliputi lebih dari 5 desa. Dalam sekali atau dua kali saya ikut tersebut, hasil penjualan cukup banyak. Saya lupa jumlah pastinya, yang jelas wajah gembira membayang di dirinya, juga pada wajah bapaknya. SPP terbayar, itu pasti. Saya sendiri sudah sangat puas mendapatkan upah berupa satu gelas penuh es dong-dong.
Jathilan, Kala Badhong Menggores
Ketika hari tidak terlalu terik, atau manakala bahan es puter mencapai harga yang tidak masuk akal, maka temanku ini beralih menjadi seniman. Menjadi bagian dari sebuah grup jathilan bergelar “Mega Mendung”.
Ada banyak grup jathilan waktu itu di daerahku. Masing-masing memiliki ciri sendiri-sendiri. Ada grup yang dilengkapi “Penthul Bejer”, dua sosok badut ala jawa, ada pula yang lebih mirip kelompok wayang orang. Yang jelas, rata-rata melengkapi diri dengan kuda lumping.
Nah, temanku memiliki peran yang waktu itu agak aneh dalam penerimaanku. Dia menjadi semacam ksatria pandhawa, lengkap dengan badhongnya (semacam sayap gatotkaca), tetapi berkacamata hitam. Kacamata yang besar, nangkring di hidung teman saya yang tak kalah besar, membuat wajah tirusnya tenggelam.
Saya sudah hendak ikut waktu itu. Bagi saya ini menarik sekali. Menjadi bagian dari tontonan, sepertinya akan menjadi pengalaman yang jauh lebih asyik daripada menjadi penonton. Namun, apa daya, bapak saya melarang, alasannya karena kelompok ini manggung dari rumah ke rumah dan tak kenal waktu. Ya, jathilan ini memang menjajakan keseniannya secara berkeliling, berharap ada orang yang “menanggap”. Oleh karenanya kelompok ini menabrak waktu-waktu Sholat, itu sudah pasti, bahkan kadang bisa sampai malam.
Saya yang gagal untuk terlibat, akhirnya memilih menunggu waktu-waktu kosong teman saya. Dan mencoba menggunakan badhong, lantas minta diajari menari. Susah! Pacak gulu (menggoyang kepala ke kiri dan ke kanan, tetapi bahu tetap diam) ternyata bukanlah perkara sepele. Berkali-kali saya jadi bahan tertawaan rombongan jathilan itu. Muka saya pastilah merah karena malu, tapi dalam hati saya membathin,”saya menjadi tontonan dari sekelompok tontonan yang selama ini hanya ditonton” *halah*
Semuanya Berawal Dari Sana, bahkan Tak Menjanjikan Akhir
Dari latihan! Semuanya berawal dari latihan. Kedekatan saya dengan teman saya ini, yang sempat terkoyak karena memperebutkan perhatian seorang cewek (ya ampun cinta monyet), memaknai sesuatu dalam hidup saya. Bahkan tanpa saya sadari. Baru sekarang saya sempat termenung, ketika segala usaha hanya berbuah sia-sia.
Hidup ini latihan. Dari latihan, menuju ke latihan selanjutnya. Maka ketika seorang sopir bus bilang kepadaku,”hidup ini adalah festival adu nasib” saya sempat berhenti pada kalimat itu. Dan baru sekarang saya memiliki bayangan yang lebih jelas. Hidup ini memanglah perayaan adu nasib, dan dia yang berlatih dengan giat, pastilah dia selalu siap untuk diadu. Kalaupun usahanya tidak membuahkan uang, paling tidak “tariannya” menghasilkan keringat bahagia.
Dan Lat, terimakasih atas pertemanan kita. Kamu dimana sekarang? Aku masih berlatih sampai sekarang. Badhong yang menggores, kini terasa lagi di pundak, ketika pegal karena mengetik kode-kode hingga proposal. Maukah kamu menertawakanku lagi? Atas kegagalanku pacak gulu?
vale, demi kesehatan
el rony, –pacak gulu–
Category: Yogyakarta, Culture, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
August 24th, 2006 at 10:28 am
Retrospeksi yang menggugah!
August 24th, 2006 at 11:35 am
wah..wah…beruntung sampeyan mas roni punya hidup yang berwarna seperti ini….
August 24th, 2006 at 11:54 am
wah critanya kok seperti iklan rokok yang versi 2 surfers berteman dr kecil, rebutan cewek, yang satu kelindes mobil kakinya dst..dst lah gitu
touchy
August 24th, 2006 at 1:24 pm
pacak gulu itu melambangkan apa? nggak nyangka, el rony sulantip pernah latihan nari..
August 24th, 2006 at 3:53 pm
wah, ampuh tenan iki. jero banget. nyess. suwun ron.
August 24th, 2006 at 5:00 pm
saat di jogja, hidup adalah kenikmatan spiritual tiada tara. terdampar dijakarta membuat saya belajar memaknai hidup. saya merasa berkali-kali gagal.
tulisan ini menggugah kesadaran saya. terima kasih, semoga langgeng.
August 25th, 2006 at 9:33 am
apik tenan ron. tergugah mari moco. ya hidup itu memang latihan!