
Itu yang sedang terbayang-bayang di kepala saya. Seperti sudah kita sadari bersama, kata seandainya biasanya mengandung penyesalan ataupun kegelisahan sejenis.
Tetapi saya tidak menyesal, saya benar-benar hanya berandai-andai saja.
Lantas kenapa saya berandai-andai?
Flashback Dulu Dong!
Ceritanya agak panjang juga. Kemarin, Sabtu 12-08-2006 pukul 23:20 WIB, kakak saya yang nomer dua melahirkan anaknya yang ketiga. Akhirnya kakakku dikaruniai anak lelaki, setelah sekian lama menunggu. Selamat dulu deh buat kakakku dan suaminya! Juga buat Abidah dan Nurul yang sedang senang bukan main dapat adik laki-laki
Kakak iparku sedang ada banyak pekerjaan di Solo, sehingga dia terpaksa datang telat. Dan dia datang sekitar pukul 23:10 WIB, tepat 10 menit sebelum si anak lahir. Saya sendiri memutuskan ke Bantul, dan langsung menuju sebuah klinik kecil berjuluk PKU yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah orang tua saya. Ya, sekedar jaga-jaga saja karena kakakku sudah masuk ke klinik tersebut semenjak pukul 05:00 WIB (pagi), dan biasanya dia cepat saja proses melahirkannya, dan kali ini anehnya lama sekali prosesnya. Orang tua saya yang mulai uzur sangat khawatir, karenanya saya berusaha hadir walaupun harus ikut rapat RT dulu di kampung tempat saya tinggal (Mayangan, Yogya).
Yak, flashback cukup! Keponakan saya lahir, semuanya lega. Laki-laki, sehat, lahir dengan berat 3,1Kg dengan panjang (atau tinggi ya?) 51cm. Kakak iparku bangganya bukan main.
Perbincangan dengan Ibu
Tibalah saatnya bersantai sejenak, di beranda rumah, pukul 24:00 WIB. Saya mendengarkan ibu saya menceritakan proses detik-detik kelahiran si anak. Dan kemudian terbayang bagaimana situasi di dalam kamar bersalin, saya hanya mendengar erangan kakak saya saja tadinya. Dan tangan ibuku memang terlihat sempat menjadi tempat kakakku menambatkan kekuatannya.
Ibuku mengeluhkan kakakku yang keras kepala. Sampai berjam-jam proses itu (bayangkan, dari jam 5 pagi lho) kakakku tetap bersikeras tidak mau memakai “suntik pemacu”. Lantas ibuku bercerita bahwa proses melahirkan memanglah sangat sakit. Dulu ibuku memakai cara yang agak berbeda. Dan di sinilah kata seandainya di atas muncul.
Dua Bacaan Dua Keluaran
Ketika ibu saya melahirkan kakak saya yang kedua ini, beliau selama proses kelahiran membaca majalah Intisari. Sebuah majalah seperti reader’s digest. Majalah kecil itu memang berisi hal-hal seputar informasi ilmiah di negeri ini maupun dunia. Saya juga sangat senang membacanya. Dan keluarga kami memang semenjak dulu telah “langganan tunda” atas majalah ini. Langganan tunda maksudnya membeli sebulan setelah majalah tersebut keluar. Dengan demikian, harganya menjadi setengahnya (harga loak).
Maklum, miskin.
Dan majalah intisari ini pula sepertinya yang membuat warna bagi kakakku.
Dia sekarang sedang menempuh S3 untuk menjadi PhD di bidang Kimia. Ibuku pasti bangga, bagaimanapun juga waktu melahirkan kakakku ibuku masih tercatat sebagai mahasiswa Kimia UGM. Dan berhenti, karena biaya tak mencukupi.
Nah, bagaimana dengan proses kelahiran saya? Ibu saya ternyata selama proses kelahiran lebih suka membaca Cerpen, Cerpan (cerita panjang, maksudnya) maupun novel! Hihihi, terbayang bukan? Saya sendiri langsung –tanpa sengaja– berucap.”oh, pantes”. Pantes apa? Pantes saya membenci footnote! Haha..
Dan hasilnya memang lain tuh. Kakak saya, seperti sudah saya tuliskan tadi, saat ini sedang thesis S3, dengan predikat dosen yang sudah disandang tentu saja. Lha saya sendiri? Memilih keluar dari kuliah, dan mengambil jalur tulis-menulis (walaupun berupa kode css, html, javascript maupun sedikit-sedikit php) yang diselipi fungsi-fungsi “romantis” semacam function menghumankan_script_dodol_agar_mudah_dibaca().
Nah, seandainya keluarga saya mampu langganan jurnal science, lantas ibu saya membaca itu bagaimana? Mungkin saya akan menjadi seorang peneliti, botak dari awal, dan terkenal di dunia karena amnesia. haha..
Satu teori sudah saya telurkan. Teori pengawuran tentang bacaan saat melahirkan.
Anda mau mencoba? Saya sih tergantung istri saya nanti, toh ibu istri saya tidak membaca ketika melahirkan, tapi anaknya cerdas juga.
vale, demi generasi
el rony, senang akhirnya “paham” mengapa suka membaca.
NB: teori ini sangat akurat, tak perlu pembuktian lagi. ![]()
Category: Yogyakarta, Culture, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
August 14th, 2006 at 11:10 am
hmm……
*sedang memikirkan gimana kalo istri saya nanti pas ngelahirin baca playboy ya…..*
August 14th, 2006 at 11:16 am
Sebenarnya, apa efek dari suntik pemacu sehingga kakak mas rony yang S-3 di bidang kimia sampai tidak mau menggunakan? japri ya mas, soalnya isteri saya juga sedang hamil…;-)
August 14th, 2006 at 11:16 am
nah lho… kalo dulu Mami ogut ngidam gado-gado, aku ntar jadi ape, dong, Pakde Lantip?
August 14th, 2006 at 11:22 am
soal proses melahirkan, lama dan cepatnya… berdasarkan pengalaman… tergantung pola (apa gen?) sang ibu dari para istri bukan suami…
btw, nanti istrimu suruh ngidam WIKIPEDIA aja, Ron
August 14th, 2006 at 11:38 am
mas cahyo:
jawaban ini japri (jaringan epribadi) hihii, kakak saya gak bilang sih, hanya katanya kalo pake pemacu prosesnya jadi lebih sakit. mungkin psikologis ya? entah juga, lha wong saya belum pernah melahirkan.
mas bidan:
hla itu dia, proses dua anak sebelumnya cepet saja je. Dari bukaan 1 sampai selanjutnya paling cuman 3 jam saja. hehe
August 14th, 2006 at 12:19 pm
pantes !
August 14th, 2006 at 12:54 pm
weleh … untung ibune gak nyidam aneh aneh .. mik moco …
pakdhe sori kirimane telat, soal e ono sesuatu mendadak sing kudu dimarekno, dadi iku ne terpaksa di luncurkan kesana dulu, semoga tidak terlambat pakdhe …. sepuranya sak durunge.
August 14th, 2006 at 1:00 pm
- selamat atas lahirnya si ponakan laki2..
- lho.. apakah si mbok sekretaris sedang menanti? kalo gitu, selamat lagi..
- kalo si ibu baca komik, anaknya gimana dong..?
August 14th, 2006 at 2:50 pm
sampelnya kurang akeh, dadi kesimpulane kurang akurat
August 14th, 2006 at 9:08 pm
Waktu kelahiranku, bapakku baca doa Rosario (semacam doa tasbih a’la Kristen Romawi), setelah aku besar, aku shalat. Huheuheuhuehe….
August 15th, 2006 at 7:47 am
ono conto koncoku, pakne karo mbokne wis S3 ndik IPB pas ngelairno koncoku. bocahe ancene pinter, tapi “aneh”
:D 
August 15th, 2006 at 1:15 pm
ada dulu temen, profesor, waktu dia masih di kandungan, ibunya buta huruf. nah lo.
August 15th, 2006 at 5:46 pm
don’t judge a baby from what his/her mother read hihihi
August 15th, 2006 at 7:51 pm
saya suka nge-net, tp taon 84-85 kan blom ada warnet yah?
August 15th, 2006 at 9:24 pm
sulit dinalar
tapi bisa dicontoh. mungkin ini termasuk bagian dari doa. konon, ibu mempunyai ikatan batin dengan anak. ia tahu, kalau sang ibu mempunyai harapan besar padanya. sehingga, ia kemudian merealisasikannya. tapi masalahnya, apakah ibumu juga bisa baca jurnal science? 
August 16th, 2006 at 12:46 am
ga usah langganan, mas…pinjem punya kakak yg PHD aja :p, dari jalur tulis menulis kini pindah ke baca membaca rupanya.
August 16th, 2006 at 7:26 pm
pantesyan majalah plaiboinya diembat sendiri gag boleh diliyat ama nyonyah.
takut kesaingan ama anaknya kalee
makan-makannya kapan pakdhe ???
* nungguwin sate kambing *
August 22nd, 2006 at 3:17 pm
@Bukan Bidari
Jangan gitu dong saya waktu hamil ngidam wikipedia nih. Sampe tentang games aja saya lihat di sana
@Rony
Bener disuntik pake pemacu itu memang suakittt buanget, saya dah ngerasain, kurang ajar! coba tulisan ini diposting 5 bulan yang lalu GRRGRGRGRGRG
August 30th, 2006 at 1:15 pm
waktu anak pertama saya lahir, si dokter menggunakan vacum tube untuk mengeluarkan anak saya, mungkin ukuran kepalanya terlalu besar (memang sudah diketahui melalui USG) seperti bapaknya dan itupun sudah menggunakan suntikan tapi tetep ngga keluar. ya sudah …wasalam.. pake vacum tube, tapi 2/3 bulan kemudian bentuk kepalanya normal lagi. kalo pake vacum tube ngga nongol2 juga …wasalam… operasi cesar kali…amit2…duit..duit…
December 14th, 2008 at 9:03 pm
mau lihat hasil tes cpns indonesia