
Selama 1 atau 1,5 bulan ke depan, selokan mataram tidak akan dialiri air. Demikian keterangan dari pihak DPU yang dirilis di beberapa media. Hal ini berkait dengan rencana perbaikan talud (pinggiran) selokan sehingga nantinya diharapkan selokan tidak akan longsor.
Saat ini hampir tiap hari kita akan melihat aktivitas orang-orang yang memasang batu-batu kali di pinggir selokan, untuk kemudian “dilem” dengan semen. Angkutan pasir dan semen juga hilir mudik. Tingkat aktivitas ini terutama bisa disaksikan di wilayah seputaran Jambon. Memang wilayah ini ke barat-lah yang belum dipugar talud-nya.
Jalan Sempit Mata Menyipit
Keringnya selokan seakan meng-amini ataupun melahirkan kekeringan di sepanjang jalan di pinggirnya. Tebaran pasir-pasir kering bercampur debu tanah, semakin mudah terombang-ambing oleh lalu lalang kendaraan.
Tidak hanya kendaraan roda dua saja yang lewat di jalan selokan mataram selebar kurang lebih 1,5 meter ini. Kendaraan roda empat, baik itu mobil bak terbuka hingga mobil caravan (family). Jalan yang memang sempit, semakin sempit. Ditambah pula dengan adanya onggokan batu dan pasir di pinggirnya. Juga mesin “molen” pengaduk semen yang bertengger angkuh, tak mungkin kita harap dia berkelit oleh suara klakson.
Maka, hingga satu atau satu setengah bulan ke depan, bagi Anda yang ingin melintasi wilayah ini, semoga bisa ber-akrab dengan debu maupun pasir.
Potret Lain?
Ya, sebuah potret lain yang terbuka menganga, ketika selokan sudah tak lagi tertutup air keruh. Ada kursi di dasar selokan, dengan dibebani batu. Ternyata kursi tersebut dipakai sebagai alas untuk –semacam– karamba. Yang jelas, begitu memasuki/mendekati wilayah jalan magelang, bau busuk semakin menusuk.
Kalau di wilayah barat, daerah Jambon, tebaran benda-benda non selokani (bukan bagian selokan pada umumnya), maka di wilayah ini tumpukan botol kaca, botol plastik, ember pecah, kresek, dan segala macam terlihat. Air diam, yang merupakan genangan dangkal nan kecil, mau tak mau menyisakan tempat bagi nyamuk dan sejenisnya melepas penat. Dan bau, serta merta menemani kita tanpa kita minta.
Setiap kali memasuki wilayah ini, diriku hanya bisa membatin. Duh, maaf para sesepuh, kalian semua membangun selokan ini dengan keringat, tapi kami menjadikannya tempat lalat. Duh, maaf Sri Sultan IX, sampeyan ber-ide selokan mataram agar rakyat mataram terhindar dari kerja paksa, nyatanya ide sampeyan telah ter-terjemahkan menjadi tempat sampah nan panjang.
Dan setelah membatin itu, selalu dan selalu saya menjadi malu, karena saya pernah membuang puntung rokok di sana.
vale, demi kesehatan
el rony, berusaha berdamai dengan mobil yang tak paham sempitnya jalan
Category: Yogyakarta, Culture, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
August 12th, 2006 at 10:56 am
kenapa setiap kali selokan mataram kering yang terlihat pasti tumpukan sampah ga karuan seperti itu? kayaknya masyarakat kita ini terbiasa hidup enak dan ga da semacam sanksi bila membuang sampah sembarangan termasuk ke sungai/selokan semacam ini. betul, hukum perlu ditegakkan pada orang-orang yang disiplin seperti ini.
*hihihi…termasuk mas rony dong yg buang rokok ke selokan*
*kabur sebelum ditimpukin mas rony*
August 12th, 2006 at 8:06 pm
iya.. dari dulu mikir, kok gak ada larangan mobil masuk selokan ya..?
yah, tapi kadang TERPAKSA mobilku masuk selokan juga sih..
(eh, kecebur dong..)
June 17th, 2008 at 11:03 am
Sebenarnya masalah sampah bisa diminimalisir oleh Pemda setempat dengan menggunakan metode jaring. Di beberapa titik dipasang jaring yang akan menghambat sampah-sampah dan setiap pagi-sore bisa diangkat oleh pihak DPU. Gampang kan…
Memang tidak membersihkan sampah-sampah secara total, tetapi paling tidak bisa mengurangi jumlah sampah secara signifikan. Ini masalah kemauan pemda setempat saja sih. Warga di sekitar selokan mataram perlu diberikan penyadaran sedikit demi sedikit. Kalau perlu sepanjang selokan mataram dijadikan tempat wisata susur selokan dengan dibuatkannya jalur sepeda kemudian disosialisasikan sehingga pemerintah setempat terpacu untuk selalu membersihkan selokan mataram.