Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Sekolah itu Candu!

Print This Post   Email This Post

Demikian kata beliau. Namanya Roem Topatimasang, seorang aktivis lama di negeri ini. Sebagai aktivis kapasitas beliau sudah dikenal hingga tingkat dunia. Gaya fasilitasinya banyak ditiru oleh generasi muda. Dengan celana pendek, kamera dan laptop yang selalu tercangklong, dia selalu siap tempur.

Buku tulisan beliau sudah terhitung tahun, sekitar tahun 1998 buku itu terbit, dan sudah mengalami sekian kali cetak ulang. Hmm.. saya tidak akan bercerita tentang buku ini secara mendetail, juga tidak akan menceritakan tentang pak Roem. Apalagi Pak Roem sekarang lebih banyak menulis buku panduan :)

Ramalan Roem dan Kenyataan Negeri
Sebut saja demikian ;) karena pak Roem menyebutkan pada tahun 2010 (atau lebih ya, saya sudah lupa) petani yang mau belajar cara menanam pohon singkong, cukup meng-akses pelajaran sambil nongkrong di mobil BMW-nya.

Petani, sebuah sosok yang selalu dekat dengan kemiskinan. Sosok paling bawah dalam rantai perdagangan bahan dasar di negeri ini. Semua tahu bahwa walaupun semua orang membutuhkan beras, petani tetap tidak akan kaya karena pedaganglah yang memegang peranan distribusi beras. Dan dalam buku tersebut si petani digambarkan memperoleh pendidikan, bahkan sambil nongkrong di mobil mewah! WOW! :)

Ingatan saya atas buku tersebut membawa ingatan lain akan debat opini di sebuah surat kabar, debat yang saya pancing kemudian saya tinggalkan :) Waktu itu seorang kepala sekolah SMA favorit di Yogyakarta mengungkapkan tentang pentingnya pembentukan sekolah khusus, kelas unggulan. Dengan segala pembenaran yang dia tulis, kelas unggulan tersebut akhirnya menghasilkan sederet pembenaran lain atas kebutuhan-kebutuhan tambahan, fasilitas laboratorium –demikian dikatakan oleh beliau. Dan biaya yang dikeluarkan –selalu dan selalu– disebutkan sebagai nilai wajar yang layak untuk dibayarkan. Hal inilah yang kemudian saya soroti.

Standar kewajaran tentu saja tidak bisa di-gebyah uyah ke seluruh dunia. Mari kita gunakan permisalan sederhana saja, kebutuhan sehari-hari, yaitu makan. Di Yogyakarta, kita bisa mendapatkan satu porsi nasi+sayur+daging+minum dengan harga Rp 4.500,- harga ini adalah harga di warung sebelah kantor saya. Mari kita bandingkan dengan Jepang, informasi dari Om Husni harga makanan di sana adalah (untuk kelas mahasiswa) JPY 500 (tanpa minum, hanya air putih), atau sekitar Rp. 38.500,- Lho.. mengapa malah membahas harga makanan?

Ya, itu cara sederhana saja dari saya, cara asal-asalan untuk membandingkan “tingkat daya beli” masyarakat. Dengan perbandingan sederhana saja, maka tingkat daya beli-nya bisa dibilang 8 (delapan) kali lipat daya beli kita. Jadi apakah salah jika kita berharap biaya pendidikan kita tidak disetarakan dengan biaya pendidikan di luar negeri? Paling tidak hal ini untuk menanggapi ide gebyah uyah biaya tadi. Yah, tapi sebelum terlalu jauh, Om Husni sudah memperingatkan saya bahwa perbandingan ini tidak valid, dan saya meng-amin-i pendapatnya :) Oh ya, saya menggunakan biaya makan karena itu kebutuhan yang pasti harus dibeli oleh masyarakat.
Oke, mari beralih ke hal lain. Pendidikan dipercaya oleh setiap penduduk negeri kita sebagai kunci untuk menghadapi kehidupan. Semakin tinggi tingkat pendidikan, maka jaminan akan masa depan semakin terhampar. Itulah makanya semua orang berlomba-lomba meraih gelar, agar bisa bekerja di tempat yang gajinya besar. Kenyataannya memanglah demikian, dari sisi pegawai negeri saja misalnya, semakin tinggi gelar Anda, maka gaji dan golongan (menyangkut tunjangan) yang Anda terima juga semakin besar. Belum lagi dengan kriteria lowongan pekerjaan yang bertebaran, lulusan SMU ke bawah sama sekali tidak akan mendapatkan kesempatan untuk meraih jabatan tinggi.

Lantas sang anak yang orang tuanya miskin, kehabisan tenaga dan hanya berhenti sampai pendidikan tingkat SMP. Dia harus bekerja, tentu saja hanya menjadi pekerja “rendahan” dengan gaji UMR. Apakah nantinya dia bisa menyekolahkan anaknya sampai tingkat tinggi? Mungkin, tapi kemungkinan itu kecil, karena UMR hanya cukup untuk makan.

Kebijakan pemerintah saat ini, dengan adanya BOS (biaya operasional sekolah) nyatanya tidak membuat biaya pendidikan semakin terjangkau, selalu ada saja biaya aneh yang muncul sehingga angkanya mendekati Rp. 500.000,- sebuah angka yang dua kali lipat UMR. Ini untuk tingkat pendidikan SMP dan SMA. Di perguruan tinggi? UGM menetapkan harga hingga Dua Juta rupiah! Jadi, dengan gaji UMR, mungkinkan seseorang menyekolahkan anaknya? Hanya Tuhan (dan sopir bajaj mungkin) yang tahu.

Seperti inilah kenyataan di negeri ini. Jika dikonfrontasikan dengan tulisan Pak Roem, semuanya jadi semacam fatamorgana. Dari sini kita sadar, ini bukan ramalan pak Roem, tapi sindiran :)

Sebenarnya Apa Yang Terjadi?

Kalau tahu apa yang terjadi sesungguhnya, mungkin tidak ada lagi harapan bagi kita semua :) Kenyataannya negeri ini sudah disetting persis seperti Mexico. Para pemegang kebijakan di negeri ini adalah deretan pengusaha dan ekonom.

Wakil Presiden kita adalah seorang pengusaha. Menteri Sosial kita pengusaha. Menteri Pendidikan kita? Dosen Ekonomi UGM. Tak heran bukan jika pendekatan penyelesaian masalah melalui pendekatan kapital?

Semua biaya tinggi yang terbit atas nama kebijakan, dipermaklumkan atas dasar perekonomian dunia. Dan dana hutang luar negeri kita? Digunakan untuk mendongkrak portfolio perekenomian negeri ini. Caranya? Ya dengan menyuntik bank-bank dan pengusaha besar di negeri ini, sehingga GNP dan GDP meningkat. Dengan demikian pemerintah bisa hutang lagi ke negara lain.

Nah, dengan kondisi semacam itu, apakah kita berharap akan memperoleh pendidikan murah? Oh tidak kawan, sama sekali tidak. Hmm.. atau mungkin penghasilan kita aja yang dinaikkan? Dengan demikian harga yang mahal sekalipun bisa kita beli, akan lebih baik bukan? Sejahtera dimana-mana. Ah, tapi itu kan mimpi kita kawan, tidak mungkin hal itu akan terjadi :)

Yah, semakin lama tulisan ini semakin kemana-mana. Hehe, Anda bingung? Tenang, saya sendiri juga bingung. Tapi saya tetap akan terus menggaungkan, sekolah murah atau daya beli ditingkatkan! :D Bagaimana caranya? Itu tugas pemerintah yang mikir, kita kan menggaji mereka. Hehe

vale, demi pendidikan

el rony, masih berkutat dengan flu yang aneh

nb: Tutut berduka cita atas meninggalnya Ibunda dari Pak Roem Topatimasang. Semoga arwah beliau diterima di sisi-Nya.

Category: Neolib, Yogyakarta, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback

7 Responses to “Sekolah itu Candu!”

  1. Junkerz side B Says:

    pertamax…!!!

    petani Indonesia ’sengaja’ dibuat bodoh, biar bisa import…

    kalo bisa import, knapa mesti mbuat sendiri, begonohhh…

  2. thuns Says:

    …karena pak Roem menyebutkan pada tahun 2010 (atau lebih ya, saya sudah lupa) petani yang mau belajar cara menanam pohon singkong, cukup meng-akses pelajaran sambil nongkrong di mobil BMW-nya.

    tapi itu gak mungkin di negeri indonesia kan :P

  3. Hedi Says:

    yang kaya bisa pilih sekolah sesuka hati dan lebih banyak bagusnya, sementara yang tidak kaya suka malas²an dan lebih suka tawuran (spt di jakarta)….
    itu udah jelas ga mungkin jadi petani dan apalagi pedagang…weleh :(

  4. Tidak Sabar Menanti Sabtu™ Says:

    ah.. ini cerita tentang ORANG KAYA
    *skip*

  5. gagahput3ra Says:

    “…karena pak Roem menyebutkan pada tahun 2010 (atau lebih ya, saya sudah lupa) petani yang mau belajar cara menanam pohon singkong, cukup meng-akses pelajaran sambil nongkrong di mobil BMW-nya.”
    Ini bakal terjadi kalau petaninya mengikuti gaya pemerintahnya, yaitu gali lobang tutup lobang, pake utang, bayarnya jual kutang.

  6. -tikabanget- Says:

    endonesa emang aneh

  7. perempoan pejantan Says:

    bagaimana dengan anaku kelak, kalo sawah dan ladang cuma ada di lukisan….

Leave a Reply