Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Sekelumit Pendidikan

Print This Post   Email This Post

Perkenalkan, namanya Rahim, umurnya sekitar 5 tahun. Hari ini dia sedang memajang wajah tak suka di mukanya. Memanggil sang ayah untuk turun dari motor dan menegaskan,”aku tidak sayang lagi sama kak rahma!” Rahma yang disebut adalah guru sebuah sekolah unik di daerah Monjali Yogyakarta.

Apa yang membuat Rahim, lelaki kecil bernamakan kasih-sayang itu demikian tegas? Ternyata karena mbak Rahma yang dimaksud baru saja menasehati seorang anak (teman si Rahim) yang sedang menangis agar tidak menangis. Si kecil Rahim dengan bersungut-sungut mengungkapkannya,”temanku menangis, kenapa kak rahma mbilang-mbilangin? Aku gak mau sekolah!” Akhirnya pasangan bapak dan anak itu hanya bengong di halaman sekolah hingga beberapa waktu. Sampai akhirnya sang ayah mengusulkan agar si anak ikut ke kantornya, dan keduanyapun meluncur ke barat Yogya.

Seberapa Berharga Masa Depan?

Pertanyaan ini lebih tertuju kepada pemilik negeri ini, kalian semua. Namun penekanannya jelas ditujukan kepada para pembantu kalian semua, yang disebut sebagai penguasa. Warna pendidikan kita saat ini semakin hari semakin tidak jelas.

Belum lama kita diributkan dengan isu seputar Ujian Nasional, yang mengagetkan semua orang karena angka kelulusan yang luar biasa anjlok. Kemudian disusul dengan pemberitaan beberapa anak yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena tidak ada uang. Kampung gajah, syukur alhamdulillah, ikut berpartisipasi membantu salah seorang warga surabaya dari jepitan kebijakan penguasa.

Biaya pendidikan tingkat SMA sekarang berkisar Rp. 500.000,- (senilai biaya kuliah saya untuk dua semester). Tingkat SMP justru lebih mahal, Rp. 600.000,- maka tak heran ada siswa di Yogya yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena orang tuanya yang tukang becak tidak bisa mencari uang lagi akibat patah kaki oleh gempa. 

Di sudut lain di pulau Jawa, dua orang anak SMP nekat ingin menjual diri demi sekolah. Yang akhirnya dari pihak “Yayasan” prostitusi tersebut ditolak dan justru dibayarkan biaya sekolahnya. Namun apa lacur, pihak sekolah menyatakan bayaran itu tidak bisa diterima, kalaupun diterima kedua siswi tersebut dinyatakan tidak akan pernah naik kelas.

Ini permasalahan masih di seputar keuangan, belum menyentuh bentuk pendidikan itu sendiri. Sampai sejauh ini pula, wilayah yang sangat terukur ini belum disentuh oleh pemerintah. Impian lama berupa pendidikan gratis, seakan sudah tidak bisa diharapkan lagi mampir di mimpi-mimpi kita.

Lantas bagaimana pula dengan sistem pendidikannya? Perubahan strategi yang maju mundur selalu saja membuat kita pusing mengikutinya. Dari mulai perubahan istilah SMA menjadi SMU atau SLTA, hingga penyeragaman semua sekolah kejuruan menjadi SMK, kita tidak melihat seberapa signifikan hal itu pada dunia pendidikan. Juga ide penyatuan SD dengan SMP menjadi pendidikan dasar 9 tahun, yang diawali oleh gembar-gembor berusia tahunan tentang wajib belajar 9 tahun (yang kemudian menjadi 12 tahun), sepertinya hanya menyinggung wilayah administratif saja. Di pihak si anak, tidak ada perubahan mendasar.

Sampai di sini saya tidak melihat penghargaan negara ini atas masa depannya sendiri.
Sekolah si Rahim 

Saya kemudian berpaling lagi ke sekolahan si Rahim. Nama sekolahnya saya tiba-tiba lupa, tapi di sekolah tersebut satu orang anak ditemani oleh satu orang guru. Murid di situ hanya ada 10 anak. Demi melihat perkembangan Rahim, aku cukup menaruh harapan atas sekolah tersebut. Apakah biayanya mahal? Ternyata tidak juga, hanya Rp. 250.000,- yang artinya hanya dua setengah juta saja yang digunakan untuk operasional sekolah tersebut.

Baiklah, sulit saya membayangkan sekolah gratis, sebuah sekolah yang dulu sangat saya idamkan untuk mewujudkan, namun paling tidak sekolah ini bisa jadi tumpuan. Terbayang anak-anak kita, para masa depan, berbincang dengan,” itu lho yah, teman ayah yang bentuknya kayak tante-tante itu” :D

Selamat belajar Rahim!

vale, demi pendidikan

el rony, mencoba menerangkan bentuk blog, seperti apa ya?

Category: Yogyakarta, Culture, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback

9 Responses to “Sekelumit Pendidikan”

  1. oón Says:

    dulu “starlet makin gaya!”, terus diplesetin starlet makin mahal, diplesetin lagi sekarang “sekolah makin mahal”

  2. saylow Says:

    Kok tumben tulisanmu membingungkan, ora dong jee…piye piye? Kamu kenapa ron? Coba lebih konsen lagi menulisnya… Ingat kamu bukan saya! hahahaha

  3. rony Says:

    ho oh.. flu je low.. huhuhuhu *alasan*
    yo sekolahe ra mutu, tapi ono sekolah sing apik, ngono-ngono lah.. halah.. hihihih

  4. suket Says:

    yen tak pikir pola pendidikan dasar dan menengah di indonesia justru merupakan proses memiskinkan masyarakat yang tidak mampu, wong sekolah dasar dan menengah kok larang e koyo setan

  5. gagahput3ra Says:

    kok saya pusing ya bacanya….*garuk garuk kepala+dengkul …yah, yang pasti…duh bingung mo ngomong apa T_T

  6. ndra Says:

    PROTES!!! GUA KAGA NGARTII!!!
    –ngacir

  7. gerry Says:

    setuju ma yg di atas…ga ngerti!! tapi kira2 intinya ngerti kok hahaha

  8. cahyo Says:

    ngerti…pokoke mas rony bicara tentang masalah pendidikan yang mahal di Indonesia. Sudah mahal, carut marut pula. Ironisnya mas Roni, yang carut marut gini tapi menghasilakn JUARA DUNIA OLIMPIADE FISIKA !!!

    Itulah Endonesa….

    *hehehehe*

  9. irwan Pahlipi Says:

    Ya, ironisnya lagi yang juara olimpiade fisika buka dari sistem ayng carut marut ini, biasanya berasal dari sekolah yang justru mapan seperti sekolah2 katolik, yang kurikulumnya biasanya gak terpengaruh oleh diknas. Dedikasi staf pengajarnya juga bagus, biasanya juga ada subsidi dari yayasan misi. Jangan bandingkan dengan sekolah umum yang ada, bak langit dan bumi dah. Kalopun ada yang bagus dari sekolah2 umum, biasanya cuma anomali. Rasanya juga jangan kesampingkan peran besar tim Prof Yohanes Surya yang menggodok dan memoles kandidat peserta olimpade ini. Tapi semua ini kan hanya segelintir dari berjuta2 anak manusia yang dicengkeram dan gak mampu keluar dari sistem pendidikan yang serba abstrak ini. Selamat Datang di negeri penyedia kuli murah masa depan (ini saya kutip dari tulisan seseorang di blog lain, tapi saya cari lagi blog tsb gak ketemu lagi).

Leave a Reply