Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Etika? eh tika?

Print This Post   Email This Post

Ini pikiran blong saja, gak mutu. Layak untuk dipertanyakan tiap senti tulisannya. Tulisan ini terpicu oleh postingan Priyadi yang dilempar ke milis id-blog. Isi postingan itu sendiri tentang postingan *asyik belibet* mdamt –yang aku gak kenal– tentang milis tersebut.

Priyadi merasa perlu untuk memposting ‘postingan blog’ itu ke milis id-blog, kurang lebih juga sebagai kritikan kepada para pegiat milis yang sepertinya sudah semakin ‘kebablasan’, entah dalam pengertian Priyadi atau mdamt atau Roy Suryo. Gak ngerti saya.

Ngeles? Anti Kritik?

Hehe, aku tahu pasti ada yang berpikiran seperti ini, padahal aku belum menulis sedikitpun. Tapi di sinilah asiknya. Bukankah bahasa yang digunakan sama? Yaitu tulisan? Nah, tanpa bermaksud ngeles ataupun mematok rezim anti kritik, saya bermaksud membalasnya dengan tulisan pula.

Masalah sebenarnya apa sih? Kalau menyimak dari tulisan mdamt, sepertinya ada kekecewaan dari dirinya. Beliau berkata bahwa (saya kutip saja ya.. pendek kok):

Dahulu saya berharap akan dapat ilmu baru di milis id-blog. Tapi posting-posting di dalamnya lama-lama makin bikin saya merasa percuma berlangganan. Dari posting yang ada, kelihatannya sudah ada beberapa orang juga tidak nyaman di masa awal-awal terbentuknya milis ini. Tadinya saya tahan dulu, tapi sekarang sudah tidak tahan lagi, lebih baik keluar saja.

Beliau merasa percuma. Oh ya, judul postingan beliau adalah id-blog? Rusak! *-(. Harapan-harapan beliau atas mailing list ini sepertinya tidak terpenuhi. Apa saja harapan yang beliau inginkan dari mailing list ini? Tidak tahu. :)

Lantas dikatakan pula bahwa sejak awal sudah ada beberapa orang yang tidak nyaman dengan kehadiran milis ini, saya juga tidak tahu siapa dan mengapa. Sampai di sini saya merasa tersesat. Apa sih yang membuat hal ini menjadi masalah? Atau katakanlah dalam bahasa mdamt, apa sih yang menyebabkan dia sampai pada kesimpulan rusak?

Kondisi bagus seperti apa (atau bisa dibilang harapan deh) yang diinginkan sebenarnya? Masih dalam ketersesatan ini, saya mendapatkan sedikit jawaban dari postingan Priyadi di mailing list tersebut, dia menyebutkan bahwa : jadi, tolonglah behave, kebiasaan di milis lain jangan dibawa2 ke sini. Oh iya, Priyadi juga menyampaikan bahwa sebagai moderator, beliau sering menyampaikan peringatan dan sepertinya tidak terlalu digubris oleh para anggotanya, sehingga beliau merasa capek.

Sampai pada paragraf di atas, saya melihat akar masalahnya adalah perangai/perilaku. Ajakan untuk behave jelas menunjukkan bahwa beberapa anggota dianggap/dilihat sudah berlaku di luar tatakrama.

Tatakrama

Tentu tatakrama di sini mengacu pada panduan mailing list ataupun konvensi ber-email yang telah mendunia. Ada yang dinamakan netiket di negeri maya ini. Netiket ini sendiri disusun oleh para pegiat internet dari segala penjuru dunia.

Kehadiran netiket tersebut menjadi sah, ketika para pegiat internet atau mungkin saya sebut saja sebagai warga internet, masih menyepakati dan menjalaninya. Hal ini kuranglebih sama dengan etiket di dunia nyata. Aturan siskamling di satu daerah adalah memasang uang sebesar Rp. 100,- di satu tempat di rumahnya. Ada juga yang besarannya lain, bahkan ada juga yang tidak berupa uang tapi beras. Aturan ini berlaku hingga ada kesepakatan baru yang menggantinya.

Bagaimana pula dengan netiket tersebut? Saya memang dari dulu sangat sulit untuk mapan. Mungkin ini permasalahan mendasar saya. Aturan-aturan di dunia ini, selama belum menjadi hukum, masih sangat mungkin untuk berubah. Itu pandangan saya. Bahkan hukum pun bisa jadi tidak berlaku ketika kondisi sosial sudah tidak mendukung. Nah, soalan yang muncul dari saya kemudian, apakah netiket tersebut masih cocok?

Saya sangat tahu, bahwa Priyadi, orang yang saya hormati dan berilmu tinggi, juga mdamt yang jelas-jelas lulus kesarjanaan (tidak seperti saya), pasti juga memahami hal ini. Keyakinan saya dipicu oleh kenyataan bahwa mereka berdua menolak statement dari Roy yang menyampaikan istilah “internet seperti sedia kala”. Kenapa mereka –dan saya– menolak istilah tersebut? Karena acuannya tidak jelas. Yang seperti sedia kala itu yang seperti apa? Nah, jadinya sama dengan pertanyaan saya kan? Yang disebut behave itu yang seperti apa?

Intermezo

Dahulu kala, manusia belum menemukan pakaian. Bahan kain belum ada, sehingga untuk menutupi badan, manusia menggunakan daun dan kulit pohon. Maka banyak bagian tubuh yang terbuka. Hingga jaman sebelum renaissance, beberapa wilayah di eropa (dan tentu saja asia) masih bertelanjang dada, baik laki-laki maupun perempuan.

Kemudian jaman berganti. Mode pakaian berubah. Aturan bersosial, yang dibilang sopan di depan umum, juga mengalami perkembangan. Maka ketika dada terlihat, terutama perempuan, dikatakan tidak sopan. Istilah modern memunculkan kata Porn.

Kini, di bagian lain dunia ini, terutama di tonggak kapitalisme dunia yaitu Amerika, berpakaian justru semakin minim. Misalnya saja kita tengok lenggak-lenggok fashion di Perancis, pola berpakaian berubah lagi. Lha.. ternyata makin minim lagi. Apakah hal ini porn? Kalau pertanyaan ini diajukan pada jaman 70-80 an, pasti jawabannya cukup tegas dan seragam, Iya! Tapi ketika sekarang ditanyakan? Orang mikir beribu kali dengan kalimat berbusa-busa untuk menerangkan pilihannya yang sebenarnya tidak lebih jelas dari abu-abu-nya warna puncak Merapi.

Jadi, behave itu yang seperti apa?

vale, demi kejelasan

el rony, beranjak, males banget untuk mapan.

NB: perdebatan tentang junk dan bukan junk. penting dan tidak pentingnya junk. semua itu bisa berlanjut. dan perdebatan itu, biarlah menjadi bagian dari mailinglist-mailinglist saja :)

Category: Culture, blog, Semiotics, Technology, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback

29 Responses to “Etika? eh tika?”

  1. lafea Says:

    … *konfiyus*

  2. Azil Adi Permana Says:

    kok gak di trek bek ke situsnya Mas MDAMT? :mrgreen:

    *kompor..kompor…*

  3. rony Says:

    sudah saya trekbek kok. :)

  4. basibanget Says:

    BAKAR BAKAR!

  5. Azil Adi Permana Says:

    masak sih?
    ehee… komentar ditutup :mrgreen:

  6. rony Says:

    azil: begitulah :)
    basbangmarkum: arangnya mana? *lirik heri*

  7. Priyadi Says:

    ya, gua gak anti ngejunk asalkan di tempatnya. you know me :). tapi kalau ngejunk dibawa2 kemana2 repot juga.

    Jadi, behave itu yang seperti apa? masa gak tau sih? misalnya gini, ada 2 teman kantor akrab, sehari2nya bisa saling ngomong “bangsat loe” “anjing loe” tanpa ada maksud menghina. tapi harusnya kan beda kalau situasinya juga beda, misalnya di seminar, rapat kantor ato apa lah? walaupun orangnya juga sama.

    masih belum ngerti? coba ikut beberapa milis lain. setiap milis punya suasana yang beda2, aturannya juga beda2, tertulis atau tidak tertulis.

    sekarang bayangin posisi gua sebagai moderator pada acara resmi kalau ada 2 anggotanya yang saling akrab saling nyapa “anjing loe”. buat 2 orang itu mungkin no problem, tapi gimana peserta yang lain? kalo sekali diperingatkan bisa behave, fine with me, tapi kalo harus beberapa kali ato sampe harus debat segala cape hati juga. apalagi gua gak dibayar & malah gua yang keluar biaya buat koneksi internet.

    gimana sama milis id-blog? harusnya yang ikut udah tau, tadinya ini milis dibuat sebagai media teman2 yang peduli sama blog. dan disitu bukan cuma junker, ada juga orang blogfam & komunitas lain, dkk.

    yang penting itu gimana cara kita membawa diri dalam situasi yang beda2.

  8. rony Says:

    asyik, gak di-ignore sama pri. :) *becanda pri*

    ya tentu saja aku sepakat dengan kamu. nah, apa mungkin sudah saatnya tiap milis memiliki “media” lain yang bisa dijadikan acuan? Semacam wiki atau blog sekalipun? Hal ini akan memudahkan moderator untuk mengembalikan ke jalurnya pasti kan?
    Ah, banyak milis punya wiki, mungkin hanya id-blog yang belum? Lha saya juga gak tahu, saya jujur saja masih kuper :D
    hmm.. milis yang saya ikuti sedikit sekali, ini mungkin kenyataan penting juga. Satu milis aneh yang ribut antar agama, dua atau tiga milis diem seribu bahasa, satu milis ngalor ngidul tanpa moderator tapi giliran tulisan saya dibabat hehe.. kok semuanya gak jelas ya? ya gitu deh pri, aku bukan orang milis. mungkin kawan lain seperti bung Eko Juniarto lebih paham kalau dunia per-milis-an.

    Tulisan saya ini hanya “tanggapan” atas sebuah tulisan yang mendefinisikan sebuah milis sebagai rusak (walaupun itu di rumahnya sendiri dia ngomongnya), yang kemudian sampai ke saya melalui postingan kamu di milis :) intinya saya sih mengajak untuk memperjelas saja pagar-pagarnya. nanti kalo sudah gerah dengan pagar, dibongkar lagi. tenang pri, kalo capek saya pijit dah. :D

    viva blog dan milis indonesia :)

  9. Priyadi Says:

    kenapa menjadikan gak ada aturan tertulis sebagai alasan untuk melakukan hal yang di luar norma? ini sama aja lah sama orang dulu itu yang nyepam id-gmail, terus alesannya “kalo memang gak boleh, ditulis di peraturannya dong”.

    ada banyak peraturan yang gak tertulis, dan gak perlu ditulis. tapi walaupun tidak tertulis bukan berarti peraturan itu gak ada.

  10. rony Says:

    tentu saja yang namanya norma, apalagi konvensi, lebih sering tidak tertulis.
    ya saya hanya melontarkan usulan saja. semacam disklaimer “postingan di milis ini boleh dikopi paste” :D
    tapi, kenapa harus dikatakan rusak ya?

  11. Priyadi Says:

    tadi nanya definisi ‘behave’, masa sekarang nanya definisi ‘rusak’. coba cari sendiri artinya ah.

  12. rony Says:

    hihii.. ya kan behave-nya sudah dijawab. saya juga sudah menyampaikan kenapa saya nanya. nah yang belum kan tinggal bagian rusaknya.
    jadi gimana pri? jerman atau persib? hihii

  13. azil Says:

    hihi….
    *gelar tiker sambil nonton bola sambil mbuka teh botol sosro*

  14. basibanget Says:

    You are currently using 68% of your aan.

  15. Calupict Says:

    Selain peraturan tertulis seperti Undang-undang, ada juga peraturan tidak tertulis seperti kebiasaan, norma, dan adat istiadat.

    Yaa jangan asal ngejunk.

  16. Aji Says:

    Pri, sepertinya effortmu memang patut diacungi jempol.
    Hanya saja jika presiden RI harus menasehati pejalan kaki untuk tidak menyeberang sembarangan misalnya, sama saja dengan tidak mungkin.

    Yang terjadi kan sekarang di id-blog seperti itu.

    Semua orang sebenarnya ingin berbuat baik, tapi banyak yang tidak tahu caranya, ini bukan tahun 70an dimana etika relatif seragam, sekarang bias antara etika dan kekurang-ajaran selalu harus didefinisikan ulang.

    Perlu ada struktur dan pembagian tugas (teorinya sih seperti itu), perlu ada yang diangkat menjadi polisi, dll.

    Kalau tidak? ya bubar wae :)

  17. -tikabanget- Says:

    huh!!
    judulnya menggoda gw membaca.. hahaha..
    kirain ngomongin gw..!!! [-(

  18. Ben Says:

    SECARA milis itu adalah kumpulan orang yang berbeda-beda, mungkin diperlukan apa yang disebut “kompromi”.

    Tidak semua keinginan kita bisa diterima oleh semua anggota milis, termasuk hal atau aturan yang menurut kita baik untuk milis. Tidak semua keinginan atau usul kita juga langsung ditolak. Silakan mengajukan usul, diskusi, atau berdebat tetapi jika nantinya segenap ‘warga negara’ milis tetap tdk bisa memenuhi atau tidak setuju dengan keinginan kita janganlah kemudian mengata-ngatai milis itu rusak dan sebangsanya tanpa alasan yang jelas. Apalagi hanya karena tidak sesuai dengan cara pandang kita.

    *doh kok jadi nulis komen serius gini? hapus gak? hapus gak? ah biarin aja.. biar kuotanya roni abis… hi hi hi*

  19. jipeng Says:

    huahahaha, makanya saya nggak pernah mau join milis yang serius.

    btw, kan bisa pake trik lama tuh: ansab pake aan.

  20. v n u z Says:

    Aku pertama kali join milis ya milis gajah. jadi barometer yang kupunya adalah milik gajah. :))

  21. Jauhari Says:

    Menempatkan sesuatu pada tempatnya gitu to maksude?

  22. Azil Adi Permana Says:

    mas..mas… coba ini komentar - komentarnya di bekap dulu. secara nanti si-mas masih trauma sama tempat hosting yang lalu - lalu itu loh… hihihi…

    yeah..rite..

  23. Hedi Says:

    kadang baru sadar kalo milis itu perlu di-moderate, cuma takut ga spontan jadinya, serba salah ya, mas :)

  24. -tikabanget- Says:

    eh, aku jadi inget. aku ngikut milis, yang isinya disitu orang gemar mencela. giliran aku todong kenapa kok nyela ini, alasannya apa..
    eh, malah aku yang dibilang shallow mind.
    dodol..

  25. abe Says:

    Ehm.. Ehm..
    *mikir*

    Saya belon ekotan id-blog! Doh, ruginya!

  26. sridewa Says:

    Maaf, sekali lagi maaf, tapi ini penting.

    Dahulu kala, manusia belum menemukan pakaian. Bahan kain belum ada,

  27. andriansah Says:

    blom ikutan id-blog

  28. Azil Adi Permana Says:

    mas punya alat pendeteksi anti gempa?

  29. Kombor Says:

    aku malah baru daftar id-blog…

Leave a Reply